Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Selasa, 20 September 2022

Azyumardi Azra Pergi Sebagai Jiwa Yang Abadi

Selasa, September 20, 2022 2


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Dalam suasana negeri masih diterpa awan mendung akibat kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang kian menambah beban hidup masyarakat, kita dikejutkan kabar duka atas berpulangnya cendikiwan ternama Prof. Azyumardi Azra, CBE, ke pangkuan Sang Pengatur Segala, Allah SWT. “Dan duka maha tuan bertahta”, demikian Chairil Anwar menggambarkan suasana lirih akibat ditinggal orang-orang terkasih.

Prof. Azyumardi Azra, CBE, menghembuskan nafas terakhir pada Minggu (18/9/2022), di Rumah Sakit (RS) Serdang di Selangor, Malaysia, saat hendak memenuhi undangan diskusi “Kosmopolitan Islam: Mengilham Kebangkitan, Meneroka Masa Depan”. Kini, Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya, setelah sebelumnya Buya Syafi’i Ma’arif lebih dulu memenuhi panggilan Illahi.

Di forum seminar ilmiah itu, Prof. Azyumardi Azra sebetulnya sudah menyiapkan makalah berjudul “Nusantara Untuk Kebangkitan Peradaban: Memperkuat Optimisme dan peran Umat Muslim Asia Tenggara”. Dalam makalahnya, mantan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini, bicara tentang kemungkinan kebangkitan Peradaban Islam—dia biasa menyebutnya sebagai Kebangkitan Peradaban Islam Jilid II—yang muncul di Asia Tenggara, seperti Indonesia dan Malaysia.

Gagasan kebangkitan Peradaban Islam jilid II sering dia utarakan dalam banyak kesempatan. Saya sendiri sering mendengar hal itu, baik dalam forum seminar terbuka maupun saat kuliah di SPs UIN Jakarta. Menurutnya, kebangkitan Islam akan terjadi hanya bila: pertama, stabilitas politik dan sosial dalam bernegara berjalan dengan aman dan damai, kedua, terciptanya kemandirian dan kemajuan ekonomi, dan ketiga, terinternalisasinya wawasan pengetahuan keislaman yang luas dan rahmatanlilalamin.

Tesis kebangkitan Peradaban Islam jilid II yang dimungkinkan dimulai di wilayah Nusantara, di mana Indonesia sebagai kawasan paling potensial, itu dia kemukakan setelah melihat negara-negara Timur Tengah hingga kini masih disibukan dengan perang dan konflik internal yang tak kunjung usai. Negara-negara Islam kontemporer terkotak-kotak menjadi kepingan persoalan kekinian yang membuat ‘macet’ keran persatuan dan kesatuan umat Islam. Negara-negara Islam masih dicabik perpecahan dan permusuhan. Semua itu makin membuat buram wajah Islam di mata dunia.

Apa yang dipikirkan Prof. Azyumardi Azra di atas cukup membuktikan serta memperkuat kesimpulan Bassam Tibi yang menyebut negara-negara Islam masih dalam kultur pra-industri. Di mana mental sektarianisme dan konservatisme beragama masih menyusup kuat kedalam laku hidup dan alam pikir masyarakat muslim. Dalam bukunya berjudul The Crisis of Modern Islam: A Preindustrial Culture in the Scientific-Technological Age, Tibi memastikan belum ada negara Islam yang masuk kedalam kultur industri yang ditandai kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Hingga saat ini masyarakat Islam masih menjadi konsumen negara-negara maju—bila tidak ingin disebut ‘sapi perah’ orang kulit putih.

Sementara itu, kata Prof. Azyumardi Azra, Barat kian mengalami ‘kemerosotan peradaban’ (the decline of Western civilization), dan kian gugup menyaksikan kebangkitan ekonomi China dalam beberapa tahun belakangan. China memang sedang menjadi kekuatan baru dan penantang kuat dominasi peradaban Barat yang patut diperhitungkan. Saat ini, kebangkitan China terjadi tidak hanya dalam sektor ekonomi, tapi juga sains dan teknologi. Jepang dan India yang semula sebagai kekuatan poros utama Asia berhasil disalip China. Fakta ini membuat Barat, terutama Amerika Serikat (AS), ketar-ketir, dan mulai melakukan tekanan demi tekanan ke negeri yang berjuluk tirai bambu itu.

Wacana tentang ‘kebangkrutan’ peradaban Barat sebetulnya sudah diramalkan oleh banyak ahli dan pengamat internasional. Salah satunya, seperti dikutip Prof. Azyumardi Azra, adalah Fareed Zakaria. Dalam buku yang berjudul The Post American World (2008) Fareed Zakaria meramalkan kejayaan AS sudah habis bersamaan dengan segala kebijakannya yang kontroversial dan merugikan masyarakat dunia.

Kebijakan standar ganda yang sering AS praktekan membawa petaka bagi masa depan bangsanya sendiri. Pada satu kesempaan AS mengkampanyekan demokrasi pada negara-negara muslim, namun pada sisi yang lain kebijakan luar negerinya tidak mencerminkan nilai-nilai demokrasi. AS sering mencampuri urusan dalam negeri bangsa lain dan tidak jarang menciptakan peta konflik hingga menimbulkan agresi militer. Pengalaman pahit yang kini dialami masyarakat Irak adalah buah dari kesewenang-wenangan AS terhadap negara lain.

Dalam situasi seperti diuraikan di atas, Indonesia dan Malaysia, yang mewakili ‘suara dari Asia Tenggara’, mesti segera mengambil bagian dalam percaturan global untuk kemajuan peradaban Islam. Prof. Azyumardi Azra optimistis hanya Indonesia dan Malaysia yang bisa mengambil peran kebangkitan Islam. Optimisme tentang kebangkitan Islam di Nusantara, tentu saja, kata Prof. Azyumardi Azra, mensyaratkan umat Islam membebaskan diri dari psikologi konspiratif dan enclosed mind.

Pada saat yang sama umat Islam harus lebih menumbuhkan orientasi ke depan daripada romantisme tentang kejayaan peradaban Muslim di masa silam. Masa silam hanyalah milik orang terdahulu yang belum tentu sesuai dengan masa kini. Muslim masa kini punya problem kultur yang berbeda dengan para pendahulunya. Karena itu, muslim masa kini harus lebih mengkonsentrasikan diri pada upaya-upaya kreatif dan produktif daripada terus dikuasai sikap defensif, apologetik, dan reaksioner yang sering eksesif. Itu semua, kata Prof. Azyumardi Azra, dilakukan agar masyarakat Islam bisa bersaing dengan bangsa lain.

******

Di mata saya, Prof. Azyumardi Azra adalah guru sejati. Pengabdiannya pada ilmu pengetahuan dan dunia pendidikan begitu tulus. Jalan hidup seperti itulah yang dia pilih hingga akhir hayatnya. Sebagai guru, dia telah memenuhi tugasnya, menerangi kegelapan alam pikiran manusia. Dalam bahasa Sansakerta, guru berasal dari gu berarti tidak berpengatahuan atau gelap, sementara ru bermakna terang. Maka guru adalah orang yang membawa kegelapan kepada jalan terang penuh pengetahuan dan pencerahan. Sebagai murid/mahasiswanya, saya telah banyak mereguk ilmu pengetahuan darinya—bila perlu sampai suara kedunguan dalam diri ini sudah tidak lagi terdengar.

Dia adalah guru bangsa yang selama hidupnya konsisten menjaga moralitas negeri agar berjalan pada nilai-nilai luhur keadaban, seraya tetap berpijak pada jati diri bangsa yang berpedoman pada Pancasila. Suara pembelaannya pada hak-hak minoritas terdengar begitu nyaring hingga tak satu syetan pun mampu merintangi jalannya. Dalam konteks nasional pengaruhnya begitu nyata: dia perkuat demokrasi subtansial dengan cara memberi ruang kebebasan bagi setiap warga negara untuk berpendapat dan berkarya. Sebab kebebasan adalah intisari dari cara bagaimana manusia modern hidup berbangsa, beragama, dan bernegara. Dan atas dasar itulah dia diberi jabatan sebagai Ketua Dewan Pers Indonesia periode 2022-2025 untuk merawat kebebasan dalam mewartakan berita, bersuara, dan menyampaikan pendapat.

Dalam lingkup wawasan keislaman: dia gencar memberi pemahaman yang memadai tentang moderasi beragama (Islam Washatiyah), yang merupakan ciri dari Islam Nusantara (NU) dan Islam Berkemajuan (Muhammadiyah). Kedua ormas keagamaan ini dia sebut sebagai dua sayap Islam Indonesia yang satu sama lain saling mendukung dan melengkapi untuk masa depan masyarak Islam dan keutuhan bangsa. Sementara dalam konteks global: gagasan moderasi beragama yang menjadi ciri khas Islam Indonesia dia perkenalkan ke level dunia. Berbagai diskusi dan dialog internasional mengenai hubungan kerukunan beragama dan relasi agama-agama dia ikuti. Dia berharap terciptanya tata dunia baru yang rukun penuh kedamaian. 

Atas dedikasi dan pengabdiannya pada ilmu pengetahuan dan konsistensinya mempromosikan moderasi beragama dan dialog kerukunan beragama dalam kontek nasional maupun global, Prof. Azyumardi Azra mendapat gelar kehormatan Commander of the Order of British Empire (CBE) dari Ratu Alizabeth II. Gelar kehormatan tersebut diberikan kepada warga sipil dan angkatan bersenjata yang telah berjasa, baik secara nasional maupun internasional. Dengan gelar kehormatan tersebut maka dengan sendirinya mengantarkan Prof. Azyumardi Azra pada level internasional sebagai cendikiawan yang patut diperhitungkan.

Prof. Azyumardi Azra juga dikenal pakar dalam bidang Sejarah Islam. Hingga gelar akademiknya dia raih sebagai Guru Besar Sejarah Islam di UIN Jakarta. Karya tulisnya mengenai “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII” membuka banyak diskusi hangat di kalangan pakar dan akademisi. Keberhasilan Prof. Azyumardi Azra melacak jaringan dan geneologi keilmuan ulama Timur Tengah dengan Nusantara pada akhirnya mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah pujian dari Prof. MC Ricklefs yang mengatakan hal itu kepada Fakhry Ali: “This is a very good dissertation”. Penelitian disertasi Prof. Azyumardi Azra ini menepis asumsi yang umumnya dinyatakan akademisi Barat bahwa Islam Indonesia adalah Islam pinggiran, tidak otentik.

Jaringan keilmuan antara ulama Timur Tengah dengan Nusantara cukup memberi penjelasan, seperti dikatakan Prof. Azyunardi Azra, bahwa Islam Indonesia juga berasal dari sumber yang sama, meski ekspresinya berbeda. Perbedaan ekspresi keagamaan justru menunjukan citra Islam yang amat lentur dan akomodatif terhadap budaya. Salah satu kritik Prof. Azyumardi Azra terhadap para sejarawan dunia adalah absennya pembahasan mengenai sejarah kesultanan dan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Selama ini, penulisan tentang materi Sejarah Peradaban Islam hanya membahas periode Nabi Muhammad, Khulafa Al Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Fatimiyah, Kerajaan Mughal, dan Turki Utsmani. Sementara ulasan mengenai kerajaan dan kesultanan di Nusantara luput dari pembahasan.

*********

Prof. Azyumardi Azra adalah cendikiawan mandiri. Dia konsisten menjaga jarak dari bau harum kekuasaan. Dia lebih setia kepada kebenaran pengetahuan yang diyakininya ketimbang ‘bisikan’ elite negara yang kerap menyalahi hati nurani rakyat. Perlawananya pada korupsi dan diskriminasi, serta pembelaanya pada kaum lemah, mencirikan pribadi yang peduli pada nilai-nilai kemanusiaan. Prof. Azyumardi Azra adalah sosok yang mempuni dalam banyak bidang. Rasanya sulit mencari penggantinya dalam waktu dekat ini. Kepergiannya untuk selama-lamanya tentu meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga, bangsa, tapi juga masyarakat dunia.

Ujung dari perjalanan manusia di dunia adalah kematian. Sebab hidup, kata Martin Heidegger, adalah menuju kematian. Ibarat pengembara merindukan jalan pulang. Begitu juga setiap manusia merindukan ruang kembali pada Yang Maha Suci. Manusia harus menyempurnakan perjalanan panjangnya di dunia dengan kembali pada asal primordialnya, yaitu kampung spiritual. 

Dalam literatur agama, kematian adalah perjumpaan aku (hamba) dengan Tuhan, yang menakutkan hingga membuat kita gentar dan gemetar. Tuhan dirasakan sebagai sesuatu yang dahsyat, kudus, dan tak terhampiri. Inilah yang disebut oleh Rudolf Otto sebagai mysterium tremendum, pengalaman yang menggetarkan saat kehadiran Tuhan. Namun, di kalangan mistikus Islam (sufi), kematian adalah perjumpaan dengan Sang Kekasih (Tuhan). Gejolak rindu sang pecinta hanya bisa ditebus oleh temu melalui momen kematian. Inilah yang disebut Otto, sebagai mysterium fascinosum, pengalaman yang mengasyikan dan memesona hati.

Perihal kematian, mistikus besar Jalaluddin Rumi pernah berdendang seperti ini:

Ketika melihat jenazahku diusung,

Janganlah menangis karena kepergianku

Aku bukan pergi

Aku telah sampai pada Cinta Yang Abadi

 

Prof. Azyumardi Azra tidak pergi. Dia masih ada bersama kita. Lewat karya dan tulisannya kita masih akan tetap bisa membersamainya. Takdir tubuh memang hancur, lebur bersama amuk waktu. Tapi karya cipta beruba buku akan tetap abadi meski melewati ribuan waktu. Prof. Azyumardi Azra, engkau pergi sebagai jiwa yang abadi. Selamat jalan, prof!  

 

Rabu, 17 Agustus 2022

Kemerdekaan Minus Pembebasan

Rabu, Agustus 17, 2022 1


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Indonesia boleh saja merdeka dari belenggu para penjajah. Tapi negeri yang kita diami ini tidak boleh luput dari perjuangan pembebasan yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa. Kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, ketidak-adilan, korupsi dan diskriminasi masih menyandera negeri ini. Kemerdekaan minus pembebasan.

Kemerdekaan dan pembebasan mengandung makna yang berbeda. Keduanya tidak bisa diidentikan, meski sering dipertukarkan. Yang pertama bermaksud keluar dari tekanan pihak lain (kolonial), yang kedua lebih menonjolkan partisipasi bersama untuk tujuan bersama. Yang pertama ingin lepas dari cengkeraman asing, yang kedua berjuang melawan penjajahan yang dilakukan anak bangsa sendiri.

Kita masih terus berjuang meninggikan martabat negeri dari sekumpulan orang yang gemar melakukan “penghisapan” dan penyelewengan; atas tanah, air, udara, dan apa saja yang terdapat di atas, dan dalam perut bumi. Perampasan, perampokan, dan eksploitasi atas semua aset negeri, hingga kini, masih terjadi dan itu dilakukan elite berdasi dan cukong berduit.

Banyak orang berkata, kejahatan preman berpangkat jauh lebih berbahaya dan menyengsarakan rakyat. Faktanya memang begitu. Korupsi, eksploitasi dan bentuk penyalahan wewenang lainnya dipertontonkan secara telanjang di depan mata kita. Moralitas dihilangkan, tata nilai diabaikan. Yang ada dalam benak mereka adalah bagaimana mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya.

Mereka itu, kata Bung Karno, adalah sebenar-benarnya penjajah. Hobinya menjarah kekayaan alam negerinya sendiri, demi, dan untuk tujuan pemenuhan syahwat duniawi. Nafsu berburu materi tak pernah padam meski harus “menumbalkan” hidup dan kehidupan wong cilik. Mereka tega memainkan perasaan rakyat dengan obral janji dan harapan palsu. Mereka adalah musuh dalam selimut yang sewaktu-waktu muncul menikam dari dalam. Tak mengenal ampun, tak mengerti belas-kasihan.

Penjajahan sendiri punya banyak wajah, dengan bentuk dan ragamnya yang berbeda-beda. Ada yang terlihat secara kasat mata, ada yang bersembunyi di balik kehalusan tatak rama. Penjajahan dalam wujudnya yang nyata bisa kita waspadai. Namun yang tersembunyi di balik topeng “pemikat” sulit diantisipasi. Seperti halnya duri dalam daging yang bila dibiarkan akan terasa sakit. Begitu juga dengan musuh yang datang dari dalam bila dibiarkan makin bebas menghisap kekayaan bangsa sendiri.

Penjajahan dalam bentuknya yang tersembunyi memang suka memerdaya kesadaran kita. Menutupi pikiran waras manusia. Kadang kita tertipu oleh tampilan yang memesona, atau oleh senyuman manis yang tersungging. Padahal di balik itu semua menyimpan perangkap yang siap menjerat masa depan bangsa.

Lihat saja bagaimana kelakuan para elite negeri ini. Mereka hidup penuh dengan sopan santun. Tapi semua kebohongan, kedengkian, dan kelicikan tersembunyi di balik tatak rama yang menawan. Ibarat lalat yang berebut kotoran, mereka (elite) berlomba berebut kepalsuan; busuk dan penuh tipu daya. Mereka tak ada yang mau mengalah. Tak ada yang ingin dikalahkan. Satu dengan yang lain menjadi musuh bagi yang lainnya.

Watak retak elite tak mudah diobati. Keputusan mereka sulit dipahami. Kata-katanya bercabang, susah dipercaya. Janji-janjinya membuai, lalu memuai mengikuti terpaan arah angin. Apa yang diucapkannya dalam sekejap waktu bisa berubah. Entah apa jadinya bila negeri ini diurus pemimpin seperti itu. Apalagi bila para elite dalam situasi saling curiga. Maka masyarakat jadi korban, hanya target obral janji murahan belaka. Tak ada keinginan untuk menyejahterakan, apalagi memberi keamanan dan kenyamanan pada rakyat.

77 tahun sudah kita merdeka. Lepas bebas dari invasi asing. Tiap tahun kita memperingati momen penting dalam sejarah bangsa ini. Semangat kemerdekaan diekspresikan dalam banyak perlombaan; mulai dari balap karung, tarik tambang, makan kerupuk, panjat pinang, hingga karnaval budaya. Upacara menaikan Bendera Merah Putih juga dilakukan di seluruh sekolah di pelosok Indonesia. Bahkan presiden dan bawahannya tak ketinggalan merayakannya. Itu semua dilakukan sebagai tanda syukur atas kemerdekaan yang sudah diraih bangsa ini.

Namun, hakikat kemerdekaan bukan sekedar seremonial dan "upacara" basi-basi belaka. Hakikat kemerdekaan adalah bebas dari kemiskinan, kebodohan, ketidak-adilan, korupsi, diskriminasi, eksploitasi, dan perilaku elite yang menjadi beban bagi masyarakat banyak. Selama semua itu masih terjadi di persada ibu pertiwi, maka peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) yang rutin dirayakan setiap 17 Agustus, hanyalah embel-embel belaka. Itulah Kemerdekaan Minus Pembebasan.

Selamat HUT RI ke 77. Betapapun negeri ini ditimpah cobaan berkali-kali, semoga kita tetap bisa pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat. Merdekaaa....!!!

Jumat, 03 Juni 2022

Aare dan Eril

Jumat, Juni 03, 2022 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky


Tak ada kesedihan yang paling menusuk inti hati selain rasa kehilangan. Kesedihan, kata Al Kindi (dalam Al Hillah Lidaf’i Al Ahzân), muncul oleh sebab hilangnya yang dicinta dan luputnya yang didamba.

 

Kehilangan adalah bagian dari garis hidup yang niscaya dilalui, oleh siapa pun, tak terkecuali. Entah kapan, atau di mana. Segera, atau masih dalam waktu lama. Semua sedang menunggu gilirannya, seluruhnya.

 

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, selain ketabahan seorang ayah yang menyusuri Aare, inci demi inci, sedepa demi sedepa, sementara hatinya porak, tak tahu di titik mana buah hatinya itu berada.

 

Tak ada yang lebih taban dari hujan bulan Juni, selain ketabahan seorang ibu yang iklas melepas pergi anak laki-lakinya, sementara hatinya koyak, tak tahu di kedalaman berapa cahaya jiwanya itu terkapar.

 

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, selain ketabahan seorang adik yang rela terpisah dari kakak satu-satunya, sementara hatinya remuk tak berdaya menerima kenyataan hidup yang pahit ini.

 

Di tepi sungai Aare mereka duduk termenung, dalam sepi, dalam sunyi. Dan kali ini, hening bicara untuk dirinya sendiri. Hening yang mengatakan bahwa mereka tak perlu lagi menjelaskan segala sesuatu kepada satu sama lain. Hanya doa yang dirapal untuk satu nama, Eril.

Senin, 02 Mei 2022

Idul Fitri dan Kampung Spiritual

Senin, Mei 02, 2022 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Setelah sekian lama para pengembara pergi berkelana mencari nafkah bumi, kini, mereka harus kembali pulang ke kampung halaman, mudik ke tempat asal kelahiran. Inilah arus kembali, memanggil para pengelana, pulang ke rumah kenangan.

 

Idul Fitri adalah momen kembali, baik secara kultural maupun spiritual. Sebagai peristiwa kebudayaan, Idul Fitri melibatkan gelombang massa yang begitu besar, yang datang silih berganti, dari, dan menuju arah daerah yang berbeda-beda.

 

Saya tidak tahu persis kapan fenomena sosial ini dimulai. Saya hanya tahu telah terjadi kesadaran kolektif dari para pemudik untuk kembali pulang ke pangkuan kampung halaman; tak peduli berapa jarak yang harus ditempuh; tak mengapa betapa sulit jalan yang harus dilalui. Semua rintangan yang datang menghadang dianggap bukanlah apa-apa.

 

Rindu pulang akan rumah kelahiran adalah panggilan yang datang dari dalam diri, yang didorong oleh suara hati yang paling jujur. Semakin panjang jarak yang ditempuh para pengembara, menjauhi tempat masa kanak-kanak, semakin menjadi rindu untuk segera pulang; bertemu orangtua, keluarga, sanak saudara, dan guru-guru tercinta.

 

Pepatah lama mengatakan: “Lebih baik hujan batu di negeri sendiri, daripada hujan emas di negeri orang”. Lebih baik memilih hidup yang dilumuri jalan berliku di kampung sendiri, ketimbang bergelimang harta dan kemewahan namun jauh dari tempat kelahiran. “di ribuan kilo, angin kabut berlainan // di kampung halaman, rembulan lebih benderang (Zhou Fuyuan, dalam Purnama di Bukit Langit).

 

Adakalahnya kita mesti pergi menjauh dari rumah untuk sebuah cita-cita yang telah disimpan lama di alam al khayyâl (imajinasi). Adakalanya kita juga harus kembali mencari jejak lama yang pernah ditinggalkan selaksa purnama. “Kam min Manzilin fî al Ardi Ya’lifuhu al Fatâ, wa Hanînuhu Abadan li Awwali Manjilin”. Banyak sudah tempat disinggahi para pengelana (pemuda), tapi rindu rumah kelahiran tidak akan pernah hilang dalam ingatan.

 

Kepulangan kita di hari yang fitri ini bukan sekedar pulang ke kampung halaman untuk memenuhi kewajiban kultural, tapi juga untuk saling memaafkan. Boleh jadi pernah terselip kata yang melukai orangtua, atau prasangka buruk yang tak berdasar kepada tetangga dan guru-guru kita. Dalam situasi seperti itu, berjabat tangan untuk saling memaafkan adalah bagian terdalam dari kerendahan hati. Keangkuhan hanya membuat kita angkuh, dan rapuh.

 

Idul Fitri memaksa para pengembara kembali pulang ke kampung sosial, tempat kelahiran. Tetapi arah kembali yang sejati (yaitu kampung spiritual) tidak boleh luput dari ingatan kita. Sebagai manusia kelana, yang datang dari alam ruhani (sebelum alam rahim), pengembaraan kita tiba di alam bumi ini telah banyak dilumuri dosa dan kesalahan.

 

Saat masih di alam ruhani kita sempat mengucap ikrar setia hanya kepada Sang Pencipta, bersaksi selamanya hanya kepada Dia tempat kembali, dan berjanji mengabdi hanya kepada Dia Sang Pengatur segala. Tetapi pengembaraan kita di alam fana ini membuat semua ikrar dan janji setia itu terlupakan oleh karena hilangnya cahaya hati yang tertutup noda hitam.

 

Dalam suasana seperti itu, perlu kiranya kita segera kembali kepada titik paling suci (Tuhan) sebagai makna terdalam dari pagelaran Idul Fitri yang cenderung kita rayakan sebagai fenomena kultural belaka. Idul Fitri mengingatkan kita akan kampung spiritual, tempat muasal kita sebelum mengembara di alam fana.