Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Rabu, 31 Desember 2025

Kurun Beralih: Dari Batu ke Permata (Renungan Pergantian Tahun 2025–2026)


Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Kurun beralih, bocah yang dulu lemah lembut

Kini telah berakal dan dewasa pula

Ada yang menjadi orang utama

Ada yang hanya fasih berkata-kata

 

Tahun bersalin tahun, batu-batu keras

Kini telah tersepuh cahaya matahari

Moga kelak sangguplah batu-batu ini

Menjadi permata nilam atau akik Yaman

 

Minggu telah silam oleh minggu lainnya

Moga setumpuk kapas yang tumbuh dari air dan tanah

Kelak jadi pakaian dan hiasan wanita cantik

Atau kain kafan pembungkus yang mati syahid

[Hakim Sana`i, abad ke-12 M].

 

Kurun beralih. Seperti denyut keberadaan yang tak pernah hadir sebagai suara, 2025 tidak benar-benar pergi, melainkan berubah bentuk—meluruh dari angka menjadi pengalaman, dari peristiwa menjadi kesadaran. Ia menyerahkan dirinya kepada 2026 bukan sebagai suksesi mekanis, melainkan sebagai tajalli baru, sebab sebagaimana diisyaratkan Ibn ‘Arabi, waktu tidak berulang, melainkan terus diperbarui dalam penciptaan yang tak henti-hentinya.

 

Tidak ada gemuruh kosmik, tidak pula langit yang tersingkap; yang terjadi hanyalah pergeseran batin, sebuah aliran sunyi yang oleh Bergson disebut durée: waktu yang hidup di dalam jiwa, bukan di dinding kalender. Dalam arus inilah manusia bertumbuh sebagaimana digambarkan Hakim Sana’i dalam bait-bait syair di atas— bocah yang dulu lemah lembut, tiba-tiba telah berakal dan dewasa; batu yang keras, perlahan disepuh cahaya; kapas yang tumbuh dari air dan tanah, menunggu takdirnya—menjadi pakaian kemegahan atau kafan kesyahidan.

 

Pergantian tahun bukan sekadar penanggalan administratif, melainkan ritus eksistensial manusia tentang keberadaan untuk terus menjadi. Ia adalah cermin besar yang diletakkan waktu di hadapan manusia: siapakah engkau kini, setelah setahun ditempa dalam segala peristiwa?

 

Hakim Sana’i, penyair-sufi Persia abad ke-12 itu, memahami waktu bukan sebagai garis lurus, melainkan proses pematangan jiwa. Dalam puisinya, ia tidak berbicara tentang sukses dan gagal, melainkan tentang menjadi. Bocah yang tumbuh tidak otomatis menjadi “orang utama”; sebagian hanya menjadi “fasih berkata-kata”.


Inilah kritik halus Sana’i terhadap kedewasaan palsu—akal yang lihai berargumentasi, tetapi miskin hikmah. Di titik ini, Sana’i sejalan dengan Socrates yang sejak awal mengingatkan bahwa kefasihan tanpa kebijaksanaan adalah bentuk kebodohan yang paling berbahaya.

 

Tahun 2025, bagi banyak orang, mungkin adalah tahun kata-kata: resolusi, slogan, narasi diri yang indah. Namun pergantian menuju 2026 bertanya lebih tajam: apakah kita menjadi orang utama, atau sekadar pandai berbicara tentang keutamaan? Apakah kita menjadi manusia kosong tanpa makna atau manusia utama (insan kamil)?

 

Batu-batu keras yang disepuh cahaya matahari dalam puisi Sana’i adalah metafora riyadlah, latihan batin. Batu tidak berubah karena doa semata, tetapi karena kesetiaan pada proses panjang: panas, waktu, dan ketahanan. Ibn ‘Atha’illah al-Sakandari dalam al-ikam menulis bahwa “buah dari setiap latihan rohani adalah kejernihan, bukan kenyamanan.” Maka luka, kegagalan, dan kecemasan sepanjang 2025 barangkali bukan kutukan, melainkan cahaya matahari yang menyepuh kita—jika kita sanggup bertahan.

 

Namun Sana’i juga jujur: tidak semua batu akan menjadi nilam atau akik Yaman. Sebagian tetap batu. Di sinilah kebebasan manusia bekerja. Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis, menyebut manusia sebagai makhluk yang dikutuk untuk bebas—bebas menentukan apakah pengalaman setahun terakhir diolah menjadi makna, atau dibiarkan menjadi beban.

 

Lebih jauh, Sana’i menghadirkan simbol kapas—lembut, putih, tumbuh dari air dan tanah. Kapas itu kelak bisa menjadi pakaian wanita cantik: lambang kemuliaan duniawi, keindahan, dan kehidupan. Namun ia juga bisa menjadi kain kafan pembungkus yang mati syahid: lambang pengorbanan dan makna tertinggi. Jalaluddin Rumi, yang sangat dipengaruhi Sana’i, pernah berkata bahwa bahan yang sama bisa menjadi tirai ego atau kain pembungkus cahaya, tergantung siapa yang menenunnya. Tahun 2026 adalah alat tenun itu; benangnya adalah hari-hari kita sendiri.

 

Maka pergantian tahun bukan nostalgia, melainkan instropeksi diri (muāsabah)—pengadilan sunyi di dalam diri. Apa yang telah kita pakai untuk menutup aib, dan apa yang justru kita persembahkan sebagai pengorbanan?

 

Di tengah dunia yang kian gaduh, pergantian tahun sering dirayakan dengan kembang api, bukan dengan keheningan. Padahal Sana’i mengajarkan bahwa perubahan paling menentukan justru terjadi tanpa suara. Seperti batu yang diam-diam disepuh matahari, seperti kapas yang tak pernah tahu apakah ia akan menjadi busana atau kafan. Maka ketika 2026 datang, ia tidak membawa janji apa pun. Kitalah yang menuliskannya.


Apakah kita akan menjadi permata yang memantulkan cahaya, atau sekadar batu yang pandai menyebut dirinya berkilau? Apakah kita akan mengenakan hidup sebagai hiasan ego, atau membungkusnya sebagai pengabdian yang sunyi?

 

Kurun beralih. Dan kita—sekali lagi—sedang dipanggil untuk menjadi. Selamat tahun baru 2026.

Tidak ada komentar: