Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Senin, 28 Juni 2010

Buku Mentor Jadi Sukses

Senin, Juni 28, 2010 0

SETIAP orang dalam hidupnya selalu bercita-cita meraih sukses dalam segala hal. Namun, tak sedikit dari mereka tahu bagaimana cara mencapai kesuksesan itu.

Terkadang orang bersungguh-sungguh dalam bekerja, banting tulang siang dan malam, hingga lupa makan dan keluarga. Tapi hasilnya masih saja jauh dari yang diharapkan.

Ada juga orang yang memiliki bakat dan potensi besar yang terkandung di dalam dirinya, tapi ia selalu melakukan hal yang salah dalam bertindak. Dan ketika ia menemukan hal yang tepat, ia menjadi sukses dan berjaya.

Bekerja keras lebih dari 15 jam dalam sehari bukan jaminan seseorang akan menjadi sukses. Lalu apa yang salah? Apa yang harus dilakukan? Dan bagaimana cara melakukanya? Buku Think Like A Champion! buah karya Donald Trump, pengusaha dan motivator ternama, menawarkan solusi jitu tentang apa dan bagaimana cara kita meraih kesuksesan dalam hidup.

Bagi Trump, bekerja keras adalah satu hal, dan bekerja cerdas merupakan hal lain. Keduanya tidak bisa disamakan meski terkadang harus seiring sejalan. Orang yang bekerja keras bukan jaminan ia mengetahui bagaimana caranya kesuksesan itu harus diraih.

Hanya orang yang bekerja cerdaslah yang mengetahui bagaimana ia harus bekerja dan meraih sukses. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari pikiran-pikiran cerdas Trump yang akan mengarahkan kita pada kesuksesan.

Apa yang telah dilakukan Trump dalam hidupnya hingga meraih sukses, ia tulis ulang dalam buku ini. Ia berharap setiap orang bisa mengalami kesuksesan seperti yang ia alami.

Kesuksesan bukan suatu rahasia yang harus disembunyikan dari setiap orang atau suatu hal yang mustahil dilakukan oleh siapa saja.

Setiap orang bisa mencapai sukses dengan syarat mengetahui peluang dan tantangan yang dihadapinya. Orang sukses adalah orang yang bisa membaca peluang dan mengerti bagaimana cara memanfaatkan peluang itu.

Setiap peluang ia jadikan kesempatan emas untuk mengembangkan bakat dan potensi dalam dirinya, dan menerapkannya dalam dunia nyata.

Orang yang sukses juga adalah orang yang benar-benar mengetahui tantangan dan mengerti bagaimana cara menghadapi tantangan itu.

Setiap tantangan ia jadikan motivasi dan kekuatan untuk tidak meneyerah. Tantangan mengharuskan kita untuk maju, tak peduli apa yang terjadi di sekitar kita atau pada kita.

Sebagai mentor, motivator, dan pebisnis andal, Trump sering melakukan hal yang baru dalam hidupnya, dan hal itu selalu ia jadikan tantangan yang harus dihadapinya. Melakukan hal baru bukan berarti tanpa perencanaan matang. Perencanaan yang matang atas segala jalan yang akan kita lalui merupakan cara yang pasti untuk mencapai sasaran yang kita targetkan.

Keberhasilan Trump dalam dunia bisnis telah menjadikan dirinya brand dan mantra bagi kesuksesan. Visinya untuk sukses sekaligus menikmati sisa hidupnya benar-benar telah menginspirasi banyak orang, khususnya orang Amerika.

Sebagai mentor bisnis yang profesional, Trump tak ragu-ragu berbagi kiat, taktik, strategi, dan rahasianya guna membantu kita mengembangkan pola pikir juara yang dapat mengantarkan kita pada kesuksesan sinambung dan berkelanjutan. Dengan membaca buku ini, seolah-olah kita sedang dibimbing langsung oleh Trump untuk bisa mempelajari hal-hal apa saja yang dibutuhkan untuk selalu sukses dan menjadi nomor satu.

----------------------------------------------------------------------

 

Dimuat di Koran Jakarta, 28 Juni 2010

 

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.


Judul    : Think Like A Champion! 

 

Penulis : Donald Trump 

 

Penerbit : Daras Books 

 

Edisi : I, Januari 2010 

 

Tebal : 211 halaman

 

Minggu, 30 Mei 2010

Meruntuhkan Budaya Patriarkhi Lewat Ilmu Medis

Minggu, Mei 30, 2010 0

BUDAYA patriarkhi meyakini laki-laki sebagai mahluk superior daripada perempuan. Namun, Marianne J. Legato, professor dari Colombia University membantah tesis itu lewat buku ini. Ia menyimpulkan, laki-laki secara medis tidak lebih superior daripada perempuan. Sebab sifat alamiah laki-laki rapuh dan sebagian besar meninggal lebih cepat dibandingkan dengan perempuan.

Penyakit jantung yang diderita laki-laki lanjut usia merupakan salah satu penyebabnya. Namun, pada usia muda-pun, “pintu” kematian datang lebih cepat melalui beberapa penyakit, seperti kanker, depresi, stres, dan penuaan dini.

Salah satu penyebab biologisnya adalah gen. Kaum hawa memiliki dua kromosom X, sedangkan laki-laki hanya satu. Akibatnya, cacat bawaan yang terkandung dalam mutasi salah satu kromosom bisa di-cover oleh kromosom yang lain.

Hasil penelitiannya juga membuktikan betapa sistem kekebalan tubuh pada mereka sangat rentan. Laki-laki memiliki kemungkinan terserang penyakit jantung koroner pada pertengahan usia 30-an tahun, 15, sampai 20 tahun lebih awal daripada perempuan. Kaum adam juga memiliki kemungkinan meninggal akibat penyakit dua kali lebih besar dibandingkan dengan perempuan.

Penelusuran William R. Hazzard, Ketua Department of Internal Medicine di Bowman Gray School of Medicine of Wake Forest University, Winston-Salem, North Carolina, menyimpulkan hal sama. Cuma, penelitianya tidak semata fokus pada manusia, melainkan juga pada binatang (zoologi). Terbukti, umur jantan pada kera, burung kenari, katak, dan lainya jauh lebih pendek dari betina. William mengklaim, temuanya itu juga merupakan hal yang universal dalam zoologi.

--------------------------------------------------------------------

 

Dimuat di MAJALAH GATRA, edisi 20-26 Mei 2010 

 

Oleh Mohamad Asrori Mulky, Anggota International Interreligious Federation World and Peace, dan Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.


 

Judul : Why Men Die First

 

Penulis : Marianne J. Legato

 

Penerbit : Daras Books

 

Tahun : I, Januari 2010

 

Tebal : 282 halaman

 

Minggu, 16 Mei 2010

Tragedi Pemusnahan Etnis 1740

Minggu, Mei 16, 2010 0

Tahun 1740 merupakan tahun paling kelam bagi warga Tionghoa di Batavia (Jakarta) waktu itu. Tidak kurang dari 10 ribu warga Tionghoa—pria, perempuan, lansia hingga bayi yang baru lahir— dibunuh VOC secara kejam tanpa belas kasihan.

Semua orang Tionghoa, baik bersalah maupun tidak, dibantai dalam peristiwa tersebut. Tragedi kemanusiaan itu akhirnya memaksa seorang akademisi dari Belanda, Johannes Theodorus Vermelulen, meneliti lebih lanjut akar persoalan meletusnya peristiwa 1740 itu.

Buku Tinghoa di Batavia dan Huruhara 1740 merupakan hasil penelitian Vermelulen tersebut. Ketajaman analisis dan keakuratan datanya telah menjadikan buku ini rujukan utama, terutama bagi siapa saja yang ingin mendapatkan kajian akademis terlengkap dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai tragedi kemanusiaan yang menimpa warga Tionghoa di Batavia.

Penelitian Vermelulen dianggap berhasil menggambarkan tragedi berdarah yang menimpa warga Tinghoa bukan sekadar pada objektivitas peristiwanya, tetapi juga pada penyebab, jalan peristiwa, orang-orang, dan lembaga-lembaga yang terlibat, kondisi psikologis zaman, dampak dan sebagainya.

Deskripsi dan data akurat yang diungkap Vermelulen menunjukkan bahwa peristiwa itu memang layak dicatat sebagai lembaran hitam dalam pengalaman sejarah kehidupan orang Tionghoa di Indonesia. Tragedi 1740 bermula ketika pemerintah VOC dan imigran Tionghoa di Jakarta saling menyalakan bara api.

Tepatnya ketika dengan tiba-tiba harga gula di pasaran internasional menurun drastis akibat membeludaknya gula Malabar (India). Hal itu membuat pabrik-pabrik gula yang ada di Batavia mengalami kebangkrutan besar-besaran sehingga banyak warga Tionghoa yang sedang mencari peruntungan di Batavia kesusahan.

Dari jumlah 80 ribu orang, sebagian besar menjadi pengangguran dan gelandangan. Dampaknya, jumlah kriminalitas di Batavia makin meningkat tajam.

Kemudian, VOC membuat peraturan baru, yaitu membatasi kedatangan warga Tionghoa ke Batavia. Mereka yang tinggal di Batavia harus memiliki izin tinggal, berusaha, atau berdagang.

Tapi, bagi para pejabat VOC, hal itu justru dijadikan kesempatan untuk melakukan pungli besar-besaran. Akibatnya, muncul perlawanan dari warga Tionghoa di Batavia dan sekitarnya.

Mereka lantas membentuk kelompok-kelompok terdiri dari 50 sampai 100 orang dan mempersenjati diri untuk melawan Belanda. Perlawanan itu menjadi alasan bagi tentara dan pegawai-pegawai VOC untuk melakukan tindakan semenamena terhadap etnis Tionghoa. Pada 10 Oktober 1740, Gubernur Jenderal Adrian Volckanier mengeluarkan surat perintah untuk membunuh dan membantai orang-orang Tionghoa.

Buku ini membuktikan bahwa ternyata Jakarta sebagai kota yang berumur lebih dari 400 tahun pernah menjadi saksi bisu terjadinya pembantaian berdarah terhadap warga Tionghoa yang dilakukan VOC.

----------------------------------------------------------------------------

 

Dimuat di Koran Jakarta, Jumat, 14 Mei 2010

Mohamad Asrori Mulky, peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta


Judul : Tionghoa di Batavia dan Huru Hara 1740 Penulis : Johannes Theodorus Vermeulen Cetakan : I, Januari 2010 Penerbit : Komunitas Bambu Tebal : xxx + 146 hlm

 

Minggu, 14 Februari 2010

Menguatkan Jalinan Sosial dengan Maaf

Minggu, Februari 14, 2010 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Peresensi adalah pegiat di LSIK (Lembaga Studi Islam dan Kebudayaan)

Senin, 15 Februari 2010

 


Judul               : Effective Apology: Merajut Hubungan, Memulihkan Kepercayaan

Penulis           : John Kador

Penerbit         : Alvabet

Cetakan         : I, November 2009

Tebal              : 332 halaman

 

Siapa pun tidak bisa menyangkal bahwa manusia diciptakan secara sempurna di antara makhluk Tuhan lainnya. Tapi tidak ada yang bisa menjadi sempurna untuk menjalani hidup di dunia ini. “Manusia terbaik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan dosa dan kesalahan,” kata Nabi Muhammad, “tapi manusia yang menyadarinya, berjanji untuk tidak melakukannya lagi, dan segera meminta maaf.”

 

Melalui buku Effective Apology: Merajut Hubungan, Memulihkan Kepercayaan, John Kador mendedahkan keterampilan “permintaan maaf” kepada pihak lain, utamanya dalam dunia pekerjaan dan bisnis.

 

Bagi Kador, permintaan maaf yang menyangkut masalah pribadi, yang lingkup dan tantangannya lebih kecil, mungkin akan lebih mudah diucapkan orang. Apalagi jika orang yang bersangkutan tergolong individu yang tidak memiliki pengaruh besar. Tapi, bagaimana jika hal itu terjadi pada sebuah perusahaan bisnis beken yang menyangkut harkat dan martabat perusahaan tersebut, atau menimpa seseorang yang memiliki status sosial yang cukup tinggi? Inilah yang jadi fokus pembahasan Kador dalam buku ini.

 

Permintan maaf adalah perbuatan yang mengulurkan diri kita kepada orang lain karena kita mementingkan hubungan baik ketimbang kebutuhan untuk menjadi benar tanpa noda. Permintaan maaf mensyaratkan kerendahan hati dan kepasrahan jiwa dari orang bersangkutan. Dan ini bukan berarti berpikir rendah akan diri kita sendiri, membiarkan kita diinjak-injak, dicemooh, ataupun memosisikan diri kita lebih hina dari orang lain, tapi lebih dari itu, targetnya adalah memikirkan keberlanjutan kemaslahatan antara kita dan orang lain.

 

Permintaan maaf harus dilakukan secara tulus dan ikhlas yang bersumber dari hati nurani yang paling dalam, bukan paksaan atas pertimbangan untung dan rugi. Dalam buku ini, Kador menggarisbawahi bahwa bukan seberapa banyak kita harus melakukan permintaan maaf kepada orang lain, tapi bagaimana kita meminta maaf yang efektif dan membawa hasil kebaikan. Permintaan maaf efektif dalam rumusan Kador mensyaratkan terpenuhinya situasi yang harmonis dan terciptanya kebaikan. Yaitu, sebuah permintaan maaf yang memulihkan ketegangan dalam hubungan, menciptakan peluang untuk maju, dan memberi hasil yang lebih baik bagi semua pihak tanpa pandang bulu.

 

Buku ini mengajak kita berpikir tentang nilai mendasar suatu permintaan maaf, bagi kita dan sang penerima, dengan menelusuri secara terperinci dimensi-dimensi kunci–yang disebut Kador sebagai 5 P–permintaan maaf yang tulus, permintaan maaf yang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan dan memperbarui. Kador juga memberikan kiat-kiat menerima atau menolak permintaan maaf, sepuluh hal yang harus dan tidak boleh dilakukan (dos and don’ts) perihal permintaan maaf, serta kuis untuk menguji AQ (Apology Quotient) kita. Kesemuanya membantu kita untuk bagaimana bersikap baik dalam meminta dan memberi maaf.

 

Buku ini memberi tahu kita hal-hal pokok dalam merangkai permintaan maaf yang efektif serta membuahkan hasil di dunia kerja dan bisnis. Buku ini dilengkapi lebih dari 70 contoh permintaan maaf yang baik, buruk, maupun yang tidak efektif. Semuanya itu dijelaskan dengan begitu mengagumkan oleh Kador.

Senin, 08 Februari 2010

Pelobi Israel Menjajah Amerika

Senin, Februari 08, 2010 0
Dimuat di MAJALAH GATRA, 07 Februari 2010
Oleh Mohamad Asrori Mulky
Anggota International Interreligious Federation World and Peace, dan Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.

Judul buku      : Zionisme dan Keruntuhan Amerika
Penulis           : James Petras
Penerbit         : Zahra Pustaka, Jakarta
Cetakan         : I, November 2009
Tebal buku     : xiv + 271 halaman


Dalam peta politik Amerika, ada tiga organisasi Yahudi yang punya pengaruh sangat kuat di Kongres dan pemerintahan. Bukti kaum minoritas mampu membungkam kelompok mayoritas.

Di dunia ini, tiada negara yang pengaruhnya di Amerika Serikat sedemikian kuat kecuali Israel. Kekuatan lobinya di Kongres tanpa disadari telah memperbudak negara Super Power itu. Ini dibuktikan, antara lain, oleh John J. Mearsheimer dari University of Chicago dan Stephen M. Walt dari Harvard University.

Kedua pakar itu pernah menulis risalah berjudul "The Israel Lobby and US Foreign Policy” yang sempat menghebohkan warga AS. Dikatakan, meski populasi Yahudi Amerika hanya tiga persen dari hampir 300 juta penduduk Amerika, lobi mereka jauh lebih kuat dibandingkan dengan kelompok mana pun.

Inilah yang disebut James Petras sebagai “Mayoritas yang Dibungkam”. Dalam buku ini, James menyodorkan sejumlah bukti tentang bagaimana “yang minoritas” (Yahudi Amerika) mengendalikan “yang mayoritas” (warga Amerika dan pemerintahanya). Seperti kedua profesor tadi, James juga berkesimpulan, lobi Yahudi memiliki peran dominan di Kongres. Salah satu hasilnya adalah invansi AS ke Irak yang tanpa sebab.

Lalu apa yang membuat Yahudi yang minoritas bisa mengendalikan Amerika, bahkan dunia? Theodere Hezl, pencetus negara Zionis Israel menjelaskan, ada tiga hal yang harus dikuasai untuk menguasai dunia. Pertama media. Sebagai wartawan internasional, ia tahu peran media sangat mendukung bagi perjuangan negara zionis.

Majalah Gatra


Kedua, kekuatan lobi. Lobi sangat berpengaruh dalam terbentuknya negara Yahudi. Kekuatan lobi juga yang membuat pemerintah Inggris menyerahkan sebagian tanah Palestina ke tangan Yahudi. Ketiga adalah ekonomi. Faktanya, segala aksi Yahudi selalu disokong pengusaha-pengusaha kaya Yahudi dan Amerika Serikat.

Terkait dengan lobi itu, menurut James, sekurang-kurangnya ada dua organisasi Yahudi yang sangat menentukan sikap luar negeri Amerika, yakni JINSA (Jewish Institute for National Security Affairs) dan CSP (Center for Security Policy). Keduanya memiliki hubungan amat erat dengan CPD (Committee on the Present Danger), tempat berkumpulnya kelompok “Hawkish” Gedung Putih dan Pentagon seperti Paul Wolfowitz, Dick Cheney, Karl Rove, dan Richard Perle.

Di bawah JINSA dan CSP ada AIPAC (American Israel Public Affairs Committee). AIPAC dibentuk oleh komunitas Yahudi Amerika untuk menjaga kepentingan Israel. AIPAC memiliki lima atau enam pelobi resmi di Kongres dengan staf berjumlah 150 orang, dengan dukungan anggaran tahunan sebesar US$ 15 juta. Tujuanya, melobi Kongres dan pemerintah untuk memperoleh dukungan pembentukan negara Zionis Israel di tanah Palestina.

Menurut James, organisasi-organisasi Zionis ini memiliki tiga agenda besar yang harus dilakukan oleh setiap pemerintahan di AS: selalu mendukung Israel dalam segala hal, selalu menambah anggaran militer Israel, dan selalu menentang traktat kontrol senjata yang bisa merugikan. Organisasi-organisasi ini pula yang mengontrol setiap kebijakan presiden, apakah menguntungkan Israel atau sebaliknya. Jika mau kekuasaannya tetap aman, presiden harus menjalankan ketiga agenda tadi. Kalau tidak, jangan harap dalam pemilu berikut dia akan terpilih lagi.

Tak ada yang berani mengkritik campur tangan AIPAC di Amerika. Kalau ada, orang itu akan dicap sebagai anti-semit. Sebuah survei yang dilakukan Eric Alterman, profesor Inggris di Brooklyn College, mengungkapkan hanya lima dari 66 komentator media massa besar di Amerika yang berani mengambil posisi pro-Arab dan menentang setiap langkah Israel soal Palestina. Justru sebaliknya, media ternama seperti Wall Street Journal, The Chicago Sun-Times, The Washington Times, bahkan New York Times, secara rutin menulis tajuk pro-Israel dan menutupi keburukannya.