Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Rabu, 13 September 2017

Godfather Menggenggam Asia

Rabu, September 13, 2017 1
Asian Godfathers/SINDO
Oleh: Mohamad Asrori Mulky* 
Seputar Indonesia | Minggu, 29 Maret 2009 | 

Istilah "godfather" pertama kali diperkenalkan oleh Mario Puzo dalam novelnya, The Godfather, yang berkisah tentang seorang tokoh Vito Corleone.

Tokoh ini sangat dihormati, dicintai, sekaligus ditakuti dan dibenci oleh kawan maupun lawan-lawannya. Meski sebagai mafia penguasa New York, Vito dari Sisilia-Italia ini menolak tradisi balas dendam. Kenyataan seperti itu tentu tidak lazim dilakukan dalam dunia mafia yang identik dengan aksi barbarisme, anarkisme, dan brutalisme terhadap kelompok di luar mereka.

Berbeda dengan buku The Godfather karya Mario Puzo, buku Asian Godfathers karya Joe Studwell lebih menggambarkan tradisitradisi paternalisme, kekuasaan laki-laki, penyendirian, dan mistik yang benar-benar menjadi bagian dari kisah para taipan Asia dari dulu hingga kini.

Karya ini bermaksud menunjukkan pada pembaca bahwa ada mitologi lain yang tumbuh di antara para taipan-taipan Asia, yang besar dan tak tersentuh. Dalam buku ini, Studwell tidak menilai keseluruhan taipan Asia (godfather) sebagai spesies yang benar-benar berhati dengki dan terlibat dalam sejumlah kejahatan terorganisas--meski kenyataannya ada sebagian dari mereka terlibat kejahatan terorganisasi tersebut.

Karena itulah para taipan Asia ini sulit dijangkau dan diverifikasi. Bila kita perhatikan lebih mendalam, seluruh rangkaian legenda yang terjadi di Asia, khususnya kawasan Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, Hong Kong, dan Filipina mengandung sejumlah submitos tentang ras, budaya, genetika, entrepreneuralisme, dan keseluruhan dasar dari kemajuan ekonomi kawasan ini sejak akhir kolonialisme.

Koran Sindo


Maka, dalam pengertian seperti inilah buku Asian Godfathers merupakan kebalikan dari The Godfather-nya Mario Puzo. Dalam sejarah Asia Tenggara, seluruh perekonomian di kawasan ini sepenuhnya dikendalikan oleh segelintir konglomerat atau taipan. Umumnya mereka itu dikenal sebagai godfather Asia.

Menurut Studwell, pada 1990-an, mereka termasuk delapan dari 25 orang terkaya di dunia. Sebut saja misalnya Li Ka-shing, sang miliuner Hong Kong; Stanley Ho, bandar kasino di Macau; Lim Goh Tong, pemilik Genting Highland Resort yang sangat besar di Malaysia; Lucio Tan, miliuner tembakau di Filipina; atau para konglomerat Indonesia, dari Achmad Bakrie, Haji Kalla, Eka Tjipta Widjaya, hingga Tommy Winata.

Dalam buku ini, Studwell memberi analisa yang menarik tentang awal kemunculan para godfather Asia. Menurutnya, lanskap ekonomi kontemporer Thailand, Malaysia, Indonesia, Filipina, Singapura, dan Hong Kong dibentuk oleh interaksi antara dua kekuatan sejarah, yaitu migrasi dan kolonialisme.

Kehadiran kaum imigran ke daerah-daerah Asia ini, seperti India, China, dan Arab, mendahului kaum kolonial Eropa. Mereka datang ke kawasan Asia tidak saja melibatkan diri dalam urusan perdagangan, tapi juga dalam kegiatan- kegiatan lainnya. Di Thailand, sejak abad ke-16 kaum imigran dipekerjakan dalam berbagai pekerjaan yang disetujui oleh pengadilan.

Orang-orang Persia dan China mengoperasikan monopoli- monopoli perdagangan dan jasa pengumpulan pajak. Hingga abad ke-18, orang-orang China tercatat bekerja untuk pengadilan Thailand sebagai administrator dan akuntan. Fenomena ini juga tak jauh berbeda terjadi di Pulau Jawa di Indonesia.

Tercatat dengan jelas bahwa para pengusaha China memasuki manajemen administratif dan pengelolaan monopoli bersama kaum aristokrat Jawa sebelum kedatangan orang-orang Eropa pada abad ke-16. Sementara itu, kedatangan kaum kolonial Eropa, yang muncul pada abad ke-16, namun tidak ekspansionis secara agresif hingga abad ke-19, memperkuat kecenderungan yang sudah tampak.

Kaum kolonial berusaha berkuasa melalui elite-elite yang ada, baik secara politik maupun ekonomi. Mereka merepresentasikan diri sebagai penguasa tertinggi sehingga para pemimpin politik dan ekonomi lokal mau tidak mau membutuhkan mereka dan begitu pula sebaliknya. Bagi para imigran yang ambisius, baik dari China, Arab, dan Persia, kehadiran orang Eropa merupakan momentum tepat untuk mengakulturasi diri mereka dengan para penguasa baru itu yang merepresentasikan diri sebagai kekuatan dominan.

Di Indonesia, para taipan China mendapat perlakuan yang istimewa dari Belanda sehingga lama kelamaan orang China menjadi godfather di negeri ini. Perlu diketahui, terutama di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, perkembangan ekonominya merupakan produk dari kekuatan politik dan ekonomi yang berkembang di era kolonial dengan setumpuk karakter yang berbeda pascakolonial.

Dalam hubungan ini, elite politik memberikan kepada elite ekonomi konsesi-konsesi monopoli ekonomi. Para taipan di setiap kawasan Asia Tenggara, secara keseluruhan cenderung melayani kepentingan politik dan para elitenya. Mereka—godfatehr—mendapatkan kekayaan personal yang besar dari hubungan itu, namun mereka tidak banyak memberikan kemajuan ekonomi secara keseluruhan. 

Maka, pada titik inilah kawasan Asia Tenggara memiliki kelemahan besar dalam pembangunan politik dan institusional, yang membuat kawasan ini mengalami kehancuran yang sangat akut. Sebagian besar dari problem itu belum bisa teratasi dalam satu dekade sejak krisis melanda seluruh kawasan itu.(*)

* Mohamad Asrori Mulky, Deputi Direktur Freedom Foundation Jakarta dan peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina.

_________________________________
Judul      : ASIAN GODFATHERS (Menguak Tabir Perselingkuhan Pengusaha dan Penguasa)
Penulis          : Joe Studwell
Genre            : Ekonomi
Penerjemah   : Yanto Musthofa
Editor             : Julie Indahrini
Cetakan         : I, Maret 2009
Ukuran           : 15 x 23 cm (plus flap 8 cm)
Tebal              : 432 halaman
ISBN              : 978-979-3064-63-5


Harga             : Rp. 85.000,-

Kisah Penaklukan Bandar Terbesar

Rabu, September 13, 2017 0



Oleh: Mohamad Asrori Mulky

Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, Jakarta 

Judul: 1453: DETIK-DETIK JATUHNYA KONSTANTINOPEL KE TANGAN MUSLIM
Penulis:  Roger Crowley

Penerbit: Alvabet, Jakarta, April 2011, 385 halaman

_________________________________________________

Kokohnya benteng pertahanan Konstantinopel, Theodosius, menciutkan nyali para penakluk untuk merebutnya. Inilah cerita penaklukan Sultan Mehmet II yang kesohor itu.


Konstantinopel adalah kota yang dibangun Kaisar Romawi Timur (Byzantium), bernama Constantine I, pada tahun 330. Kota ini sangat strategis. Letaknya di antara batas Eropa dan Asia, baik di darat sebagai salah satu Jalur Sutera maupun di laut, antara Laut Tengah dan Laut Hitam. Ia juga dianggap sebagai titik terbaik sebagai pusat kebudayaan dunia, setidaknya pada kondisi geopolitik pada saat itu.

Tak mengherankan bila Konstantinopel selalu menjadi kota rebutan bangsa-bangsa dunia, baik dari Eropa, Rusia, Afrika, Persia, Arab-muslim, bahkan Kesultanan Turki. Kekhalifahan Islam sendiri, dalam rentang 800 tahun, sudah mencoba merebutnya, tapi selalu gagal. Dimulai dari Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan (44 H), Sulaiman bin Abdul Malik (98 H), Harun al-Rasyid (190 H), hingga masa Kesultanan Turki Utsmani --sejak Sultan Bayazid I (796 H) hingga Sultan Murad II (1451 M). 

Buku ini mengisahkan kembali keberhasilan Sultan Mehmet II (Mahmud II), putra Sultan Murad II, dalam membebaskan Konstantinopel dari tangan Kaisar Constantine XI Paleologus. Sebuah prestasi besar yang tak pernah bisa dilakukan para khalifah Islam sebelumnya.

Peristiwa ini menandai terbukanya dunia Timur Tengah menuju dunia modern yang, menurut Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi dalam bukunya, Madza Khasira al-Alam bi Inhithath al-Muslimin, telah membangkitkan kembali semangat kaum muslimin untuk mengembalikan kejayaan dan kewibawaan Islam di mata dunia pasca-keruntuhan Bani Abasyiah oleh tentara Tartar Mongol.

Majalah Gatra



Konstantinopel merupakan kota laut dengan pertahanan tembok tebal berlapis dua setinggi 10 meter dan dikelilingi parit sedalam 7 meter, yang tidak mungkin bisa dikepung kecuali menggunakan armada laut. Menyadari itu, Sultan Mehmet II membawa 400 unit kapal perang, meriam-meriam penghancur, dan peralatan berat canggih lainya, dengan jumlah pasukan 150.000 personel.

Tepat pada Jumat 6 April 1453, Sultan Mehmet II bersama gurunya, Syaikh Aaq Syamsudin (keturunan Abu Bakar Shiddiq), beserta dua tangan kanannya, Halil Pasha dan Zaghanos Pasha, menyerbu benteng kota Konstantinopel. Diiringi hujan panah, tentara Islam Turki maju dalam tiga lapis pasukan. "Irregular" di lapis pertama, "Anatolian Army" di lapis kedua, dan terakhir pasukan khusus "Yanissari".

Meski segala kemampuan dengan bantuan teknologi canggih dikerahkan, Konstantinopel sulit ditaklukkan. Banyak tentara Sultan tewas dan hampir saja membuatnya frustrasi. Hingga akhirnya sebuah ide yang terdengar bodoh harus dilakukan hanya dalam semalam: memindahkan kapal-kapal tempur melalui darat untuk menghindari rantai penghalang. Usaha ini berhasil memasukkan 70 kapal ke wilayah Selat Golden Horn hingga mengejutkan pihak musuh.

Hampir dua bulan pasukan Sultan menggempur pertahanan Konstantinopel. Hingga Selasa 20 Jumadil Ula 857 H/ 29 Mei 1453 M, hari kemenangan itu tiba. Melalui pintu Edirne, pasukan Sultan memasuki kota dan mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyah di puncak kota sebagai tanda runtuhnya kejayaan Konstantinopel. Dalam pertempuran hebat itu, Kaisar Constantine XI dikabarkan tewas, walau sampai saat ini jasadnya tidak pernah ditemukan.

Di antara reruntuhan benteng dan bangunan megah, Sultan Mehmet II membangun kota Konstantinopel kembali dan memberi perlindungan kepada penduduk taklukan untuk hidup semestinya. Sultan mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol. Kini nama itu diganti Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul. 

Karya Roger Crowley ini berhasil membangun versi cerita yang begitu memikat tentang penaklukan Konstantinopel. Selama ini, peristiwa berdarah itu diceritakan para sejarawan berdasarkan asumsi terkait detail dan pertentangan di antara dua kubu yang berseteru. Karena itu, Roger berusaha menjauhkan kata "barangkali", "mungkin saja", "bisa jadi", dan istilah sejenisnya.



Selasa, 31 Juli 2012

Sunyi yang Dibunuh Waktu

Selasa, Juli 31, 2012 0
kamar kosan
Pukul 02.00 pagi, sepiku menikam ruang, ketika kedua mataku tak mau terpejam. Andai saja kesunyian bisa membunuh, melepas jiwa dari raganya, dan mencabik-cabik tubuh ini—menjadi potongan-potongan debu, daun yang dimakan benalu—tentu dalam waktu dekat aku pasti akan segera mati, terkubur dalam lumpur yang kotor.

Kurasakan seluruh sudut ruangan ini menebar teror kesetiap inci tubuh dan jiwaku. Bulu-bulu halus di pundaku meronta, melayang, meninggalkan alam keheningan. Nafasku menderu-deru bagai desing peluru. Pikiranku melayang mencari bayang-bayang masa lalu, mengembara di alam kegelapan dan terpuruk berpapasan dengan kesal yang tak pernah ada tapal batasnya.

Pukul 03.00, sepiku mengguncang sukmaku. Tangan, mata, mulut, telinga, kaki, dan anggota tubuh lainya, semuanya membisu; tak ada percakapan, tak ada gerakan, tak ada keinginan. Sepiku kian abadi, menjadi nuktoh yang datang bersama musim tumbang.

Tapi kini, hampa ruangan tak lagi jadi musuh abadi, karna ia sudah menjelma jadi teman sejati. Hanya ada satu harapan; hari esok. Hari di mana matahari bersinar dengan kehangatan yang menyapa dan aku bisa kembali menghirup udara segar. Akupun akan hidup sehari lagi dengan harapan yang masih tersisa.

Sabtu, 28 Juli 2012

Kesendirian Juga Akan Pergi

Sabtu, Juli 28, 2012 0
jangan pernah berkata “aku sendiri”
sebab dalam kembara ini
setiap orang pernah ditampar kutuk kehidupan
orang yang berteriak seperti kobaran api yang menjilat dalam gelap
toh lambat laun akan padam juga
hidup selalu bertukar tangkap antara ‘terang’ dan ‘gelap’

Jumat, 27 Juli 2012

Jumat, Juli 27, 2012 0
Ketika waktu melipat senja menjadi malam
Sepi itu pun menukik dalam sendu

Wajah mu yang merona
Matamu yang sayu
Mengusir cerita usang berganti rindu

Oooh juwitaku....!
Mengapa kau siksa batin ini dengan bayang-bayang semu?
Sementara aku menepis lapis demi lapis gerimis
yang membunuh harapan-harapanku

Orang berlalu
Waktu berlalu
Apakah kau tikam aku dengan cintamu
Juga akan pergi berlalu???

Kamis, 26 Juli 2012

Kamis, Juli 26, 2012 0
Ibu...aku mencintai-mu tanpa penanda waktu
di ujung titik atau berbalik, sama saja
meski sunyi merupa duri
menusuk perih dan nyeri
cinta-ku tak akan pernah terpejam terendam lelah
gerhana bulan jadi saksi yang tabah

Ibu...tangan kiri-mu menimang bayi
tangan kanan-mu mengguncang dunia
hanya dengan satu ridho-mu
kami menuju kehidupan
ridhoilah kami
selalu, selamanya !!!
Kamis, Juli 26, 2012 0
di antara Borobudur dan Prambanan,
kukenang kisah para leluhur di persimpangan kota Jogja.
saat purnama bulan saka
saat temaram malam bercengkerama di balik kabut yang menjelaga.
saat hatiku terpana pada kemegahan peninggalan wangsa Seylendra dan Sanjaya.

kuabadikan dirimu
dalam hati
dalam ingatan
dan dalam waktu
yang tak pernah terduga...selamanya!

Rabu, 29 September 2010

Menelusuri Investasi Fokus

Rabu, September 29, 2010 0

WARREN Buffett mengembangkan strategi investasi fokus pada dunia bisnis.Keunikan investasi fokus adalah titik tekanya pada penelaahan aspek matematika dan psikologi untuk menyusun portofolio. 

 

Model investasi fokus ala Buffett merupakan negasi terhadap manajemen portofolio aktif dan investasi investasi indeks yang sebelumnya lebih diunggulkan para investor. Ciri dari manajemen portofolio aktif adalah terus-menerus membeli dan menjual saham biasa (common stock) dalam jumlah besar. Karena memang tujuan dari portofolio aktif ini adalah berusaha membuat klien puas dan mendapatkan keuntungan dengan cepat. Sementara investasi indeks lebih bersifat pasif, yaitu beli dan tahan menunggu peluang emas. Pendekatan model ini melibatkan penyusunan, kemudian menahan, portofolio terderivasi dari saham biasa yang secara sengaja dirancang untuk meniru perilaku indeks patokan spesifik.

 

Kedua pendukung pendekatan ini sudah sejak lama berperang terbuka untuk menentukan bahwa modelnyalah yang terbaik dan menghasilkan pengembalian investasi lebih tinggi. Masing-masing menunjukkan kelebihannya untuk menarik simpati pengikut.Mana-jer portofolio aktif, berkat keahli-an dan kepiawaian mereka, bisa lebih baik dibandingkan strategi indeks mana pun. Di lain pihak, ahli strategi indeks mengklaim bahwa sejarah belakangan ini lebih membela mereka. Menurut Buffett, meski benar bahwa investasi aktif dan strategi indeks menawarkan diversifikasi, secara umum tak satu pun strategi ini memberikan keuntungan luar biasa dan dapat memuaskan para investor. 

 

Karena itu dengan cepat Buffett menunjukkan bahwa ada alternatif ketiga yang lebih meyakinkan dan menguntungkan investor, yaitu “investasi fokus”. Esensi dari investasi fokus ini adalah memilih sedikit saham yang cenderung menghasilkan keuntungan di atas rata-rata selama jangka panjang, bukan jangka pendek. 

 

Kiprah Investor Ulung

Siapa tak mengenal Warren Buffett, raja investor yang memiliki kekayaan pribadi sekitar 62 miliar dolar AS (versi Forbes 2008, sebelum krisis keuangan)? Nilai kekayaan menempatkannya sebagai orang terkaya sedunia setelah pemilik Microsoft Corporation,Bill Gates.Kebesaran nama Buffett dalam dunia investasi (saham) hingga kini belum ada yang menandingi. Dengan prinsip-prinsip investasinya yang telah teruji oleh waktu membuktikan kesahihan dan otoritasnya dalam berinvestasi. Bakat Buffett dalam dunia investasi memang sudah terlihat sejak ia masih kecil dengan kesukaannya dalam perhitungan numerikal. 

 

Pada usia 6 tahun dia sudah punya impian bagaimana memperoleh uang dan sangat berhemat dengan menyisihkan uang yang dia terima. Menginjak usia 9 tahun, Buffett mulai belajar ilmu investasi saham dengan membuat catatan berupa grafik dari semua jenis saham dan mencantumkan lebih banyak informasi berupa angkaangka. Pada usia 17 dia mendapatkan uang lumayan banyak untuk ukuran seusianya, 5.000 miliar dolar AS dengan bekerja sebagai pengirim koran. Pada usia dewasa dia belajar keuangan di Columbia University. 

 

Di kampus inilah dia kemudian bertemu profesor keuangan beken, Benjamin Graham, yang dinobatkan sebagai bapak analis sekuritas modern dengan bukunya, The Intelligent Investor.Tesis buku itu mengatakan, pasar modal adalah tempat di mana pelaku sering membuat kesalahan dengan bertindak tanpa perhitungan rasional, maka pelaku pasar yang disiplin dan berdasarkan perhitungan rasional yang akan sanggup bertahan dan juara. Dari Benjamin inilah Buffett mengembangkan investasi fokus modelnya sendiri. Selain Benjamin Graham, Buffett mengagumi Philip Fisher. Dua orang yang dianggap sebagai mahaguruolehBuffettitumemiliki karakter investasi berbeda.

 

Graham lebih dikenal dengan strategi investasi nilai. Saat memilih saham,Graham selalu mendasarkan pada analisis fundamental ke-uangan perusahaan dan strategi diversifikasi. Artinya, Graham menekankan pada kriteria kuantitatif, selalu mencari saham yang harga pasar jauh di bawah harga wajar. Sebaliknya, Philip Fisher lebih menekankan pada kriteria kualitatif. Menurut Fisher,sebelum membeli saham sebuah perusahaan,lihat dulu tim manajemen pengelolanya, bagaimana cara perusahaan tersebut dikelola. Buffett melihat, ada kesamaan dari kedua orang pakar tersebut. Keduanya sukses dan sama-sama berpikir jangka panjang untuk setiap investasi.Graham,misalnya, menganjurkan agar investor memilih saham yang layak dipegang, meskipun pasar saham mendadak tutup besok. 

 

Fisher memberi contoh lewat caranya memegang saham Texas Instrument,yang dibeli sejak awal perusahaan tersebut melakukan private placement. Nah, Buffett yang brilian ini mencoba menggabungkan strategi Graham dan Fisher. Sebelum menentukan pilihan, dia akan meriset perusahaan tersebut habis-habisan, dari sisi bisnis, manajemen, finansial, dan pasar. Dengan dasar riset tersebut Buffett mengerti benar bagaimana perusahaan-perusahaan yang hendak dibelinya. Inti dari semua itu,Buffett lebih berpikir tentang investasi jangka panjang,pada saham-saham perusahaan yang produknya dikenal baik. 

 

Kemampuan Warren Buffett memilih saham yang bernilai di bawah harga pasar merupakan bukti hidup yang mengagumkan.Beberapa ahli mengatakan,ke-mampuan itu sekaligus menjadi bukti kegagalan teori akademis yang menyebutkan bahwa pasar bersifat efisien.Artinya harga sahamberkaiteratdenganinformasi yang beredar di publik tentang perusahaan terkait. Menurut Buffett, pasar kerap salah menentukan harga.Pasalnya, harga pasar kerap ditentukan oleh emosi para investor.

 

Padahal emosi para investor bersifat jangka pendek, sementara dalam jangka panjang pasar justru akan mengikuti fundamentalperusahaan.Lantaran itu, Robert dalam buku ini merasa perlu menuliskan keunggulan model investasi fokus ala Buffett yang telah teruji oleh waktu.

-------------------------------------------------------------


Dimuat di SINDO, 19 September 2010

Mohamad Asrori Mulky

Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, Jakarta.


Judul : The Warren Buffett Portfolio

Penulis : Robert G. Hagstrom

Penerbit : Daras Books, Jakarta

Cetakan : I, Juni 2010

Tebal : 258 Halaman

 

 

Senin, 30 Agustus 2010

Argumen di Balik Trilogi Pembaruan Islam

Senin, Agustus 30, 2010 0


 

SEJAK Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa tentang pengharaman sekularisme, liberalisme, dan pluralisme, ketiga ideologi itu menjadi istilah yang kian populer. Trilogi itu seakan menjelma seperti makhluk yang menakutkan, karena itu keberadaannya mesti diwaspadai. Bagaimana argumen Islam terhadap hal ini?


Di Indonesia, ide-ide demokrasi seperti sekularisme, liberalisme, dan pluralisme kerap mendapat penolakan keras dari sebagian kalangan. Puncaknya adalah ketika pada 29 Juli 2005 Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuat definisi mengenai sekularisme, liberalisme, dan pluralisme. Istilah ini dikeluarkan dalam Keputusan Fatwa MUI Nomor 7/MUNAS VII/MUI/II/2005.


Berdasarkan definisi yang dibuat lembaga ini, MUI membuat ketentuan hukum haram terhadap sekularisme, liberalisme, dan pluralisme, yaitu bahwa ”Pluralisme, sekularisme, dan liberalisme agama… adalah paham yang bertentangan dengan ajaran Islam. Umat Islam haram mengikuti paham pluralisme, sekularisme, dan liberalisme agama. Dalam masalah akidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti, haram mencampuradukkan akidah dan ibadah Islam dengan akidah dan ibadah pemeluk agama lain” (halaman 7).


Pasca-keluarnya fatwa haram MUI, diskursus mengenai sekularisme, liberalisme, dan pluralisme justru banyak diperbincangkan, tidak saja oleh akademisi, tetapi juga kalangan umum. Pada waktu yang bersamaan muncul gerakan-gerakan pemikiran yang menopang sekularisme, liberalisme, dan pluralisme, yang dilakukan oleh lembaga-lembaga Islam progresif. Kesepuluh lembaga tersebut diulas dalam buku ini.


Namun, bagi Budhy Munawar-Rachman, penulis buku Reorientasi Pembaruan Islam ini, sekularisme, liberalisme, dan pluralisme secara substansial merupakan bagian integral dari spirit Islam yang sesungguhnya. Aplikasi ketiganya, dalam konteks Indonesia yang majemuk, merupakan keharusan demi terwujudnya masyarakat yang adil, terbuka, dan demokratis.


Berbicara mengenai sekularisme, liberalisme, dan pluralisme, tidaklah mungkin memisahkan satu dengan lainnya, mengambil yang satu dan meninggalkan yang lain. Ketiganya sangat berkait berkelindan, terutama dalam merespons isu-isu kebebasan beragama yang akhir-akhir ini mendapat sorotan tajam dari berbagai kalangan, khususnya Majelis Ulama Indonesia.


Meluruskan Pandangan

Buku ini diterbitkan dalam rangka merayakan 40 tahun orasi pembaruan Islam Nurcholish Madjid (Cak Nur) di Indonesia, 3 Januari 1970-2010. Perjuangan Cak Nur selama itu, terutama dalam menyebarkan paham sekularisme, liberalisme, dan pluralisme, tidaklah sia-sia. Pasalnya, trilogi pembaruan ini telah memberikan dampak positif bagi terwujudnya kerukunan beragama di Indonesia hingga kini, meskipun terkadang kekerasan atas nama agama masih saja terjadi.


Kehadirannya juga dimaksudkan untuk meluruskan pandangan negatif terhadap sekularisme, liberalisme, dan pluralisme. Secara konseptual, sekularisme adalah paham tentang pemisahan antara agama dan negara. Namun, bukan berarti dalam negara yang menerapkan sekularisme, keberadaan agama disingkirkan dari wilayah publiknya. Justru dengan paham ini, setiap umat beragama dapat mengembangkan dan menjalankan kehidupan keagamaannya tanpa harus diintervensi negara.


Tidak bisa dibayangkan jika dalam sebuah negara yang multi-agama seperti Indonesia, pemerintahnya hanya memilih satu keyakinan sebagai agama resmi. Maka yang akan terjadi adalah diskriminasi, eksploitasi, dan bahkan konflik horizontal atas nama agama bermunculan di mana-mana.

 


Sekularisme memberi batasan jelas antara otoritas agama dan negara. Idealnya, negara hanya mengontrol praktik-praktik keagamaan dengan kriteria hukum yang berlaku. Negara tidak bisa melarang umat beragama untuk menjalankan peribadatannya dan menganut kepercayaan yang diyakininya. Sekularisme membantu menciptakan keseimbangan antara agama dan negara. Masing-masing akan memberi kontribusi dalam membangun bangsa yang adil, terbuka, dan demokratis.


Paham ini harus diikuti liberalisme, yang bertolak dari pandangan tentang kebebasan. Namun, perlu dicatat, kebebasan bukan berarti bebas tanpa batas seperti yang diasumsikan banyak pihak selama ini. Yang dimaksud dengan liberalisme adalah kebebasan hak-hak sipil yang harus diperhatikan oleh negara, seperti kebebasan berpikir, berpendapat, beragama, dan berkeyakinan. Demokrasi yang menjunjung nilai-nilai kesetaraan, keadilan, dan keterbukaan akan memperoleh momentumnya dalam negara yang menganut liberalisme. Dalam liberalisme, setiap jiwa diberikan kebebasan tanpa kecuali.


Islam, sebagai agama yang banyak dianut warga Indonesia, juga memberikan prinsip-prinsip yang sama, yaitu dengan apa yang disebut sebagai al-kulliyat al-khamsah (lima hal pokok dalam Islam). Kelima hal tersebut adalah menjaga agama (hifzh al-din), menjaga nalar (hifzh al-‘aql), menjaga keturunan (hifzh an-nasl), menjaga harta (hifzh al-mal), dan menjaga kehormatan (hifzh al-‘irdl). Kemunculan Islam pun sejak awal membawa misi liberasi (pembebasan) dari penindasan, tirani, dan ragam bentuk ketidakadilan. Semangat inilah yang mestinya harus terus dikobarkan.


Rasanya tidak cukup membicarakan sekularisme dan liberalisme tanpa melibatkan pluralisme. Ketiganya bagai anggota tubuh manusia yang saling membutuhkan dan melengkapi satu dengan lainnya. Pluralisme adalah paham yang mengakui kemajemukan dan keragaman realitas, bukan kesamaan. Yang ditekankan dalam paham ini adalah perbedaan, meski bukan berarti dalam setiap perbedaan tidak ada kemungkinan kesamaan. Kesamaan dalam perbedaan bisa dicapai jika dibarengi sikap saling memahami dan membuka diri.


Dalam konteks Indonesia, keragaman atau pluralitas sudah menjadi kenyataan hidup yang tak terbantahkan, bahkan sudah menjadi keharusan perkembangan zaman dari waktu ke waktu. Ini merupakan sunatullah yang tak mungkin dihindari. Pluralitas dalam sebuah bangsa berpotensi menimbulkan perpecahan dan konflik. Karena itu, untuk menghindarinya diperlukan pluralisme. Paham ini memungkinkan terjadinya kerukunan dalam masyarakat yang berbeda sehingga setiap orang akan mendapat kebebasan yang sama, adil, dan setara.


Sayangnya, buku ini tidak memuat pandangan dari Lingkaran Pendidikan Alternatif Perempuan (Kapal Perempuan) dan Fatayat NU yang juga ikut berkontribusi dalam penyebaran sekularisme, liberalisme, dan pluralisme. Tidak disertakannya kedua lembaga tersebut dikhawatirkan akan memunculkan penilaian yang bias jender terhadap buku ini. Meski demikian, buku ini telah berhasil meyakinkan bahwa sekularisme, liberalisme, dan pluralisme telah menjadi kenyataan sosial politik di Indonesia yang plural dan majemuk.

 -------------------------------------------------------------------

 

Dimuat di Pustakaloka Kompas, Jum’at 27 Agustus 2010

Mohamad Asrori Mulky, Penikmat Buku

   


Judul: Reorientasi Pembaruan Islam

Penulis : Budhy Munawar-Rachman

Penerbit : LSAF dan Paramadina

Cetakan : I, Juni 2010

Tebal : ixv + 789 halaman

ISBN : 978-979-95611-7-6