Mohamad Asrori Mulky
Ada masa ketika pikiran manusia
berdiri di hadapan dirinya sendiri seperti seorang pengembara yang tiba di tepi
gurun yang tak berujung. Semua jalan yang pernah diyakini ternyata hanya jejak
yang memudar di hamparan pasir. Pada saat seperti itu, seseorang tidak lagi
bertanya kepada dunia, melainkan kepada dirinya sendiri: apakah yang selama ini
disebut sebagai kebenaran benar-benar memiliki akar yang kokoh?
Pertanyaan semacam inilah yang
mengguncang batin terdalam dari Abu Hamid al-Ghazali, sang Hujjatul
Islam,
ketika ia menulis Al-Munqidh min al-Dalal. Kitab itu bukan sekadar karya
intelektual; ia adalah semacam autobiografi spiritual dari seorang sarjana dan
ulama terkemuka yang tiba-tiba merasa bahwa fondasi pengetahuannya retak.
Bertahun-tahun ia hidup di
tengah kemegahan ilmu. Ia mengajar, berdebat, menulis, dan menjadi salah satu
otoritas intelektual paling berpengaruh pada zamannya. Namun di balik kemegahan
itu, sebuah kegelisahan perlahan tumbuh menjalar—seperti retakan halus pada
dinding yang mula-mula tak terlihat, tetapi suatu hari membuat seluruh bangunan
terasa keropos.
Dalam kitab itu, Al-Ghazali menyadari
bahwa sebagian besar keyakinan manusia lahir bukan dari pencarian yang mendalam,
melainkan dari warisan yang diperoleh secara turun temurun. Manusia mempercayai
sesuatu karena ia dilahirkan di tengah masyarakat yang mempercayainya. Seorang
anak menerima agama, nilai, dan cara berpikir sebagaimana ia menerima bahasa
ibunya—tanpa pernah menimbang apakah semua itu benar atau sekadar kebiasaan
yang diwariskan.
Kesadaran ini membuat al-Ghazali
mengambil langkah yang jarang dilakukan oleh seorang ulama besar: ia meragukan
fondasi pengetahuannya sendiri. Keraguan itu bukan kehancuran iman, melainkan
usaha membersihkan iman dari lapisan-lapisan yang menutupinya. Ia menyangkal
segenap pengetahuan yang diterima agar dapat memperoleh suatu kepastian yang
tak tergoyahkan.
Ia memulai dari alat
pengetahuan yang paling dekat dengan manusia: indera. Mata, telinga, dan
seluruh pengalaman empiris yang selama ini dianggap sebagai jendela dunia
ternyata tidak selalu dapat dipercaya. Apa yang tampak diam mungkin sebenarnya
bergerak; apa yang terlihat kecil mungkin sesungguhnya raksasa. Realitas yang
ditangkap oleh indera sering kali hanyalah bayangan yang diproyeksikan oleh
keterbatasan manusia.
Ketika kepercayaan pada indera
mulai goyah, akal tampak sebagai benteng terakhir. Rasio mampu mengoreksi
kesalahan persepsi, menimbang argumen, dan membangun struktur pengetahuan yang
tampak kokoh. Namun bagi al-Ghazali, bahkan akal pun tidak sepenuhnya bebas
dari keterbatasan. Ia mampu menjelaskan banyak hal, tetapi tidak selalu mampu
menembus lapisan terdalam realitas.
Di titik inilah perjalanan
intelektual al-Ghazali memasuki wilayah yang sangat sunyi: wilayah ketika akal
harus mengakui bahwa ia bukan penguasa tunggal pengetahuan. Ia adalah cahaya,
tetapi bukan matahari. Ia menerangi, tetapi tidak selalu mampu menyingkap
seluruh langit. Kemampuan akal dalam menyinari tidak membuat al-Ghazali puas bila
dibandingkan dengan terangnya sinar matahari.
Kesadaran akan keterbatasan itu
tidak membuat al-Ghazali jatuh ke dalam skeptisisme yang nihilistik.
Sebaliknya, ia melihat keraguan sebagai tahap penyucian—seperti api yang
membakar logam agar tersisa hanya emasnya. Keraguan menjadi alat untuk membedakan
antara keyakinan yang diwarisi dan kebenaran yang benar-benar dialami.
Setelah melalui perjalanan
panjang itu, al-Ghazali menemukan bahwa pengetahuan memiliki lapisan yang lebih
dalam daripada yang dapat dicapai oleh logika. Di sana terdapat bentuk
pengetahuan yang oleh para sufi disebut dzauq—sebuah
kesadaran yang tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan.
Dalam pengalaman ini, kebenaran
tidak lagi muncul sebagai konsep, melainkan sebagai kehadiran. Ia bukan sekadar
sesuatu yang diketahui, tetapi sesuatu yang menyinari jiwa. Al-Ghazali menggambarkan
pengalaman ini dengan ungkapan yang sangat terkenal: nūr yaqdzifuhu Allāh fī al-qalb—sebuah
cahaya yang dilemparkan Tuhan ke dalam hati manusia. Cahaya itu bukan hasil
deduksi logis, melainkan anugerah yang datang kepada jiwa yang telah
dibersihkan melalui perjuangan spiritual.
Di sinilah epistemologi al-Ghazali
mencapai bentuknya yang paling utuh. Indera memberikan bahan pengalaman, akal
mengolah dan menimbangnya, tetapi cahaya Ilahi memberikan makna terdalamnya.
Ketiganya bukan musuh, melainkan tahap-tahap dalam perjalanan pengetahuan
manusia, yang sebetulnya satu sama lain harus dimanfaatkan untuk memperoleh
kebenaran.
Ketika kita membaca Al-Munqidz min al-Ḍalāl, kita
sebenarnya sedang membaca kisah tentang keberanian intelektual yang jarang
terjadi: keberanian untuk meragukan segala sesuatu demi menemukan sesuatu yang
lebih sejati. Kitab ini memperlihatkan bahwa kebenaran tidak selalu lahir dari
kepastian yang keras, tetapi sering kali dari keraguan yang jujur.
Di tengah dunia modern yang
memuja data, statistik, dan kalkulasi rasional, suara al-Ghazali terdengar
seperti gema dari zaman lain—tetapi justru karena itu ia terasa relevan. Ia
mengingatkan bahwa pengetahuan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi
kesombongan, dan bahwa kebenaran tidak selalu ditemukan oleh mereka yang paling
keras berbicara.
Kadang ia justru ditemukan oleh
mereka yang berani berjalan sendirian dalam kesunyian—mencari cahaya di dalam
ruang batin yang paling dalam. Dan dari kesunyian itulah, menurut al-Ghazali,
cahaya pengetahuan yang sejati akhirnya lahir. Jangan takut untuk meraguan. Karena
keraguan adalah jalan untuk memperoleh kepastian yang meyakinkan.






