Mohamad Asrori Mulky
Di bulan Ramadhan yang mulia ini, dunia menyaksikan kebiadaban
Amerika Serikat (AS) dan Israel. Seseorang yang selama ini menggenggam sebuah otoritas,
wafat dalam satu operasi militer. Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi
Republik Islam Iran sejak 1989, berpulang dari panggung sejarah yang ia warnai
sepanjang masa hidupnya—bertumbuh dalam badai, teruji dalam konflik, dan kini
berakhir dalam letupan api dan debu yang mencatat babak paling brutal dalam
sejarah Timur Tengah kontemporer.
Melalui operasi gabungan, yang oleh Departemen
Pertahanan Amerika Serikat dinamai Operation Epic Fury
dan oleh Israel disebut Lion’s Roar,
kedua negara itu menargetkan sejumlah fasilitas strategis Iran. Israel Defense Forces (IDF) mengklaim
pengerahan sekitar 200 jet tempur yang secara simultan menjatuhkan ratusan
amunisi ke sekitar 500 target strategis. Bagi para perancangnya, ini adalah
operasi presisi. Bagi sejarah, ini adalah titik paling biadab.
Ali Khamenei muncul di era transformasi yang bergolak,
sejak sebuah revolusi mengubah wajah Iran dan memanggil kembali bayangan masa
lalu untuk menjadi nahkoda masa depan. Sejak mengambil alih tongkat estafet
spiritual dan politik dari pendiri revolusi, ia menjadi suara, wajah, dan
lambang dari sebuah negara yang menolak tunduk pada arus dunia yang semakin
cepat berubah. Khamenei adalah pribadi yang membubuhkan jejaknya bukan hanya
dalam kebijakan dan doktrin, tetapi dalam ritme kehidupan sosial, budaya, dan
keyakinan jutaan insan.
Ada sesuatu yang ironis dalam akhir hidupnya: seorang
tokoh yang sepanjang hidupnya membentuk narasi besar tentang perlawanan
terhadap apa yang ia sebut “arogan superpower”, kini pergi dalam gemuruh
serangan besar dari kekuatan yang ia pandang sebagai musuh. Dalam hitungan
waktu yang singkat, senja kepemimpinan panjangnya terbenam di ufuk letupan,
menandai babak baru dalam sejarah yang tak akan mudah dilupakan—bukan hanya
bagi bangsa yang ia pimpin, tetapi bagi seluruh dunia yang kini menyaksikan
konsekuensi dari konflik yang tak tertahankan.
Dalam arti yang paling sunyi, setiap jiwa yang pergi
menyisakan bayangan dan cahaya; baik itu berupa ajaran, legenda, atau
pertanyaan. Khamenei pun demikian. Kepergiannya membawa duka bagi yang merasa
kehilangan, kegembiraan bagi yang merasa terkekang, serta pertanyaan — besar
dan tak terjawab — tentang masa depan sebuah bangsa yang kini harus menata
kembali jati diri dan arah perjuangan mereka.
Kematian
Ali Khamenei bukanlah akhir dari gagasan yang ia
tanamkan selamaini. Ia mungkin gugur dalam sebuah ledakan, tetapi ide tentang
kedaulatan religius-politik, tentang wilayat al-faqih,
tentang perlawanan terhadap dominasi eksternal—semuanya akan tetap hidup dalam
perdebatan, dalam pidato-pidato, dalam generasi yang tumbuh di bawah bayang
revolusi.
Pertanyaannya
kini bukan hanya siapa yang menggantikannya. Pertanyaannya lebih dalam: ke mana
Iran akan melangkah setelah ini? Apakah api yang menyala akan melahirkan
konsolidasi, atau justru fragmentasi? Apakah kawasan Timur Tengah akan memasuki
spiral eskalasi baru, atau menemukan jalan sunyi menuju de-eskalasi?
Dan di antara seluruh gema yang masih bergaung,
ingatan akan manusia yang bernama Ali Khamenei ini tetap hidup — sebagai
pengingat bahwa sejarah tak pernah berhenti di satu titik, dan bahwa setiap
akhir hanyalah awal bagi cerita baru yang lebih rumit dan tak terduga. Sebagaimana
semua pemimpin besar, ia kembali menjadi manusia—yang tubuhnya fana, tetapi
namanya akan terus dikenang oleh generasi-generasi yang lahir setelah ledakan
itu mereda.
