Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Selasa, 24 Februari 2026

Agama, Kelas Sosial, dan Imajinasi Pembebasan

Selasa, Februari 24, 2026 0


 

Mohamad Asrori Mulky

 

Sejarah selalu mempertemukan agama dan kemiskinan dalam satu ruang yang sama: ruang harap dan ruang luka. Di sanalah doa dilantunkan, tetapi di sanalah pula perut kosong menggeram. Pertanyaan tentang agama dan kelas sosial bukan sekadar pertanyaan teoretis; ia lahir dari tubuh yang letih, dari tangan yang kapalan, dari manusia yang mencoba memahami mengapa langit begitu tinggi sementara bumi terasa begitu berat.

 

Di tengah percakapan panjang itu, empat nama berdiri seperti empat arah mata angin: Karl Marx, Antonio Gramsci, Tan Malaka, dan Hassan Hanafi. Mereka tidak pernah duduk di meja yang sama, tetapi pikiran mereka saling menyeberang, saling menyapa, saling mengoreksi, bahkan dalam hal tertentu saling menyetujui.

 

Marx memulai dari luka yang paling konkret: struktur produksi. Ia melihat pabrik-pabrik Eropa yang berasap, buruh yang menjual tenaga demi upah yang tak cukup, dan gereja yang berdiri megah di tengah kota. Ketika ia menyebut agama sebagai candu rakyat, ia tidak sedang mengejek iman, melainkan menunjuk pada fungsi sosialnya.

 

Agama, baginya, adalah keluh kesah makhluk tertindas—ia lahir dari penderitaan nyata. Namun justru karena ia menenangkan, ia berisiko membius. Ia memberi makna pada derita, tetapi sekaligus dapat menunda pemberontakan terhadap sebab derita itu sendiri. Bagi Marx, pembebasan harus menembus kabut metafisika dan menyentuh akar material: kepemilikan, kelas, dan relasi produksi.

 

Namun sejarah tidak hanya bergerak melalui ekonomi. Gramsci membaca kenyataan yang lebih halus: kekuasaan bertahan bukan hanya dengan kekerasan, tetapi dengan persetujuan. Dalam masyarakat, agama bukan sekadar ilusi; ia adalah bahasa moral yang membentuk kesadaran kolektif. Melalui konsep hegemoni, Gramsci menunjukkan bahwa kelas dominan mempertahankan dominasinya dengan membentuk cara berpikir rakyat tentang apa yang wajar, apa yang suci, apa yang tidak boleh digugat.

 

Dalam kerangka ini, agama bisa menjadi benteng ideologis yang membuat ketimpangan tampak alamiah. Tetapi Gramsci juga melihat kemungkinan lain: kesadaran religius rakyat dapat ditransformasikan. Ia bisa menjadi basis etika solidaritas, jika ada intelektual organik yang menjembataninya dengan kesadaran kritis. Dengan demikian, agama adalah medan perjuangan budaya—bukan sekadar kabut, tetapi arena.

 

Di tanah yang jauh dari Eropa, Tan Malaka menyerap gema kedua pemikir itu, tetapi tidak mengulanginya secara mekanis. Dalam Madilog, ia menyerukan revolusi cara berpikir. Ia menyaksikan masyarakat yang religius, hidup dalam bayang kolonialisme dan feodalisme, di mana mistik dan takhayul sering menjadi pelarian dari ketertindasan. Bagi Tan, kemiskinan bukan takdir ilahi, melainkan hasil struktur sejarah. Karena itu, agama yang tidak dikritisi bisa berubah menjadi selimut psikologis yang menghangatkan tanpa menyembuhkan.

 

Namun Tan tidak memusuhi agama sebagai ajaran. Ia justru melihat dalam Islam energi pembebasan yang pernah menggetarkan jazirah Arab—sebuah gerakan yang meruntuhkan hierarki lama. Yang ia tolak adalah pembekuan agama menjadi dogma yang membius daya pikir. Ia ingin iman yang rasional, keyakinan yang berjalan bersama logika. Dalam dirinya, materialisme tidak berarti ateisme, melainkan disiplin berpikir. Tan Malaka berdiri di antara sajadah dan buku filsafat, mencoba mempertemukan nalar dan keyakinan dalam satu tarikan napas sejarah.

 

Lalu datang Hassan Hanafi, yang berbicara bukan dari luar agama, melainkan dari jantungnya. Dalam Al-Din wa al-Thawra, ia menggeser poros teologi dari langit ke bumi. Ia menolak teologi yang hanya sibuk dengan sifat-sifat Tuhan sementara manusia dibiarkan tertindas. Baginya, tauhid adalah pembebasan dari segala bentuk dominasi. Agama harus dibaca sebagai proyek revolusi sosial. Jika Marx ingin membongkar ilusi agama, Hanafi ingin membongkar tafsir konservatifnya. Ia tidak melihat iman sebagai penghalang revolusi, melainkan sebagai bahan bakarnya.

 

Di titik ini, percakapan menjadi semakin rumit. Marx benar ketika ia mengingatkan bahwa penderitaan tidak selesai dengan doa. Gramsci tepat ketika ia menegaskan bahwa kesadaran dibentuk oleh struktur budaya. Tan Malaka jeli ketika ia melihat bahaya mistifikasi agama dalam masyarakat terjajah. Hanafi visioner ketika ia menunjukkan bahwa wahyu dapat dibaca sebagai seruan pembebasan.

 

Maka agama berdiri dalam ambiguitasnya yang paling jujur. Ia bisa menjadi bahasa yang membuat orang miskin menerima nasib dengan sabar; tetapi ia juga bisa menjadi bahasa yang membuat mereka bangkit atas nama keadilan. Ia bisa menjadi legitimasi bagi segelintir elite; tetapi ia juga bisa menjadi energi moral yang menggerakkan massa.

 

Yang menentukan bukan semata teks suci, melainkan tafsir dan posisi sosial penafsirnya. Agama di tangan kelas dominan cenderung menjadi penenang. Agama di tangan kaum tertindas dapat berubah menjadi teriakan. Dalam satu konteks, ia adalah candu; dalam konteks lain, ia adalah bara.

 

Pada akhirnya, perdebatan keempat tokoh ini tidak mengajak kita memilih antara iman dan revolusi. Ia mengajak kita bertanya lebih dalam: kesadaran macam apa yang lahir dari iman kita? Apakah ia membuat kita pasrah pada ketimpangan, atau justru peka terhadapnya? Apakah ia mengajarkan kesabaran yang membeku, atau kesabaran yang bergerak?

 

Di antara doa yang lirih dan teriakan di jalanan, sejarah terus berdenyut. Agama tidak pernah benar-benar diam. Ia selalu ditarik ke satu sisi atau sisi lain oleh tangan-tangan manusia. Dan di sanalah, di ruang tafsir dan tindakan itulah, kelas sosial menemukan sekutunya—atau lawannya.

 

Barangkali, pembebasan sejati bukanlah menyingkirkan agama dari sejarah, melainkan membebaskannya dari fungsi yang membelenggu. Sebab ketika iman bertemu kesadaran kritis, ia tidak lagi menjadi pelipur semata. Ia menjadi keberanian. Menjadi bara yang menyala-nyala.