Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2026

Cahaya yang Lahir dari Keraguan

Senin, Maret 09, 2026 0

 

Mohamad Asrori Mulky

 

Ada masa ketika pikiran manusia berdiri di hadapan dirinya sendiri seperti seorang pengembara yang tiba di tepi gurun yang tak berujung. Semua jalan yang pernah diyakini ternyata hanya jejak yang memudar di hamparan pasir. Pada saat seperti itu, seseorang tidak lagi bertanya kepada dunia, melainkan kepada dirinya sendiri: apakah yang selama ini disebut sebagai kebenaran benar-benar memiliki akar yang kokoh?

 

Pertanyaan semacam inilah yang mengguncang batin terdalam dari Abu Hamid al-Ghazali, sang Hujjatul Islam, ketika ia menulis Al-Munqidh min al-Dalal. Kitab itu bukan sekadar karya intelektual; ia adalah semacam autobiografi spiritual dari seorang sarjana dan ulama terkemuka yang tiba-tiba merasa bahwa fondasi pengetahuannya retak.

 

Bertahun-tahun ia hidup di tengah kemegahan ilmu. Ia mengajar, berdebat, menulis, dan menjadi salah satu otoritas intelektual paling berpengaruh pada zamannya. Namun di balik kemegahan itu, sebuah kegelisahan perlahan tumbuh menjalar—seperti retakan halus pada dinding yang mula-mula tak terlihat, tetapi suatu hari membuat seluruh bangunan terasa keropos.

 

Dalam kitab itu, Al-Ghazali menyadari bahwa sebagian besar keyakinan manusia lahir bukan dari pencarian yang mendalam, melainkan dari warisan yang diperoleh secara turun temurun. Manusia mempercayai sesuatu karena ia dilahirkan di tengah masyarakat yang mempercayainya. Seorang anak menerima agama, nilai, dan cara berpikir sebagaimana ia menerima bahasa ibunya—tanpa pernah menimbang apakah semua itu benar atau sekadar kebiasaan yang diwariskan.

 

Kesadaran ini membuat al-Ghazali mengambil langkah yang jarang dilakukan oleh seorang ulama besar: ia meragukan fondasi pengetahuannya sendiri. Keraguan itu bukan kehancuran iman, melainkan usaha membersihkan iman dari lapisan-lapisan yang menutupinya. Ia menyangkal segenap pengetahuan yang diterima agar dapat memperoleh suatu kepastian yang tak tergoyahkan.

 

Ia memulai dari alat pengetahuan yang paling dekat dengan manusia: indera. Mata, telinga, dan seluruh pengalaman empiris yang selama ini dianggap sebagai jendela dunia ternyata tidak selalu dapat dipercaya. Apa yang tampak diam mungkin sebenarnya bergerak; apa yang terlihat kecil mungkin sesungguhnya raksasa. Realitas yang ditangkap oleh indera sering kali hanyalah bayangan yang diproyeksikan oleh keterbatasan manusia.

 

Ketika kepercayaan pada indera mulai goyah, akal tampak sebagai benteng terakhir. Rasio mampu mengoreksi kesalahan persepsi, menimbang argumen, dan membangun struktur pengetahuan yang tampak kokoh. Namun bagi al-Ghazali, bahkan akal pun tidak sepenuhnya bebas dari keterbatasan. Ia mampu menjelaskan banyak hal, tetapi tidak selalu mampu menembus lapisan terdalam realitas.

 

Di titik inilah perjalanan intelektual al-Ghazali memasuki wilayah yang sangat sunyi: wilayah ketika akal harus mengakui bahwa ia bukan penguasa tunggal pengetahuan. Ia adalah cahaya, tetapi bukan matahari. Ia menerangi, tetapi tidak selalu mampu menyingkap seluruh langit. Kemampuan akal dalam menyinari tidak membuat al-Ghazali puas bila dibandingkan dengan terangnya sinar matahari.

 

Kesadaran akan keterbatasan itu tidak membuat al-Ghazali jatuh ke dalam skeptisisme yang nihilistik. Sebaliknya, ia melihat keraguan sebagai tahap penyucian—seperti api yang membakar logam agar tersisa hanya emasnya. Keraguan menjadi alat untuk membedakan antara keyakinan yang diwarisi dan kebenaran yang benar-benar dialami.

 

Setelah melalui perjalanan panjang itu, al-Ghazali menemukan bahwa pengetahuan memiliki lapisan yang lebih dalam daripada yang dapat dicapai oleh logika. Di sana terdapat bentuk pengetahuan yang oleh para sufi disebut dzauq—sebuah kesadaran yang tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan.

 

Dalam pengalaman ini, kebenaran tidak lagi muncul sebagai konsep, melainkan sebagai kehadiran. Ia bukan sekadar sesuatu yang diketahui, tetapi sesuatu yang menyinari jiwa. Al-Ghazali menggambarkan pengalaman ini dengan ungkapan yang sangat terkenal: nūr yaqdzifuhu Allāh fī al-qalb—sebuah cahaya yang dilemparkan Tuhan ke dalam hati manusia. Cahaya itu bukan hasil deduksi logis, melainkan anugerah yang datang kepada jiwa yang telah dibersihkan melalui perjuangan spiritual.

 

Di sinilah epistemologi al-Ghazali mencapai bentuknya yang paling utuh. Indera memberikan bahan pengalaman, akal mengolah dan menimbangnya, tetapi cahaya Ilahi memberikan makna terdalamnya. Ketiganya bukan musuh, melainkan tahap-tahap dalam perjalanan pengetahuan manusia, yang sebetulnya satu sama lain harus dimanfaatkan untuk memperoleh kebenaran.

 

Ketika kita membaca Al-Munqidz min al-Ḍalāl, kita sebenarnya sedang membaca kisah tentang keberanian intelektual yang jarang terjadi: keberanian untuk meragukan segala sesuatu demi menemukan sesuatu yang lebih sejati. Kitab ini memperlihatkan bahwa kebenaran tidak selalu lahir dari kepastian yang keras, tetapi sering kali dari keraguan yang jujur.

 

Di tengah dunia modern yang memuja data, statistik, dan kalkulasi rasional, suara al-Ghazali terdengar seperti gema dari zaman lain—tetapi justru karena itu ia terasa relevan. Ia mengingatkan bahwa pengetahuan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kesombongan, dan bahwa kebenaran tidak selalu ditemukan oleh mereka yang paling keras berbicara.

 

Kadang ia justru ditemukan oleh mereka yang berani berjalan sendirian dalam kesunyian—mencari cahaya di dalam ruang batin yang paling dalam. Dan dari kesunyian itulah, menurut al-Ghazali, cahaya pengetahuan yang sejati akhirnya lahir. Jangan takut untuk meraguan. Karena keraguan adalah jalan untuk memperoleh kepastian yang meyakinkan.

Minggu, 27 April 2025

Pemikiran Liberal di Gurun yang Gersang

Minggu, April 27, 2025 0




Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Ketika sinar modernitas mengintip di gurun yang gersang, Albert Hourani menulis Arab Thought in the Liberal Age (1798–1939), sebagai sebuah karya akademik yang banyak dirujuk para sarjana dunia. Buku ini seperti kidung panjang tentang kebangkitan kesadaran, elegi tentang pertarungan ide, dan madah tentang kegelisahan intelektual di tengah badai kolonialisme yang menghimpit dunia Arab.

 

Dalam risalah yang mewakili suara dari Timur itu, Hourani memanggil kembali nama-nama besar: Rifa‘ah al-Tahtawi, Khayr al-Din al-Tunisi, Jamaluddin al Afghani, Muhammad Abduh, hingga Thaha Husein. Risalah ini benar-benar menghidupkan ruh mereka yang berani melawan gelap dengan nyala pena, yang menulis dengan tinta hasrat pembebasan. Mereka bukan imitator Barat, bukan pula pengekor yang taklid buta, melainkan penjaga gerbang Timur yang menahan bengisnya gempuran kolonialisme.

 

Hourani tidak menempatkan dirinya sebagai hakim, tetapi sebagai penyair sejarah yang tahu bahwa kebenaran bukan monolit, melainkan cahaya yang memancar dari prisma zaman. Ia mendekati sejarah Arab dengan cinta seorang anak terhadap bahasa ibunya—penuh hormat, sabar, dan ingin mengerti, bukan menghakimi. Di tangannya, sejarah liberalisme Arab bukan hanya kronik, tapi drama ruhani yang membentangkan harapan dan upaya keras dalam menyeimbangkan iman dengan akal, tradisi dengan pembaruan, masa lalu dan masa kini, demi masa depan yang lebih baik.

 

Saat dunia membangun tembok tinggi antara Timur dan Barat, Hourani membentangkan jembatan yang bisa menghubungkan keduanya. Ia bukan sekadar peneliti Oriental, tapi anak Timur yang menemukan suara Timur di dalam hati Barat. Ia lahir dari jalinan identitas yang lembut dan kompleks—darah Lebanon mengalir dalam tubuhnya, namun matanya menatap dunia dengan kritisisme Barat—Hourani bukan sekadar pengamat, ia adalah penyaksi yang lembut terhadap pergolakan ruh dunia Arab.

 

Para Pembawa Lentera:

Dari Tahtawi Hingga Taha Husein

Dalam hamparan sejarah panjang dunia Arab yang penuh liku, ada beberapa tokoh pembaharu berjalan membawa lentera di tangannya. Mereka adalah para penyeru fajar yang menantang kegelapan zaman. Dari Rifa'ah Rafi' al-Tahtawi hingga Taha Husein, terbentang sebuah jalan cahaya, jalan pembebasan akal dan penyucian jiwa, jalan di mana tradisi lama bertemu hasrat baru akan kebebasan dan pencerahan.

 

Rifa'ah al-Tahtawi (1801–1873), imam muda yang mengembara ke tanah Perancis, kembali dengan mata yang telah dicuci air kebangkitan. Ia menulis tentang "tanwir" — pencerahan — bukan hanya sebagai adopsi buta terhadap Barat, melainkan sebagai seruan untuk menggali kembali khazanah Islam sendiri dengan jiwa merdeka. Dalam Takhlis al-Ibriz, ia menulis seolah-olah membangunkan umatnya dari tidur panjang: bahwa ilmu pengetahuan, kebebasan berpikir, dan keadilan sosial adalah kewajiban syar'i, bukan pemberian asing.

 

Hourani melihat Tahtawi sebagai "pembuka gerbang" — seorang yang dengan lembut namun pasti memperkenalkan gagasan bahwa Islam dan modernitas tidaklah dua kutub yang berseteru, melainkan dua sungai yang bisa bertemu dalam samudera akal sehat dan nurani. Islam tidak menentang modernitas, malah menyambutnya dengan lapang dada. Bahkan, begitu banyak ayat-ayat Ilahiyah yang menyeru manusia untuk menggunakan daya nalar dan mendalami ilmu pengetahuan.


Lalu datang Jamal al-Din al-Afghani (1838–1897), api yang lebih liar dan menyala. Dengan retorika yang tajam, ia menyeru dunia Islam untuk tidak hanya bangkit, tetapi juga melawan. Dalam naskah-naskahnya yang penuh bara perlawanan, Afghani menuntut umat Islam untuk mengusung rasionalitas dan teknologi, menentang kolonialisme dengan bukan hanya pedang, tetapi juga pena dan pikiran yang merdeka sebagai senjata.

 

Maka, tidaklah heran bila sejarawan Nikki Keddie mencatat bahwa Afghani "adalah penggerak ideologis pertama dalam sejarah modern Islam" — sosok yang memahami bahwa pembaruan bukanlah imitasi, melainkan reaktualisasi ruh ijtihad yang telah lama dikubur. Gagasan Afghani tentang Pan-Islamisme membangkitkan hasrat umat Islam Dunia untuk bangkit dan melawan segala bentuk penjajahan.

 

Kemudian, dari bara Afghani itu, lahir Muhammad Abduh (1849–1905), murid yang lebih bijak dan memiliki daya ledak yang lebih luas. Abduh bermimpi membangun sebuah dunia di mana agama dan akal saling bersenyawa; tidak bertentangan apalagi saling mengalahkan. Dalam Risalat al-Tawhid, Abduh mempertegas: iman sejati tidak bertentangan dengan nalar; malah, nalar adalah lentera bagi jalan iman. Ia merintis reformasi pendidikan, membersihkan aqidah dari kerak taklid buta yang membelenggu, dan menanam benih rasionalisme di jantung tradisi.

 

Seperti yang ditegaskan Malcolm Kerr, Abduh adalah "sang perantara" — antara Timur dan Barat, antara masa lalu yang agung dan masa depan yang penuh kemungkinan. Ia bukan sekadar pembaharu; ia adalah penjaga jiwa Islam agar tetap hidup di tengah badai zaman. Abduh tidak sudi melihat umat Islam terperangkap dalam jurang fatalisme, pemahaman takdir yang psimistis, yang tak memiliki daya juang.

 

Dan di antara pengikut Abduh yang melanjutkan gagasan besarnya adalah Taha Husein (1889–1973). Ia memang buta, tapi melihat lebih dalam dari yang bermata. Dalam Fi al-Shi'r al-Jahili, ia meruntuhkan keangkuhan sejarah tradisional dan membuka jalan bagi kritik ilmiah yang bebas dari beban sakralitas palsu. Ia membayangkan Mesir — dan Arab — sebagai bagian dari peradaban dunia, bukan ghetto nostalgia.

 

Edward Said menyebut Taha Husein sebagai "pembebas teks" — sosok yang mengajarkan bahwa tradisi bukanlah rantai, melainkan ladang luas yang harus dibajak kembali dengan tangan berani. Ia menolak dikotomi palsu antara Timur dan Barat, seraya merangkul keduanya sebagai dua sisi dari pencarian manusia yang abadi akan makna.

 

Dari karya Hourani ini, kita bisa melihat sebuah perjalanan agung: dari cahaya kecil yang bergetar di tangan seorang alim muda, hingga api besar yang membakar belenggu pikiran kolektif. Mereka adalah para pembawa lentera — bukan untuk memadamkan malam, melainkan untuk menunjukkan bahwa dalam setiap kegelapan, selalu ada janji fajar yang menerangi lorong-lorong gelap dan sudut-sudut pengap. Dalam gema nama-nama mereka, kita mendengar bisikan abadi: bahwa kebangkitan bukan sekadar bangun dari tidur, tetapi berani menatap dunia dengan mata hati yang menyala.


Edward Said menyebut Hourani sebagai penjaga nurani Timur, dan Hamid Dabashi menyebutnya sebagai peziarah hikmah. Keduanya benar. Dalam Hourani, kita tidak membaca sejarah sebagai museum, tetapi sebagai taman dengan bunga yang bisa tumbuh kembali—jika kita cukup berani menyiraminya dengan pertanyaan.

 

Di tengah dunia Arab yang terus bergolak—dari harap Arab Spring yang gugur sebelum mekar, hingga reruntuhan Damaskus yang menyimpan sunyi berabad-abad—karya Hourani seperti jam tua di dinding masjid yang terus berdetak, mengingatkan kita bahwa waktu bukan musuh, tapi guru. Hourani tidak hanya menulis sejarah, ia mendoakan mereka yang hidup di dalamnya. Pemikir-pemikir liberal Arab dalam kisahnya bukan hanya nama dalam daftar pustaka, tetapi roh yang masih menunggu pembaca yang bersedia merasakan luka dan harapan sekaligus.

 

Dalam ketegangan antara iman dan akal, antara warisan dan kebaruan, Hourani menemukan kemungkinan: bahwa dunia Arab tidak mati dalam tradisi, dan tidak tenggelam dalam imitasi, tetapi bisa bangkit dengan akarnya sendiri, dan menjulang sebagai pohon yang bebas—berakar di bumi, tapi rindang di langit.

 

Selamat membaca!



Kamis, 19 Desember 2024

Membedah Sejarah Tuhan

Kamis, Desember 19, 2024 0

 

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Tuhan tidak punya sejarah. Sebab Dia tidak terikat dengan ruang dan waktu. Dia bukan ini, juga bukan itu. Tidak di sini, juga tidak di sana. Dia melampaui semuanya. Seluruhnya.


Dan karena itu, yang dimaksud dengan Sejarah Tuhan (History of God) dalam karya ‘keren’ Karen Armstrong, adalah Tuhan yang dapat dipahami, dimengerti, dan dipirkan oleh manusia.


Sejak dulu hingga kini, dan bahkan pada masa yang akan datang nanti, Tuhan hanya bisa dihampiri melalui apa yang dapat dipersepsi manusia.Sejarah Tuhan melacak sejarah persepsi dan pengalaman umat manusia tentang Tuhan.

 

Begitulah Tuhan, yang menurut Ibn‘Arabi disebut al Illah fi al Ma’rifah (Tuhan dalam Pengetahuan Manusia). Sementara Tuhan yang Hakiki nan Sejati, melampaui semua definisi dan kategori. Nirguna (tanpa sifat), Nirakara (tanpa bentuk), menurut doktrin Advaita Vedanta (Hindu).

 

Karen Armstrong menyadari pemahaman tentang Tuhan sedemikian kompleks, ruwet, berubah seiring perjalanan waktu. Mulai dari agama-agama politeistik yang menganggap Tuhan sebagai entitas yang bisa didekati secara langsung (imanen/tasybih), hingga monoteistik yang menjauhkan Tuhan dari manusia (transenden/tanzih).

 

Di masa lalu, tepatnya pada masa kanak-kanak saya dulu, saya memahmi Tuhan sebagai yang berwujud (berjenis) laki-laki, Maha Besar, yang kebesaran-Nya melampaui gambaran tubuh raksasa. Dia (Tuhan) mengangkangi bumi dan keseluruhan semesta ini. Kapan saja, sebisa Dia mau, mampu menghancurkannya dengan sekali injakan kaki-Nya.

 

Tetapi, seiring berjalan waktu, pengalaman, dan literatur yang saya dalami, pemahaman tentang Tuha seperti saya sebutkan, telah berubah.Tuhan begitu paradoks; Dia menampilkan diri-Nya sebagai Yang Awal sekaligus Yang Akhir; Yang Nampak sekaligus Yang Tersembunyi; Yang Jauh sekaligus Yang Dekat.

 

Karen Armstrong mengajak pembaca untuk memahami evolusi pemikiran tentang Tuhan dari zaman kuno hingga era modern. Terutama evolusi pemikiran komunitas tiga agama besar dunia; Yahudi, Kristen, dan Islam.

 

Buku ini menggabungkan studi sejarah, filsafat, dan teologi untuk memberikan perspektif yang komprehensif mengenai bagaimana berbagai peradaban dan budaya memandang Tuhan. Buku ini juga mengulas berbagai konflik dan perbedaan dalam pemikiran tentang Tuhan yang sering kali memicu perpecahan dan perang, namun juga memunculkan pencarian spiritual yang mendalam.

 

Selamat membaca!

Senin, 11 September 2023

Yang Terbuang Akibat Perang

Senin, September 11, 2023 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Dalam perang yang terlanjur digelar, tak ada yang dimenangkan, tak ada yang dikalahkan. Bahkan ketika perang itu dirancang, pihak-pihak yang terlibat di dalamnya telah menjadi budak nafsu yang beringas: tanpa empati, tanpa nurani.

 

Bagi yang kalah, tak ada yang tersisa selain kengerian yang mencekam, membayang bersama reruntuhan gedung dan bangunan. Sementara yang menang menyumbang kekacauan di dunia dan di hati mereka yang dikalahkan.

 

Begitulah derita manusia bila negaranya dirundung kecamuk perang; negerinya hancur, masa depan anak-anaknya dipertaruhkan untuk ego orang-orang dewasa. Perang tak melahirkan apa-apa, kecuali penderitaan, kecemasan, dan ketakutan yang membatin. 

 

Beberapa waktu lalu, saya menonton film Ode To My Father. Film ini menceritakan tentang perjuangan orang-orang yang ingin menyambung hidup akibat perang, tentang orang-orang mencari sanak saudara yang hilang terpisah oleh keganasan perang.

 

Perang tak memiliki mata. Siapa saja bisa menjadi korban; tua, remaja, bahkan balita. Perang tak memiliki nurani. Siapa saja bisa terusir dan terbuang. Dan inilah kisah tentang seorang penyair Mourid Barghouti yang terbuang jauh dari negerinya sendiri.

 

I Saw Ramallah (Akhirnya Kuklihat Ramallah) adalah sebuah memoar tentang orang yang terbuang akibat kecamuk perang. Novel yang ditulis Mourid Barghouti ini dipuji oleh Edward Said sebagai salah satu kisah eksistensial terbaik tentang pengungsian warga Palestina.

 

Inilah memoar yang didasarkan pada kepulangan penulisnya ke Ramallah untuk pertama kalinya pada tahun 1990-an setelah lebih dari tiga dekade berada di pengasingan. Kisah tentang perjalanan kembali pulang untuk melihat tanah kelahirannya.

 

Dalam novelnya ini, Mourid Barghouti menceritakan kondisi Palestina yang tertindas akibat pendudukan Israel. Begitu banyak warga Palestina merasakan kesengsaraan, terjajah, bahkan terpisah dari keluarga.

 

Sebagai novel yang mengisahkan perjalanan hidup penulisnya, yakni Mourid Barghouti sendiri, setiap kisah yang dia ceritakan begitu hidup namun pedih dan menyayat hati. Bagaimana misalnya Mourid Barghouti menggambarkan penderitaan orang-orang Palestina karena terpisah dari keluarganya, kehilangan rumah, harta, saudara, bahkan nyawa.

 

Mourid Barghouti memotret Palestina melalui pengalaman pribadinya, melalui pandangannya, melalui apa yang dia rasakan. Ia berusaha membuka mata dunia bahwa perang tidak menghasilkan apapun, melainkan penderitaan yang tak berkesudahan.

 

Menjadi orang yang terbuang dari negerinya sendiri cukup menyakitkan. Dan barangkali pengalaman Mourid Barghouti bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi kita, bahwa perang hanya membuat kerusakan dan penderitaan. Bahwa hidup terpisah dari tanah tumpah darah sendiri begitu sulit dan menjadi pengalaman eksistensial yang menyakitkan.

 

Rabu, 09 Agustus 2023

Hilangnya ‘Anak Kesadaran’ dalam Islam

Rabu, Agustus 09, 2023 1


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Di bab pembuka dalam buku ini, Reopening Muslim Minds, Mustafa Akyol memulainya dengan kisah Hayy ibn Yaqzhan. Bila diterjemahkan secara bebas Hayy ibn Yaqzhan berarti 'Hidup Putra Kesadaran', maknanya sangat simbolis, yaitu tentang manusia yang berkesadaran, yang saat ini, saya kira, telah hilang dari diri umat Islam namun dirawat dengan baik oleh orang lain. 


Hidup (hayy) bukan sekedar hidup yang menubuh tanpa jiwa dan daya. Tapi hidup yang menghidupi daya-daya/jiwa-jiwa rasional, dan kesanggupan mengaktualkan segenap potensi yang ada di dalam diri. Itulah ciri manusia berkesadaran (yaqzhan) yang mampu mengembangkan kemampuan dalam diri hingga memperoleh ilmu sejati dan kebenaran hakiki.

 

Dalam cerita rekaan Ibn Thufail, Hayy adalah anak manusia yang terpisah sejak kecil dari ibunya. Dia hidup seorang diri di tengah hutan tak berpenghuni. Berbekal daya rasional dan perenungan yang mendalam, dia mampu menyingkap rahasia kehidupan, fenomena alam, nilai-nilai (etika), dan kebenaran tentang Tuhan. Semua itu dia peroleh tanpa bantuan wahyu (agama).

 

Hayy ibn Yaqzhan adalah cerita roman tentang kemungkinan perjumpaan akal dengan Tuhan, tentang kesadaran yang diperoleh manusia lewat jalur perenungan (jiwa rasional). Hanya saja, saya ulangi sekali lagi, kesadaran itu kini telah hilang dari kehidupan umat Islam: kritisisme (nalar burhani) redup, penyelidikan suram, dan ekperimentasi (nalar tajribi) diabaikan.

 

Sementara Barat, yang sempat menjalani kehidupan kelam mampu mengambil alih penalaran dan penyelidikan dari ulama-ulama Islam. Hasilnya cukup menakjubkan. Kini, Barat menjelma bangsa dengan peradaban maju tingkat tinggi dengan segala ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka miliki. Mereka menjadi percontohan. Bahkan negara-negara Islam hidup mengekor tak bisa lepas dari kemajuan Barat.

 

Maka, tidaklah heran bila Mustafa Akyol mengajukan pertanyaan sangat relevan dalam buku ini: mengapa kesadaran (penalaran dan penyelidikan) meredup dan menghilang dari negeri-negeri berpenduduk Muslim? Mengapa umat muslim terus tertinggal dan makin tercecer dari bangsa lain?

 

Kemunduran Islam, kata Akyol, dipicu konflik ideologis dan teologis di internal umat sendiri. Konflik itu sering begitu keras dan mematikan. Di mana kutub postulat teologis yang tidak memberi ruang bagi reasoning (penalaran/akal) pada akhirnya menjadi begitu dominan. Teologi Asy’ariyah menguasai kehidupan umat Islam pasca kekelahan kaum rasional; Muktazilah dan para filosof.

 

Kemenangan Asy’ariyah atas Muktazilah dan para filosof berdampak pada tertutupnya ruang-ruang pemikiran dan penyelidikan, yang sebelumnya demikian cemerlang dilahirkan oleh para sarjana Muslim masa dulu. Akal yang menjadi dasar pengetahuan manusia sebagaimana dikisahkan dalam Hayy ibn Yaqzhan di atas, dicurigai, bahkan dituduh menjadi penyebab kemunduran Islam. Padahal akal itu sendiri, kata Fakhruddin al Razi, dasar bagi naql.

 

Sementara konflik internal yang bersifat ideologi-politis kian membenamkan umat Islam dari percaturan dunia global. Lihatlah perang saudara antara Sunni dan Syia’ah sampai sekarang masih terus berkobar. Masing-masing saling mengalahkan untuk keluar menjadi sang pemenang. Mereka telah memelihara dendam sejarah masa lalu, hal yang sebetulnya tidak boleh terulangi lagi di alam modern seperti saat ini.

 

Belum lagi ideologi-politis sekelompok Islam yang menghendaki berdirinya sistem khilafah, faham wahabisme, dan kemuculan Islam garis keras dalam bentuknya paling ekstrims seperti para teroris yang kerap mengatasnamakan agama. Semua itu makin menenggelamkan citra Islam di mata dunia. Islam makin terpojok, tersisih dalam percakapan dunia dalam membangun dunia baru yang plural dan berkeadilan.

 

Dalam buku ini, Akyol benar-benar mengarahkan telunjuknya kepada teologi Asy’ariyah sebagai penyebab kemunduran Islam. Saat menjelaskan kenapa umat Muslim kehilangan moralitas (why we lost morality?), kenapa umat Muslim kehilangan universalisme (why we lost universalism?), dan kenapa umat Muslim kehilangan sains, (why we lost science?), Akyol menunjuk hidung Asy’ariyah sebagai penyebabnya.

 

Wajar saja, Asy’ariyah adalah teologi yang paling banyak diterima umat Islam dunia. Keberadaanya begitu dominan, tidak hanya dalam soal-soal keagamaan, tapi juga dalam urusan politik mereka mampu mencengkeramkan pengaruhnya begitu kuat dan dalam. Doktrin teologinya terkesan anti-nalar begitu tertanah dalam benak umat hingga sikap apatis (jabariyyah) merasuk pada etos umat.

 

Meski begitu, Akyol tidak bermaksud memberhangus Asy’ariyah, dan menggantinya dengan teologi lain yang mendukung agendanya seperti Muktazilah atau nalar kaum filosof. Dalam buku ini, Akyol sedang merealisasikan agendanya, dengan mengambil inspirasi dari segi-segi teologis klasik yang dianggapnya seirama dengan agendanya, tanpa harus menghilangkan Asy’ariyah dari muka bumi ini.

 

Kritik keras namun berdasar Akyol pada teologi Asy’ariyah dimaksukan dalam rangka menemukan kembali nilai-nilai “pencerahan Islam” atau kesadaran (yaqzhan) Islam, seperti nalar (akal), kebebasan, dan toleransi. Akyol ingin membangkitkan ketiga nilai tersebut yang sengaja telah dikubur dalam-dalam oleh umat Islam sendiri. Buku ini layak dibaca bagi siapa saja yang peduli dan mengharapkan kebangkitan Islam. Waallahu’alambisshawab!