Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Jumat, 09 Juni 2023

Muhammad Sang Pembebas

Jumat, Juni 09, 2023 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Setiap gerakan pembebasan selalu bermula dari sebuah tanda. Tanda baru yang menjadi pembatas antara tradisi dan inovasi, masa lalu dan masa depan. Tanda baru itu dimulai pada kehadiran manusia paling agung pilihan Tuhan: sang bulan purnama (badrun), sang mentari (syamsun) penerang kehidupan yang menghidupi zaman yang sudah mati (jahiliyah). Dialah Muhammad sang pembebas, nabi pembela kaum tertindas.

 

Disebut sang pembebas karena seluruh perjuangan dalam misi profetiknya tidak diarahkan pada persoalan pemurnian akidah (tauhid) semata. Tapi juga pada seruan untuk terbebas dari segala bentuk penindasan, diskriminasi, eksploitasi, dan pembodohan yang dilembagakan. Begitulah sejatinya fungsi agama menjadi pembebas (teologi pembebasan) dari segala ketertundukan pada selain Tuhan.

 

Untuk mendobrak sistem sosial dan struktur masyarakat jahiliyah yang sudah mengakar kala itu, tidaklah semudah membalikan kedua telapak tangan. Perlu upaya dan ikhtiar yang maksimal yang dilambari doa, perlu segenap pengorbanan yang mendarahi tiap perjuangan yang dilakukan Nabi Muhammad Saw. Kerja kenabian adalah kerja kebudayaan dan peradaban yang melibatkan keyakinan, nilai, norma, dan tradisi yang harus dirubah.

 

Berpijak pada peta jalan yang telah dipancangkan Nabi Muhammad Saw itu, saya kira, teologi pembebasan ala Gustavo Gutierrez, yang menjadi acuan gerakan pembebasan di dunia, sedikit banyak punya kemiripan—meski saya tidak berani mengatakan tokoh teologi pembebasan dari Amerika Latin itu mencangkoknya seratus persen dari Nabi Muhammad Saw. Yang pasti agama bukan soal penghadapan pada Sang Pencipta, tapi juga soal penyapaan pada sesama manusia.

 

Teologi Pembebasan

Nabi Muhammad Saw hidup dalam kultur sosial tertentu, dalam ruang kebudayaan tertentu, dan dalam situasi masyarakat tertentu. Ya, dalam waktu itulah (jahiliyah) Nabi Muhammad Saw hadir, di mana perbudakan saat itu masih dilegalkan. Dan itu berarti eksploitasi manusia atas manusia lain masih dibolehkan, bahkan dilembagakan. Kebodohan yang dilembagakan itu terus dijustifikasi untuk menghisap dan mencari keuntungan dari tenaga para budak.

 

Memang, di masa itu perbudakan adalah hal yang lumrah dan menjadi praktek yang dimaklumi. Budak-budak diperjual-belikan di pasar-pasar, di jalan-jalan, dan ruang-ruang publik lain. Setiap orang berhak memiliki budak lalu mengendalikan jalan hidupannya. Tapi gerakan kebangkitan dan pembebasan harus dimulai dari perlawanan atas nilai, norma, dan adat yang merendahkan martabat kemanusiaan.

 

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan mulia (walaqad karramna bani Adam), begitulah firman Allah SWT. Bila Tuhan Sang Pencipta memberi legasi kemulian pada setiap keturunan Adam, lalu mengapa kita merasa paling mulia dari yang lain, sehingga dengan mudah merendahkan sesama. Tidak ada yang lebih mulia di hadapan Allah kecuali iman yang lapang, yang tidak memberi ruang pada kegiatan eksploitasi dan diskriminasi.

 

Risalah ketuhanan yang dibawa Nabi Muhammad Saw sama sekali tidak berpaling dari misi kemanusiaan. Justru, ketuhanan dan kemanusiaan (keduanya) berada dalam satu tarikan nafas keberislaman: tak terpilah, tak terpisah. Misi pembebasan dari perbudakan telah dilakukan Nabi Muhammad Saw di fase awal penyebaran Islam. Beliau sendiri pernah memerdekakan budak Afrika bernama Bilal bin Rabah, yang kemudian menjadi sahabat, dan pejuang Islam yang mengiringi dakwah nabi.

 

Perlahan tapi pasti. Misi pembebasan itu, kini, sudah sempurna. Islam sudah menghapus perbudakan, atas, dan untuk nama apapun. Dan itu seharusnya juga menghapus segala macam bentuk penjajahan dan penundukaan yang merugikan kodrat kemanusiaan manusia. Dalam kehidupan masyarakat dunia saat ini, hak asasi manusia (HAM) menjadi isu penting yang dibicarakan di forum-forum internasional. Hak dasar manusia seperti kebebasan (menjadi manusia merdeka) tidak boleh direnggut. Apa yang sudah ada secara inhern ada pada tiap manusia harus dilindungi, tidak boleh dicabut.

 

Misi pembebasan Nabi Muhammad Saw juga menyasar budaya kapitalisme masyarakat Quraish saat itu. Ekonomi elit (kapitalisme) yang hegemonik, yang mengendalikan pasar. Praktek riba menjadi hal yang biasa. Sehingga penghisapan manusia atas manusia lain menjadi hal yang biasa pula. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Yang kaya menjerat yang miskin. Yang miskin makin bergantung pada yang kaya. Kekayaan dimiliki segelintir orang elit, tidak turun ke bawah, tidak bisa dirasakan oleh kaum lemah.

 

Dalam situasi seperti itu, Nabi Muhammad Saw menawarkan konsep zakat, infaq, sodaqoh, dan wakaq. Tujuannya agar harta kekayaan tidak menumpuk pada satu atau segelintir orang saja, agar harta itu punya nilai sosial yang bisa dirasakan oleh mereka yang marginal secara ekonomi. Semangat berbagi kepada sesama ini kemudian mejadi daya tawar untuk mengikuti jalan dan dakwah nabi. Banyak orang berbondong-bondong masuk Islam karena merasa kehidupan sosial-ekonomi mereka diperjuangkan. Islam memperjuangkan hak dasar manusia yang direnggut sistem ekonomi kapitalis bangsa Quraish.

 

Itulah mengapa dakwah nabi ditolak, dijegal, tidak mendapat sambutan positif dari pemuka Quraish yang notabene-nya adalah para pedagang, pembisnis, orang kaya, dan pengendali pasar ekonomi masyarakat. Perlawanan yang dilakukan elite Quraish tentu bukan tanpa alasan. Andaikan mereka menerima dakwah nabi dengan Islam sebagai agama baru, maka sistem ekonomi kapitalis yang melegalkan riba dan sudah dipraktekkan bertahun-tahun harus ditinggalkan. Dan itu artinya pasar ekonomi yang selama itu mereka kuasai akan ambruk digantikan oleh sistem ekonomi kerakyatan yang berpihak pada kaum miskin dan marginal.

 

Dalam sistem kapitalis yang dipraktekkan elite Quraish, masyarakat dibagi dua: kelas borjuis dan kelas proletar, kelas orang kaya dan kelas orang miskin. Masyarakat yang dipolarisasikan secara struktural itu tidak memberikan keadilan. Justru berdampak pada makin bertumbuhnya kelas sosial orang miskin. Maka masyarakat tanpa kelas harus diciptakan. Yaitu, masyarakat yang egaliter, yang tidak membedakan manusia berdasarkan status ekonominya. Zakat, infaq, sodaqoh, dan wakaf yang ditawarkan Nabi Muhammad Saw, bukan sekedar dogma teologis. Lebih dari itu adalah sebagai konsep sosiologis dan antropologis yang terkait dengan keadaan ekonomi masyarakat yang hendak diperjuangkan.

 

Ketimpangan sosial-ekonomi masyarakat Quraish saat itu, tentu saja buah dari sistem kabilah (kesukuan) yang mereka ciptakan sendiri. Dalam sistem kesukuan berlaku hukum rimba. Di mana yang kuat adalah yang berkuasa, yang mengendalikan jalan hidup kelompok yang kalah. Inilah yang disebut Ibnu Khaldun sebagai ‘Ashabiyah dalam karya monumentalnya, Muqoddimah. Solidaritas kesukuan masyarakat Arab terkenal fanatik, dan itu sering melahirkan perang di antara sesama mereka sendiri. Perang antar suku sering terjadi, bahkan menjadi keharusan untuk membuktikan suku mana yang paling kuat.

 

Dalam situasi kacaau seperti itu, Nabi Muhammad Saw menyusup seperti air di tengah dahaga bangsa Arab yang tandus dari kehidupan aman dan damai. Kehadiran Nabi Muhammad Saw di tengah-tengah mereka memberikan kesejukan dan kedamaian yang selama ini mereka cari. Pada akhirnya, perbedaan suku dan kelompok berhasil nabi satukan dalam satu kepemimpinan negara Madinah. Bahkan negara Madinah melindungi pemeluk agama yang berbeda, seperti Yahudi dan Kristen untuk sama-sama hidup membangun negara bersama.

 

Inilah negara Madinah, sebelumnya bernama Yasrib, menjadi model ideal dalam membangun negara di tengah perbedaan yang ada. Bahkan menurut Robert N. Bella, seperti dikutip Nurcholish Madjid (Cak Nur), konsep negara Madinah terlalu maju di masanya. Cita-cita Nabi Muhammad Saw memperjuangkan hak-hak manusia, membela kaum marginal, menghapus perbudakan, menghilangkan jurang perbedaan antara si kaya dengan si miskin akibat sistem kapitalisme, bisa terakomodasi dalam wadah bersama benama Negara Madinah.

 

Manusia Paling Berpengaruh

Tak ada manusia yang mendapat perhatian begitu besar selain Nabi Muhammad Saw. Beliau dimuliakan melebihi tingginya langit, tapi juga menjadi figur yang sering disalahpahami. Begitulah kodrat orang besar, tiap aspek pada dirinya tak luput dari sorotan.

 

Michael H Hart dalam The 100, A Ranking of The Most Influential Persons in History, menempatkan Nabi Muhammad pada posisi paling pertama. Kontribusinya bagi kemaslahatan umat manusia mengalahkan pamor tokoh-tokoh dunia lain, seperti Enstein, Thomas Alfa Edison, Nabi Isa, Budha, Karl Mark, dll. Bahkan, Thomas Carlyle, dalam On Heroes, Hero, Worship, and The Heroes in History, memosisikan Nabi Muhammad Saw sebagai orang terpenting dari aspek kepahlawanan. Kepahlawan Nabi Muhammad Saw bukan sebatas melawan musuh di medan perang, tapi juga melawan sistem masyarakat yang sudah terpola berabad-abad.

 

Para sejarawan, peneliti dan akademisi mengisahkan perjuangan Nabi Muhammad Saw dari banyak apsek dari dirinya. Nabi Muhammad Saw pada akhirnya tidak bisa dipotret pada satu aspek saja dari dirinya. Nabi Muhammad Saw adalah sang nabi, kepala keluarga, pemimpin negara, panglima perang tertinggi, pendidik yang bijaksana, inspirator yang menggugah jiwa, pelindung yang marginal, dan pembebas orang-orang tertindas. Masih banyak lagi aspek yang bisa diteladani dari manusia utama ini. Karenanya cukup beralasan bila Will Durant, dalam The Story of Civilization in The World, menempatkan nabi sebagai orang pertama dilihat dari hasil karyannya.

 

Tulisan ini saya persembahkan untuk memperingati wafatnya manusia paling agung, Nabi Muhammad Saw yang meninggal pada tanggal 8 Juni 632. Dilihat dari penanggalan Masehi, ini adalah bulan duka cita bagi umat Islam seluruh dunia. Umat Islam pernah mengalami kesedihan yang dalam akibat ditinggal pergi nabi tercintanya. Wahai Nabi, kami umat-mu merindukan-mu. “Berabad jarak dari-mu ya Rasul terasa engkau di sini”, kata Bimbo.

 

Selasa, 06 Juni 2023

Sejarah Kelam Umat Islam

Selasa, Juni 06, 2023 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Salah satu sejarah kelam umat Islam yang sulit kita lupakan adalah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan. Dia dihabisi oleh umat Islam sendiri dengan cara yang amat sadis. Tubuhnya dicincang, lengannya dipatahkan, telinganya ditusuk dengan anak panah sampai tembus tenggorokan.

 

Tak sampai di situ, jenazah Utsman bin Affan dilempari, dilarang disolatkan, dikuburkan di makam orang Yahudi setelah sebelumnya dibiarkan selama 3 hari tanpa penanganan. Tragis dan memilukan memang. Tapi itulah fakta sejarah yang terjadi meski kita malu-malu mengakuinya sebagai sebuah kebenaran.

 

Pembunuhan Utsman bin Affan adalah tragedi berdarah yang menggetarkan hati dan menorehkan luka bercoreng karat. Para sejarawan menyebut peristiwa tragis itu sebagai malapetaka terbesar dalam sejarah umat Islam. Al Fitnah Al Kubro, huru hara pertama setelah wafatnya Baginda Nabi Muhammad Saw.

 

Taha Husein mengabadikan tragedi pembunuhan Utsman bin Affan dalam sebuah karya monumental berjudul Al Fitnah Al Kubro. Dalam buku tersebut, Taha Husein menggambarkan secara baik asal usul konflik politik dan detik-detik terbunuhnya sang khalifah. Ada ketidak-puasan di kalangan umat Islam atas kepemimpinan Utsman bin Affan yang dianggap lebih berpihak kepada keluarga ketimbang kepentingan umat Islam secara keseluruhan.

 

Kekacauan politik yang terjadi di masa Utsman bin Affan, kata Taha Husein, memantik konflik internal di tubuh umat Islam. Umat Islam terpecah, terpolarisasi ke dalam kelompok-kelompok yang saling bermusuhan, saling mencurigai, dan saling membunuh. Maka terciptalah perang saudara sesama umat Islam sendiri: Perang Jamal dan Perang Shiffin.

 

Perang Jamal yang terjadi antara Ali bin  Abi Thalib dengan Aisyah; dan Perang Shiffin antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah. Kedua perang ini sulit dipercaya. Bagaimana mungkin Ali yang merupakan sepupu dan menantu nabi harus mengangkat senjata melawan Aisyah, istri terkasih Baginda Nabi Muhammad Saw. Dan bagaimana mungkin sesama umat Islam saling membunuh dalam Perang Shiffin, padahal sebelumnya mereka bahu membahu berperang melawan musuh bersama.

 

Permusuhan abadi antara Dinasti Ummayah dan Dinasti Abbasiyah juga disebut oleh Farag Fouda sebagai akibat dari peristiwa berdarah Utsman bin Affan. Rangkaian tragedi berdarah yang melumuri sejarah umat Islam itu cukup menyakitkan kita semua. Namun demikian, peristiwa tersebut tetap harus didudukkan dalam perspektif sejarah yang murni, dan dijauhkan dari setiap bentuk interes apapun, termasuk keyakinan, bahkan agama sekalipun. Hal ini penting agar dalam mengungkapkan peristiwa tersebut dilakukan secara obyektif dan tidak bias.

 

Taha Husein menyimpulkan bahwa peristiwa Al-Fitnah Al-Kubra yang berakibat pada terbunuhnya Utsman bin Affan terjadi akibat akumulasi dari banyak persoalan yang tidak diselesaikan dengan baik oleh sang khalifah. Bahkan khlaifah sendiri cenderung membiarkan gerakan protes kaum muslim atas semua kebijakannya yang dianggap tidak adil dan berpihak pada keluarga.

 

Munculnya gelombang protes dari kalangan umat Islam saat itu, dikarenakan karakter kepemipinan Utsman bin Affan di paruh terakhir kepemimpinannya amat lemah, sehingga mudah disusupi pengaruh orang-orang yang ada di lingkaran kekuasaannya, terutama yang berasal dari kerabat dekatnya. Sementara tindakan dan sepakterjang orang-orang pilihan Utsman bin Affan kadang arogan dan tidak mencerminkan sebagai pembantu khalifah yang setiap saat harus menjaga kehormatan khalifah.

 

Faktor lain yang juga mendorong terjadinya Al-Fitnah Al-Kubra ialah perubahan kondisi sosial politik yang tidak dapat dielakkan dan sistem pemerintahan yang berjalan tidak baik. Oleh karena itu Taha Husein menolak adanya aktor tunggal di balik peristiwa Al-Fitnah Al-Kubra karena dinilai tidak rasional. Banyak faktor melatari munculnya kekacauan politik di zaman Utsman bin Affan hingga berakhir dengan pembunuhan yang memilukan itu.

 

Memberi tafsir baru yang berbeda dengan sejarawan lain dalam melihat peristiwa sejarah, khususnya peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan, tidaklah mudah. Butuh keberanian dan nyali yang besar. Sebab buah ijtihad ilmiahnya yang berbeda dengan sebagian besar keyakinan umat Islam, bisa membahayakan keselamatan dirinya, yang sewaktu-waktu terjadi teror dan intimidasi. Ini pernah terjadi pada Farag Fouda (dalam karyanya Al Haqiqah Al Ghaibah) saat menyingkap sejarah Islam yang selama ini disembunyikan. Farag Fouda mendapat teror dan ancaman, hingga akhirnya dia harus meregang nyawa ditembuh timah panas oleh kelompok Islam garis keras.

 

Tidak seperti Taha Husein dalam Al Fitnah Al Kubra membatasi Utsman bin Affan sebagai tokoh yang diteliti. Farag Fouda dalam karya kontroversialnya itu (Al Haqiqah Al Ghaibah) mengurai benih-benih konflik di tubuh umat Islam, bahkan sudah terjadi di hari pertama Baginda Nabi Muhammad Saw meninggal dunia. Dalam karyanya itu, Farag Fouda membeberkan sejarah kelam umat Islam dengan begitu mengerikan. Darah dibalas dengan darah, nyawa dibalas dengan nyawa. Ratusan ribu nyawa umat Islam melayang, tak terhitung istri-istri menjadi janda dan anak-anak menjadi hidup tanpa ayah.

 

Sebagai intelektual dan sastrawan terkenal, Taha Husein menyampaikan fakta sejarah umat Islam dalam karyanya ini dengan sangat kritis saat menarasikan peristiwa tersebut. Dengan kritisismenya, Taha Husein tidak hanya ingin menghadirkan sejarah Al-Fitnah Al-Kubra yang rasional obyektif, tetapi juga ada pertimbangan pragmatisme sejarah, yaitu ingin menjawab persoalan yang dihadapi Mesir pada waktu itu dengan sejarah.

 

Dari sini dapat dilihat, bahwa Taha Husein menginginkan agar sejarah tidak hanya sebatas menceritakan sebuah peristiwa masa lalu, tetapi harus ditafsirkan untuk menjawab persoalan kekinian yang dihadapi manusia zamannya. Sejarah bukanlah sekedar menyebut nama-nama tokoh yang terlibat di dalamnnya, atau menghafal rentetan tanggal dan nama-nama peristiwa yang terlah terjadi. Sejarah ditulis untuk jadi bahan renungan dan pembelajaran bagi generasi berikutnya.

 

Kebenaran sejarah harus diungkap. Tidak boleh disembunyikan. Sebab sejarah umat Islam bukanlah sejarah yang sakral, yang terhindar dari intrik, perebutan kekuasaan dan darah. Sebagaimana sejarah peradaban yang lain, sejarah Islam pun penuh dengan luka, benturan, dan catatan kelam masa lalu. Menjadikan sejarah Islam sebagai hal yang sakral, yang tidak boleh disentuh, apalagi diungkap kebenarannya merupakan sikap yang keliru. 

 

Sejarah Islam bukanlah Islam itu sendiri. Islam dan sejarah umat Islam adalah dua hal yang berbeda. Yang disebut pertama bersifat sakral, sementara yang kedua profan penuh kekalutan. Sejarah umat Islam adalah sejarah yang melibatkan umat Islam secara keseluruhan. Hingga kini kebenaran sejarah umat Islam masih gelap karena disimpan di ruang senyap, tercecer, terserak di antara puing-puing dan reruntuhan masa silam. Perlu penulis sejarah yang berani membongkar gelap menjadi terang, yang tercecer kian terurai, memperlihatkan kebenarannya sendiri untuk dipahami dan dijadikan pelajaran oleh generasi Islam saat ini.

 

 

 

Senin, 22 Mei 2023

Polemik Nasab di Keadaban yang Dangkal

Senin, Mei 22, 2023 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky, Dosen STISNU Nusantara Tangerang, Banten

Islam adalah agama ilmu dan adab (akhlak). Bukan agama nasab yang mengkultuskan garis keturunan. Begitulah Islam yang saya pahami hingga kini—Islam, yang tidak membedakan asal usul kecuali takwa yang lapang yang tersimpan rapih di inti hati.

 

Polemik nasab, yang kini memekakkan telinga dunia maya kita menyita perhatian publik. Pro kontra bermunculan. Sesekali diskursus itu berjalan di ruang ilmiah. Di mana satu sama lain saling membongkar, membabar kitab untuk saling menguji argumentasi. Dalil disangkal dengan dalil. Hujjah disanggah dengan hujjah.

 

Tapi lawan dalam pikiran tak selalu mendapat rekan debat yang sepadan. Tak jarang, bahkan dalam polemik nasab ini, banyak yang menyikapinya dengan cara emosional. Hujatan dan caci maki lebih banyak dipertontonkan, tanpa nalar, tanpa logika yang benar—hal yang sebetulnya tidak boleh terjadi.

 

Harus diakui riset ilmiah KH. Imaduddin Utsman Al Bantani mampu merontokkan susunan nasab Ba Alawi dari garis Ubaidillah yang sudah diyakini selama beradab-abad. Dan selama berabad-abad itu pula, mereka memiliki kebanggaan dengan nasabnya yang tersambung langsung kepada Baginda Nabi Muhammad Saw.

 

Sayang, keyakinan yang dirawat selama ratusan tahun itu harus diuji kesahihannya. Ubaidillah yang diyakini sebagai putra Ahmad Al Muhajir ternyata belum terkonfirmasi secara sah dan meyakinkan. Sebab dalam waktu yang cukup panjang, sekitar 550 tahun lamanya mata rantai nasabnya terputus. Hingga tulisan ini diturunkan belum ada yang bisa mematahkan kekuatan tesis KH. Imaduddin Utsman Al Bantani tersebut.

 

Keyakinan tanpa penyangkalan kadang bisa menjadi dogma yang mengerangkeng nalar waras manusia. Karena itulah, Pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum, Cempaka, Kresek ini,  tidak memilih jalan tersebut. Baginya, keyakinan harus dimulai dari penyangkalan bukan semata penegasan. Sebab penyangkalan yang berarti keraguan itulah yang akan menghantarkan kita kepada sebuah keyakinan yang tak tergoyahkan.

 

Dalam tradisi filsafat, metode keraguan (Skeptisisme) pernah digunakan secara baik oleh Al Ghazali (Nazhoriyyah Al Syukuk) dan Rene Descartes (Le Doubte Methodique). Pertama-tama, metode ini mesti ‘meruntuhkan’ segenap pengetahuan yang kita miliki, termasuk ‘mencurigai’ semua ‘kebenaran’ yang kita terima sedari kecil. Hanya dengan cara itu, kata mereka, kebenaran sejati yang tak tergoyahkan dapat diperoleh secara meyakinkan karena sudah jelas dan terpilah-pilah (claire et distincte).

 

Apa yang dilakukan KH. Imaduddin Utsman Al Bantani semata-mata untuk mendapat keyakinan dari kebenaran yang selama ini diyakini secara jamak. Jangan-jangan keyakinan yang dipegang teguh secara jamak itu adalah ilusi dan menipu. Sayang, reaksi keluarga Ba Alawi terlalu naif. KH. Imaduddin Utsman Al Bantani dituduh menyebar adu domba dan anti dzuriyat Nabi. Padahal kecintaan beliau terhadap Nabi dan dzuriyatnya tidak perlu diragukan. Kalau pun beliau mencari pembuktian secara ilmiah mengenai garis keturunan Nabi, semata-mata demi menjaga marwah dan kemulian Nabi dari oknum yang ingin mengkapitalisasi nasab.

 

Tidak sedikit oknum habib mengkapitalisasi nasab Nabi untuk tujuan berbangga-bangga dan kepentingan tertentu. Sementara perilakunya tidak mencerminkan watak dan keperibadian Nabi yang santun, ramah, dan lemah lembut. Berbangga-bangga dengan nasab bukanlah ajaran Islam. Dia adalah warisan masyarakat Arab jahiliyah yang hendak Nabi hapus. Seseorang harus menjadi dan mengandalkan dirinya sendiri (ها أنا ذا), “inilah aku”. Bukan hidup dari ketiak nasab, yang sebetulnya (berbangga-bangga dengan nasab) menunjukkan kelemahan dirinya. Tanda kemuliaan seseorang bukan terletak  pada nasab, tapi pada ilmu dan adab.

 

Riset ilmiah yang dilakukan KH. Imaduddin Utsman Al Bantani mestinya disikapi dengan hal yang senada. Bukan dengan cacian, tuduhan, persekusi, apalagi sampai dibawa ke meja pengadilan seperti yang terjadi belakangan ini. Bagaimana mungkin pikiran seseorang dapat dihakimi? Bagaimana mungkin kebenaran ilmiah harus diputus di hadapan dewan hakim?

 

Riset KH. Imaduddin Utsman Al Bantani mesti diuji keabsahannya di meja kampus, di hadapan sejumlah profesor atau guru besar. Bukan di meja hakim. Riset harus dilawan dengan riset. Pendapat harus dibatalkan dengan pendapat. Tapi begitulah faktanya. Budaya literasi kita masih tumpul, masih mencerminkan peradaban dan keadaban yang dangkal.