Mohamad
Asrori Mulky
Sejarah
selalu mempertemukan agama dan kemiskinan dalam satu ruang yang sama: ruang
harap dan ruang luka. Di sanalah doa dilantunkan, tetapi di sanalah pula perut
kosong menggeram. Pertanyaan tentang agama dan kelas sosial bukan sekadar
pertanyaan teoretis; ia lahir dari tubuh yang letih, dari tangan yang kapalan,
dari manusia yang mencoba memahami mengapa langit begitu tinggi sementara bumi
terasa begitu berat.
Di
tengah percakapan panjang itu, empat nama berdiri seperti empat arah mata
angin: Karl Marx, Antonio Gramsci, Tan
Malaka, dan Hassan Hanafi. Mereka
tidak pernah duduk di meja yang sama, tetapi pikiran mereka saling menyeberang,
saling menyapa, saling mengoreksi, bahkan dalam hal tertentu saling menyetujui.
Marx
memulai dari luka yang paling konkret: struktur produksi. Ia melihat
pabrik-pabrik Eropa yang berasap, buruh yang menjual tenaga demi upah yang tak
cukup, dan gereja yang berdiri megah di tengah kota. Ketika ia menyebut agama
sebagai candu rakyat, ia tidak sedang mengejek iman, melainkan menunjuk pada
fungsi sosialnya.
Agama,
baginya, adalah keluh kesah makhluk tertindas—ia lahir dari penderitaan nyata.
Namun justru karena ia menenangkan, ia berisiko membius. Ia memberi makna pada
derita, tetapi sekaligus dapat menunda pemberontakan terhadap sebab derita itu
sendiri. Bagi Marx, pembebasan harus menembus kabut metafisika dan menyentuh
akar material: kepemilikan, kelas, dan relasi produksi.
Namun
sejarah tidak hanya bergerak melalui ekonomi. Gramsci membaca kenyataan yang
lebih halus: kekuasaan bertahan bukan hanya dengan kekerasan, tetapi dengan
persetujuan. Dalam masyarakat, agama bukan sekadar ilusi; ia adalah bahasa
moral yang membentuk kesadaran kolektif. Melalui konsep hegemoni, Gramsci
menunjukkan bahwa kelas dominan mempertahankan dominasinya dengan membentuk
cara berpikir rakyat tentang apa yang wajar, apa yang suci, apa yang tidak
boleh digugat.
Dalam
kerangka ini, agama bisa menjadi benteng ideologis yang membuat ketimpangan
tampak alamiah. Tetapi Gramsci juga melihat kemungkinan lain: kesadaran
religius rakyat dapat ditransformasikan. Ia bisa menjadi basis etika
solidaritas, jika ada intelektual organik yang menjembataninya dengan kesadaran
kritis. Dengan demikian, agama adalah medan perjuangan budaya—bukan sekadar
kabut, tetapi arena.
Di
tanah yang jauh dari Eropa, Tan Malaka menyerap gema kedua pemikir itu, tetapi
tidak mengulanginya secara mekanis. Dalam Madilog,
ia menyerukan revolusi cara berpikir. Ia menyaksikan masyarakat yang religius,
hidup dalam bayang kolonialisme dan feodalisme, di mana mistik dan takhayul
sering menjadi pelarian dari ketertindasan. Bagi Tan, kemiskinan bukan takdir
ilahi, melainkan hasil struktur sejarah. Karena itu, agama yang tidak dikritisi
bisa berubah menjadi selimut psikologis yang menghangatkan tanpa menyembuhkan.
Namun
Tan tidak memusuhi agama sebagai ajaran. Ia justru melihat dalam Islam energi
pembebasan yang pernah menggetarkan jazirah Arab—sebuah gerakan yang
meruntuhkan hierarki lama. Yang ia tolak adalah pembekuan agama menjadi dogma
yang membius daya pikir. Ia ingin iman yang rasional, keyakinan yang berjalan
bersama logika. Dalam dirinya, materialisme tidak berarti ateisme, melainkan
disiplin berpikir. Tan Malaka berdiri di antara sajadah dan buku filsafat,
mencoba mempertemukan nalar dan keyakinan dalam satu tarikan napas sejarah.
Lalu
datang Hassan Hanafi, yang berbicara bukan dari luar agama, melainkan dari
jantungnya. Dalam Al-Din wa al-Thawra,
ia menggeser poros teologi dari langit ke bumi. Ia menolak teologi yang hanya
sibuk dengan sifat-sifat Tuhan sementara manusia dibiarkan tertindas. Baginya,
tauhid adalah pembebasan dari segala bentuk dominasi. Agama harus dibaca
sebagai proyek revolusi sosial. Jika Marx ingin membongkar ilusi agama, Hanafi
ingin membongkar tafsir konservatifnya. Ia tidak melihat iman sebagai
penghalang revolusi, melainkan sebagai bahan bakarnya.
Di
titik ini, percakapan menjadi semakin rumit. Marx benar ketika ia mengingatkan
bahwa penderitaan tidak selesai dengan doa. Gramsci tepat ketika ia menegaskan
bahwa kesadaran dibentuk oleh struktur budaya. Tan Malaka jeli ketika ia
melihat bahaya mistifikasi agama dalam masyarakat terjajah. Hanafi visioner
ketika ia menunjukkan bahwa wahyu dapat dibaca sebagai seruan pembebasan.
Maka
agama berdiri dalam ambiguitasnya yang paling jujur. Ia bisa menjadi bahasa
yang membuat orang miskin menerima nasib dengan sabar; tetapi ia juga bisa
menjadi bahasa yang membuat mereka bangkit atas nama keadilan. Ia bisa menjadi
legitimasi bagi segelintir elite; tetapi ia juga bisa menjadi energi moral yang
menggerakkan massa.
Yang
menentukan bukan semata teks suci, melainkan tafsir dan posisi sosial
penafsirnya. Agama di tangan kelas dominan cenderung menjadi penenang. Agama di
tangan kaum tertindas dapat berubah menjadi teriakan. Dalam satu konteks, ia
adalah candu; dalam konteks lain, ia adalah bara.
Pada
akhirnya, perdebatan keempat tokoh ini tidak mengajak kita memilih antara iman
dan revolusi. Ia mengajak kita bertanya lebih dalam: kesadaran macam apa yang
lahir dari iman kita? Apakah ia membuat kita pasrah pada ketimpangan, atau
justru peka terhadapnya? Apakah ia mengajarkan kesabaran yang membeku, atau
kesabaran yang bergerak?
Di
antara doa yang lirih dan teriakan di jalanan, sejarah terus berdenyut. Agama
tidak pernah benar-benar diam. Ia selalu ditarik ke satu sisi atau sisi lain
oleh tangan-tangan manusia. Dan di sanalah, di ruang tafsir dan tindakan
itulah, kelas sosial menemukan sekutunya—atau lawannya.
Barangkali,
pembebasan sejati bukanlah menyingkirkan agama dari sejarah, melainkan
membebaskannya dari fungsi yang membelenggu. Sebab ketika iman bertemu
kesadaran kritis, ia tidak lagi menjadi pelipur semata. Ia menjadi keberanian. Menjadi
bara yang menyala-nyala.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar