Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Senin, 09 Maret 2026

Cahaya yang Lahir dari Keraguan

 

Mohamad Asrori Mulky

 

Ada masa ketika pikiran manusia berdiri di hadapan dirinya sendiri seperti seorang pengembara yang tiba di tepi gurun yang tak berujung. Semua jalan yang pernah diyakini ternyata hanya jejak yang memudar di hamparan pasir. Pada saat seperti itu, seseorang tidak lagi bertanya kepada dunia, melainkan kepada dirinya sendiri: apakah yang selama ini disebut sebagai kebenaran benar-benar memiliki akar yang kokoh?

 

Pertanyaan semacam inilah yang mengguncang batin terdalam dari Abu Hamid al-Ghazali, sang Hujjatul Islam, ketika ia menulis Al-Munqidh min al-Dalal. Kitab itu bukan sekadar karya intelektual; ia adalah semacam autobiografi spiritual dari seorang sarjana dan ulama terkemuka yang tiba-tiba merasa bahwa fondasi pengetahuannya retak.

 

Bertahun-tahun ia hidup di tengah kemegahan ilmu. Ia mengajar, berdebat, menulis, dan menjadi salah satu otoritas intelektual paling berpengaruh pada zamannya. Namun di balik kemegahan itu, sebuah kegelisahan perlahan tumbuh menjalar—seperti retakan halus pada dinding yang mula-mula tak terlihat, tetapi suatu hari membuat seluruh bangunan terasa keropos.

 

Dalam kitab itu, Al-Ghazali menyadari bahwa sebagian besar keyakinan manusia lahir bukan dari pencarian yang mendalam, melainkan dari warisan yang diperoleh secara turun temurun. Manusia mempercayai sesuatu karena ia dilahirkan di tengah masyarakat yang mempercayainya. Seorang anak menerima agama, nilai, dan cara berpikir sebagaimana ia menerima bahasa ibunya—tanpa pernah menimbang apakah semua itu benar atau sekadar kebiasaan yang diwariskan.

 

Kesadaran ini membuat al-Ghazali mengambil langkah yang jarang dilakukan oleh seorang ulama besar: ia meragukan fondasi pengetahuannya sendiri. Keraguan itu bukan kehancuran iman, melainkan usaha membersihkan iman dari lapisan-lapisan yang menutupinya. Ia menyangkal segenap pengetahuan yang diterima agar dapat memperoleh suatu kepastian yang tak tergoyahkan.

 

Ia memulai dari alat pengetahuan yang paling dekat dengan manusia: indera. Mata, telinga, dan seluruh pengalaman empiris yang selama ini dianggap sebagai jendela dunia ternyata tidak selalu dapat dipercaya. Apa yang tampak diam mungkin sebenarnya bergerak; apa yang terlihat kecil mungkin sesungguhnya raksasa. Realitas yang ditangkap oleh indera sering kali hanyalah bayangan yang diproyeksikan oleh keterbatasan manusia.

 

Ketika kepercayaan pada indera mulai goyah, akal tampak sebagai benteng terakhir. Rasio mampu mengoreksi kesalahan persepsi, menimbang argumen, dan membangun struktur pengetahuan yang tampak kokoh. Namun bagi al-Ghazali, bahkan akal pun tidak sepenuhnya bebas dari keterbatasan. Ia mampu menjelaskan banyak hal, tetapi tidak selalu mampu menembus lapisan terdalam realitas.

 

Di titik inilah perjalanan intelektual al-Ghazali memasuki wilayah yang sangat sunyi: wilayah ketika akal harus mengakui bahwa ia bukan penguasa tunggal pengetahuan. Ia adalah cahaya, tetapi bukan matahari. Ia menerangi, tetapi tidak selalu mampu menyingkap seluruh langit. Kemampuan akal dalam menyinari tidak membuat al-Ghazali puas bila dibandingkan dengan terangnya sinar matahari.

 

Kesadaran akan keterbatasan itu tidak membuat al-Ghazali jatuh ke dalam skeptisisme yang nihilistik. Sebaliknya, ia melihat keraguan sebagai tahap penyucian—seperti api yang membakar logam agar tersisa hanya emasnya. Keraguan menjadi alat untuk membedakan antara keyakinan yang diwarisi dan kebenaran yang benar-benar dialami.

 

Setelah melalui perjalanan panjang itu, al-Ghazali menemukan bahwa pengetahuan memiliki lapisan yang lebih dalam daripada yang dapat dicapai oleh logika. Di sana terdapat bentuk pengetahuan yang oleh para sufi disebut dzauq—sebuah kesadaran yang tidak hanya memahami, tetapi juga merasakan.

 

Dalam pengalaman ini, kebenaran tidak lagi muncul sebagai konsep, melainkan sebagai kehadiran. Ia bukan sekadar sesuatu yang diketahui, tetapi sesuatu yang menyinari jiwa. Al-Ghazali menggambarkan pengalaman ini dengan ungkapan yang sangat terkenal: nūr yaqdzifuhu Allāh fī al-qalb—sebuah cahaya yang dilemparkan Tuhan ke dalam hati manusia. Cahaya itu bukan hasil deduksi logis, melainkan anugerah yang datang kepada jiwa yang telah dibersihkan melalui perjuangan spiritual.

 

Di sinilah epistemologi al-Ghazali mencapai bentuknya yang paling utuh. Indera memberikan bahan pengalaman, akal mengolah dan menimbangnya, tetapi cahaya Ilahi memberikan makna terdalamnya. Ketiganya bukan musuh, melainkan tahap-tahap dalam perjalanan pengetahuan manusia, yang sebetulnya satu sama lain harus dimanfaatkan untuk memperoleh kebenaran.

 

Ketika kita membaca Al-Munqidz min al-alāl, kita sebenarnya sedang membaca kisah tentang keberanian intelektual yang jarang terjadi: keberanian untuk meragukan segala sesuatu demi menemukan sesuatu yang lebih sejati. Kitab ini memperlihatkan bahwa kebenaran tidak selalu lahir dari kepastian yang keras, tetapi sering kali dari keraguan yang jujur.

 

Di tengah dunia modern yang memuja data, statistik, dan kalkulasi rasional, suara al-Ghazali terdengar seperti gema dari zaman lain—tetapi justru karena itu ia terasa relevan. Ia mengingatkan bahwa pengetahuan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kesombongan, dan bahwa kebenaran tidak selalu ditemukan oleh mereka yang paling keras berbicara.

 

Kadang ia justru ditemukan oleh mereka yang berani berjalan sendirian dalam kesunyian—mencari cahaya di dalam ruang batin yang paling dalam. Dan dari kesunyian itulah, menurut al-Ghazali, cahaya pengetahuan yang sejati akhirnya lahir. Jangan takut untuk meraguan. Karena keraguan adalah jalan untuk memperoleh kepastian yang meyakinkan.

Tidak ada komentar: