Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Selasa, 08 Juni 2021

Ben Anderson yang Saya Pahami

Selasa, Juni 08, 2021 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Saya tidak mengenal Benedict Richard O’Gorman Anderson (selanjutnya ditulis Ben Anderson) secara pribadi. Saya bukan mahasiswanya, juga bukan sahabatnya, apalagi punya keterikatan kerabat dengan dirinya. Jangankan bertemu langsung tatap muka—entah dalam sebuah diskusi ilmiah, atau sengaja bersua untuk berbagi cerita tentang satu dan lain hal mengenai persoalan bangsa dan nasionalisme, revolusi pemuda dan kelas tertindas, atau berkenaan dengan Imagined Communities (Komunitas-Komunitas yang Terbayang), buah pena yang melambungkan namanya di banyak belahan dunia—melihatnya saja meski dari kejauhan saya belum pernah. Tetapi hal itu tidak menyurutkan niat saya untuk mengenalnya lebih dalam (terutama pikiran-pikirannya) walau ruang dan waktu sudah terlampau berbeda, sebab dia sudah wafat pada 13 Desember 2015 lalu.

 

Saya mengenal Ben Anderson justru setelah melalui proses membaca sejumlah artikel, esai, jurnal dan beberapa buku yang saya pinjam dari perpustakaan UIN Jakarta atau koleksi pribadi. Dalam beberapa kesempatan, forum-forum kajian yang saya ikuti yang mengulas pikiran-pikiran Ben Anderson, juga ikut memperdalam pengenalan saya kepada sosok yang satu ini. Hanya dengan melalui cara-cara seperti itulah akhirnya saya sedikit bisa memahami dan membayangkan pria yang pernah dicekal Orde Baru (orba) Soeharto ini; baik mengenai pribadinya yang ramah dan bersahabat kepada masyarakat Indonesia, keberpihakannya pada kaum marjinal dan kelas tertindas, karya-karyanya yang menginspirasi, maupun pikiran-pikirannya yang masih memiliki daya tarik dan selalu hangat diperbincangkan hingga kini.

 

Ibarat sebuah hikmah yang bisa kita petik dari mana saja, tak peduli asalnya, tak mengapa siapa penyampainya, selama isinya baik dan positif, tidak masalah kita ambil untuk bekal.  Begitu pun halnya dengan tokoh yang kita bicarakan ini. Dia lahir di Kunming, Cina, pada 1936, tumbuh besar di Irlandia, Inggris dan Amerika Serikat. Asal usulnya sama sekali tak terkait dengan Indonesia. Namun kehadirannya di negeri ini merupakan berkah dan anugerah yang sulit dibantah. Hampir sebagian besar hidupnya diabdikan untuk mempelajari rumah besar Indonesia: baik budayanya, masyarakatnya, perilaku elitenya, sistem politiknya, dan yang lainnya. Bahkan secara khusus dia juga membahas kekuasaan dalam perspektif Jawa, di mana seorang raja (presiden), menurutnya, harus terus menerus mencari tuntunan Tuhan di dalam batin saat memerintah atau berkuasa. Sehingga dengan begitu seorang raja harus memiliki sifat wicaksana (wisdom) dan mampu mendistribuskan keadilan pada rakyatnya tanpa tebang pilih.

 

Sebagai seorang ilmuwan politik yang disegani, pengaruh Ben Anderson justru tidak hanya dirasakan di bidangnya. Karya-karyanya dibaca oleh mereka yang belajar antropologi, sejarah, kritik sastra, sosiologi, dan kajian kebudayaan. Karena itu mereka yang menekuni studi ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan di Indonesia, sosok yang satu ini tidak boleh luput untuk dipelajari. Dia mesti selalu dilibatkan dalam banyak diskursus, terutama menganai kebangsaan, nasionalisme dan kebudayaan. Pandangannya mengenai revolusi pemuda memberi alternatif lain sekaligus bantahan terhadap tesis gurunya, George Kahin, yang menulis ‘Nationalism and Revolution in Indonesia’. Dalam karyanya itu, Kahin mengupas dinamika revolusi di Indonesia hanya di kalangan elite-elite politik semata, seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, dll. Sementara menurut sang murid, Ben Anderson, pergerakan revolusi di Indonesia justru digerakan oleh golongan pemuda yang direpresentasikan salah satunya oleh Sukarni Kartodiwirjo, sosok yang punya peran penting di balik sejarah proses pembacaan teks proklamasi. Atas jasanya itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyematkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 7 November 2014.

 

Dalam lingkup yang agak lebih luas, terutama terkait kajian Asia Tenggara, posisi Ben Anderson terbilang istimewa dan penting. Seperti tidak cukup puas dengan mengkaji Indonesia berikut pernak pernik kebudayaannya dan segala aspek yang terkait dengan negeri ini, dia juga mengarahkan penelitiannya pada dua negara lain: Thailand dan Filipina. Fokus penelitian pada kedua negara itu dia lakukan saat dilarang masuk Indonesia oleh rezim kejam Soeharto karena menulis Cornell Paper yang dianggap menyudutkan rezim berkuasa dan Angkatan Darat dalam tragedi berdarah G30 September 1965. Ben Anderson tidak menemukan kesulitan yang berarti saat meneliti dua negara tersebut. sebab dia mampu berkomunikasi langsung dengan penduduk lokal seolah sudah menjadi warga setempat—hal yang menjadi kelebihan peneliti Barat termasuk Ben Anderson. Itu semua bisa terjadi karena dia adalah seorang polyglot, seseorang yang memiliki kemampuan berbicara dalam banyak bahasa. Dia bisa membaca teks dalam bahasa Belanda, Jerman, Spanyol, Perancis dan Rusia, serta bisa membaca dan berbicara dalam bahasa Indonesia dan Thai. Tidak hanya itu, dia paham bahasa Jawa dan Tagalog. Kemampuan dalam banyak bahasa itulah yang memudahkan Ben Anderson mengakses tulisan-tulisan mengenai ketiga negara itu dan dengan leluasa bisa bergaul dengan penduduk setempat.

 

Kemampuan Ben Anderson dalam banyak bahasa, mengingatkan saya pada beberapa tokoh yang juga pemikir kelas dunia, yang juga memiliki kemampuan yang sama dalam berbahasa. Sebut saja misalnya, Fazlur Rahman, pembaru Islam asal Pakistan. Selain fasih berbahasa Urdu dan Persia, Rahman juga menguasai bahasa Arab, Inggris, Turki, Perancis, Jerman, bahkan Yunani. Kemampuan berbahasa Rahman itu, diikuti murid terkasihnya, Nurcholis Madjid atau biasa dipanggil Cak Nur. Meski tak sebanyak gurunya, Cak Nur mampu berbahasa selain Arab dan Inggris sama baiknya. Selain mereka berdua, dua nama yang juga penting disebut di sini adalah Mohamad Iqbal dan Annemarie Schimmel. Yang pertama merupakan pemikir, pembaru, filosof, dan penyair asal Pakistan. Sedikit banyak dia telah membuka cakrawala berpikir saya dalam memahami pemikiran keagamaan. Sementara nama yang disebut kedua merupakan orientalis Jerman yang sebagian besar hidupnya dia abdikan untuk mendalami Islam terutama dalam bidang mistis Islam atau Tasawuf. Terhadap nama yang terakhir ini, saya sangat menaruh perhatian besar atas kecintaannya pada khazanah intelektual Islam.

 

Kepemilikan akses terhadap dunia orang yang beragam itulah yang memungkinkan Ben Anderson mampu menangkap nuansa yang jauh lebih kompleks dan mendalam, sekaligus jauh lebih menarik ketimbang yang direpresentasikan lewat teks semata. Persentuhannya secara langsung dengan ragam masyarakat mematangkan dirinya sebagai peneliti paling disegani dan diperhitungkan. Apa yang ditampilkan Ben Anderson itu memberi pelajaran yang cukup berharga bagi kita bahwa kemampuan dalam banyak bahasa bisa menunjang kemudahan dalam melakukan riset di lapangan. Bagaimana pun juga bahasa merupakan alat pertama dalam berkomunikasi, memahami, dan saling menjalin pengertian. Dan lewat bahasa pula-lah (bahasa cetak/aksara) konsepsi tentang “komunitas yang terbayang” ala Ben Anderson dimungkinkan.

 

Ben Anderson dan Komunitas yang Terbayang

Dalam studi ilmu politik dan sosial, buku Imagined Communities karya Ben Anderson ini telah menjadi rujukan dan didisukusikan di banyak forum ilmiah. Kehadirannya bisa dibilang cukup menghebohkan karena mampu memikat kalangan akademisi untuk mendalaminya. Bahkah buku ini ada yang menyejajarkan dengan buku Edward Said, Orientalism (1978), yang terkenal itu. Siapa yang ingin mengetahui diskursus orientalisme, maka dia harus mendasarkan kajiannya pada karya Said. Begitu pun bagi mahasiswa yang ingin mengkaji tentang asal usul nasionalisme, maka buku Ben Anderson itu merupakan bacaan wajib. Imagined Communities sudah diterjemahkan ke dalam dua puluh sembilan bahasa, termasuk Indonesia. Dalam penelusuran saya, buku itu menjadi salah satu buku paling laris dari Verso, penerbit sayap-kiri di London yang sebagian dikelola oleh adik Ben Anderson, Perry Anderson.

Perlu digarisbawahi, Imagined Communbities atau “Komunitas-Komunitas yang Terbayang” ala Ben Anderson bukan didasarkan pada komunitas yang biasa kita kenal selama ini, yaitu di mana anggotanya pasti dan bisa saling berinteraksi secara langsung dan setiap saat seperti dalam sebuah perkumpulan, organisasi, paguyuban, dan semisalnya. Ben Anderson justru mengonsepsikan hal itu dengan sebaliknya. Menurutnya, sebuah bangsa adalah komunitas yang dikonstruksi secara sosial, dibayangkan oleh orang-orang yang memandang dirinya sebagai bagian dari kelompok tersebut meski sama sekali tidak pernah bertemu satu sama lain.

 

Atas dasar itulah, Imagined Communities berangkat dari pertanyaan mengapa orang yang tidak saling mengenal bisa terikat dalam satu perasaan bahwa mereka adalah bagian dari sebuah komunitas yang disebut bangsa? Apa yang membuat mereka merasa senasib dan sepenanggungan sebagai bangsa hingga harus rela berkorban? Mengapa orang mau mati untuk sebuah bangsa, untuk sebuah konsep yang abstrak, untuk anggota-anggota yang tidak dikenalnya? Pertanyaan-pertanyaan fundamental inilah yang kemudian dijawab oleh Ben Anderson sebagaimana diuraikan dalam bukunya itu secara baik dan gamblang. Ben Anderson mengatakan, nasionalisme telah mampu mengikat satu sama lain sebagai bangsa. Perbedaan warna kulit, bahasa, suku, agama, budaya, bisa dipersatukan di bawah kendali nasionalisme.

 

Dalam penjelasannya lebih lanjut, Ben Anderson menelusuri sejarah munculnya nasionalisme di dunia. Dia menemukan bahwa kehadiran nasionalisme itu banyak berkaitan dengan kemunculan kapitalisme media cetak (print-capitalism). Hadirnya surat kabar dan buku-buku telah membawa perubahan yang cukup signifikan, terutama terhadap perubahan mental yang amat mendasar dalam sebuah masyarakat. Kapitalisme media cetak dengan sendirinya akan melayani pembacanya dalam bahasa-bahasa lokal (vernaculars) juga. Sehingga orang yang berada di suatu tempat paling ujung bisa membayangkan (imagined) dan merasakan tentang nasib dan masa depan bangsanya, tanpa harus mengenal dan saling bertemu satu sama lain. Di sinilah kecerdasan Ben Anderson yang jeli melihat persoalan.

 

Menurut Ben Anderson, Kapitalisme dalam Media Cetak telah mempengaruhi suatu pemikiran. Apa yang ditulis dan disampaikan dalam media cetak seperti koran, majalah dan juga buku lambat laun akan membentuk pola pikir masyarakat. Media cetak memungkinkan banyak orang untuk berpikir tentang diri mereka sendiri, dan menghubungkan diri mereka dengan orang lain dengan cara yang sangat baru. Migrasi massal juga memiliki pengaruh tersendiri dalam menumbuhkan nasionalisme. Dengan adanya print-capitalism (kapitalisme cetak), satu orang dapat terhubung dengan yang lainnya karna membaca tulisan yang sama sehingga muncul-lah nasionalisme yang sama satu dan yang lain. Karena itu, peran buku teks terutama buku sejarah dalam menyebarkan kesadaran nasional Indonesia tidak hanya terbatas pada penyebaran sejarah Indonesia saja, namun juga pada penyebaran ideologis dan nilai-nilai perjuangan yang ada di dalam buku. Tidak sedikit pemikiran pembaca terbentuk setelah melalui proses membaca yang intens.

 

Menurut Ben Anderson, bangsa tidak hanya diartikan sekedar kesamaan akar sejarah. Tetapi pemahaman bangsa, bagi Ben Anderson, mempunyai pengertian yang dinamis.Imajinasi atau bayangan menurutnya adalah suatu bahan yang merajut ikatan emosional dan solidaritas antar pendukung bangsa, meskipun antara satu dan yang lain belum tentu saling mengenal. Dan memang itulah inti kekuatan bangsa di mata Ben Anderson. Menurutnya bangsa sanggup menyatukan berbagai diaspora partisan-partisan bangsa yang ada dibelahan bumi yang lain, serta terpisah untuk menjadi satu ikatan kekuatan yang solid dan penuh solidaritas.

 

Revolusi Pemuda dan Cornell Paper

Rasanya kurang pas membahas Ben Anderson tanpa menyinggung pandangannya mengenai revolusi pemuda dan Cornell Paper. Pada bagian terdahulu, sepintas saya sudah mengulas mengenai revolusi pemuda yang digerakan oleh golongan muda atau kaum muda. Pandangannya itu merupakan anti-tesa dari kesimpulan guru Ben Anderson, George Kahin, yang berkesimpulan bahwa revolusi Indonesia digerakan oleh kaum elite atau golongan tua seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, dll.

 

Kesimpulan Ben Anderson itu tentu bukan tanpa dasar yang memadai. Sebagai ilmuan politik dan sosial yang lebih cenderung dekat dengan kaum marjinal atau under-dog (kaum lemah atau kalah), kategori pemuda tidak didasarkan pada kelas sosial seperti yang dikemukakan kaum maxian seperti George Kahin. Ben Anderson tentu tidak setuju dengan kategorisasi seperti itu. Menurutnya, kaum muda bukanlah kategori kelas dalam masyarakat. Dia lebih memasukan pemuda sebagai kategori sosiologis yang menjadi kekuatan penggerak revolusi, yaitu golongan pemuda.

Ben Anderson mengingatkan bahwa apa yang namanya revolusi pemuda itu sesungguhnya memang pernah ada. Dan revolusi itu sendiri, kata dia, selain revolusi menentang pendudukan kolonial asing, antara tahun 1945-1949, juga berlangsung revolusi sosial populis, yakni revolusi “melawan birokrat kolaborator Belanda, monarki dan aristokrasi lokal yang menindas, kepala-kepala desa yang dibenci, mata-mata Belanda, dan kadang-kadang juga golongan ‘pengkhianat’ (yang umumnya orang Kristen-Indonesia), dan tentu saja golongan yang paling tidak disukai, yakni para pedagang keturunan Cina, para pembunga uang, dan lain sebagainya.”

 

Meski Ben Anderson lebih suka bergaul dengan kaum marjinal, bukan berarti dia tidak bergaul dengan kaum elite yang sedang berkuasa. Membuka pergaulan dengan banyak orang dan seluas-luasnya dia anggap penting. Kendati begitu, di mata Ben Anderson, para elite penguasa ini tidak menarik perhatiannya karena melawan nalurinya itu terus memberi kontrol pada setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh elite. Dia malah lebih tertarik pada kekuasaan untuk menelanjanginya, bukan untuk berada di dalamnya. Sikap inilah yang kemudian menjadikannya dimusi rezim Orba Seoharto dan yang membuatnya dilarang masuk ke Indonesia selama 27 tahun. Ben Anderson baru bisa kembali datang ke Indonesia setelah Soeharti tumbang. Ben Anderson adalah seorang yang dengan sadar memilih jalan Kiri sebagai sikap politik. Sebab, kiri adalah perlawan dan pembelaan terhadap kaum tertindas. Sikap inilah yang terus Ben Anderson pertahankan hingga ajal menjemputnya.

 

Perlu diketahui di sini, bahwa peristiwa penyekalan teradap Ben Anderson bermula saat dirinya menuliskan sebuah laporan ilmiah bersama dua sarjana Cornell lain “A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia”,  terkenal dengan Cornell Paper. Pencekalan itu pada akhirnya membuat Ben Anderson mengalihkan studinya ke Filipina dan Thailand. Dari kerja kerasnya itu dia menghasilkan karya-karya terbaik yang sangat berpengaruh, seperti “Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism” (1983), “Under Three Flags: Anarchism and the Anticolonial Imagination (2005), the Fate of Rural Hell: Ascetism and Desire in Buddhist Thailand” (2012). Tekanan yang dilakukan Soeharto tidak membuat Ben Anderson patah semangat untuk terus mengembangkan risetnya. Justru dari tekanan itu dia telah melahirkan karya-karya besar seperti yang disebutkan sebelumbya.

 

Ben Anderson tidak sendirian menulis Cornell Paper. Bersama dengan dua orang teman lainnya (Ruth McVey dan Frederick Bunnel), dia melakukan studi untuk mendalami apa yang sesungguhnya terjadi terkait peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965. Berbekal informasi yang tersedia dan data yang terbatas, mereka melakukan riset serius. Mereka menemukan bahwa para perwira yang terlibat dalam Gerakan ini sebagian besar berasal dari Kodam Diponegoro, di mana Mayjen Soeharto pernah menjadi panglimanya. Beberapa perwira bahkan dikenal dekat dengan Soeharto. Studi ini berkesimpulan bahwa percobaan kudeta ini terjadi karena persoalan ketidakpuasan di kalangan perwira muda Angkatan Darat terhadap jenderal-jenderal mereka.

 

Studi yang diberi judul ‘Preliminary Analysis of The October 1, 1965 Coup in Indonesia’ pada awalnya memang dimaksudkan hanya sebagai kajian sementara karena keterbatasan informasi yang mereka peroleh. Mereka membagikannya kepada beberapa kolega untuk mendapatkan komentar dengan catatan hanya dipakai untuk kepentingan sendiri dan tidak disebarluaskan. Mereka mengkhawatirkan keselamatan banyak kawan di Indonesia, yang sekalipun tidak tahu akan adanya dokumen ini, namun bisa jadi akan dikaitkan oleh pemerintahan militer Soeharto. Namun, entah mengapa, analisis ini bocor keluar dan beredar dari tangan ke tangan, hingga akhirnya dokumen itu sampai juga ke tangan penguasa militer Orde Baru. Jurnalis konservatif Arnold Brackman menuduh bahwa analisis ini disusupi kepentingan ideologis pengarangnya. Inilah alasan mengapa Ben Anderson dicekal tidak boleh ke Indonesia hingga beberapa tahun lamanya. Dia bisa kembali ke Indonesia setelah pemerintahan Soeharto tumbang.

Minggu, 30 Mei 2021

Halal Bi Halal Virtual Aloemni Sevent: Mengikis Bayangan Lupa

Minggu, Mei 30, 2021 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Hari-hari boleh berganti. Perubahan musim selalu saja datang dan pergi. Tapi ingatan kita tentang masa lampau tidak boleh hilang oleh amuk waktu yang berjalan mengikuti peredaran matahari. 


Waktu mampu merubah semua dan menghentikan segala. Seluruh jalan hidup yang pernah kita lewati pasti meninggalkan jejak. Sewaktu-waktu kita pun bisa menengoknya kembali untuk sekedar mengingat dan melawan bayangan lupa.


Kadang, masa kini terlalu melenakan, membuai dan mengalpakan semua ingatan. Apalagi bila jarak dan antara yang kita miliki terlampau jauh ditempuh atau justru terlalu lama ditepikan. Situasi seperti ini pada akhirnya membuat kita sulit menoleh, apalagi untuk menghadirkan seluruh kenangan dalam kekinian.

 


Kita pernah hidup di “ruang bersama” meski datang dari arah yang berbeda-beda. Ruang itu pula yang mempertemukan kita untuk saling mengenal, menjadi sahabat, bahkan saudara. Ruang yang menjadi titik temu dan diharapkan tidak mudah berlalu.


Ya, Subulussalam. Di sanalah kita mengawali semua cerita. Kisah yang mempertautkan seluruh kehidupan dari banyak perbedaan. Muasal kita tidak sama, titik berangkat kita tidak serupa: ada yang datang dari Pandeglang, Rangkas, Serang, Tangerang, Jakarta, Jawa, Lampung, Palembang, Riau, dll. 


[Baca Juga: Album Kenangan Subulussalam (Bagian I)]


Perbedaan tak perlu dipersoalkan. Apalagi dipertentangkan. Tuhan pun tak pernah bermaksud membuat perbedaan tak pernah ada. Seluruh perbedaan bisa diselesaikan dengan sikap saling menerima. Dan mengakui bahwa perbedaan adalah kodrat dari penciptaan--titah penciptaan (أمر تكوين) dalam istilah Ibn 'Arabi, mistikus besar di abad pertengahan. 


Sebagai manusia kelana yang datang dari selaksa asal kembara pada mulanya kita tidak mengenal satu sama lain. Namun kala hati-pikiran-perbuatan kita terbuka untuk semua hal baru dalam hidup, kita akan menemukan sahabat terbaik yang akan mengisi hari-hari kosong. Wajah-wajah asing itu seketika jadi orang-orang yang paling berpengaruh bagi hidup kita, yang membangkitkan gelora sukma kala pucuk risau bertengger di puncak tebing paling tinggi.


Masa lalu adalah masa kini yang tiba terlalu dini. Kita tidak boleh menepikannya dari bagian kisah hidup kita. Sebab segala upaya untuk melupakannya adalah nama lain dari ketidak-jujuran dan pengkhianatan pada kisah yang telah kita torehkan di atas kertas kehidupan. 


Halal bi halal virtual ini dalam rangka mengikis bayangan lupa. Betapapun kini adanya, kita pernah menorehkan jejak-jejak lama.  


Minal 'Aidin Wal Faizin. Mohon maaf lahir batin. Taqobbal Minna Ya Karim...!!!

Jumat, 23 April 2021

Album Kenangan Subulussalam (Bagian I)

Jumat, April 23, 2021 4

Oleh Mohamad Asrori Mulky
 
Bulan Ramadhan telah tiba. Dan seketika ingatan saya pun jauh menoleh ke belakang, pada suatu masa dalam waktu, sekitar puluhan tahun yang lalu, saat saya masih nyantri di Pondok Pesantren Modern Subulussalam, yang terletak di ujung Tangerang, pintu masuk Kota Serang: KRESEK.

 

Memang seluruh hal yang mengisahkan masa lampau selalu saja hangat tiba di hati kita. Apalagi bila kenangan itu menorehkan selaksa kisah manis yang masih tersimpan dengan rapih. Semua ingatan tentang masa lampau itu (di pondok) bermunculan bak album kenangan, yang memuat banyak kisah tentang satu dan lain hal. Semuanya begitu nyata seolah baru saja terjadi seketika.

 

Pada lembar pertama dari album itu, saya terkenang wajah gurunda kita tercinta KH. AHMAD MAIMUN ALIE, MA. Kepadanya bermuara teladan yang baik yang patut ditiru oleh kita sebagai santrinya. Ibarat mata air yang mengalir dari hulu ke hilir, begitulah juga beliau, berkah dan ridhonya bisa membantu menyegarkan dahaga bagi jiwa-jiwa tandus seperti kita. Dalam pendidikan pesantren ‘ngalap berkah kiai’ lazim dicari. Suatu hal yang tidak terjadi di dunia penddidikan sekuler.

 

“Kadang cahaya kita lenyap dari dalam diri dan dinyalakan lagi oleh pijar dari orang lain. Masing-masing kita punya alasan untuk memikirkan dan memberikan penghargaan mendalam pada orang yang telah menyalakan api di dalam diri kita”. Demikian Albert Schweitzer, teolog berkebangsaan Perancis, pernah menuturkan.

 

Dalam menapaki jalan hidup, siapa pun, termasuk kita, butuh pijar orang lain. Apalagi bila pijar itu diharapkan datang dari guru sendiri. Sebagai santrinya tidaklah salah bila kita rutin mengirim hadiah doa bagi gurunda kita tercinta, almarhum almagfurlah Abah KH. Ahmad Maimun Alie, MA. Hanya itulah yang bisa kita persembahkan sebagai bakti dan rasa terimakasih kita atas ilmu dan jasa-jasa beliau selama ini. اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه.

 


Kaum bijak bestari pernah mengatakan, “tiap orang yang sampai ke tempat ia berada saat ini, harus mulai dari tempat ia dulu berada”. Siapa pun yang mereguk manisnya hidup hari ini, sedikit banyak ada peran dan doa gurunda kita tercinta, Abah KH. Maimun Alie, MA. Di manapun kita berpijak pada tempat hari ini, kita pernah meninggalkan jejak di suatu tempat yang ada di belakang kita. Sekali lagi, semoga Allah SWT menganugerahi beliau pahala yang berlimpat dan menempatkannya di tempat yang paling layak. Amin ya rabbalâlamin!

 

Di mata saya, Pak Kiai adalah sosok yang amat bersahaja. Balutan sarung yang dikepang dua dan peci hitam yang dikenakannya dalam keseharian, mencirikan identitas sosial-budaya tentang pandangan hidup dunia pesantren. Penampilan beliau seperti itu tipikal ulama NU (Nahdlatul Ulama) yang akomodatif terhadap lokalitas budaya. Sikap akulturatif beliau terhadap budaya telah menta’kidkan (meneguhkan secara kuat) posisinya sebagai ulama moderat (وسطية).

 

Status beliau sebagai ulama moderat, juga bisa kita lihat dari pandangannya mengenai moderasi beragama. Dalam satu momen silaturahmi dengan Pak Kiai di Subulussalam. Beliau sempat menyinggung keberadaan Islam radikal dan Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia, yang pada saat itu menjadi buah bibir di masyarakat. Memang dua kelompok ini selalu terlibat persaingan sengit di ruang publik untuk tampil menjadi yang paling baik. Keduanya mengambil posisi ujung paling ekstrim: ekstrim kanan (Islam Radikal) dan ekstrim kiri (JIL).

 

Sepanjang pengetahuan saya, kelompok Islam radikal lebih menitikberatkan pada tekstualitas ayat dalam tafsir kitab suci. Terkesan mengabaikan sisi historisitas (اسباب النزول). Sementara JIL justru mengambil sikap yang sebaliknya. Dan di antara dua kutub yang saling berlawanan itu, kata Pak Kiai, perlu ada kelompok yang berdiri di tengah sebagai penyeimbang. Sebab dalam memahmi kitab suci diperlukan dua aspek sekaligus, yaitu teks dan konteks agar tidak terjadi tafsir yang otoriter dan hegemonik. 

 

[Baca Juga: Halal Bi Halal Virtual Aloemni Sevent: Mengikis Bayangan Lupa]

 

Sikap moderat Pak Kiai pada akhirnya kian mematangkan pribadinya, baik secara personal maupun intelektual. Saya yakin tidak ada satu pun dari kita menolak menyebut Pak Kiai sebagai pribadi yang punya ketenangan yang matang, tidak grasak grusuk dalam bertindak dan penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan. Pribadi seperti itu sebetulnya menyiratkan kedalaman ilmu pengetahuan agama beliau.

 

Agama butuh kedalaman dan perenungan, agar ekspresinya memberi ketenangan bagi pemeluknya, dan kebaikan bagi alam semesta (رحمة للعالمين). Bila agama diekspresikan dalam kebisingan dan kegaduhan, miskin perenungan dan penghayatan, maka yang ada adalah suara parau dari agama yang bisa memekakkan telinga banyak orang. Keluasan pengetahuan beliau mengingatkan kita pada salah satu Motto Pondok yang amat melegenda, “BERPENGETAHUAN LUAS” (العلوم المتبحرة/broad knowledge).

 


Dengan Motto tersebut, Subulussalam tidak bermaksud mencetak generasi tanpa aksara yang tak sanggup membaca ayat-ayat Tuhan dan semesta. Para santri diharapkan memiliki pengetahuan luas agar dapat menghadapi kemelut zamannya, melintasi cakrawala, melompati aneka ragam horizon ilmu, agar menjadi manusia arif dan budiman, penuh hikmah dan kebijaksanaan. Menjadi penyintas di jalan ilmu memang tidaklah mudah. Butuh ketangguhan dan kekuatan mental agar tidak gampang rontok saat dihadapkan pada kenyataan hidup yang pahit.  

 

Pak Kiai sendiri telah menuntaskan tanggung jawab intelektualnya sebagai pengembara ilmu yang luar biasa. Beliau telah mereguk manisnya ilmu pengetahuan agama hingga Madinah dan Pakistan. Menimba ilmu pada banyak guru, menghabiskan waktu dengan membaca tumpukan buku, meninggalkan keluarga dan sanak saudara, adalah bagian dari batu ujian yang harus dijalani para penyintas ilmu seperti Pak Kiai. Beliau sadar ilmu pengetahuan mesti dicari meski harus ke negeri manca. Dan itu adalah titah dari sabda baginda Nabi kita tercinta (اطلبوا العلم ولو بالصين).

 

Sebagai pimpinan pondok, tidak cukup sekali beliau menghimbau para santri agar tangguh dalam menuntut ilmu walau harus melewati batas-batas negara yang jauh sekali pun. Dalam keyakinan beliau, ilmu akan menempatkan seseorang pada derajat paling tinggi sebagaimana janji Allah SWT dalam salah satu firman-Nya (يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات). Meski terkadang, pada zaman yang merepih seperti pasir ini, masih banyak orang mengukur kehormatan bahkan keberhasilan seseorang hanya dalam timbangan materi semata.

 

Beliau pernah berpesan: “seseorang dihormati karena ilmunya”. Kata-kata itu masih terngiang jelas di telinga saya. Apalagi saat itu beliau mengucapkannya dengan nada dan intonasi penuh penekanan—suatu hal yang amat lazim beliau lakukan saat menyampaikan perkara yang dianggapnya penting. Tentu saja pesan itu disampaikan tidak secara khusus kepada saya, tapi juga ditujukan kepada para santri Subulussalam, dari angkatan pertama sampai sekarang.

 

 

BERSAMBUNG.....

Bagian II: Lembar Kedua dari Album Kenangan, Insya Allah!

Rabu, 07 April 2021

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Rabu, April 07, 2021 0























Oleh Mohamad Asrori Mulky

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris hanya bicara tentang kematian, tentang bagaimana menghabisi yang liyan (orang lain).

 

Karen Armstrong dalam “Fields of Blood: Religion and the History of Violence” menyimpulkan, terorisme tak ada hubungannya dengan Nabi Muhammad dalam Islam atau Kristus dalam iman Kristen. Kendati terorisme bukan bersumber dari ajaran agama, faktanya hampir semua aktivitas teror selalu mendalihkan alasannya pada doktrin agama, pada kebenaran yang diyakininya.

 

Setidaknya, kita tidak boleh menutup mata pada kasus terorisme paling mutakhir, yakni bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan teror di Mabes Polri. Pelakunya secara terang-terangan melakukan "amaliyah" teror dengan mendasarkan alasannya pada pemahaman agama. Melalui surat wasiat yang ditinggalkan, mereka memilih menempuh jalan jihad untuk memperoleh kematian yang terhormat.

 

Radikalisme agama ada di tengah-tengah kita. Itu fakta yang tidak boleh kita ingkari. Dalam amatan saya, para teroris lebih banyak bicara tentang “teologi masa depan” (akhirat), tentang jihad, tentang musuh yang ada di sana yang berbeda haluan dan arah tujuan. Prinsip berani mati demi cita-cita yang dianggap luhur (masuk surga) menjadi dasar keyakinan mereka. Tak peduli berapa nyawa dimatikan. Tak mengapa berapa jiwa yang harus dilenyapkan.

 

Memupuk pahala demi surga meski harus menghilangkan nyawa manusia adalah tindakan yang melawan kemanusiaan dan bertentangan dengan nilai luhur tiap agama: Cinta kasih. Radikalisme agama dan bentuk kekerasan yang berdasarkan dalih agama hanyalah muncul dari akal yang tidak sehat, hati yang keras, dan jiwa yang sombong.

 

Memang! Ketika akal jadi sakit, daya kritis melemah. Maka semua tindakan yang dihasilkan dilalui lewat jalan perhitungan yang tak memadai, cenderung destruktif dan merusak. Ketika hati menjadi keras, cinta kasih pun menghilang. Maka yang muncul adalah sifat purba dari manusia; kebengisan tanpa welas asih. Ketika jiwa menjadi sombong, sifat sewenang-wenang muncul. Jiwa yang sombong adalah nama lain dari ke-aku-an yang angkuh. Dan keangkuhan itu akan membuat seseorang menjadi rapuh.

 

Para teroris tak banyak bicara tentang prinsip berani hidup. Mereka tak mengenal konsep tentang hidup yang rukun dan teratur. Sebab berdamping hidup dengan yang liyan (berbeda ideologi dan keyakinan) dianggap sebagai ancaman. Bagi mereka, membunuh adalah cara terbaik untuk bertahan “hidup” menuju kematian yang abadi.

 

Bagi para teroris, dunia adalah ladang pertempuran tiada akhir. Musuhnya sudah jelas: Mereka yang berbeda ideologi dan keyakinan. Dalam perang yang telanjur digelar ini mereka tak lagi mengenal rasa kemanusiaan dan belas kasihan. Yang ada adalah lawan atau kawan. Dia yang berbeda haluan dianggap sebagai musuh yang harus dilawan. Sementara mereka yang searah dianggap sebagai teman yang layak diperjuangkan.

 

 

Kebencian

Kebencian yang mendalam pada yang liyan kadang membuat seseorang lupa arah dan ingatan. Ibarat api dalam sekam, kebencian yang digumpalkan dalam dada bisa lebih berbahaya. Dia akan berkobar. Membakar banyak korban.

 

Apalagi bila kebencian yang digumpalkan dalam dada itu disebabkan oleh kemarahan yang menggunung akibat beda haluan dan keyakinan. Kebencian adalah kekuatan yang lahir dari dalam diri manusia untuk diarahkan kepada objek yang ada di luar sana—atau kepada “wajah yang lain” dalam istilah Emmanuel Levinas.

 

Ketika "aku" sebagai subjek telah merasa terkikis menjadi sebuah objek karena kehadiran "aku" yang lain, maka saat itu juga "aku" sebagai subjek mulai merasa terancam. Dan karena kehadiran objek dirasa mengancam subjektivitas, maka "aku" selaku subjek melakukan agresi dan dominasi terlebih dahulu atas yang lain.

 

Suasana batin seperti itu, juga dialami pelaku penembakan masjid Christchurch di Selandia Baru, beberapa tahun lalu. Pelakunya, yang juga pejuang supremasi kulit putih, merasa terancam oleh kehadiran imigran dari kalangan Islam. Sama dengan pelaku bom bunuh diri di Makassar dan penyerangan di Mabes Polri. Mereka merasa terancam oleh kelompok yang beda arah ideologi dan keyakinan. Dan karena itu mereka pupuk kebencian yang mendalam untuk jalan jihad yang diyakininya.

 

Dalam rentang sejarah yang panjang, sebuah peradaban yang damai nan permai tiba-tiba bisa runtuh oleh sebab peperangan yang disulut kebencian. Kisah Qabil dan Habil telah memberi gambaran betapa kebencian bisa mengakhiri riwayat orang lain. Tragedi kemanusiaan ini telah dipandang oleh Ibnu Khaldun sebagai tragedi berdarah pertama di dunia yang dilakukan oleh dua anak manusia pertama.

 

Rasanya sulit untuk menghapus terorisme di dunia selama kebencian pada yang liyan masih digelayutkan dalam dada. Kita perlu menyadari bahwa tujuan penciptaan manusia adalah sebagai khalifah (catat! bukan sistem khilafah). Tentu bukan untuk maksud-maksud destruktif dan merusak. Tapi untuk mengolah dunia, menebar benih damai, dan saling memberi kasih pada sesama. Hanya dengan itu, kita bisa menghapus terorisme yang disulut kebencian yang menggumpal.

 

Manusia adalah sebaik-baik ciptaan. Bukan semata-mata karena dia sanggup memikul titah (amanah) Tuhan yang pernah ditolak langit, bumi, dan gunung. Tapi karena dia memiliki Nurani atau نوران (dua pelita/cahaya), yaitu akal dan hati. Dan oleh sebab itu manusia berbeda dengan binatang. Bahkan lebih baik dari Malaikat. Bila dua pelita itu redup bahkan mati dari dalam diri seseorang, maka yang tersisa adalah kegelapan. Kebencian muncul oleh sebab hilangnya nurani dalam diri.

 

Sebagai penutup tulisan, izinkan saya mengutip salah satu ayat dari Firman Tuhan: “Jangan sekali-kali kebencian-mu pada kelompok lain (orang lain) membuat-mu berlaku tidak adil. Berlaku adil lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (Al Maidah: Ayat 8).

 

Pesannya cukup jelas. Tidak perlu mengundang banyak pengertian.

 

Tapi mengapa para teroris menempuh jalan benci? Padahal adil lebih bisa mengantarkan mereka pada kasih Sang Pencipta. Di situlah watak retak mereka. Wallahu’alam!

 

*Dimuat di kumparan.com