Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Minggu, 01 Maret 2026

In Memoriam Ayatollah Ali Khamenei

Minggu, Maret 01, 2026 0


Mohamad Asrori Mulky

 

Di bulan Ramadhan yang mulia ini, dunia menyaksikan kebiadaban Amerika Serikat (AS) dan Israel. Seseorang yang selama ini menggenggam sebuah otoritas, wafat dalam satu operasi militer. Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran sejak 1989, berpulang dari panggung sejarah yang ia warnai sepanjang masa hidupnya—bertumbuh dalam badai, teruji dalam konflik, dan kini berakhir dalam letupan api dan debu yang mencatat babak paling brutal dalam sejarah Timur Tengah kontemporer.

 

Melalui operasi gabungan, yang oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat dinamai Operation Epic Fury dan oleh Israel disebut Lion’s Roar, kedua negara itu menargetkan sejumlah fasilitas strategis Iran. Israel Defense Forces (IDF) mengklaim pengerahan sekitar 200 jet tempur yang secara simultan menjatuhkan ratusan amunisi ke sekitar 500 target strategis. Bagi para perancangnya, ini adalah operasi presisi. Bagi sejarah, ini adalah titik paling biadab.

 

Ali Khamenei muncul di era transformasi yang bergolak, sejak sebuah revolusi mengubah wajah Iran dan memanggil kembali bayangan masa lalu untuk menjadi nahkoda masa depan. Sejak mengambil alih tongkat estafet spiritual dan politik dari pendiri revolusi, ia menjadi suara, wajah, dan lambang dari sebuah negara yang menolak tunduk pada arus dunia yang semakin cepat berubah. Khamenei adalah pribadi yang membubuhkan jejaknya bukan hanya dalam kebijakan dan doktrin, tetapi dalam ritme kehidupan sosial, budaya, dan keyakinan jutaan insan.

 

Ada sesuatu yang ironis dalam akhir hidupnya: seorang tokoh yang sepanjang hidupnya membentuk narasi besar tentang perlawanan terhadap apa yang ia sebut “arogan superpower”, kini pergi dalam gemuruh serangan besar dari kekuatan yang ia pandang sebagai musuh. Dalam hitungan waktu yang singkat, senja kepemimpinan panjangnya terbenam di ufuk letupan, menandai babak baru dalam sejarah yang tak akan mudah dilupakan—bukan hanya bagi bangsa yang ia pimpin, tetapi bagi seluruh dunia yang kini menyaksikan konsekuensi dari konflik yang tak tertahankan.

 

Dalam arti yang paling sunyi, setiap jiwa yang pergi menyisakan bayangan dan cahaya; baik itu berupa ajaran, legenda, atau pertanyaan. Khamenei pun demikian. Kepergiannya membawa duka bagi yang merasa kehilangan, kegembiraan bagi yang merasa terkekang, serta pertanyaan — besar dan tak terjawab — tentang masa depan sebuah bangsa yang kini harus menata kembali jati diri dan arah perjuangan mereka.

 

Kematian Ali Khamenei bukanlah akhir dari gagasan yang ia tanamkan selamaini. Ia mungkin gugur dalam sebuah ledakan, tetapi ide tentang kedaulatan religius-politik, tentang wilayat al-faqih, tentang perlawanan terhadap dominasi eksternal—semuanya akan tetap hidup dalam perdebatan, dalam pidato-pidato, dalam generasi yang tumbuh di bawah bayang revolusi.

 

Pertanyaannya kini bukan hanya siapa yang menggantikannya. Pertanyaannya lebih dalam: ke mana Iran akan melangkah setelah ini? Apakah api yang menyala akan melahirkan konsolidasi, atau justru fragmentasi? Apakah kawasan Timur Tengah akan memasuki spiral eskalasi baru, atau menemukan jalan sunyi menuju de-eskalasi?

 

Dan di antara seluruh gema yang masih bergaung, ingatan akan manusia yang bernama Ali Khamenei ini tetap hidup — sebagai pengingat bahwa sejarah tak pernah berhenti di satu titik, dan bahwa setiap akhir hanyalah awal bagi cerita baru yang lebih rumit dan tak terduga. Sebagaimana semua pemimpin besar, ia kembali menjadi manusia—yang tubuhnya fana, tetapi namanya akan terus dikenang oleh generasi-generasi yang lahir setelah ledakan itu mereda.