Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Selasa, 06 Januari 2026

Suara Perubahan dari Para Pembaharu Zaman


Oleh Mohamad Asrori Mulky
 

Islam datang tidak dalam kesunyian yang membeku meski dimulai dari keheningan Goa Hira yang mencekam. Islam lahir di tengah percakapan peradaban yang beragam—di antara suara bising pasar ilmu, bait-bait syair, silang pendapat antar-kabilah, dan getar wahyu yang mengundang tafsir tanpa henti.

 

Namun sejarah, sebagaimana malam kelam yang terlalu panjang untuk dilewati, kini membuat percakapan itu redup, bahkan menjadi lorong gelap yang nyaris tak lagi terlihat dengan jelas. Gemuruh ilmu dalam percakapan lintas budaya, agama, dan generasi, yang dulu mewarnai wajah Islam, kini mulai terkikis.

 

Dalam gelap zaman yang merepih seperti pasir itu berdiri tegak para pembaru—Mohamad Arkoun, Fazlur Rahman, Nasr Hamid Abu Zayd, Hassan Hanafi—bukan sebagai juru kutuk, melainkan sebagai penjaga ingatan yang menolak lupa. Mereka menggali asal usul persoalan yang membuat umat Islam tertinggal ribuan langkah dari Barat.

 

Arkoun dalam banyak kesempatan mengingatkan kita bahwa kejayaan Islam bukan dibangun oleh keseragaman, melainkan oleh pluralisme pemikiran—oleh keberanian untuk berbeda, berdebat, dan saling mengoreksi dalam terang akal dan nurani kemanusiaan. Islam tidak mengenal sopan santun dalam pemikiran. Sebab pikiran yang disopan-santukan adalah upaya menyerahkan akal pada ketundukan yang membeku.

 

Arkoun menyingkap sebuah luka yang tak kasatmata: kolonialisme fisik boleh jadi telah berakhir, tetapi kolonialisme epistemik masih bercokol dalam cara umat Islam berpikir, menghafal, dan mematuhi tanpa bertanya. Pikiran umat, kata Arkoun, masih terjajah. Umat terjebak pada taqdis al afkar (kultus pemikiran) yang dalam sehingga kemungkinan untuk berbeda tidak memiliki tempat.

 

Pada abad ke-10—di Baghdad, Basrah, Isfahan—Islam bukanlah menara tunggal, melainkan kota dengan banyak jendela. Para teolog, fuqaha, filsuf, dan ilmuwan duduk dalam majelis malam, berhadap-hadapan, beradu argumen dalam munazarah—sebuah praktik dialog yang menjadikan perbedaan bukan ancaman, melainkan rahmat intelektual.

 

Di sanalah Al-Qur’an dibaca bukan sebagai batu yang beku, melainkan sungai makna yang mengalir ke berbagai cabang kehidupan. Al Qur’an diperlakukan bukan sebagai teks kaku, tapi pesan progresif yang mampu menanggulangi tiap persoalan yang hinggap di tubuh umat. Al Qur’an hadir sebagai pembebas dari segala macam bentuk penindasan, diskriminasi, ketidakadilan, dan tafsir membeku.


Namun sejarah berbelok. Sejak abad ke-13, filsafat dicurigai, perdebatan ditutup, dan Islam direduksi menjadi identitas politik. Agama tidak lagi menjadi ruang pencarian makna, tetapi benteng kekuasaan. Di sinilah Arkoun mengajukan gugatan yang meretakkan pondasi konservatisme: bahwa anggapan Islam selalu identik dengan negara dan kekuasaan politik adalah kesalahan historis, bukan kebenaran teologis.

 

Gugatan ini bergaung sambut di tangan Fazlur Rahman dari Pakistan, yang menolak cara membaca Al-Qur’an secara atomistik dan ahistoris. Bagi Rahman, wahyu bukanlah sekadar teks yang turun dari langit lalu membeku di bumi, melainkan respons etis Tuhan terhadap situasi sejarah manusia. Al Qur’an hadir tidak di ruang hampa melainkan di ruang sosial dan budaya yang mengakar kuat saat itu.

 

Dan karena itu, kata Rahman, memahami Islam menuntut gerak ganda (double movement): kembali ke konteks awal wahyu dan, lalu melompat ke tantangan zaman kini. Tanpa gerak ganda ini, agama berubah menjadi arsip, bukan pedoman hidup. Semangat kebaruan dan kemampuan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman harus menjadi jati diri Islam—sholihun likulli zaman wa makan.

 

Sementara itu, Nasr Hamid Abu Zayd melangkah lebih jauh ke wilayah yang paling sensitif: teks suci [baca dalam Mafhum al Nash]. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an, ketika memasuki bahasa manusia, juga memasuki sejarah manusia. Menutup pintu tafsir berarti membungkam pesan ilahi itu sendiri. Seperti Arkoun, Abu Zayd melihat bahaya besar ketika tafsir tunggal dipaksakan: agama kehilangan jiwa dialogisnya dan berubah menjadi alat dominasi simbolik.

 

Adapun Hassan Hanafi menyalakan obor dari arah lain: dari Timur yang lama menjadi objek (orientalisme) ke oksidentalisme (Fi al ‘Ilm al Istigrab)—di mana Barat jadi objek kajian bagi Islam. Adapun turats (tradisi) yang menjadi peninggalan masa lalu tidak dipuja sebagai fosil antik, tetapi mesti dibaca ulang demi pembebasan manusia. Teologi, baginya, harus turun dari langit abstraksi menuju bumi penderitaan sosial [baca dalam Min al Aqidah ila al Tsaurah].

 

Di titik ini, dialog pemikiran yang digemakan para pembaharu bukan sekadar wacana akademik, melainkan etika keberpihakan pada manusia. Para pemikir besar yang disebut di atas tidak menawarkan utopia, melainkan undangan: untuk membuka jendela-jendela yang lama ditutup; untuk berani hidup dalam ketidakpastian kreatif; untuk menerima bahwa iman yang kuat bukanlah iman yang takut bertanya, melainkan iman yang berani berdialog.

 

Maka kejayaan Islam, jika kelak datang kembali, tidak akan lahir dari pengerasan identitas, tetapi dari kelapangan makna. Ia akan tumbuh dari keberanian untuk mendengarkan—bahkan pada suara yang berbeda, asing, dan menggugat. Sebab di sanalah, dalam percakapan yang jujur dan manusiawi, wahyu terus menemukan denyut kehidupannya.

Tidak ada komentar: