Oleh Mohamad Asrori Mulky
Kurun beralih, bocah yang dulu
lemah lembut
Kini telah berakal dan dewasa
pula
Ada yang menjadi orang utama
Ada yang hanya fasih
berkata-kata
Tahun bersalin tahun, batu-batu
keras
Kini telah tersepuh cahaya
matahari
Moga kelak sangguplah batu-batu
ini
Menjadi permata nilam atau akik
Yaman
Minggu telah silam oleh minggu
lainnya
Moga setumpuk kapas yang tumbuh
dari air dan tanah
Kelak jadi pakaian dan hiasan
wanita cantik
Atau kain kafan pembungkus yang
mati syahid
[Hakim Sana`i, abad ke-12 M].
Kurun beralih. Seperti denyut keberadaan
yang tak pernah hadir sebagai suara, 2025 tidak benar-benar pergi, melainkan
berubah bentuk—meluruh dari angka menjadi pengalaman, dari peristiwa menjadi
kesadaran. Ia menyerahkan dirinya kepada 2026 bukan sebagai suksesi mekanis,
melainkan sebagai tajalli baru, sebab
sebagaimana diisyaratkan Ibn ‘Arabi, waktu tidak berulang, melainkan terus
diperbarui dalam penciptaan yang tak henti-hentinya.
Tidak
ada gemuruh kosmik, tidak pula langit yang tersingkap; yang terjadi hanyalah
pergeseran batin, sebuah aliran sunyi yang oleh Bergson disebut durée: waktu yang hidup di dalam
jiwa, bukan di dinding kalender. Dalam arus inilah manusia bertumbuh sebagaimana
digambarkan Hakim Sana’i dalam bait-bait syair di atas— bocah yang dulu lemah lembut, tiba-tiba telah berakal dan dewasa; batu
yang keras, perlahan disepuh cahaya; kapas yang tumbuh dari air dan tanah,
menunggu takdirnya—menjadi pakaian kemegahan atau kafan kesyahidan.
Pergantian tahun bukan sekadar penanggalan
administratif, melainkan ritus eksistensial manusia tentang keberadaan untuk
terus menjadi. Ia adalah cermin besar yang diletakkan waktu di hadapan
manusia: siapakah engkau kini, setelah setahun ditempa dalam segala
peristiwa?
Hakim Sana’i, penyair-sufi Persia abad ke-12 itu,
memahami waktu bukan sebagai garis lurus, melainkan proses pematangan jiwa.
Dalam puisinya, ia tidak berbicara tentang sukses dan gagal, melainkan tentang menjadi.
Bocah yang tumbuh tidak otomatis menjadi “orang utama”; sebagian hanya menjadi
“fasih berkata-kata”.
Inilah kritik halus Sana’i terhadap kedewasaan palsu—akal
yang lihai berargumentasi, tetapi miskin hikmah. Di titik ini, Sana’i sejalan
dengan Socrates yang sejak awal mengingatkan bahwa kefasihan tanpa
kebijaksanaan adalah bentuk kebodohan yang paling berbahaya.
Tahun 2025, bagi banyak orang, mungkin adalah tahun
kata-kata: resolusi, slogan, narasi diri yang indah. Namun pergantian menuju
2026 bertanya lebih tajam: apakah kita menjadi orang utama, atau sekadar pandai
berbicara tentang keutamaan? Apakah kita menjadi manusia kosong tanpa makna
atau manusia utama (insan kamil)?
Batu-batu keras yang disepuh cahaya matahari dalam
puisi Sana’i adalah metafora riyadlah, latihan batin. Batu tidak berubah
karena doa semata, tetapi karena kesetiaan pada proses panjang: panas, waktu,
dan ketahanan. Ibn ‘Atha’illah al-Sakandari dalam al-Ḥikam menulis bahwa “buah dari setiap latihan rohani
adalah kejernihan, bukan kenyamanan.” Maka luka, kegagalan, dan kecemasan
sepanjang 2025 barangkali bukan kutukan, melainkan cahaya matahari yang
menyepuh kita—jika kita sanggup bertahan.
Namun Sana’i juga jujur: tidak semua batu akan menjadi
nilam atau akik Yaman. Sebagian tetap batu. Di sinilah kebebasan manusia
bekerja. Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis, menyebut manusia sebagai
makhluk yang dikutuk untuk bebas—bebas menentukan apakah pengalaman
setahun terakhir diolah menjadi makna, atau dibiarkan menjadi beban.
Lebih jauh, Sana’i menghadirkan simbol kapas—lembut,
putih, tumbuh dari air dan tanah. Kapas itu kelak bisa menjadi pakaian wanita
cantik: lambang kemuliaan duniawi, keindahan, dan kehidupan. Namun ia juga bisa
menjadi kain kafan pembungkus yang mati syahid: lambang pengorbanan dan makna
tertinggi. Jalaluddin Rumi, yang sangat dipengaruhi Sana’i, pernah berkata
bahwa bahan yang sama bisa menjadi tirai ego atau kain pembungkus cahaya,
tergantung siapa yang menenunnya. Tahun 2026 adalah alat tenun itu;
benangnya adalah hari-hari kita sendiri.
Maka pergantian tahun bukan nostalgia, melainkan instropeksi
diri (muḥāsabah)—pengadilan sunyi di dalam diri. Apa yang telah kita
pakai untuk menutup aib, dan apa yang justru kita persembahkan sebagai
pengorbanan?
Di tengah dunia yang kian gaduh, pergantian tahun
sering dirayakan dengan kembang api, bukan dengan keheningan. Padahal Sana’i
mengajarkan bahwa perubahan paling menentukan justru terjadi tanpa suara.
Seperti batu yang diam-diam disepuh matahari, seperti kapas yang tak pernah
tahu apakah ia akan menjadi busana atau kafan. Maka ketika 2026 datang, ia
tidak membawa janji apa pun. Kitalah yang menuliskannya.
Apakah kita akan menjadi permata yang memantulkan cahaya, atau sekadar batu
yang pandai menyebut dirinya berkilau? Apakah kita akan mengenakan hidup
sebagai hiasan ego, atau membungkusnya sebagai pengabdian yang sunyi?
Kurun beralih. Dan
kita—sekali lagi—sedang dipanggil untuk menjadi. Selamat tahun baru
2026.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar