Minggu, 27 September 2009

Jihad, Teror, dan Puasa

Jumat, 18 September 2009 Suara Karya

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Penulis adalah Analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta


Belakangan ini, perhatian pemerintah fokus pada persoalan terorisme. Peledakan bom di Hotel JW Marriott dan The Ritz-Carlton pada 17 Juli lalu menandai betapa aksi kekerasan yang dilakukan kelompok teroris ini masih menebar ancaman bagi segenap warga, tanpa memandang siapa dan dari mana asalnya.


Terorisme pada dasarnya merupakan pembajakan terhadap nilai-nilai luhur keagamaan yang selama ini diyakini. Sikap cinta dan kasih sayang terhadap sesama telah diabaikan begitu saja, malah digantikan dengan bentuk kekerasan yang cukup menakutkan, yang tak jarang mengorbankan nyawa manusia. Secara eksplisit, bom bunuh diri yang terjadi di kedua hotel tersebut dengan jelas menunjukkan ideologi kekerasan yang dikelindankan dengan keagungan ajaran agama yang universal itu. Agama, oleh pengusung ideologi terorisme, hanya dijadikan legitimasi teologis, yang sebenarnya juga sama dengan memolitisasi dan memonopoli tafsir agama untuk kepentingan dan maksud tertentu saja.


Ironisnya, kasus bom bunuh diri, baik yang terjadi di Hotel JW Marriott dan The Ritz-Carlton maupun di berbagai wilayah Nusantara, dengan kentalnya sentimen agama beberapa tahun terakhir ini, selalu berakar pada konsep jihad dalam Islam dan pelakunya beragama Islam. Konsep jihad kerap diartikan sebagai perjuangan fisik yang berbuntut pada penghalalan atas penyerangan, kekerasan, bahkan permusuhan terhadap pihak lain. Pemaknaan jihad sebagai sikap ofensif sebagaimana dipraktikkan para teroris adalah sebuah kesalahan dan krisis keagamaan yang teramat fatal, dan bahkan bisa dikatakan sebagai krisis nurani kemanusiaan.


Distorsi makna jihad sebagai melulu fisik yang amat partikular, pada akhirnya bukan saja terus menodai citra agama (Islam) sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam, melainkan juga terus menghantui umat sebagai kekuatan laten yang destruktif dan traumatis, yang keberadaannya membahayakan pemeluk agama lain. Kalau kita cermati, perjuangan jihad yang ofensif akan membawa dampak yang merugi bagi perkembangan dan kemajuan peradaban Islam itu sendiri. Sebab, jihad sebagai ideologi kekerasan akan terus menutup egokreatif umat dan ijtihad kultural dalam pemberdayaan masyarakat madani.


Ideologi kekerasan yang digunakan untuk melawan musuh peradaban (Barat), yang menjadi alasan para teroris, bukanlah solusi yang tepat. Tuhan pun, secara teologis, selalu tidak membenarkan tindakan kekerasan sebagai perjuangan membela agama yang destruktif dan tanpa sebab. Bukankah dalam Kitab Suci disebutkan bahwa membunuh jiwa orang lain, hakikatnya sama dengan membunuh seluruh umat manusia di muka bumi ini.


Karena itu, konsep jihad selalu harus direkonstruksi sebagai sebuah ajaran yang substansial dan membawa kepada sebuah kemaslahatan bagi umat manusia. Jihad harus diletakkan sebagai sebuah pesan agama yang mengandung makna terdalam. Hermeneutika terhadap jihad adalah pencarian akar atau episteme makna yang ditujukan berdasarkan kemaslahatan umum, bukan untuk kepentingan kelompok dan golongan tertentu, apalagi harus mengorbankan jiwa manusia lainnya tanpa sebab.


Kalau diperhatikan secara saksama, terorisme dalam bentuk yang ultim seperti kasus bom bunuh diri di kedua hotel di atas, hanyalah sisi parsial dari ekstremisme beragama yang harus ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya kita meninggalkan aksi kekerasan tersebut?


Bertepatan dengan momen paling krusial dalam sejarah umat Islam, puasa yang sedang dijalankan umat Islam diharapkan dapat menekan tindak kekerasan yang belakangan ini terjadi di bumi Nusantara. Puasa yang berarti mencegah dan menahan (al-Imsak) juga bisa dijadikan pendidikan prevensi untuk mencegah dan menanggulangi aksi terorisme baik secara lokal maupun berskala internasional.


Hal tersebut sangatlah mungkin, mengingat puasa itu merupakan ibadah yang mendidik umat Islam untuk mencegah dari perbuatan yang sia-sia, apalagi tindakan brutal dan anarkis yang merugikan kemanusiaan dan jiwa. Malapetaka kemanusiaan yang sering kali terjadi di Tanah Air tidak bisa lepas dari jiwa yang kotor, hati yang membatu, dan akal yang jahat. Persoalan kebobrokan rohani ini yang dialami oleh bangsa ini, sehingga dengan mudah dan ringan tangan menghilangkan nyawa manusia tanpa alasan yang jelas.


Ibnu Katsir, ulama abad pertengahan, mengemukakan maksud dari pendidikan prevensi puasa adalah untuk menyucikan diri dari perbuatan yang jahat dan hina. Ramadhan dengan segala keistimewaannya merupakan saat yang tepat dan kesempatan yang baik bagi umat Islam untuk mereposisi perjuangan Islam melawan terorisme dan mengembalikan citra Islam dari klaim "agama teroris". Karena itu, rekonstruksi jihad dalam konteks ibadah puasa sangatlah penting. Jihad harus kita maknai sebagai reformasi moral-spiritual, sebagaimana penyebutan jihad al-akbar oleh Nabi Muhammad.


Momentum puasa adalah saat tepat memperbarui corak keberagamaan kita yang mengarah pada tindak kekerasan. Sudah saatnya corak keberagamaan yang menunjukkan teror dan kekerasan publik (wacana maupun fisik) mesti didekonstruksi sebagai religiusitas yang salah kaprah. Sebaliknya, jihad mesti dibangun sebagai militansi konstruktif ke arah toleransi nirkekerasan yang menggunakan ekspresi halus dan toleran, serta berimplikasi positif dalam memperlakukan yang lain.

DUNIA YANG MELENGKUNG DAN KRISIS PASAR

Dimuat di Majalah Gatra 43 / XV 9 Sep 2009

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Anggota International Interreligious Federation World and Peace, dan Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.


Judul Buku : Kiamat Ekonomi Global

Penulis : David M. Smick

Penerbit : Daras Books, Jakarta

Edisi : I, Juni 2009

Tebal : 328 halaman


Sebuah survei yang dilakukan The Wall Street Journal (2007), yang menggunakan para ekonom kelas dunia sebagai responden, mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) kini sedang dalam krisis keuangan. Akibatnya, ekonomi dunia pun di ambang masa kehancuran.


Krisis ekonomi global yang terjadi sekarang ini dinilai oleh sebagian pengamat ekonomi paling buruk, setelah sekitar 80 tahun terakhir pernah mengalami krisis yang sama secara global. Namun keadaan krisis ini bukan karena perang dunia yang terjadi seperti 80 tahun yang lalu, melainkan karena krisis finansial yang dialami Amerika.


Besarnya biaya pembelanjaan militer Amerika menyebabkan krisis ekonomi sejak tahun 2007 lalu. Yang lebih penting lagi, krisis subprime mortgage: kerugian surat berharga property hingga membangkrutkan Merryl Lynch, Goldman Sachs, Northern Rock, UBS, dan Mitsubishi UFJ. Akibatnya, pasar-pasar Asia dan Eropa ambruk. Seketika dunia dihadapkan pada krisis likuiditas besar 2007-2008. Dan dengan cepat pula bank-bank dan institusi finansial dunia lainya berhenti mengeluarkan pinjaman. Deal finansial pun berhenti mendadak. Bahkan kredit dunia ikut-ikutan macet karena tidak ada orang yang yakin dengan liabilitas pihak lain.


Kondisi di atas tentu saja sangat mengkhawatirkan keberlanjutan pasar finansial. Karena itu, David M Smick, mantan penasehat ekonomi para presiden AS dan menjadi CEO Johnson Smick International Inc, melalui bukunya “Kiamat Ekonomi Global” ini mengingatkan akan bahaya pasar finansial. Pasalnya, ketidakpastian dan ketidaklengkapan informasi dalam pasar finansial selalu menciptakan mispersepsi antara pedagang dan investor. Karena itu Smick menghimbau para pelaku pasar agar selalu memahami secara mendalam kebijaksanaan konvensional.


Buku yang diterjemahkan dari bahasa aslinya “The World Is Curved” (dunia yang melengkung) ini merupakan penerus sebanding bagi buku Tom Friedman “The World Is Flat” (dunia yang datar). Dalam “The World Is Flat”, Friedman menggambarkan secara jelas bagaimana tekhnologi digital telah mempersempit jarak antar-negara dan merevolusi rantai suplai global makanan dan jasa. Menurut Friedman, tekhnologi digital membuat orang bisa terlibat dalam bisnis dengan orang lain di belahan dunia lain, dan masing-masing bangsa membawa keunggulan komparatifnya ke atas meja perdagangan dunia.


Sementara dalam “The World Is Curved”, Smick melihat dunia lebih psimistis. Menurutnya, dari sudut pandang pasar finansial, dunia ini tidak rata tapi melengkung. Tidak seperti dunia yang memproduksi barang dan jasa, dalam dunia finansial, tidak ada yang berjalan lurus. Dalam pasar finansial selalu saja dipenuhi informasi tidak pasti dan tidak lengkap, karena kurangnya transparansi. Akibatnya banyak hal yang tidak dipahami oleh para pelaku pasar—investor dan pedagang. Selamanya kita tak akan paham sistem finansial dunia yang dalam satu menit tampak indah, dan pada menit berikutnya bertingkah seakan-akan dunia akan segera berakhir.


Yang lebih menarik dari buku ini, Smick juga mengurai bagaimana manuver-manuver China bisa memperburuk dan memperparah keadaan, mengapa bank-bank sentral di seluruh dunia juga tidak bisa berbuat banyak, dan bagaimana cara para bankir dan bankir investasi yang serakah memiskinkan banyak orang. Sehingga jurang kemiskinan makin melebar dan ketidakadilan merajalela.


Sekali lagi, buku ini fokus menelaah sistem finansial internasional yang rapuh dan mengungkap bahwa sistem ini penuh sengketa dan tidak mudah diperbaiki. Alih-alih datar, dunia baru kita yang terglobalisasi ini agak bergelombang dan melengkung.


Ada tiga alasan mengapa buku ini perlu dibaca. Pertama, buku ini merupakan wawasan luar biasa terhadap isi perut keungan global. Kedua, berbicara soal kerapuhan ekonomi dunia yang sedang menggejala. Dan ketiga, buku ini memberi peta jalan realistis di tengah keporak-porandaan yang kita alami sekarang ini.

Sabtu, 29 Agustus 2009

Puasa dan Perdamaian

Media Indonesia, Jum’at 21 Agustus 2009


Oleh: Mohamad Asrori Mulky

Analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta


Ali Syari’ati, sosiolog asal Iran dalam bukunya ‘On the Sosiology of I

slam’ menjelaskan, sejarah umat manusia adalah sejarah peperangan dan pertikaian antara dua kubu yang saling berkepentingan. Lebih ekstrim dari itu, Ibn Khaldun, sejarawan Muslim abad pertengahan dalam karya agungnya ‘Muqaddimah’ juga menegaskan, perang dan berbagai bentuk pertarungannya selalu akan terjadi sejak Allah menciptakan dunia”.


Konflik yang terjadi antara Qabil dan Habil, putra Adam As, pada permulaan sejarah manusia merupakan bentuk pertikaian awal dalam episode kehidupan manusia di muka bumi. Dalam rangkaian kehidupan umat manusia selanjutnya, di sini dan di bumi ini, pertarungan tersebut akan terus berkecamuk dalam segala bentuk dan wujudnya yang berbeda-beda. Hal ini semakin menta’kidkan (memperkuat) fakta ilmiah, bahwa kehidupan, manusia dan sejarah didasarkan atas kontradiksi dan pertarungan.


Sehingga dengan begitu bisa dikatakan bahwa seluruh rangkaian sejarah manusia merupakan arena pertarungan antara kelompok Qabil si pembunuh, dan kelompok Habil yang menjadi korbanya. Qabil dan Habil dalam perspektif filsafat sejarah Shari’ati merupakan aktor utama dalam panggung sejarah dunia. Setiap manusia, baik secara individu maupun kolektif akan memilih satu peran di antara dua tokoh besar itu, Qabil atau Habil. Secara tipologis, Qabil berperangai jahat, kasar, dan suka membunuh. Sementara Habil berkepribadian baik, ramah, dan pemaaf.


Kekerasan

Melalui teori di atas, kita dapat menarik kesimpulan. Bahwa kekerasan dalam berbagai bentuk dan terornya, merupakan bagian dari perjalanan hidup manusia yang mau tidak mau harus dihadapi dan diselesaikanya, bukan untuk ditinggalkan begitu saja. Karena bagaimanapun juga mahluk yang bernama ‘kekerasan’ ini akan selalu muncul dalam setiap tarikan nafas kehidupan manusia, di saat manusia tidak mampu lagi untuk menundukan dan meletakanya di bawah kuasa akal sehat dan iman kepada Allah SWT.


Sebagai mahluk ciptaan Allah yang dibekali insting, seperti rasa lapar, haus, dan juga rasa aman. Manusia sejatinya memenuhi kebutuhan instingnya itu dengan cara berinteraksi, berkomunikasi dan bersentuhan langsung dengan mahluk di luar dirinya, baik itu tumbuh-tumbuhan, binatang, ataupun manusia sejenisnya. Karena dengan melakukan interaksi keluar, manusia akan memenuhi kebutuhan instingnya itu dengan sempurna. Bukankah manusia adalah mahluk sosial.


Namun demikian, dalam melakukan interaksi ke luar setidaknya manusia akan dihadapkan pada dua pilihan yang harus dihadapinya; ‘perdamaian’ yang melahirkan kesejahteraan atau ‘permusuhan’ yang berpotensi melahirkan kekerasan dan bencana. Perdamaian dan permusuhan yang terjadi di dunia ini laksana dua mata uang yang saling menyertai manusia, sehingga batas antara keduanya sudah tidak lagi dapat diverifikasi dan dibedakan. Sekarang damai, esok maupun lusa bisa saja terjadi peperangan dan pengeboman di mana-mana, seperti yang terjadi di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta, 17 Juli lalu.


Berkaitan dengan hal di atas tadi, Murthada Muthahari, cendekiawan Islam asal Iran menegaskan, Allah SWT memberikan pada setiap manusia dua buah kecenderungan: fujur (manifestasi kejahatan) dan takwa (manifestasi kebaikan). Dua kecenderungan ini disebut oleh Muthahari sebagai dua dimensi yang selalu berlomba dan berkompetisi untuk mengalahkan satu sama lain. Kekuatan apapun yang muncul dan mendominasi, maka ia akan menjadi cermin dari orang yang bersangkutan.


Jika dimensi Takwa lebih mendominasi dalam sikap dan perilaku seseorang, maka kebaikan, kedamaian, dan sikap saling membutuhkan akan menjadi cermin pribadinya ketika ia berinteraksi keluar. Artinya, antara manusia satu dengan manusia yang lainya memposisikan dirinya sebagai mahluk sosial yang membutuhkan kehadiran akan yang lain.


Sementara fujur akan terjadi sebaliknya, satu sama lain saling mengutamakan ego dan keakuanya, tidak berusahan untuk memahami yang lain, justru menjadikan yang lain sebagai lawan yang harus dimusuhi. Sikap seperti ini sungguh berbahaya, dan sangat berpotensi merusak ketentraman dan kedamaian yang diidam-idamkan banyak pihak. Karena itu, salah satu jalan terbaik bagi kita adalah meninggalkan fujur dan menggantinya dengan takwa.


Lalu bagaimana caranya agar kecenderungan takwa itu lebih mendominasi dalam setiap aktivitas manusia di dunia? Dan bagaimana kita menundukan ego dan kejahatan sebagai manifetasi dari fujur itu?


Berpuasa

Untuk mengarah ke arah sana—dominasi takwa (kebaikan) atas fujur (kejahatan)—ibadah puasa yang akan segera kita (muslim) lakukan pada bulan ini menjadi solusi nyata dalam menangani hal tersebut. Sebab ibadah puasa, sebagaimana al-Quran tegaskan dalam surah al-Baqoroh, ayat 183, yang pengertianya adalah agar manusia meraih derajat takwa sebagai bentuk pengabdin pada Allah SWT. Puasa tidak hanya sebagai wahana yang memediasi hubungan manusia dengan Tuhanya, tapi juga sebagai upaya untuk merajut derajat takwa yang termanifestasi dalam kebaikan dan kedamaian bagi sesama manusia di muka bumi ini.


Kenapa harus dengan puasa? Karena dengan melakukan puasa akan ditempuh sikap; pertama, menahan amarah; kedua, saling memaafkan; dan ketiga, berbuat amal kebajikan. Ketiga hal ini bagi kehidupan manusia menjadi fundamen, di mana poin pertama, kedua, dan ketiga sama pentingnya, dan tidak mungkin untuk dipisahkan.


Menahan diri untuk tidak marah pada sesama adalah suatu kebajikan dan budi pekerti yang terpuji. Tapi, jika sikap ini tidak dibarengi dengan sikap memaafkan, maka tidak bisa digolongkan pada orang yang bertakwa, tapi sebagai orang pendendam dan emosional. Sementara sifat dendam itu sendiri selalu menebarkan benih-benih permusuhan dan kekerasan antar sesama manusia. Begitu pula dengan kita memaafkan orang lain tanpa dilanjutkan dengan kebaikan dan keluhuran amal, tidak dapat digolongkan juga pada orang-orang yang bertakwa, tapi sebagai orang yang munafik. Di mulut memaafkan, tetapi tindakannya menyakitkan. Pandai berjanji, tetapi tidak bisa menepati. Orang seperti itu, hatinya masih dipenuhi dengki dan kebencian.


Puasa Ramadhan sebagai kewajiban bagi umat Islam di seluruh dunia mengandung pesan moral yang sangat luhur, di mana jika dilihat dari sisi kebahasaan puasa berarti “al-imsâk” (menahan). Maka dalam pengertian syariat puasa adalah menahan aneka keinginan pada diri, baik nafsu positif seperti makan, minum, dan bersetubuh dengan istri, maupun nafsu negatif seperti ingin mencacimaki, menggunjing, dan ghibah.


Dengan begitu, pengertian puasa bisa ditarik pada pemahaman untuk menahan diri dari amarah dan murka, memaafkan sesama, dan berbuat kebajikan sosial. Puasa akan meningkatkan kepekaan kita untuk membantu orang lain dan melatih jiwa sosial kita untuk senantiasa peduli terhadap penderitaan orang. Dengan begitu, kedamaian di dunia akan terwujud.

Duduk Perkara di Jalur Gaza

Koran Jakarta, Kamis 20 Agustus 2009


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.


Judul Buku : Gelegar Gaza

Penulis : Muhsin Labib dan Irman Abdurrahman

Penerbit : Zahra, Jakarta

Edisi : I, Maret 2009

Tebal : 196 halaman


Serangan udara, dan darat yang dilancarkan tentara Israel ke Jalur Gaza selama 22 hari (27 Desember 2008--17 Januari 2009) hingga merenggut lebih dari 1.500 jiwa warga Palestina, mengundang perdebatan cukup alot di kalangan pakar dan analis politik internasional. Pasalnya, duduk perkara di Jalur Gaza tentang siapa yang melakukan serangan terlebih dahulu sampai kini masih simpang siur dan akar permasalahannya masih diperdebatkan.


Sebagian pihak menilai, agresi militer yang dilakukan Israel ke Gaza adalah reaksi atas serangan roket yang diluncurkan anggota Hamas ke pemukiman Yahudi Israel. Sementara di lain pihak menyatakan, serangan roket Hamas merupakan balasan atas serangan tentara Israel yang telah menewaskan enam anggota sayap militer Hamas di Gaza pada 4 November 2008 lalu, atau satu bulan sebelum gencatan senjata resmi berahkhir.


Buku “Gelegar Gaza” yang ditulis oleh Muhsin Labib dan Irman Abdurrahman ini, berupaya mengungkap fakta yang sebenarnya terjadi di balik serangan Israel ke Gaza. Selama ini, informasi yang kita terima lebih memihak pada Israel sebagai kelompok yang diserang dan Hamas pihak yang menyerang. Agar informasi seputar Gaza jadi seimbang, melalui buku ini, kedua penulis berkepentingan untuk meluruskan duduk perkara yang sesungguhnya terjadi di sana. Sehingga dengan begitu kita pun dapat meletakan persoalan Gaza pada proporsinya masing-masing, tidak dimanipulasi oleh pihak tertentu, apalagi dikaburkan kebenaranya.


Secara kronologis, kedua penulis menjelaskan akar persoalan di Gaza dari sejak terbentuknya kesepakatan gencatan senjata selama enam bulan (19 Juni 2008- 19 Desember 2008) hingga meletusnya perang 22 hari. Bagi penulis, serangan 4 November yang dilakukan tentara Israel adalah titik permulaan mengapa perang 22 hari di Gaza meletus.


Meski demikian, Israel tidak ingin dijadikan pihak yang bertanggungjawab dalam perang ini. Mereka tetap saja mengkambinghitamkan Hamas dengan menebar dalih yang cukup klasik, bahwa “Operation Cast Lead” yang dilakukan Israel adalah respon terhadap roket-roket Hamas yang selama bertahun-tahun telah mengganggu tidur warga Israel di wilayah Selatan. Dengan dalih ini, Israel memiliki alasan cukup kuat untuk berperang (jus ad bellum) dengan Hamas sebagai bentuk “pembelaan diri” (sef-defense).


Di atas itu semua, Norman Finkelstein, penulis buku The Holocaust Industry membeberkan motif-motif fundamental Israel di balik serangannya ke Gaza lebih didasari pada dua faktor: Pertama, Israel ingin mengembalikan pamor kekuatan militernya di mata dunia internasional yang telah dicabik-cabik milisi Hizbullah saat perang 34 hari pada tahun 2006. Dalam perang tersebut Israel mengalami kekalahan besar meski menggunakan senjata super canggih dan lengkap.


Kedua, Israel harus mengeliminasi ancaman yang dihadirkan oleh sebuah “dorongan perdamaian” yang ofensif dari pihak Palestina. Dalam konteks ini, Israel cukup khawatir terbentuknya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. Akibatnya, segala bentuk perdamaian yang ditandatangani di meja runding antara Israel dan Palestina selalu mentah, karena Israel sering melanggar kesepakatan itu.


Sekali lagi, buku ini cukup menarik karena tidak saja mengupas akar persoalan agresi Israel ke Gaza, tapi juga menyuguhkan sejarah panjang Palestina, dari sejak tahun sebelum masehi hingga meletusnya perang Gaza 22 hari. Di mana dalam perang tersebut, menurut penulis, dunia Arab seperti Mesir, Riyadh, Amman, dan lainya memberkati dan merestui serangan itu. Buktinya, sehari sebelum agresi, Kantor Berita Fars menyebutkan adanya pertemuan rahasia kepala-kepala negara Arab dengan Pemimpin Otoritas Palestina Mahmoud Abbas di Ramallah, yang tujunya, membicarakan normalisasi hubungan Arab-Israel. Benarkah demikian?


Minggu, 19 Juli 2009

Menjadi Muslim Indonesia yang Berkeadaban

SINDO, Minggu, 5 Juli 2009


Oleh Mohamad Asrori Mulky
Analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta
.

Judul Buku : Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan

Penulis : Ahmad Syafi’i Ma’arif

Penerbit : Mizan

Edisi : I, Juni 2009

Tebal : 388 halaman


Buku “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan” yang ditulis cendikiawan muslim Indonesia ternama, Buya Ahmad Syafi’I Ma’arif, bermula dari keresahannya melihat kondisi bangsa ini yang semakin terpuruk—bahkan boleh dibilang nyaris terjerembab ke dalam jurang kehancuran yang teramat dahsyat. Di mana janji-janji yang pernah dicita-citakan para pendulum bangsa ini, yaitu menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang adil, makmur, damai, tenteram, merdeka, berdaulat, dan bermartabat sepertinya masih jauh yang diharapkan. Tak heran jika ada yang berani mengatakan, “Indonesia is beyond help”.


Dengan menggunakan pendekatan kesejarahan, penulis mampu memberikan sejumlah informasi yang cukup kaya tentang asal-usul bangsa ini, dan harus kemana bangsa ini dibawa dan dihantarkan kepada jati diri yang sesungguhnya. Karena itu, bagi penulis, pendekatan kesejarahan adalah metode yang tepat melihat pernak-pernik bangsa Indonesia guna meraup kembli serpihan-serpihan kearifan lokal yang selama ini terkubur. Sambil mengutip pendapat Betheran Russel soal konsep sejarah, penulis berkeyakinan bahwa sejarah adalah laboratorium kearifan bagi siapa saja yang ingin mencari mutiara di dalamnya. Sejarah adalah jembatan penghubung masa lampau dengan masa kini, dan sekaligus menunjukan arah ke masa depan yang lebih baik.


Sebagai sebuah negeri yang megah dan kaya raya akan kekayaan alamnya, yang juga memiliki aneka pola budaya yang berbeda-beda. Pandangan relatifistis dan kecenderungan sinkretis yang kuat dari penduduknya, khususnya orang-orang Jawa, menjadikan budaya Indonesia paduan dari unsur-unsur budaya yang ada—animisme, Hinduisme, Budisme, Islam, Kristen, sampai modernisme atau westernisme yang paling mutakhir ini.


Karena itu, sangat sulit sekali bagi pemimpin bangsa Indonesia menggariskan suatu kebijaksanaan kultural tertentu berdasarkan suatu pola kultural tertentu yang sesuai dengan dan dapat diterima oleh seluruh rakyat yang memliki latar belakang kultur dan agama yang berbeda-beda pula. Penetapan kebijaksanaan yang tidak sesuai dan tidak mampu mengakomodir keinginan seluruh rakyat berpotensi menimbulkan gejolak dan kerawanan bertindak ekstrim yang dilakukan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.


Munculya bom Marriot, Bali I dan II, dan bom-bom lainya di bumi Indonesia ini, cukup membuktikan ada sebagian kelompok merasa keinginannya belum diakomodir, baik secara ekonomi, politik, dan keyakinan. Fenomena ini tentunya sangat memprihatinkan, apalagi pelakunya seorang muslim yang taat beragama. Ini menjadi cambuk serta kritik bagi umat Islam Indonesia untuk meluruskan makna Islam sesungguhnya sebagai “rahmatan lil alamin”. Karena itu, penulis melalui buku ini menawarkan cara kebeislaman yang santun dan beradab, yang jauh dari sifat-sifat kekerasan dan penindasan, dan sesuai dengan kondisi dan budaya bangsa Indonesia.


Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan adalah solusi yang ditawarkan penulis. Sebagai bangsa yang multi-kultur dan heterogen, penulis berkeyakinan bahwa penerapan Islam dalam bingkai keindonesiaa, dan kemanusiaan tidak saja bisa berjalan bersama dan seiring, tetapi ketiganya dapat menyatu dan saling mengisi untuk membangun sebuah taman sari yang khas Indonesia, bukan Islam ala Arab, Iran, Turki ataupun Eropa. Ketiga kekuatan nilai itu akan saling mengisi dan melengkapi. Di taman sari ini, watak universal Islam tampil dalam wujud “kemanusiaan yang adil dan beradab” sebagaimana yang pernah juga diidamkan Soekarno.


Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan haruslah dianyam sedemikian elok dan asri sehingga sub-kultur yang bertebaran yang membentuk Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara merasa aman dan tentram untuk bertahan di Benua Kepulauan ini sampai masa yang tak terbatas. Untuk mewujudkan hal ini, maka bangsa ini harus bangkit kembali secara autentik dengan melahirkan karya besar dan prestasi yang bermutu tinggi dalam lingkungan suasana keadilan dan kesejahteraan yang dapat dirasakan semua. Islam jika dirasakan secara benar dan cerdas akan memberikan dorongan dan sumbangan yang dahsyat untuk mengukuhkan keindonesiaan kita dibawah naungan payung ”ke-Tuhanan Yang Maha Esa” dan “kemanusiaan yang adil dan beradab”, sebagai salah satu manifeatasi iman kita dalam kehidupan bersama sebagai bangsa.


Kelemahan kita sejak Proklamasi, kita tidak serius mengurus dan menata keindonesiaan sehingga pada periode-periode tertentu masih muncul juga ledakan-ledakan sosial yang berlatar belakang politik, ekonomi, etnis, dan sub-kultur yang selalu membawa korban. Karenanya, dalam anyaman kerangka pikir Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan diharapkan agar bangsa ini bersedia menatap dan membaca ulang masa lampaunya untuk kepentingan kekinian, dan esok hari, secara jujur, bertanggung jawab, dan rasa cinta yang mendalam. Umat Islam sebagai umat terbesar di negeri ini memiliki beban tanggung jawab untuk membela agar tetap utuh dan bersatu. Jangan sampai umat Islam Indonesia mendapat julukan mayoritas minus kualitas.


Perlu dicatat, buku ini tidak saja sebagai refleksi dan jawaban penulis terhadap kondisi Islam Indonesia modern yang hampir kehilangan jati dirinya, di samping itu juga tanggapan terhadap peta umat Islam global di dunia, seperti sedang tidak berdaya dalam mengatasi tantangan yang datang bertubi-tubi. Sebuah stagnasi kultural masih sangat dirasakan di seluruh negeri Muslim, seakan-akan prestasi besar bukan lagi menjadi milik mereka. Maka pertanyaan yang mula diajukan penulis adalah mengapa dunia Islam terlalu lama berada di buritan peradaban dan sukar sekali untuk bangkit?


Mengenai pertanyaan ini, penulis mengutip pendapat cendikiawan Muslim asal Pakista, Fazlur Rahman: we live in a different kind of Islam, not in quranic Islam. Bahwa umat Islam dalam keseluruhannya tengah hidup dalam bayang-bayang makna Islam yang semu dan menipu, bukan Islam qurani yang telah diajarkan rasulullah. Sehingga dengan begitu, sistem kehidupan untuk hidup lebih baik sebagai perwujudan diktum “rahmat bagi alam semesta” tidak dapat dipenuhi.


Penulis juga mengoreksi etos kerja umat Islam yang terlalu percaya pada nasib pasif, apatis, dan gampang menyerah. Menurut penulis, sambil mengutip pandangan Mohamad Iqbal, bahwa menyerah diri pada nasib dengan dalih ketentuan takdir (predeterminisme) telah merobek ajaran Islam tentang wajib kerja dan wajib berjuang di muka bumi ini. Karena itu, setiap muslim harus memfungsikan egonya.

Percikan Api Renaisans dari China

SINDO, 21 Juni 2009


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.

Judul Buku : 1434

Penulis : Gavin Menzies

Penerbit : Alvabet

Edisi : I, April 2009

Tebal : xvii + 430 halaman


Biarkan Cina terlelap. Sebab, jika Cina terbangun, dia akan mengguncang dunia lagi”, kata Napoleon Bonaparte. Pernyataan Napoleon ini dapat kita tafsir paling tidak menjadi dua pengertian. Pertama, ada ketakutan yang mendalam dari bangsa Eropa terhadap eksistensi Cina. Karena, Cina dipandang sebagai bangsa yang memiliki potensi besar untuk dapat bersaing dan mengalahkan kejayaan Eropa sekarang ini.


Dan kedua, pernyatan ini seakan memberi petanda, bahwa Cina pernah menjadi bangsa yang besar dan digdaya. Menurut para sejarawan, sejarah kebudayaan Cina adalah salah satu sejarah kebudayaan tertua di dunia. Dari penemuan arkeologi dan antropologi, daerah Cina telah didiami oleh manusia purba sejak 1,7 juta tahun yang lalu. Penemuan ini cukup membuktikan betapa bangsa Cina telah mengalami proses kehidupan yang teramat panjang di alam duni ini.


Sebagai kebudayaan tertua di dunia, Cina memiliki perbedaan yang unik jika dibandingkan dengan kebudayaan dan peradaban dunia lainya, seperti Mesir dan Babilonia. Hal ini disebabkan karena sejarah kebudayaan Cina tidak pernah terputus selama hampir 5000 tahun lamanya. Pergantian pemerintahan dari dinasti ke dinasti tidak menyebabkan kebudayaan dan peradaban Cina mengalami kehancuran dan pergeseran yang teramat besar.


Bahkan hingga kini, peradaban bangsa Cina masih terus eksis dan bertahan, bahkan menjadi perhatian banyak orang, baik dari kalangan ilmuan, pengamat, arkeolog, sosiolog, dan lainya. Menurut keterangan, orang seperti Ibnu Batutah dan Marco Polo di masanya sangat menaruh minat yang mendalam terhadap kebudayaan Cina. Melalui jasa kedua orang inilah, konon, dunia mengetahui kebesaran dan kemegahan kebudayaan bangsa Cina dalam segala bidang. Hingga Nabi Muhammad pun dalam satu riwayatnya pernah menyeru umat manusia untuk belajar ke negeri Cina.


Pada titik inilah, posisi Gavin Menzies dalam buku “1434” ini menjadi penting. Menzies memberi kesimpulan yang cukup mencengangkan, bahwa kemajuan materi peradaban dunia saat ini, terutama dunia Eropa, sesungguhnya mendapat sumbangsih yang cukup besar dari hasil teknologi peradaban Cina. Kesimpulan Menzies ini sebetulnya ingin meluruskan padangan yang mengatakan bahwa renaisans dilukiskan sebagai masa kelahiran kembali peradaban Eropa Klasik Yunani dan Romawi. Bagi Menzies justru percikapan penularan pengetahuan intelektual Cina merupakan bukti yang tak dapat dipungkiri sebagai percikan api yang mengobarkan renaisans di Eropa hingga kini.


Dalam buku setebal 430 halaman ini, Menzies memberikan banyak bukti tentang pengaruh Cina dalam kebangkitan kebudayaan Eropa sekarang ini. Di antara temuan Menzies yang harus ketahui adalah. Bagi Menzies, Cristopher Columbus bukanlah orang yang pertama kali menemukan benua Amerika. Ada orang lain yang pernah menemukan benua itu sebelum Columbus menemukanya. Logikanya bagaimana mungkin seorang Columbus dapat menemukan benua Amerika yang pertama kali pada 1492, sementara ia telah memiliki peta kawasan Amerika 18 tahun sebelum ia melakukan perjalanan dan menemukan benua Amerika?


Begitu juga dengan kasus Magellan, sang penjelajah dari Portugis. Selama ini kita dipaksa meyakini bahwa Magellan adalah orang yang pertama kali menemukan Samudra Pasifik. Padahal, menurut Menzies, Martin Waldseemuller telah menerbitkan peta kawasan Amerika dan Samudra Pasifik pada tahun 1507, 12 tahun sebelum Magellan melakukan pelayaranya. Dan pada tahun 1515, 4 tahun sebelum Magellan berlayar, Johannes Shoner menerbitkan sebuah peta yang memperlihatkan selat Pasifik yang disebut “ditemukan” Magelan itu. Namun demikian, kedua pembuat peta ini, kata Menzies, bukan satu-satunya orang yang memiliki pengetahuan misterius tentang daratan yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh mereka berdua. Ada orang lain—bangsa lain—yang mendahului Magellan dan kedua pembuat peta itu mengetahui benua Pasifik.


Buku yang sarat dengan teka teki ini juga membeberkan pada kita bahwa Paolo Toscanelli pernah mengirimkan peta benua Amerika pada Columbus dan raja Portugal—dari raja Portugal inilah Magellan mendapatkan peta benua Pasifik. Sementara Toscanelli sendiri pernah bertemu duta besar Cina yang singgah ke Florensia, yang secara bersamaan pula duta besar ini bertemu Paus Eugenius IV. Pada saat itulah, delegasi Cina memberikan segudang pengetahuan pada Toscanelli dalam berbagai bidang ilmu: seni, geografi (termasuk peta-peta dunia yang kemudian diteruskan kepada Columbus dan Magellan), astronomi, matematika, percetakan, arsitektur, pembuatan baja, persenjataan militer dan lainya.


Menzies juga menginformasikan pada kita, bahwa Leonardo da Vinci bukanlah seorang yang genius dan pintar sebagaimana kita yakini selama ini. Padahal, menurut Menzies, Leonardo tak lebih sebagai seorang juru gambar ketimbang penemu. Menzies meyakini, Leonardo banyak belajar dari seorang peranacang dan insinyur handal, yaitu Francesco di Giorgio. Darinya Leonardo meniru cara membuat parasut, helikopter, kanal, saluran air dan lainya.


Untuk menguatkan kesimpulan Menzies di atas, Dr. Ladislao Reti, ahli tentang Leonardo dalam “Helicopters and Whirlgigs” menyimpulkan, sebuah model helikopter dalam bentuk mainan baling-baling anak-anak muncul di Italia sekitar 1400 dari China dan memberi dasar teoritis bagi proyek helikopter Leonardo yang terkenal itu. Menzies juga memberi kesimpulan, bahwa sumber pengetahuan yang dimiliki di Georgio tentang gambar-gambar mesin sepenuhnya diambil dari buku Nung Shu yang diterbitkan pada 1313 oleh bangsa China. Buku ini sempat menjadi sumber insiprasi bagi banyak kalangan cendikia.


Buku “1434” ini sangat penting dibaca karena memuat informasi yang baru, yang selama ini belum terpikirkan. Kita hanya meyakini bahwa renaisans pertama kali dikobarkan di daratan Eropa. Namun buku ini memberikan kenyataan yang berbeda. Dengan bukti-bukti yang baru, lengkap, dan akurat, Menzies menghubungkan awal mula renaisans Eropa dengan penjelajahan yang dilakukan bangsa Cina pada abad ke-15, yang dipimpin Laksamana Cheng Ho atas titah Kaisar Xuan De untuk berlayar mengelilingi dunia. Pada saat itulah Eropa diperkenalkan dengan kebudayaan bangsa Cina dari berbagai bidang ilmu pengetahuan.


Kisah Manusia Pencabut Nyawa

Koran Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2009


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.

Judul Buku : The Mafia’s Greatest Hits

Penulis : David H. Jacobs

Penerbit : Dastan, Jakarta

Edisi : I, April 2008

Tebal : 334 halaman


Negeri Pizza, Italia dikenal sebagai salah satu negeri pengekspor imigran terbesar ke negari Paman Sam (Amerika Serikat) pada abad ke 19 dan ke 20. Di tahun 1900-an, orang-orang Italia menjadi Raja Bandit tersohor di seantero AS, dari Chicago, New York di pantai timur sampai ke San Fransisco dan kota-kota lain di pantai Barat.


Mereka dikenal dengan nama Mafia. Umumnya, mereka berkecimpung dalam dunia perjudian, pelacuran, obat-obatan terlarang, praktek-praktek suap, perdagangan alkohol dan bisnis-bisnis haram lainnya. Salah satu nama tersohor di antara para bandit-bandit asal sisilia, Italia itu adalah Al Capone, mafia nomor satu di Chicago yang sempat dijuluki “The Untouchable” (yang tidak tersentuh). Kejeniusan dan kebengisannya dalam menghabisi musuh-musuh bisnisnya sudah tidak diragukan lagi.


Menurut Nicaso dan Lamothe, mafia pada awalnya bukanlah organisasi kriminal yang biasa diidentikan dengan aksi-aksi kekerasan, brutalisme dan barbarisme. Tapi sebagai organisasi atau kelompok perjuangan melawan penindasan dan penjajahan Prancis yang teramat kejam di Sisilia, Italia. Dengan kata lain, organisasi mafia ini dibentuk lima abad yang lalu dengan membawa misi nasionalisme dan patriotisme bangsa Italia yang sedang mengalami penjajahan.


Namun, dalam perkembanganya, organisasi mafia ini menjadi kelompok yang sangat ditakuti. Mendengar kata mafia, ingatan orang akan tertuju pada sebuah organisasi yang “untouchable”, selalu berurusan dengan aparat hukum karena gerakannya yang selalu mengandalkan kekerasan, kekuasaan, serta bisnis yang mengarah pada obat-obatan terlarang. Membunuh, balas dendam, menyiksa, hura-hura dan geng tidak bisa lepas dari perilaku mafia. Lalu, bagaimana sepak terjang para mafia menghabisi lawan-lawanya?


Buku “The Mafia’s Greatest Hits” karya David H. Jacobs ini merupakan buku yang mengisahkan sepak terjang para mafia Amerika yang berperangai kejam dan berdarah dingin. Dengan disuguhkannya model-model sepuluh pembunuhan paling fenomenal yang terjadi pada bos-bos mafia, menjadi daya tarik tersendiri bagi karya David Jacobs ini. Di dalam buku ini juga, Jacob membahas secara mendalam latar belakang serta strategi dan taktik yang digunakan dalam pembunuhan tersebut, plus dampaknya terhadap dunia mafia dan bahkan dunia internasional.


Dalam buku ini juga kita akan mengenal lebih dalam beberapa nama bos mafia, seperti Al Capone, Charlie Luciano, Don Salvatore Maranzano, Bugsy Siegel, Albert Anastasia, Paul Castellano, dan mafia-mafia lainya. Mereka semua ini adalah bos-bos mafia yang sangat ditakuti di Amerika. Keberadaan mereka tidak saja mengkhawatirkan warga Amerika, tapi juga selalu saja membuat repot aparat kepolisian. Uniknya lagi, sebagian dari bos mafia ini dengan kecerdikanya ada yang bersekutu dengan pemerintah AS, agen CIA, dan konglomerat AS.


Perlu digarisbawahi, bahwa keseluruhan kisah kesepuluh pembunuhan yang dilakukan bos-bos mafia dalam buku ini, hanyalah puncak gunung es yang berhasil direkam secara jelas dan nyata oleh Jacob. Pembunuhan yang terjadi pada bos-bos mafi ini melibatkan berbagai masalah, seperti kecurangan pemilu 1960; John F Kennedy yang berbagi wanita dengan Giancana dan Rosselli; keterlibatan Kennedy bersaudara dengan Marilyn Monroe dan kematian mendadak artis ini; serta konspirasi berbagai bisnis rahasia AS dan Mafia, termasuk persengkongkolannya untuk membunuh Fidel Castro, Presiden Kuba.


Keberadaan mafia tentu saja sangat merugikan banyak pihak termasuk negara. Dalam konteks Indonesia misalnya, negeri ini terancam menjadi negara yang dikuasai oleh mafia kejahatan terorganisasi. Indikasi ke arah itu sudah semakin jelas. Mungkin bukan mafia model Amerika yang kerap membantai secara keji. Tetapi model mafia ini juga tidak lebih berbahaya, yaitu kejahatan korupsi terorganisasi yang sulit dilacak dan dibongkar. Mafia kejahatan korupsi di Indonesia sudah sangat rapi dan luas jaringannya. Hampir tida ada satu pun lembaga yang tidak ditembus oleh mafia korupsi yang terorganisasi. Bahkan Kejaksaan Agung pun sudah keropos digasak mafia korupsi.