Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Jumat, 23 April 2021

Album Kenangan Subulussalam (Bagian I)

Jumat, April 23, 2021 4

Oleh Mohamad Asrori Mulky
 
Bulan Ramadhan telah tiba. Dan seketika ingatan saya pun jauh menoleh ke belakang, pada suatu masa dalam waktu, sekitar puluhan tahun yang lalu, saat saya masih nyantri di Pondok Pesantren Modern Subulussalam, yang terletak di ujung Tangerang, pintu masuk Kota Serang: KRESEK.

 

Memang seluruh hal yang mengisahkan masa lampau selalu saja hangat tiba di hati kita. Apalagi bila kenangan itu menorehkan selaksa kisah manis yang masih tersimpan dengan rapih. Semua ingatan tentang masa lampau itu (di pondok) bermunculan bak album kenangan, yang memuat banyak kisah tentang satu dan lain hal. Semuanya begitu nyata seolah baru saja terjadi seketika.

 

Pada lembar pertama dari album itu, saya terkenang wajah gurunda kita tercinta KH. AHMAD MAIMUN ALIE, MA. Kepadanya bermuara teladan yang baik yang patut ditiru oleh kita sebagai santrinya. Ibarat mata air yang mengalir dari hulu ke hilir, begitulah juga beliau, berkah dan ridhonya bisa membantu menyegarkan dahaga bagi jiwa-jiwa tandus seperti kita. Dalam pendidikan pesantren ‘ngalap berkah kiai’ lazim dicari. Suatu hal yang tidak terjadi di dunia penddidikan sekuler.

 

“Kadang cahaya kita lenyap dari dalam diri dan dinyalakan lagi oleh pijar dari orang lain. Masing-masing kita punya alasan untuk memikirkan dan memberikan penghargaan mendalam pada orang yang telah menyalakan api di dalam diri kita”. Demikian Albert Schweitzer, teolog berkebangsaan Perancis, pernah menuturkan.

 

Dalam menapaki jalan hidup, siapa pun, termasuk kita, butuh pijar orang lain. Apalagi bila pijar itu diharapkan datang dari guru sendiri. Sebagai santrinya tidaklah salah bila kita rutin mengirim hadiah doa bagi gurunda kita tercinta, almarhum almagfurlah Abah KH. Ahmad Maimun Alie, MA. Hanya itulah yang bisa kita persembahkan sebagai bakti dan rasa terimakasih kita atas ilmu dan jasa-jasa beliau selama ini. اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه.

 


Kaum bijak bestari pernah mengatakan, “tiap orang yang sampai ke tempat ia berada saat ini, harus mulai dari tempat ia dulu berada”. Siapa pun yang mereguk manisnya hidup hari ini, sedikit banyak ada peran dan doa gurunda kita tercinta, Abah KH. Maimun Alie, MA. Di manapun kita berpijak pada tempat hari ini, kita pernah meninggalkan jejak di suatu tempat yang ada di belakang kita. Sekali lagi, semoga Allah SWT menganugerahi beliau pahala yang berlimpat dan menempatkannya di tempat yang paling layak. Amin ya rabbalâlamin!

 

Di mata saya, Pak Kiai adalah sosok yang amat bersahaja. Balutan sarung yang dikepang dua dan peci hitam yang dikenakannya dalam keseharian, mencirikan identitas sosial-budaya tentang pandangan hidup dunia pesantren. Penampilan beliau seperti itu tipikal ulama NU (Nahdlatul Ulama) yang akomodatif terhadap lokalitas budaya. Sikap akulturatif beliau terhadap budaya telah menta’kidkan (meneguhkan secara kuat) posisinya sebagai ulama moderat (وسطية).

 

Status beliau sebagai ulama moderat, juga bisa kita lihat dari pandangannya mengenai moderasi beragama. Dalam satu momen silaturahmi dengan Pak Kiai di Subulussalam. Beliau sempat menyinggung keberadaan Islam radikal dan Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia, yang pada saat itu menjadi buah bibir di masyarakat. Memang dua kelompok ini selalu terlibat persaingan sengit di ruang publik untuk tampil menjadi yang paling baik. Keduanya mengambil posisi ujung paling ekstrim: ekstrim kanan (Islam Radikal) dan ekstrim kiri (JIL).

 

Sepanjang pengetahuan saya, kelompok Islam radikal lebih menitikberatkan pada tekstualitas ayat dalam tafsir kitab suci. Terkesan mengabaikan sisi historisitas (اسباب النزول). Sementara JIL justru mengambil sikap yang sebaliknya. Dan di antara dua kutub yang saling berlawanan itu, kata Pak Kiai, perlu ada kelompok yang berdiri di tengah sebagai penyeimbang. Sebab dalam memahmi kitab suci diperlukan dua aspek sekaligus, yaitu teks dan konteks agar tidak terjadi tafsir yang otoriter dan hegemonik. 

 

[Baca Juga: Halal Bi Halal Virtual Aloemni Sevent: Mengikis Bayangan Lupa]

 

Sikap moderat Pak Kiai pada akhirnya kian mematangkan pribadinya, baik secara personal maupun intelektual. Saya yakin tidak ada satu pun dari kita menolak menyebut Pak Kiai sebagai pribadi yang punya ketenangan yang matang, tidak grasak grusuk dalam bertindak dan penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan. Pribadi seperti itu sebetulnya menyiratkan kedalaman ilmu pengetahuan agama beliau.

 

Agama butuh kedalaman dan perenungan, agar ekspresinya memberi ketenangan bagi pemeluknya, dan kebaikan bagi alam semesta (رحمة للعالمين). Bila agama diekspresikan dalam kebisingan dan kegaduhan, miskin perenungan dan penghayatan, maka yang ada adalah suara parau dari agama yang bisa memekakkan telinga banyak orang. Keluasan pengetahuan beliau mengingatkan kita pada salah satu Motto Pondok yang amat melegenda, “BERPENGETAHUAN LUAS” (العلوم المتبحرة/broad knowledge).

 


Dengan Motto tersebut, Subulussalam tidak bermaksud mencetak generasi tanpa aksara yang tak sanggup membaca ayat-ayat Tuhan dan semesta. Para santri diharapkan memiliki pengetahuan luas agar dapat menghadapi kemelut zamannya, melintasi cakrawala, melompati aneka ragam horizon ilmu, agar menjadi manusia arif dan budiman, penuh hikmah dan kebijaksanaan. Menjadi penyintas di jalan ilmu memang tidaklah mudah. Butuh ketangguhan dan kekuatan mental agar tidak gampang rontok saat dihadapkan pada kenyataan hidup yang pahit.  

 

Pak Kiai sendiri telah menuntaskan tanggung jawab intelektualnya sebagai pengembara ilmu yang luar biasa. Beliau telah mereguk manisnya ilmu pengetahuan agama hingga Madinah dan Pakistan. Menimba ilmu pada banyak guru, menghabiskan waktu dengan membaca tumpukan buku, meninggalkan keluarga dan sanak saudara, adalah bagian dari batu ujian yang harus dijalani para penyintas ilmu seperti Pak Kiai. Beliau sadar ilmu pengetahuan mesti dicari meski harus ke negeri manca. Dan itu adalah titah dari sabda baginda Nabi kita tercinta (اطلبوا العلم ولو بالصين).

 

Sebagai pimpinan pondok, tidak cukup sekali beliau menghimbau para santri agar tangguh dalam menuntut ilmu walau harus melewati batas-batas negara yang jauh sekali pun. Dalam keyakinan beliau, ilmu akan menempatkan seseorang pada derajat paling tinggi sebagaimana janji Allah SWT dalam salah satu firman-Nya (يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات). Meski terkadang, pada zaman yang merepih seperti pasir ini, masih banyak orang mengukur kehormatan bahkan keberhasilan seseorang hanya dalam timbangan materi semata.

 

Beliau pernah berpesan: “seseorang dihormati karena ilmunya”. Kata-kata itu masih terngiang jelas di telinga saya. Apalagi saat itu beliau mengucapkannya dengan nada dan intonasi penuh penekanan—suatu hal yang amat lazim beliau lakukan saat menyampaikan perkara yang dianggapnya penting. Tentu saja pesan itu disampaikan tidak secara khusus kepada saya, tapi juga ditujukan kepada para santri Subulussalam, dari angkatan pertama sampai sekarang.

 

 

BERSAMBUNG.....

Bagian II: Lembar Kedua dari Album Kenangan, Insya Allah!

Rabu, 07 April 2021

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Rabu, April 07, 2021 0























Oleh Mohamad Asrori Mulky

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris hanya bicara tentang kematian, tentang bagaimana menghabisi yang liyan (orang lain).

 

Karen Armstrong dalam “Fields of Blood: Religion and the History of Violence” menyimpulkan, terorisme tak ada hubungannya dengan Nabi Muhammad dalam Islam atau Kristus dalam iman Kristen. Kendati terorisme bukan bersumber dari ajaran agama, faktanya hampir semua aktivitas teror selalu mendalihkan alasannya pada doktrin agama, pada kebenaran yang diyakininya.

 

Setidaknya, kita tidak boleh menutup mata pada kasus terorisme paling mutakhir, yakni bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan teror di Mabes Polri. Pelakunya secara terang-terangan melakukan "amaliyah" teror dengan mendasarkan alasannya pada pemahaman agama. Melalui surat wasiat yang ditinggalkan, mereka memilih menempuh jalan jihad untuk memperoleh kematian yang terhormat.

 

Radikalisme agama ada di tengah-tengah kita. Itu fakta yang tidak boleh kita ingkari. Dalam amatan saya, para teroris lebih banyak bicara tentang “teologi masa depan” (akhirat), tentang jihad, tentang musuh yang ada di sana yang berbeda haluan dan arah tujuan. Prinsip berani mati demi cita-cita yang dianggap luhur (masuk surga) menjadi dasar keyakinan mereka. Tak peduli berapa nyawa dimatikan. Tak mengapa berapa jiwa yang harus dilenyapkan.

 

Memupuk pahala demi surga meski harus menghilangkan nyawa manusia adalah tindakan yang melawan kemanusiaan dan bertentangan dengan nilai luhur tiap agama: Cinta kasih. Radikalisme agama dan bentuk kekerasan yang berdasarkan dalih agama hanyalah muncul dari akal yang tidak sehat, hati yang keras, dan jiwa yang sombong.

 

Memang! Ketika akal jadi sakit, daya kritis melemah. Maka semua tindakan yang dihasilkan dilalui lewat jalan perhitungan yang tak memadai, cenderung destruktif dan merusak. Ketika hati menjadi keras, cinta kasih pun menghilang. Maka yang muncul adalah sifat purba dari manusia; kebengisan tanpa welas asih. Ketika jiwa menjadi sombong, sifat sewenang-wenang muncul. Jiwa yang sombong adalah nama lain dari ke-aku-an yang angkuh. Dan keangkuhan itu akan membuat seseorang menjadi rapuh.

 

Para teroris tak banyak bicara tentang prinsip berani hidup. Mereka tak mengenal konsep tentang hidup yang rukun dan teratur. Sebab berdamping hidup dengan yang liyan (berbeda ideologi dan keyakinan) dianggap sebagai ancaman. Bagi mereka, membunuh adalah cara terbaik untuk bertahan “hidup” menuju kematian yang abadi.

 

Bagi para teroris, dunia adalah ladang pertempuran tiada akhir. Musuhnya sudah jelas: Mereka yang berbeda ideologi dan keyakinan. Dalam perang yang telanjur digelar ini mereka tak lagi mengenal rasa kemanusiaan dan belas kasihan. Yang ada adalah lawan atau kawan. Dia yang berbeda haluan dianggap sebagai musuh yang harus dilawan. Sementara mereka yang searah dianggap sebagai teman yang layak diperjuangkan.

 

 

Kebencian

Kebencian yang mendalam pada yang liyan kadang membuat seseorang lupa arah dan ingatan. Ibarat api dalam sekam, kebencian yang digumpalkan dalam dada bisa lebih berbahaya. Dia akan berkobar. Membakar banyak korban.

 

Apalagi bila kebencian yang digumpalkan dalam dada itu disebabkan oleh kemarahan yang menggunung akibat beda haluan dan keyakinan. Kebencian adalah kekuatan yang lahir dari dalam diri manusia untuk diarahkan kepada objek yang ada di luar sana—atau kepada “wajah yang lain” dalam istilah Emmanuel Levinas.

 

Ketika "aku" sebagai subjek telah merasa terkikis menjadi sebuah objek karena kehadiran "aku" yang lain, maka saat itu juga "aku" sebagai subjek mulai merasa terancam. Dan karena kehadiran objek dirasa mengancam subjektivitas, maka "aku" selaku subjek melakukan agresi dan dominasi terlebih dahulu atas yang lain.

 

Suasana batin seperti itu, juga dialami pelaku penembakan masjid Christchurch di Selandia Baru, beberapa tahun lalu. Pelakunya, yang juga pejuang supremasi kulit putih, merasa terancam oleh kehadiran imigran dari kalangan Islam. Sama dengan pelaku bom bunuh diri di Makassar dan penyerangan di Mabes Polri. Mereka merasa terancam oleh kelompok yang beda arah ideologi dan keyakinan. Dan karena itu mereka pupuk kebencian yang mendalam untuk jalan jihad yang diyakininya.

 

Dalam rentang sejarah yang panjang, sebuah peradaban yang damai nan permai tiba-tiba bisa runtuh oleh sebab peperangan yang disulut kebencian. Kisah Qabil dan Habil telah memberi gambaran betapa kebencian bisa mengakhiri riwayat orang lain. Tragedi kemanusiaan ini telah dipandang oleh Ibnu Khaldun sebagai tragedi berdarah pertama di dunia yang dilakukan oleh dua anak manusia pertama.

 

Rasanya sulit untuk menghapus terorisme di dunia selama kebencian pada yang liyan masih digelayutkan dalam dada. Kita perlu menyadari bahwa tujuan penciptaan manusia adalah sebagai khalifah (catat! bukan sistem khilafah). Tentu bukan untuk maksud-maksud destruktif dan merusak. Tapi untuk mengolah dunia, menebar benih damai, dan saling memberi kasih pada sesama. Hanya dengan itu, kita bisa menghapus terorisme yang disulut kebencian yang menggumpal.

 

Manusia adalah sebaik-baik ciptaan. Bukan semata-mata karena dia sanggup memikul titah (amanah) Tuhan yang pernah ditolak langit, bumi, dan gunung. Tapi karena dia memiliki Nurani atau نوران (dua pelita/cahaya), yaitu akal dan hati. Dan oleh sebab itu manusia berbeda dengan binatang. Bahkan lebih baik dari Malaikat. Bila dua pelita itu redup bahkan mati dari dalam diri seseorang, maka yang tersisa adalah kegelapan. Kebencian muncul oleh sebab hilangnya nurani dalam diri.

 

Sebagai penutup tulisan, izinkan saya mengutip salah satu ayat dari Firman Tuhan: “Jangan sekali-kali kebencian-mu pada kelompok lain (orang lain) membuat-mu berlaku tidak adil. Berlaku adil lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (Al Maidah: Ayat 8).

 

Pesannya cukup jelas. Tidak perlu mengundang banyak pengertian.

 

Tapi mengapa para teroris menempuh jalan benci? Padahal adil lebih bisa mengantarkan mereka pada kasih Sang Pencipta. Di situlah watak retak mereka. Wallahu’alam!

 

*Dimuat di kumparan.com

Minggu, 28 Maret 2021

Perempuan dalam Kemelut Sejarah: Tribute to Nawal El Saadawi

Minggu, Maret 28, 2021 0

 

 

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Sejarah perempuan adalah sejarah kelam yang diliputi diskriminasi dan eksploitasi. Penuh kepedihan dan penderitaan. Peran mereka di ruang publik dibatasi, bahkan dipinggirkan. Begitu juga dalam ruang domestik dipaksa oleh pekerjaan rumah tangga: kasur, dapur, dan sumur. Seluruh hidup mereka ditindas oleh budaya patriarki, kolonial negara dan agama.

 

Tulisan sederhana ini saya persembahkan untuk feminis Mesir Nawal El Saadawi yang wafat pada Minggu, 21 Maret 2021 lalu. Nawal menghembuskan nafas terakhir di usia 89 tahun. Usia yang tidak muda. Tapi buah penanya dalam bentuk karya fiksi dan non-fiksi akan dikenang lebih abadi. Kita patut mengapresiasi “suara”-nya yang lantang menyuarakan hak-hak perempuan yang dibungkam oleh sejarah laki-laki.

 

Saya pertama kali mengenal Nawal lewat “Perempuan di Titik Nol” yang diterjemahkan dari “Women at Point Zero”. Novel ini bercerita tentang seorang gadis bernama Firdaus yang dipaksa oleh keadaan untuk menjadi seorang pelacur. Firdaus mengingatkan saya pada Nidah Kirani, tokoh dalam novel “Tuhan Izinkan Saya Jadi Pelacur” karya Muhidin M. Dahlan.

 

Kedua novel itu memiliki kesamaan. Sama-sama mengangkat tema tentang eksploitasi tubuh perempuan yang dilakukan kaum laki-laki. Ya, Firdaus dan Nidah Kirani dipaksa jadi pelacur oleh keadaan yang menghimpitnya. Tokoh yang disebut pertama memilih jadi pelacur karena ulah orang-orang terdekatnya. Sementara yang kedua, kecewa dengan sekelompok orang yang “sok suci” yang membuat sejumlah aturan namun malah melanggar semua aturan itu.

 

Bila kita cermati secara seksama, kesewenang-wenangan, penindasan dan pelecehan dalam segala bentuk dan wujudnya terhadap perempuan jamak terjadi di hampir semua peradaban. Sungguh sangat memperihatinkan memang. Prof. Quraish Shihab dalam “Wawasan Al-Qur’an” membeberkan sejumlah fakta yang memperlihatkan praktek keji terhadap perempuan terjadi pada peradaban Yunani, Romawi, India, China, bahkan Arab pra-Islam.

 

Yunani yang dikenal dengan pemikiran filsafatnya sempat menempatkan perempuan seperti barang dagangan yang dijualbelikan. Di kalangan elite mereka, perempuan disekap dalam istina-istana yang megah namun tidak memberi kebebasan. Begitu juga nasib perempuan di lingkup rumah tangga hanya menjadi pemuas nafsu suami. Mereka tidak memiliki hak-hak sipil. Bahkan hak waris pun tidak ada.

 

Nasib perempuan pada peradaban Romawi, China, India, bahkan pra-Islam juga tidak lebih baik dari peradaban Yunani. Perempuan pra-Islam mengalami situasi yang sangat menyedihkan. Selain hal-hal (bentuk penindasan) yang sudah disebutkan pada peradaban Yunani, anak-anak perempuan sebelum kedatangan Islam dikubur hidup-hidup demi menjaga marwah dan martabat keluarga. Umar bin Khattab, Khalifah Kedua, pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup dan kemudian menyesalinya.

 

Di Era modern bahkan kontemporer pun pandangan negatif terhadap perempuan masih terlihat jelas sampai sekarang. Di dunia Islam misalnya, masih ada sekelompok orang mempersepsikan perempuan sebagai mahluk nomor dua—liyan dalam istilah Simone De Beauvoir. Mereka tidak boleh menjadi pemimpin, dilarang keluar rumah meski untuk pendidikan, tidak boleh muncul di ruang publik meski untuk aktualisasi diri, dan sejumlah larangan lainnya. Belum lagi kebijakan politik, ekonomi dan sosial yang merampas kebebasan dan hak-hak mereka.

 

Nawal dan Perempuan yang Tertindas

Nawal El Saadwi tidak bisa dipisahkan dengan nasib perempuan yang ditindas oleh sebuah sistem dan aturan baku yang bersifat patriarkis. Dia mencoba membongkar tabu agama yang merugikan perempuan namun justru dianggap menguntungkan bagi pihak laki-laki. Nawal menolak keras poligami. Meski praktek itu seolah mendapat legitimasi teks tapi menurutnya semangat Al Qur’an adalah monogami.

 

Isu poligami memang kerap menjadi isu paling seksi untuk diperbincangkan kapan pun dan di mana pun. Kita tidak bisa menutup mata, ada banyak orang berpoligami bukan untuk membantu dan meringankan beban wanita yang dinikahinya. Justru mereka memilih para gadis sebagai istri. Hal yang sesungguhnya bertentangan dengan cara Nabi Muhammad berpoligami. Nabi menikahi wanita-wanita yang usinya lebih tua dan memiliki banyak anak untuk dinafkahi.

 

Tubuh perempuan memang selalu menjadi daya tarik dan bisa mendatangkan keuntungan bagi mereka yang ingin memanfaatkannya. Dalam sistem ekonomi kapitalisme misalnya, tubuh perempuan dieksploitasi dalam bentuk iklan. Kemolekannya dipampang untuk menarik konsumen dan mendatangkan pundi-pundi uang yang berlipat. 

Di Mesir, Nawal pernah mengkritik agen-agen kapitalisme semacam itu. Dia melihat potret perempuan memakai baju terbuka yang ditampilkan dalam bentuk iklan bukan untuk membebaskan perempuan, melainkan hanya untuk meraup keuntungan dari standar kecantikan yang diciptakan oleh kapitalisme global.

 

Anggapan bahwa perempuan hanya berurusan dengan masalah domestik dimanfaatkan oleh sejumlah perusahaan dengan menjadikan mereka sebagai tenaga kerja tambahan yang dapat digaji dengan murah, tanpa jaminan sosial dan hak-hak kerja lainnya. Dalam buku “Perempuan dalam Budayata Patriarki” Nawal melihat kapitalisme global yang menyusup ke hampir semua negara Islam telah membuat perempuan makin terpinggirkan. Seolah ingin memberi kebebasan dan kesetaraan kepada perempuan di ruang publik tapi justru sebaliknya.

 

Nawal dan Gema Perlawanan dari dalam Kubur 

Nawal El Saadawi sudah wafat. Tapi suara perlawanannya yang nyaring akan terus bergema dari dalam kubur. Bahkan bisa jadi lebih nyaring dari sebelumnya. Mengingat para aktivis gender kini jumlahnya makin bertambah banyak, tidak hanya di negara-negara maju tapi juga di negara berkembang seperti Indonesia. Mereka getol berjuang melawan ketidakadilan dan penindasan terhadap kaum perempuan.

 

Dalam proses perjuangan itu, tentu saja, para aktivis gender, sedikit banyak, akan menyandarkan visi perjuangan dan argumentasinya pada pemikiran Nawal. Dalam dunia kepengarangan, Nawal, tergolong penulis yang produktif dan mempengaruhi banyak pikiran manusia. Sedikitnya 40 buah buku yang sudah dia tulis, di antaranya Memoirs of a Woman Doctor (1958), Women and Sex (1972), God Dies by the Niel (1974), The Hidden Face of Eve (1979), Women at Point Zero (1983), dan My Travels Around The World (1991).

 

Buku-buku itu akan selalu menjadi bahan penelitian dan didiskusikan dari zaman ke zaman, dalam waktu yang cukup panjang. Selama ketidakadilan dan penindasan terhadap perempuan masih terjadi di muka bumi ini, maka saat itu pula pemikiran Nawal tetap relevan untuk dijadikan rujukan. Dan bersamaan itu pula suara Nawal El Saadawi makin nyaring menggem walau sudah berada di dalam kubur.

 

Selamat jalan, Nawal....!

 

 

Sumber: telah dimuat di geotimes.id

Rabu, 10 Maret 2021

Mendialogkan Isra dan Mikraj

Rabu, Maret 10, 2021 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky
 
Ini bukan sekedar perjalanan spiritual-individual di waktu malam demi sebuah titah Tuhan berupa sholat yang harus didapat. Tapi tentang sebuah misi kenabian yang menyeluruh, yang meniscayakan hubungan harmonis dalam perjalanan empat arah Nabi Muhammad Saw pada peristiwa isra dan mikraj: dari bumi ke bumi, dari bumi ke langit, dari langit ke bumi, dan dari bumi ke bumi.

 

Sejarawan semisal Ibnu Hisyam mencatat, isra dan mikraj merupakan peristiwa paling agung yang pernah dialami Nabi Muhammad semasa hidupnya. Betapa agungnya peristiwa itu, sampai-sampai sejumlah pemikir ternama telah diilhaminya. Sebut saja misalnya, Dante Alighieri dalam The Divine Comedy, Mohamad Iqbal dalam Javid Namah, dan mistikus besar Fakhruddin Atthâr dalam Mantiq At-Thair.

 

Isra dan mikraj adalah jamuan istimewa (undangan) dari Allah SWT untuk Nabi agar ia datang menghadap-Nya. Mula-mula momen penghadapan ini dimengerti sebagai bagian dari bentuk penghambaan Nabi secara spiritual lantaran sangat bersifat personal. Namun juga sebetulnya mengisyaratkan penyapaan yang bermakna sosial kemanusiaan. Perjalanan arah kembali yaitu dari langit ke bumi dan dari bumi ke bumi, adalah dalam rangka menggenapi misi Nabi sebagai pembawa risalah bagi manusia.

 

Relasi Empat Arah

Akan ada suatu masa dalam waktu di bagian hidup manusia sebuah peristiwa yang diliputi kesedihan amat berat akibat batu ujian yang membeban di atas pundak. Seperti halnya pernah dialami Nabi Muhammad ketika ditinggal pergi (wafat) istri terkasih (Siti Khadijah) dan pamannya (Abî Thâlib). Sementara tanggung jawab profetik sebagai penyampai risalah kala itu belum terpenuhi semua. Inilah ‘Âm al Huzni—tahun duka cita baginda kita.

 

Pada keadaan seperti itu, Allah SWT perlu menguatkan hati Nabi dengan memperjalankannya (Isra’) di waktu malam dari Masjid al-Haram di Makkah al-Mukarramah menuju Masjid al-Aqsha di Jerusalem. Dalam pengembaraan tersebut, Allah mengajak Nabi untuk membuka mata, hati, dan pikirannya mengenai cakrawala dunia yang begitu luas dan besarnya ciptaan Tuhan yang tak terbatas. Isra merefleksikan perjalanan arah mendatar (dari bumi ke bumi) yang sebetulnya memuat kesadaran akan pentingnya penyaksian terhadap realitas emperik yang ada di dunia. Di mana kemelut hidup yang mendekap dalam diri tidak boleh mengabaikan kemungkinan masa depan yang bisa saja diraih lebih gemilang.

 

Perjalanan tahap kedua, mikraj lebih merefleksikan perjalanan menanjak (dari bumi ke langit). Dimulai dari Qubbah As-Sakhrah menuju Sidrat al-Muntaha, Nabi menembus petala langit untuk mendapat perintah sholat. Pada saat itulah Nabi bisa berdialog dengan Tuhan secara langsung, suatu momen yang dilukiskan oleh kaum sufi sebagai pertemuan penuh rindu antara pecinta dengan kekasihnya. Dan di dalam puncak ‘Arsy paling subtil, tak ada satu mahluk, bahkan malaikat pun, dapat ditemukan. Yang ada hanyalah Sang Kekasih dalam penyatuan paling akhir. Manunggal.

Hanya saja, pertemuan sakral dan personal di alam tanpa warna, tanpa aksara ala para sufi itu telah membuat mereka terlena. Kenikmatan spiritual pada level penyatuan (ittihâd) membuat mereka enggan menjejakkan kakinya kembali ke bumi. Satu situasi yang sebetulnya mengundang reaksi keras dari Mohamad Iqbal. Baginya, pengalaman spiritual sufi tidak boleh melenyapkan khudi (ego/diri) dari tanggungjawabnya sebagai mahluk sosial yang bereksistensi di bumi.

 

Atas dasar itulah perjalanan arah kembali dari langit ke bumi yang dilakukan Nabi Muhammad pada peristiwa isra dan mikraj menjadi sangat penting maknanya. Ibarat sinar matahari memberi terang bagi semesta, begitu juga dengan peran Sang Nabi pasca memperoleh pencerahan spiritual paling esensial, memberi kesadaran pada umat manusia. Perjalanan arah kembali ke alam bumi, tiada lain, kecuali untuk menggenapi misi Nabi sebagai pembawa risalah yang harus disampaikan, tablîgh. Lagi pula seluruh risalah yang dibawanya, tanpa kecuali, untuk kemaslahatan masyarakat bumi. Bukan masyarakat langit.

 

Sesampainya di bumi, Nabi kembali menjadi manusia yang menyejarah, yang terikat dengan ruang dan waktu. Dan itu berati momen pencerahan yang diperolehnya harus mengisi ruang-ruang kebudayaan dan kehidupan manusia melalui nilai-nilai keadilan, persamaan, kesetaraan, persaudaraan umat, dan kemanusiaan. Perjalanan tahap akhir (dari bumi ke bumi) ini pada akhirnya melahirkan peradaban maju yang berkeadaban, al Madînah al Munawwaroh (Kota Madinah), yang berarti peradaban yang cerah-mencerahkan.

 

Masyarakat yang Berkeadaban

Nabi Muhammad tak pernah bermaksud membuat Kota Madinah (tadinya Yasrib) tanpa tujuan. Madînah yang berarti “kota” berasal dari akar kata yang sama dengan “madaniyah” dan “tamaddun” yang artinya peradaban. Civilization dalam bahasa Inggris. Dan karena itu secara harfiah “madînah” adalah tempat peradaban atau suatu lingkup hidup yang ber-adab (kesopanan, “civility”), tidak “liar”.

 

Nurcholish Madjid (Cak Nur) tidak cukup sekali mengagumi nilai-nilai keadaban dalam Piagam Madinah yang dibuat Nabi. Sebagai sebuah konstitusi yang disepakati kala itu, juga telah dipandang oleh Robert N Bella, terlampau mendahului zamannya dan teramat modern di masanya. Madinah adalah kota yang diimajinasikan Nabi untuk menjadi antitesa dari pola kehidupan masyarakat baduy yang hidup “liar” dan jauh dari peradaban.

 

Di tengah kemelut hidup berbangsa, bernegara dan beragama dengan sejumlah persoalannya—korupsi yang belum teratasi, kemiskinan yang makin bertambah, hukum yang masih bermasalah, ekonomi nasional yang terus melemah, politik identitas yang mencederai takdir keragaman, perilaku elite yang kian jauh dari harapan, kemunculan populisme Islam yang bernada sumbang demi tujuan politik kekuasan, dan dampak wabah COVID 19 yang melumpuhkan hampir semua sektor kegiatan, maka semangat Isra dan Mikraj tahun ini memperoleh momentumnya.

 

Semua elemen masyarakat, mulai elite pemerintah, politisi, konglomerat, agamawan, hingga warga negara biasa, mesti melakukan Isra. Yaitu kontemplasi dan perenungan pada malam hari atas kondisi riil masyarakat yang tengah dihadapi. Dan dalam pada waktu itu juga, upaya Mikraj perlu dilakukan. Yaitu meningkatkan ibadah formal agar lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memohon pertolongan kepada-Nya.

 

Sekali lagi, spirit Isra dan Mikraj harus kita terjemahkan kedalam kehidupan nyata. Sebab ikhtirah nyata mendialogkan keduanya akan melahirkan manusia yang unggul dan berkemajuan. Perenungan yang mendalam (Isra) terhadap realitas emperik sangat mungkin melahirkan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang baru, yang bermanfaat bagi bangsa ini. Dan penyucian batin melalui ibadah-ibadah formal (Mikraj) bisa jadi akan menyelamatkan kita dan bangsa ini dari segala macam bencana dan musibah. Selamat Isra dan Mikraj 1442 H.

 

 

 

 

 

Selasa, 24 November 2020

Pemilik ‘Gol Tangan Tuhan’ Kini Pergi Abadi

Selasa, November 24, 2020 0


Publik Argentina berduka. Bahkan dunia. Diego Armando Maradona, pemilik “gol tangan Tuhan” telah pergi menemui Tuhan-nya. Dia pindah ke tempat paling abadi; tempat di mana dia bisa menciptakan “gol tangan Tuhan” berulang kali.

 

Seingat saya, di dunia sepak bola, Maradona punya tempat tersendiri. Bila seseorang mengidolakan pesepakbola lain dan menempatkannya dalam hati, maka Maradona pasti ada di sebelah sisi hati yang lainnya. Tak ada sepakbola tanpa Maradona. Dia dielu-elukan bak pahlawan besar dan dipuja bagai Tuhan (El Dios). “Diego yang terbaik di sini, selamanya,” ujar Jose Luis Shokiva, warga Buenos Aires.

Sayang! sejumlah prestasi, kejayaan, dan nama baik, pada akhirnya tak mampu menolak kenyataan yang mengantarkan Maradona ke tempat paling asali; Tuhan. Wa idza al Maniyyatu Ansabath Adzhfaaraha, Fa Kullu Namimatin Laa Tanfa’ (و إذا المنية أنشبت أظفارها فكل نميمة لا تنفع). Bila kematian sudah menjulurkan jari-jarinya, maka seluruh jampi tidak berguna. Demikian pepatah Arab mengatakan.

“Kematian adalah kepastian”, kata Martin Heidegger (filsuf Jerman), “hidup hanyalah persiapan menjemput kematian. Ada menuju ketiadaan”. Sementara sastrawan realis magis, Danarto, dalam cerpen ‘Jantung Hati’ memisalkan “kematian sebagai pujaan hati. Hasrat utama kehidupan”.

Hidup hanyalah menunggu kematian. Kita tak pernah tahu kapan kematian bakal datang menghampiri. Bahkan tak satu syetan pun tahu di mana, dan bagaimana kematian itu menjemput kita. Masing-masing sudah digariskan batas hidupnya (ajalnya). Kematian benar-benar hak dan nyata.

Kepergian Maradona sangat mengejutkan. Dia divonis mengalami henti jantung, yang menurut ilmu kedokteran, tidak identik dengan serangan jantung. Saya tidak berminat mengulas hal itu karena bukan kapasitas saya. Saya bukan dokter. Saya hanya pengagum biasa Maradona, bukan pengagum ‘garis keras’-nya. C a t a t...!!! 


Kendati pengagum amatiran, saya bisa dibilang cukup mengikuti perjalanan karier sepakbolanya, meski tak sedetail para pengamat  profesional dan pengagum ‘garis kerasnya’. “Gol tangan Tuhan” ke gawang Inggris pada Piala Dunia 1998 di Mexico, menyisakan ingatan yang melekat dalam memori banyak orang, termasuk saya. Seolah peristiwa itu sengaja diletakkan tepat satu inci di depan mata agar terus membayang dalam ingatan.

Bagi publik Argentina, gol bersejarah itu benar-benar dianggap kehendak Tuhan. Tuhan telah “turun” berperan membantu Maradona dan rakyat Argentina. Sementara bagi rakyat Inggris, gol itu telah memberi catatan hitam dalam dunia sepakbola yang seharusnya menjunjung semangat fair play dan kejujuran. Ya, Maradona dinilai curang. Kendati begitu, sang pengadil lapangan (wasit) tetap mengesahkan golnya.

Maradona dicintai sekaligus dibenci. Disanjung. Juga dicaci. Begitulah kodrat hidup orang besar selalu jadi ‘buah bibir’ dengan segala prestasi dan kontroversinya. Saya berkeyakinan, tanpa “gol tangan Tuhan” pun Maradona akan tetap jadi pemain besar. Legenda yang mendunia.

Sepakbola memang tidak lagi sekedar olah raga ‘mencari keringat’. Ia sudah menjelma sebagai industri bisnis, mencari kejayaan, bahkan dianggap menentukan identitas nasional sebuah negara. Tidak heran bila masing-masing negara berikhtiar mencari cara untuk menjadi sang pemenang di ajang Piala Dunia. Cara apa pun ditempuh asal timnya pulang membawa kejayaan bagi negaranya.

Di mata Maradona, sepak bola modern harus mencerminkan kesetaraan bangsa, transparan dan tidak rasis. Dia pernah mengkritik perlakuan rasis kepada pemain Napoli, Kalidou Koulibaly. Sikap seperti ini tentu tidak muncul begitu saja dalam diri sang legenda. Sejauh pengamatan saya, Maradona memiliki hubungan baik dengan tokoh-tokoh di persimpangan kiri jalan yang beraliran sosialis.

Dia sangat dekat dengan kaum sosialis Amerika Latin seperti pemimpin revolusi Kuba Fidel Castro, Hugo Chavez dan Nicolas Maduro dari Venezuela, Evo Morales (Bolivia), serta Daniel Ortega (Nicaragua). Mereka paling tidak suka melihat ketidakadilan, imperialisme, rasisme dan diskriminasi dalam aneka wajah dan bentuknya.

Sebagai pesepakbola sejati, Maradona tidak rela bila dunia yang membesarkan namanya itu dikotori kelakuan bejat oknum tertentu. Maradona pernah mengkritik FIFA karena dianggap melakukan skandar korupsi atas penunjukkan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 mendatang.

El Pibe d'Oro, julukan bagi Maradona, yang berarti “si anak emas”, memang punya gaya hidup yang unik. Di lapangan dia berperan sebagai pemimpin dan pahlawan bagi negaranya. Namun di luar lapangan dia letakan kebesaran namanya itu dan memilih hidup merakyat.

***

Saya sendiri mengenal Maradona dari jarak yang terlampau jauh; terpisah benua dan batas-batas teritorial dua negara. Saya tidak pernah bertemu secara fisik, ngobrol sambil ngupi, apalagi menyentuhnya secara langsung. Saya hanya mengenalnya dari mainan gambar-gambaran atau cover buku tulis yang memuat wajahnya.

Kala itu, saya masih duduk di sekolah dasar (SD Negeri Jiput 1), tepat di kaki Gunung Karang, Pandeglang, ujung Pulau Jawa bagian Barat. Anak-anak sepantaran saya sering menyebut-nyebut nama “Maradona...Maradona...Maradona”. Padahal kami tidak pernah melihat aksinya di lapangan. Hanya mendengar kehebatannya saja dari cerita lisan tetangga.

Selain Maradona, ada nama besar yang sering kami sebut-sebut, yaitu Mike Tyson. Berbeda dengan Maradona, petinju kelas berat ini sering kami saksikan aksinya di layar televisi yang masih berwarna jadul, hitam putih. Waktu itu, saya pernah membayangkan Tyson hanya bisa dikalahkan oleh orang Indonesia. Saya berpikir pukulan maut Tyson tidak akan merontokan “ilmu karang”. Betapapun pukulan maut Tyson sering mengenai sasaran, lawannya akan tetap berdiri kokoh. Malah hanya dengan satu pukulan “Aji Cadas Ngampar” atau “Aji Sigoro Geni” atau “Aji Rengkah Gunung”, Tyson bisa langsung jatuh terkapar.


 

Tapi rupanya hal itu tidak akan pernah terjadi. Sebab dalam arena adu tinju tiap petarung mesti mengikuti aturan yang berlaku. Menggunakan ilmu kesaktian atau kedigdayaan tentu sangat dilarang, bahkah terlarang keras.

Dalam beberapa kesempatan, saya juga sering meniru gaya Maradona dalam mengolah si kulit bundar. Hasilnya tidak mengecewakan. Saya mampu melewati beberapa pemain, lalu kemudian menciptkana gol. Tapi, dalam beberapa usaha, saya juga sering gagal. Hidup memang harus mencoba. Perihal sukses atau gagal, hanyalah hasil yang bisa menghampiri siapa saja.

Maradona, kini telah pergi abadi. Dia sudah menjadi primadona. Dia akan menemui Tuhan, Sang Pengadil yang Paling Adil. Kepada-Nya, dia bisa meminta pendapat perihal “gol tangan Tuhan” yang kerap diperselisihkan banyak orang di dunia. Di surga, dia akan main bola lagi. Dia tidak berminat dengan 70 bidadari cantik. Sebab, dia sudah mendapatkannya di dunia. Lagi pula, dia tidak mempercayainya.

Que en paz descanse (beristirahatlah dengan tenang), Diego!