Selasa, 31 Juli 2012

kamar kosan
Pukul 02.00 pagi, sepiku menikam ruang, ketika kedua mataku tak mau terpejam. Andai saja kesunyian bisa membunuh, melepas jiwa dari raganya, dan mencabik-cabik tubuh ini—menjadi potongan-potongan debu, daun yang dimakan benalu—tentu dalam waktu dekat aku pasti akan segera mati, terkubur dalam lumpur yang kotor.

Kurasakan seluruh sudut ruangan ini menebar teror kesetiap inci tubuh dan jiwaku. Bulu-bulu halus di pundaku meronta, melayang, meninggalkan alam keheningan. Nafasku menderu-deru bagai desing peluru. Pikiranku melayang mencari bayang-bayang masa lalu, mengembara di alam kegelapan dan terpuruk berpapasan dengan kesal yang tak pernah ada tapal batasnya.

Pukul 03.00, sepiku mengguncang sukmaku. Tangan, mata, mulut, telinga, kaki, dan anggota tubuh lainya, semuanya membisu; tak ada percakapan, tak ada gerakan, tak ada keinginan. Sepiku kian abadi, menjadi nuktoh yang datang bersama musim tumbang.

Tapi kini, hampa ruangan tak lagi jadi musuh abadi, karna ia sudah menjelma jadi teman sejati. Hanya ada satu harapan; hari esok. Hari di mana matahari bersinar dengan kehangatan yang menyapa dan aku bisa kembali menghirup udara segar. Akupun akan hidup sehari lagi dengan harapan yang masih tersisa.

Sabtu, 28 Juli 2012

jangan pernah berkata “aku sendiri”
sebab dalam kembara ini
setiap orang pernah ditampar kutuk kehidupan
orang yang berteriak seperti kobaran api yang menjilat dalam gelap
toh lambat laun akan padam juga
hidup selalu bertukar tangkap antara ‘terang’ dan ‘gelap’

Jumat, 27 Juli 2012

Ketika waktu melipat senja menjadi malam
Sepi itu pun menukik dalam sendu

Wajah mu yang merona
Matamu yang sayu
Mengusir cerita usang berganti rindu

Oooh juwitaku....!
Mengapa kau siksa batin ini dengan bayang-bayang semu?
Sementara aku menepis lapis demi lapis gerimis
yang membunuh harapan-harapanku

Orang berlalu
Waktu berlalu
Apakah kau tikam aku dengan cintamu
Juga akan pergi berlalu???

Kamis, 26 Juli 2012

Ibu...aku mencintai-mu tanpa penanda waktu
di ujung titik atau berbalik, sama saja
meski sunyi merupa duri
menusuk perih dan nyeri
cinta-ku tak akan pernah terpejam terendam lelah
gerhana bulan jadi saksi yang tabah

Ibu...tangan kiri-mu menimang bayi
tangan kanan-mu mengguncang dunia
hanya dengan satu ridho-mu
kami menuju kehidupan
ridhoilah kami
selalu, selamanya !!!
di antara Borobudur dan Prambanan,
kukenang kisah para leluhur di persimpangan kota Jogja.
saat purnama bulan saka
saat temaram malam bercengkerama di balik kabut yang menjelaga.
saat hatiku terpana pada kemegahan peninggalan wangsa Seylendra dan Sanjaya.

kuabadikan dirimu
dalam hati
dalam ingatan
dan dalam waktu
yang tak pernah terduga...selamanya!

Abu Al Zahrawi, Sang Penemu Gips Era Islam (Dokter Muslim)

Abu Al Zahrawi merupakan seorang dokter, ahli bedah, maupun ilmuan yang berasal dari Andalusia. Dia merupakan penemu asli dari teknik pengobatan patah tulang dengan menggunakan gips sebagaimana yang dilakukan pada era modern ini. Sebagai seorang dokter era kekalifahan, dia sangat berjasa dalam mewariskan ilmu kedokteran yang penting bagi era modern ini.

Al Zahrawi lahir pada tahun 936 di kota Al Zahra yaitu sebuah kota yang terletak di dekat Kordoba di Andalusia yang sekarang dikenal dengan negara modern Spanyol di Eropa. Kota Al Zahra sendiri dibangun pada tahun 936 Masehi oleh Khalifah Abd Al rahman Al Nasir III yang berkuasa antara tahun 912 hingga 961 Masehi. Ayah Al Zahrawi merupakan seorang penguasa kedelapan dari Bani Umayyah di Andalusia yang bernama Abbas. Menurut catatan sejarah keluarga ayah Al Zahrawi aslinya dari Madinah yang pindah ke Andalusia.

Al Zahrawi selain termasyhur sebagai dokter yang hebat juga termasyhur karena sebagai seorang Muslim yang taat. Dalam buku Historigrafi Islam Kontemporer, seorang penulis dari perpustakaan Viliyuddin Istanbul Turki menyatakan Al Zahrawi hidup bagaikan seorang sufi. Kebanyakan dia melakukan pengobatan kepada para pasiennya secara cuma-cuma. Dia sering kali tidak meminta bayaran kepada para pasiennya. Sebab dia menganggap melakukan pengobatan kepada para pasiennya merupakan bagian dari amal atau sedekah. Dia merupakan orang yang begitu pemurah serta baik budi pekertinya.


Selain membuka praktek pribadi, Al Zahrawi juga bekerja sebagai dokter pribadi Khalifah Al Hakam II yang memerintah Kordoba di Andalusia yang merupakan putra dari Kalifah Abdurrahman III (An-Nasir). Khalifah Al Hakam II sendiri berkuasa dari tahun 961 sampai tahun 976. Dia melakukan perjanjian damai dengan kerajaan Kristen di Iberia utara dan menggunakan kondisi yang stabil untuk mengembangkan agrikultur melalui pembangunan irigasi. Selain itu dia juga meningkatkan perkembangan ekonomi dengan memperluas jalan dan pembangunan pasar.

Kehebatan Al Zahrawi sebagai seorang dokter tak dapat diragukan lagi. Salah satu sumbangan pemikiran Al Zahrawi yang begitu besar bagi kemajuan perkembangan ilmu kedokteran modern adalah penggunaan gips bagi penderita patah tulang maupun geser tulang agar tulang yang patah bisa tersambung kembali. Sedangkan tulang yang geser bisa kembali ke tempatnya semula. Tulang yang patah tersebut digips atau dibalut semacam semen. Dalam sebuah risalahnya, dia menuliskan, jika terdapat tulang yang bergeser maka tulang tersebut harus ditarik supaya kembali tempatnya semula. Sedangkan untuk kasus masalah tulang yang lebih gawat, seperti patah maka harus digips.

Untuk menarik tulang lengan yang bergeser, Al Zahrawi menganjurkan seorang dokter meminta bantuan dari dua orang asisten. Kedua asisten tersebut bertugas memegangi pasien dari tarikan. Kemudian lengan harus diputar ke segala arah setelah lengan yang koyak dibalut dengan balutan kain panjang atau pembalut yang lebih besar. Sebelum dokter memutar tulang sendi sang pasian, dokter tersebut harus mengoleskan salep berminyak ke tangannya. Hal ini juga harus dilakukan oleh para asisten yang ikut membantunya dalam proses penarikan. Setelah itu dokter menggerakan tulang sendi pasien dan mendorong tulang tersebut hingga tulang tersebut kembali ke tempatnya semula.

Setelah tulang lengan yang bergeser tersebut kembali ke tempat semula, dokter harus melekatkan gips pada bagian tubuh yang tulangnya tadi sudah dikembalikan. Gips tersebut mengandung obat penahan darah dan memiliki kemampuan menyerap. Kemudian gips tersebut diolesi dengan putih telur dan dibalut dengan perban secara ketat. Setelah itu, dengan menggunakan perban yang diikatkan ke lengan, lengan pasien digantungkan ke leher selama beberapa hari. Sebab jika lengan tidak digantungkan, maka lengan terasa sakit karena masih lemah kondisinya.

Sesudah kondisi lengan semakin kuat dan membaik, maka gantungan lengan ke leher dilepaskan. Jika tulang yang bergeser itu sudah benar-benar kembali dalam posisi semula dengan baik dan sudah tidak terasa begitu sakit lagi maka buka semua balutan termasuk gips yang membalut tangan pasien. Tetapi jika tulang yang bergeser tersebut belum sepenuhnya pulih atau kembali ke tempat semula secara tepat, maka perban maupun gips yang membalut lengan pasien harus dibuka. Lalu lengan pasien dibalut lagi dengan gips dan perban yang baru setelah itu dibiarkan selama beberapa hari hingga lengan pasien benar-benar sembuh total.

Salah satu karya fenomenal Al Zahrawi merupakan Kitab Al-Tasrif. Kitab tersebut berisi penyiapan aneka obat-obatan yang diperlukan untuk penyembuhan setelah dilakukannya proses operasi. Dalam penyiapan obat-obatan itu, dia mengenalkan tehnik sublimasi. Kitab Al Tasrif sendiri begitu populer dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa oleh para penulis. Terjemahan Kitab Al Tasrif pernah diterbitkan pada tahun 1519 dengan judul Liber Theoricae nec non Practicae Alsaharavii. Salah satu risalah buku tersebut juga diterjemahkan dalam bahasa Ibrani dan Latin oleh Simone di Genova dan Abraham Indaeus pada abad ke-13. Salinan Kitab Al Tasrif juga juga diterbitkan di Venice pada tahun 1471 dengan judul Liber Servitoris. Risalah lain dalam Kitab Al Tasrif juga diterjemahkan dalam bahasa Latin oleh Gerardo van Cremona di Toledo pada abad ke-12 dengan judul Liber Alsaharavi di Cirurgia. Dengan demikian kitab karya Al Zahrawi semakin termasyhur di seluruh Eropa. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya karya Al Zahrawi tersebut bagi dunia. Kitabnya yang mengandung sejumlah diagram dan ilustrasi alat bedah yang digunakan Al Zahrawi ini menjadi buku wajib mahasiswa kedokteran di berbagai kampus-kampus.

Al Zahrawi menjadi pakar kedokteran yang termasyhur pada zamannya. Bahkan hingga lima abad setelah dia meninggal, bukunya tetap menjadi buku wajib bagi para dokter di berbagai belahan dunia. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan kedokterannya masuk dalam kurikulum jurusan kedokteran di seluruh Eropa. 

Rabu, 25 Juli 2012

Urologi dalam Kitab Al-Hawi Karya Al-Razi (Dokter Muslim)

Al-Razi, Ibnu al-Jazzar, al-Zahrawi serta Ibnu Sina merupakan dokter-dokter Muslim legendaris yang lahir di era kekhalifahan. Nama dan buah pikir yang mereka sumbangkan bagi kemajuan peradaban manusia telah diakui masyarakat dunia dari zaman ke zaman. Kontribusi para dokter Muslim itu sangat besar pengaruhnya bagi dunia kedokteran modern.

Salah satu sumbangan yang diberikan keempat dokter Muslim bagi dunia kedokteran modern adalah dalam bidang urologi. Urologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang khusus menangani bedah ginjal dan saluran kemih serta alat reproduksi. Keempat dokter  Muslim itu mengkaji dan membahas tentang urologi dalam buku kedokteran yang mereka tulis.

Prof Rabie E Abdel-Halim dalam tulisannya bertajuk Paediatric Urology 1000 Years Ago, mengungkapkan keberhasilan dunia kedokteran Muslim pada 1.000 tahun silam dalam bidang urologi. Keempat  kitab kedokteran yang mengupas masalah urologi itu adalah;  Kitab al-Hawi fi al-Tibb  karya Al-Razi;  Risala fi Siyasat as-Sibian wa-Tadbirihim, karya Ibnu al-Jazzar;   Kitab at-Tasrif li-man ‘Ajiza ‘an at-Ta ‘lif, karya Al-Zahrawi; dan  Al-Qanun fi al-Tibb, karya Ibnu Sina.


Lalu bagaimana  al-Razi mengupas urologi dalam kitabnya yang fenomenal  al-Hawi fi al-Tibb?
Campbell DC dalam karyanya  Arabian Medicine and Its Influence on the Middle Ages, mengungkapkan, kitab  al-Hawi yang terdiri dari 23 volume merupakan  karya Al-Razi dokter Muslim yang hidup di Baghdad pada 841-926 M.  Campbell menyebut  al-Hawi sebagai sebuah ensiklopedia kedokteran dan operasi. “Dan ini merupakan kontribusi utama al-Razi pada bidang kedokteran,” tutur Campbell.

Dalam kitab itu, al-Razi mengkritik dunia kedokteran yang berkembang di Yunani dengan hasil pengamatannya yang sangat akurat. Ia telah mampu mengembangkan sebuah mode analisis yang di masa depan membentuk dasar penelitian ilmiah. Sejarawan kedokteran,  Margotta R Cumston, karyanya  An Illustrated History of Medicine, menyatakan, dokter-dokter Muslim di era keemasan Islam memiliki sejumlah kelebihan, yakni  lebih teliti dan hati-hati dalam menganalisis,  memiliki wawasan yang luas mengenai kedokteran Yunani serta  mampu menggali bahan-bahan yang penting dan membuang bahan yang tak berguna.Menurut Husain dan al-Okbey dalam karyanya  Tibb ar-Razi Dirasa wa tahlil li-kitab al-Hawi,/ tidak seperti pendahulunya, al-Razi mengikuti skema asli dari metode pengklasifikasian penyakit menurut organ yang terpengaruh.

“Dalam hal ini, ia menunjukkan kemampuan yang tertinggi sebagai seorang dokter dengan presentasi berbagai kondisi ilmu penyakit,”  imbuh Campbel dan Meyerhof M dalam karyanya berjudul  Thirty-Three Clinical Observations by Rhazes (circa 900 AD).

Al-Razi biasanya mengkaji sebuah penyakit dari keluhan, kemudian dilakukan analisa awal dan akhir, menjelaskan tanda-tanda yang diperlukan untuk diagnosa. Dalam bidang urologi, al-Razi sudah mampu mendeteksi  gejala yang berat pada penyakit pinggang. Ia sudah berhasil membedakan secara tepat antara ginjal dan batu ginjal atau pembengkakan.

“Perbedaan antara penyakit ini adalah dengan peradangan, bercampur dengan demam, kekerasan dan polyuria dengan frekuensi, dengan halangan, oliguria dan air seni yang jelas dan dengan batu, air seni yang baik atau tidak dan dengan sedimentasi yang mengandung pasir,” papar al-Razi dalam kitabnya tersebut.

Desnos E dalam karyanya  The History of Urology up to the Latter Half of the Nineteenth Century menjelaskan,  meskipun Rufus of Ephesus telah membedakan antara vesical dan ginjal haematuria, al-Razi,  juga yang memberi alasan physio-anatomis untuk perbedaan ini.

“Tiba-tiba haematuria dalam kaitan dengan pecahnya pembuluh ginjal seperti ini bukan kasus dalam kandung kemih. Ini tidak untuk pembuluh vesical  memecahkan banyak darah yang datang ke situ terjadi pada ginjal. Dan ini adalah karena darah tidak disaring pada pembuluh dari kandung kemih, karena itu terjadi di pembuluh ginjal,” ungkap al-Razi.

”Tetapi jumlah darah yang datang ke kandung kemih hanya cukup untuk gizi, sedangkan di ginjal, karena darah yang disaring di dalamnya dan kemudian pembuluh darah membesar dan banyak darah datang ke sana, jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan untuk nutrisi. Juga pada pembuluh di kandung kemih tidak dekat dengan interior dan tidak didukung dengan pembuluh yang masuk ke dalam ginjal,” jelas Al-Razi.

Al-Razi  juga membedakan antara ginjal haematuria berkaitan dengan pemecahan pembuluh dan itu berkaitan dengan kongesti dengan peningkatan permeabilitas. Dalam bab tentang “menghentikan air seni,”  al-Razi berbeda pendapat dengan  pendahulunya Celsus yang menulis di awal era Kristen, dan Paulus of Egina (625-690 M), keduanya hanya menyebutkan untuk penyimpanan air seni.

Al-Razi membedakan antara penyimpanan dan anuria. Ia menyebutkan bahwa air seni berhenti karena kekurangan ginjal dan tanda pemberhentian dari air seni ini. Selain itu,  tidak ada rasa sakit berat di bagian belakang dan bukan di pinggang, saluran kencing dan kandung kemih.

Rasa sakit di daerah pinggang, tutur dia, terjadi akibat kekosongan pada kandung kemih. Tetapi jika ia menjadi batu, tanda-tanda dari batu akan muncul sebelum itu. Dan jika ia menjadi bengkak panas, dengan rasa sakit ada beberapa denyut. Dan jika ia menjadi penyakit di ginjal kemudian itu hanya kekakuan.

Menurut al-Razi, jika terjadi pembengkakan yang kuat, maka air seni tidak berhenti tiba-tiba, namun secara bertahap dan hanya dengan kekakuan. Dan jika akan pembekuan darah atau nanah, maka itu akan diawali oleh maag.

“Dan jika air seni dihentikan karena air seni petikan dari ginjal, kandung kemih akan kosong dan sakit di sepanjang saluran kencingnya itu karena ada penusukan dan penyulaman dan merupakan sakit yang berkelanjutan setelah itu, menggunakan kriteria sebelumnya dalam ginjal,” papar Al-Razi.

Dengan gaya yang sama, ia membahas pengamatan klinis tentang penyimpanan. Menurut Husain dan Al-Okbey, al-Razi membedakan dengan presisi hebat antara ginjal vesical atau rasa sakit vesical dan sakit yang berkaitan dengan radang usus besar.

Dia juga unggul dalam membedakan antara batu dormant dan pergerakannya, yang menggambarkan lokasi yang tepat selanjutnya. Radbill menyatakan bahwa al-Razi adalah orang yang pertama  yang menjelaskan  spina bifida. Al-Razi  merupakan dokter pertama yang  menggunakan enemas sebagai persiapan untuk operasi.

Ia juga tercatat sebagai dokter pertama yang berhasil menghancurkan batu besar dengan menggunakan gapit batu. Selain itu, al-Razi juga ditabalkan sebagai dokter pertama yang pertama kali menjelaskan Meatotomi.  

Kitab Rujukan Urologi Karya Dokter Muslim

Risala fi Siyasat as-Sibian wa-Tadbirihim 
Kitab ini merupakan karya  Ibnu al-Jazzar atau al-Gizar (895-980 M).  Kitab  Siyasat as-Sibian wa-Tadbirihim, terdiri dari 22 bab. Buku kedokteran ini dianggap sebagai lanjutan dari perbedaan pediatri dari penyakit lain. Dalam satu bab khusus, kitab karya al-Jazzar ini  membahas batu yang terdapat pada kandung kemih, termasuk aetiology, kejadian jenis kelamin, gejala dan tanda-tanda.

At-Tasrif li-Man ‘Ajiza ‘an al-Ta’lif
 Kitab karya al-Zahrawi (930-1013 M) itu disebut  Abouleish E dalam karyanya  Contributions of Islam to Medicine Kitab at-Tasrif li-man ‘ajiza’ ‘an at-Ta’lif sebagai  karya terbesarnya dalam bidang pengobatan. Buku kedokteran yang terdiri dari 30 volume itu lebih cocok disebut sebagai ensiklopedia kedokteran dan operasi.

“Al-Zahrawi menjelaskan semua pengetahuan operasi sepanjang hidupnya dalam kitab sebanyak 30 jilid mengenai ensiklopedia kedokteran yang besar,” imbuh  Spink MS dalam  Albucasis on Surgery and Instruments.

Sejumlah sejarawan telah menjelaskan jilid ini sebagai buku kedokteran pertama yang pertama memberikan penjelasan  pengobatan lengkap yang rasional disertai ilustrasi, dan berbagai prosedur operasi dan instrumen.

Pada bidang urologi,  al-Zahrawi telah  menemukan sebuah  peralatan pengeboran untuk sebuah lubang pada batu urethal yang berbentuk seperti bor  bernama Al-Michaab. Alat ini terbuat dari  baja, dapat dianggap sebagai dasar lithotripsy.  

Al-Zahrawi juga merancang gunting khusus yang disebut Kalalib, yang digunakan menghancurkan  vesical batu besar melalui perineal cystotomy. 

Al-Qanun fi al-Tibb 
Cumston menjelaskan Ibnu Sina atau Avicenna (980-1037 M) dalam bidang urologi pada dasarnya mengikuti metode atau analisis  al-Razi. Menurut Desnos, klasifikasi penyakit ginjal  dan kandung kemih telah dijelaskan Ibnu Sina dalam  Al-Qanun.

Gejala Batu Ginjal
Menurut Ibnu Sina, seseorang yang menderita batu ginjal akan merasakan rasa sakit. Rasa sakit akan tambah memburuk ketika batu mulai terbentuk atau saat batu itu turun menuju ke kandung kemih. Penderita batu ginjal, kata kedua dokter Muslim legendaris itu, akan merasakan betapa beratnya panggul mereka.

Ibnu Sina telah mampu membuat perbedaan yang jelas antara batu ginjal dan batu kandung kemih. Para dokter Muslim di zaman memang terbilang fenomenal. Saat dunia barat dikungkung kegelapan, mereka telah menguasai perbedaan beragam penyakit. Mereka telah mampu menjelaskan perbedaan diagnosis antara sakit usus dan sakit ginjal. Penjelasan yang dibuat seribu tahun lalu itu ternyata tak berbeda dengan apa yang diajarkan di sekolah kedokteran saat ini. she/des

Sumber : http://koran.republika.co.id/berita/62700/Urologi_dalam_Kitab_Al_Hawi_Karya_Al_Razi