Rabu, 27 Mei 2020
Konspirasi di Balik Pelarangan Tembakau
Selasa, 05 Mei 2020
Kurban Tanda Kekerasan?
Kurban Tanda Kekerasan?
Oleh Mohamad Asrori Mulky
Analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta
Agama dimulai dengan hening, sunyi, dan senyap," kata Goenawan Mohamad. Keheningan dan kesunyian dalam wajah agama lebih menggambarkan wataknya yang ramah, santun, dan beradab. Karena, itu merupakan misi utama kedatangannya ke muka Bumi.
Namun, dalam seluruh perwujudannya, kemarin dan kini, agama menjadi tanda yang bengis, seram, dan menakutkan. Kita sering menyaksikan pertikaian dan ketegangan atas nama agama. Tak jarang, kita saksikan fenomena klaim kebenaran dan sikap "sok suci" umat beragama.
Uraian itu seakan meneguhkan tesis Paul Tillich soal wajah ganda agama, yang suci dan jahat, Yang suci mengajarkan perdamaian, kasih, dan toleransi, yang jahat mengajarkan permusuhan, kekerasan, dan kebenaran tunggal.
Maka tak heran bila banyak orang mengidentikkan agama sebagai dua sisi mata pedang, yang bisa membabat kawan dan lawan.
Pertanyaannya, sisi mana yang lebih merepresentasikan kesejatian wajah agama? Yang suci atau jahat? Benarkah agama lebih merepresentasikan wataknya yang keras, suka berperang, selalu menumpahkan darah, seperti tercermin dalam tradisi kurban, seperti "tuduhan" Rene Girard?
![]() |
| Kompas |
Menghapus kekerasan
Menurut Rene Girard, agama adalah tanda kekerasan. Tradisi kurban merupakan manifestasi kekerasan agama. Atas nama Tuhan, Ibrahim mengorbankan anaknya, dan menciptakan kebengisan, meski akhirnya diganti seekor kambing. Atas nama Tuhan pula, Ibrahim tega mengusik keheningan dan kesunyian watak agama yang ramah.
Munculnya terorisme, bom bunuh diri, perang antarsuku, dan kekerasan berlatar agama kian membuktikan tuduhan Rene Girard itu. Inikah wajah agama sebenarnya? Atau watak umat beragama kita sudah retak? Fenomena kekerasan tidak harus sepenuhnya dialamatkan pada agama, tetapi lebih dari itu, pada umat beragama yang keliru memahami hakikat agama itu sendiri. Mereka terjebak simbol, nama, dan petanda.
Ali Shariati dalam Hajj menepis tuduhan Rene Girard. Ditegaskan, kurban pada dirinya sarat makna simbolis dan makna yang tersirat. Ketika Ibrahim hendak menyembelih Ismail, lalu Tuhan menggantikannya dengan kambing, ini bertujuan menghapus tradisi kuno yang suka mengorbankan nyawa manusia demi kepentingan para dewa dan roh suci yang mereka yakini. Bukan mengafirmasi dan melegitimasi sekian banyak nyawa manusia yang harus melayang.
Peristiwa ini mendakwahkan betapa Tuhannya Ibrahim bukan Tuhan yang bengis, biadab, dan haus darah manusia. Justru, Tuhannya Ibrahim ingin mengembalikan posisi manusia pada harkat, martabat, dan fitrahnya sebagai makhluk yang bebas hidup dan bernapas di Bumi.
Kurban melambangkan upaya mendekatkan diri kepada Tuhan yang dibarengi sikap pasrah, berserah diri, dan pengorbanan secara totalitas. Kurban berasal dari kata Arab qaraba-yaqrabu-qurbanan, berarti mendekati, menghampiri, dan mendatangi. Kurban tidak berarti korban (yang dikurbankan) hingga diidentikkan kekerasan. Ia bukan obyek kekerasan itu sendiri, tetapi peneguhan diri di hadapan Tuhan akan sebuah kemerdekaan mutlak yang harus dicapai.
Simbol
Menanggapi tuduhan Rene Girard soal ritual kurban yang diidentikkannya sebagai kekerasan atas nama Tuhan, langkah utama yang harus dilakukan menggali makna simbolis kurban. Karena, dalam setiap ritual keagamaan ada makna hakiki dari makna simbolisnya.
Ritual-ritual keagamaan hanya sekadar "petunjuk", "isyarat", "petanda", "lambang", dan "simbol-simbol’" yang kadang membuat kita bingung. Berbagai maknanya-lah yang harus dipahami, bukan formalitasnya.
Simbol tidak cukup mewakili dirinya memahami hakikat terdalam dari sebuah makna. Ia hanya bisa mewakili kepentingan atau tafsir individu atau kelompok terbatas pengguna simbol itu. Permainan simbol tak jarang menyihir, menipu, sekaligus memerangkap orang yang terkesima. Rene Girard satu dari sekian banyak orang itu.
Tradisi kurban sarat akan makna simbolik. Memahami kurban sebatas penampakannya, yaitu penyembelihan Ismail akan mengarah pada pemahaman agama yang keras, haus darah, kejam. Kurban simbol totalitas penyerahan diri, pembebasan dari bentuk penindasan dan kekerasan.
Kita patut merenungi ilustrasi yang diberikan Jalaluddin Rumi terkait simbol-simbol ritual agama. Ia mengidentikkan simbol agama dengan sekuntum "mawar". Untuk mendapatkan wangi mawar, bukan dengan mengeja m-a-w-a-r, tetapi harus mencari empu yang punya mawar itu. Jadi kita akan merasakan keharuman bunga mawar itu.
Akhirnya, jangan terburu percaya pada yang tampak karena terkadang ia menipu, mengelabui, dan menyeret kita pada ilusi kebenaran. Tangkaplah makna hakikinya karena di sanalah terdapat kebenaran. Sekali lagi, dalam peristiwa kurban bukan penyembelihan yang diinginkan Tuhan, tetapi totalitas kepasrahan dan penyerahan diri. Bukan kekerasan dan pertumpahan darah yang ingin ditunjukkan, tetapi akhir tradisi mengorbankan nyawa manusia untuk kepentingan para dewa dan roh suci.
Rabu, 13 September 2017
Godfather Menggenggam Asia
![]() |
| Asian Godfathers/SINDO |
![]() |
| Koran Sindo |
Maka, pada titik inilah kawasan Asia Tenggara memiliki kelemahan besar dalam pembangunan politik dan institusional, yang membuat kawasan ini mengalami kehancuran yang sangat akut. Sebagian besar dari problem itu belum bisa teratasi dalam satu dekade sejak krisis melanda seluruh kawasan itu.(*)
Kisah Penaklukan Bandar Terbesar
Oleh: Mohamad Asrori Mulky
Judul: 1453: DETIK-DETIK JATUHNYA KONSTANTINOPEL KE TANGAN MUSLIM
Tak mengherankan bila Konstantinopel selalu menjadi kota rebutan bangsa-bangsa dunia, baik dari Eropa, Rusia, Afrika, Persia, Arab-muslim, bahkan Kesultanan Turki. Kekhalifahan Islam sendiri, dalam rentang 800 tahun, sudah mencoba merebutnya, tapi selalu gagal. Dimulai dari Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan (44 H), Sulaiman bin Abdul Malik (98 H), Harun al-Rasyid (190 H), hingga masa Kesultanan Turki Utsmani --sejak Sultan Bayazid I (796 H) hingga Sultan Murad II (1451 M).
Buku ini mengisahkan kembali keberhasilan Sultan Mehmet II (Mahmud II), putra Sultan Murad II, dalam membebaskan Konstantinopel dari tangan Kaisar Constantine XI Paleologus. Sebuah prestasi besar yang tak pernah bisa dilakukan para khalifah Islam sebelumnya.
Peristiwa ini menandai terbukanya dunia Timur Tengah menuju dunia modern yang, menurut Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi dalam bukunya, Madza Khasira al-Alam bi Inhithath al-Muslimin, telah membangkitkan kembali semangat kaum muslimin untuk mengembalikan kejayaan dan kewibawaan Islam di mata dunia pasca-keruntuhan Bani Abasyiah oleh tentara Tartar Mongol.
![]() |
| Majalah Gatra |
Tepat pada Jumat 6 April 1453, Sultan Mehmet II bersama gurunya, Syaikh Aaq Syamsudin (keturunan Abu Bakar Shiddiq), beserta dua tangan kanannya, Halil Pasha dan Zaghanos Pasha, menyerbu benteng kota Konstantinopel. Diiringi hujan panah, tentara Islam Turki maju dalam tiga lapis pasukan. "Irregular" di lapis pertama, "Anatolian Army" di lapis kedua, dan terakhir pasukan khusus "Yanissari".
Meski segala kemampuan dengan bantuan teknologi canggih dikerahkan, Konstantinopel sulit ditaklukkan. Banyak tentara Sultan tewas dan hampir saja membuatnya frustrasi. Hingga akhirnya sebuah ide yang terdengar bodoh harus dilakukan hanya dalam semalam: memindahkan kapal-kapal tempur melalui darat untuk menghindari rantai penghalang. Usaha ini berhasil memasukkan 70 kapal ke wilayah Selat Golden Horn hingga mengejutkan pihak musuh.
Hampir dua bulan pasukan Sultan menggempur pertahanan Konstantinopel. Hingga Selasa 20 Jumadil Ula 857 H/ 29 Mei 1453 M, hari kemenangan itu tiba. Melalui pintu Edirne, pasukan Sultan memasuki kota dan mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyah di puncak kota sebagai tanda runtuhnya kejayaan Konstantinopel. Dalam pertempuran hebat itu, Kaisar Constantine XI dikabarkan tewas, walau sampai saat ini jasadnya tidak pernah ditemukan.
Di antara reruntuhan benteng dan bangunan megah, Sultan Mehmet II membangun kota Konstantinopel kembali dan memberi perlindungan kepada penduduk taklukan untuk hidup semestinya. Sultan mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol. Kini nama itu diganti Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul.
Karya Roger Crowley ini berhasil membangun versi cerita yang begitu memikat tentang penaklukan Konstantinopel. Selama ini, peristiwa berdarah itu diceritakan para sejarawan berdasarkan asumsi terkait detail dan pertentangan di antara dua kubu yang berseteru. Karena itu, Roger berusaha menjauhkan kata "barangkali", "mungkin saja", "bisa jadi", dan istilah sejenisnya.
Selasa, 31 Juli 2012
Sunyi yang Dibunuh Waktu
| kamar kosan |
Sabtu, 28 Juli 2012
Jumat, 27 Juli 2012
Kamis, 26 Juli 2012
Ibu...aku mencintai-mu tanpa penanda waktudi ujung titik atau berbalik, sama saja
meski sunyi merupa duri
menusuk perih dan nyeri
cinta-ku tak akan pernah terpejam terendam lelah
gerhana bulan jadi saksi yang tabah
kukenang kisah para leluhur di persimpangan kota Jogja.
saat purnama bulan saka
saat temaram malam bercengkerama di balik kabut yang menjelaga.
saat hatiku terpana pada kemegahan peninggalan wangsa Seylendra dan Sanjaya.
kuabadikan dirimu
dalam hati
dalam ingatan
dan dalam waktu
yang tak pernah terduga...selamanya!
Rabu, 29 September 2010
Menelusuri Investasi Fokus
WARREN Buffett mengembangkan strategi investasi fokus pada dunia bisnis.Keunikan investasi fokus adalah titik tekanya pada penelaahan aspek matematika dan psikologi untuk menyusun portofolio.
Model investasi fokus ala Buffett merupakan negasi terhadap manajemen portofolio aktif dan investasi investasi indeks yang sebelumnya lebih diunggulkan para investor. Ciri dari manajemen portofolio aktif adalah terus-menerus membeli dan menjual saham biasa (common stock) dalam jumlah besar. Karena memang tujuan dari portofolio aktif ini adalah berusaha membuat klien puas dan mendapatkan keuntungan dengan cepat. Sementara investasi indeks lebih bersifat pasif, yaitu beli dan tahan menunggu peluang emas. Pendekatan model ini melibatkan penyusunan, kemudian menahan, portofolio terderivasi dari saham biasa yang secara sengaja dirancang untuk meniru perilaku indeks patokan spesifik.
Kedua pendukung pendekatan ini sudah sejak lama berperang terbuka untuk menentukan bahwa modelnyalah yang terbaik dan menghasilkan pengembalian investasi lebih tinggi. Masing-masing menunjukkan kelebihannya untuk menarik simpati pengikut.Mana-jer portofolio aktif, berkat keahli-an dan kepiawaian mereka, bisa lebih baik dibandingkan strategi indeks mana pun. Di lain pihak, ahli strategi indeks mengklaim bahwa sejarah belakangan ini lebih membela mereka. Menurut Buffett, meski benar bahwa investasi aktif dan strategi indeks menawarkan diversifikasi, secara umum tak satu pun strategi ini memberikan keuntungan luar biasa dan dapat memuaskan para investor.
Karena itu dengan cepat Buffett menunjukkan bahwa ada alternatif ketiga yang lebih meyakinkan dan menguntungkan investor, yaitu “investasi fokus”. Esensi dari investasi fokus ini adalah memilih sedikit saham yang cenderung menghasilkan keuntungan di atas rata-rata selama jangka panjang, bukan jangka pendek.
Kiprah Investor Ulung
Siapa tak mengenal Warren Buffett, raja investor yang memiliki kekayaan pribadi sekitar 62 miliar dolar AS (versi Forbes 2008, sebelum krisis keuangan)? Nilai kekayaan menempatkannya sebagai orang terkaya sedunia setelah pemilik Microsoft Corporation,Bill Gates.Kebesaran nama Buffett dalam dunia investasi (saham) hingga kini belum ada yang menandingi. Dengan prinsip-prinsip investasinya yang telah teruji oleh waktu membuktikan kesahihan dan otoritasnya dalam berinvestasi. Bakat Buffett dalam dunia investasi memang sudah terlihat sejak ia masih kecil dengan kesukaannya dalam perhitungan numerikal.
Pada usia 6 tahun dia sudah punya impian bagaimana memperoleh uang dan sangat berhemat dengan menyisihkan uang yang dia terima. Menginjak usia 9 tahun, Buffett mulai belajar ilmu investasi saham dengan membuat catatan berupa grafik dari semua jenis saham dan mencantumkan lebih banyak informasi berupa angkaangka. Pada usia 17 dia mendapatkan uang lumayan banyak untuk ukuran seusianya, 5.000 miliar dolar AS dengan bekerja sebagai pengirim koran. Pada usia dewasa dia belajar keuangan di Columbia University.
Di kampus inilah dia kemudian bertemu profesor keuangan beken, Benjamin Graham, yang dinobatkan sebagai bapak analis sekuritas modern dengan bukunya, The Intelligent Investor.Tesis buku itu mengatakan, pasar modal adalah tempat di mana pelaku sering membuat kesalahan dengan bertindak tanpa perhitungan rasional, maka pelaku pasar yang disiplin dan berdasarkan perhitungan rasional yang akan sanggup bertahan dan juara. Dari Benjamin inilah Buffett mengembangkan investasi fokus modelnya sendiri. Selain Benjamin Graham, Buffett mengagumi Philip Fisher. Dua orang yang dianggap sebagai mahaguruolehBuffettitumemiliki karakter investasi berbeda.
Graham lebih dikenal dengan strategi investasi nilai. Saat memilih saham,Graham selalu mendasarkan pada analisis fundamental ke-uangan perusahaan dan strategi diversifikasi. Artinya, Graham menekankan pada kriteria kuantitatif, selalu mencari saham yang harga pasar jauh di bawah harga wajar. Sebaliknya, Philip Fisher lebih menekankan pada kriteria kualitatif. Menurut Fisher,sebelum membeli saham sebuah perusahaan,lihat dulu tim manajemen pengelolanya, bagaimana cara perusahaan tersebut dikelola. Buffett melihat, ada kesamaan dari kedua orang pakar tersebut. Keduanya sukses dan sama-sama berpikir jangka panjang untuk setiap investasi.Graham,misalnya, menganjurkan agar investor memilih saham yang layak dipegang, meskipun pasar saham mendadak tutup besok.
Fisher memberi contoh lewat caranya memegang saham Texas Instrument,yang dibeli sejak awal perusahaan tersebut melakukan private placement. Nah, Buffett yang brilian ini mencoba menggabungkan strategi Graham dan Fisher. Sebelum menentukan pilihan, dia akan meriset perusahaan tersebut habis-habisan, dari sisi bisnis, manajemen, finansial, dan pasar. Dengan dasar riset tersebut Buffett mengerti benar bagaimana perusahaan-perusahaan yang hendak dibelinya. Inti dari semua itu,Buffett lebih berpikir tentang investasi jangka panjang,pada saham-saham perusahaan yang produknya dikenal baik.
Kemampuan Warren Buffett memilih saham yang bernilai di bawah harga pasar merupakan bukti hidup yang mengagumkan.Beberapa ahli mengatakan,ke-mampuan itu sekaligus menjadi bukti kegagalan teori akademis yang menyebutkan bahwa pasar bersifat efisien.Artinya harga sahamberkaiteratdenganinformasi yang beredar di publik tentang perusahaan terkait. Menurut Buffett, pasar kerap salah menentukan harga.Pasalnya, harga pasar kerap ditentukan oleh emosi para investor.
Padahal emosi para investor bersifat jangka pendek, sementara dalam jangka panjang pasar justru akan mengikuti fundamentalperusahaan.Lantaran itu, Robert dalam buku ini merasa perlu menuliskan keunggulan model investasi fokus ala Buffett yang telah teruji oleh waktu.
-------------------------------------------------------------
Dimuat di SINDO, 19 September 2010
Mohamad Asrori Mulky
Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, Jakarta.
Judul : The Warren Buffett Portfolio
Penulis : Robert G. Hagstrom
Penerbit : Daras Books, Jakarta
Cetakan : I, Juni 2010
Tebal : 258 Halaman












