Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Selasa, 13 Juli 2010

Kado Seabad Muhammadiyah

Selasa, Juli 13, 2010 0

PADA 3-8 Juli lalu Muhammadiyah menyelenggarakan muktamar ke-46 di Jogjakarta. Di muktamar kali ini, usia Muhammadiyah sudah mendekati satu abad, tepatnya 98 tahun menurut hitungan Masehi dan seratus tahun menurut hitungan hijriah. Muhammadiyah didirikan KH Ahmad Dahlan pada 8 Zulhijah 1330 atau 18 November 1912.

 

Ribuan peserta dari berbagai daerah memadati Kota Gudeg. Selain memilih pucuk pimpinan organisasi untuk periode lima tahun berikutnya, muktamar membahas berbagai masalah internal keorganisasian, keindonesiaan dan keumatan, berikut peluang dan tantangannya pada masa mendatang.

 

Sudah barang tentu banyak ucapan selamat diberikan kepada Muhammadiyah dengan berbagai ekspresi yang berbeda-beda, sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Salah satunya dalam bentuk pemikiran seperti yang terhimpun dalam buku Satu Abad Muhammadiyah; Mengkaji Ulang Arah Pembaruan yang ditulis Dawam Rahardjo dan para penulis muda ini.

 

Buku ini bermula dari obrolan sederhana antara dua pemikir yang berbeda generasi, Dawam Rahardjo dan Moh. Shofan tentang perkembangan pemikiran Islam Indonesia, khususnya di lingkungan NU dan Muhammadiyah. Pada kesempatan itu, Shofan usul agar Dawam menuliskan pemikirannya soal Muhammadiyah, khususnya untuk menyambut perhelatan muktamar ke-46 dan momentum seabad Muhammadiyah.

 

Dawam kemudian mewujudkan pemikirannya dengan judul tulisan, Mengkaji Ulang Muhammadiyah sebagai Organisasi Islam Berorientasi Pembaruan. Tak pelak tulisan Dawam mendapat ruang publisitas dan ditanggapi anak-anak muda yang berasal dari beragam elemen -meski pada awalnya berharap agar anak-anak muda Muhammadiyah sendiri yang menanggapi. Secara keseluruhan, tulisan yang terhimpun dalam buku ini bermuara pada satu kesimpulan bahwa Muhammadiyah di usianya yang seabad telah mengalami disorientasi dari organisasi pembaruan menuju organisasi konservatif. Meskipun, ada sebagian penulis dalam buku ini yang masih malu-malu mengatakannya.

 

Seabad bisa dipahami sebagai periode abad kedua untuk Muhammadiyah. Suatu periode yang diharapkan bisa melampaui periode-periode sebelumnya yang telah melewati beragam dinamika zaman yang penuh perjuangan -baik di era perjuangan kemerdekaan pada masa kolonial, era setelah kemerdekaan pada masa Orde Lama dan Orde Baru, maupun era reformasi hingga kini. Fase terakhir ini bisa dibilang sebagai fase paling menentukan masa depan Muhammadiyah.

 

Atas dasar itu, para penulis mengusulkan agar dalam menghadapi pergantian abad menuju fase baru ini, Muhammadiyah diharapkan untuk merumuskan ulang orientasi dakwah dan tajdid yang telah menjadi fokus gerakannya selama ini. Dengan demikian, Muhammadiyah akan mampu melintasi zaman dengan penuh kesiapan dan rasa percaya diri untuk menghadirkan risalah Islam sebagai rahmatan lil-alamin.

 

Dalam tulisannya, Dawam melancarkan kritik kepada Muhammadiyah, paling tidak pada dua hal. Yakni, misi praksis Muhammadiyah dan misi teologisnya. Secara praksis, Muhammadiyah menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan. Di usianya yang seabad ini, Muhammadiyah tercatat memiliki belasan ribu sekolah TK-SMA, 167 perguruan tinggi, ratusan panti sosial, dan ribuan amal usaha lainnya, termasuk yang berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat di berbagai daerah.

 

Namun, menurut Dawam, tidak ada suatu konsep pendidikan distingtif di Muhammadiyah. Tidak ada konsep mengenai sistem pendidikan yang dikatakan sebagai konsep yang dianut oleh Muhammadiyah. Yang ada hanya wujud fisik atau suatu proyek sosial biasa yang dilakukan oleh banyak organisasi keagamaan dan Muhammadiyah salah satu di antaranya. Bahkan, Muhammadiyah hanyalah mengikuti, jika tidak boleh dibilang meniru, kegiatan-kegiatan yang sebelumnya dilakukan oleh misionaris Kristen (hlm. 8).

 

Dalam kritiknya itu, Dawam ingin menunjukkan bahwa konsep dan metodologi pendidikan yang selama ini dikembangkan Muhammadiyah salah satunya hanya dimotivasi untuk menandingi gerakan misionaris Kristen dalam mendirikan sekolah-sekolah umum yang berbasis klasikal. Artinya, yang dikembangkan Muhammadiyah tidak benar-benar murni milik Muhammadiyah sendiri, baik secara konseptual maupun metodologis. Muhammadiyah masih belum melakukan pembaruan sistem pendidikan yang integral sehingga pendidikan Islam masih bersifat dualitas antara pendidikan agama yang tradisional dan ilmu pengetahuan umum.

 

Secara teologis, menurut Dawam, Muhammadiyah mengalami konservatisisme yang akut, meski sejak awal organisasi ini menginjakkan kakinya pada pembaruan Muhammad Abduh. Tidak ada perhatian dari kalangan Muhammadiyah terhadap literatur-literatur para pemikir progresif-liberal kontemporer, misalnya, Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abi Zaid, Abid Al-Jabiri, Mohamad Arkuon, dan Ashghar Ali Engineer. Hal itu menunjukkan betapa Muhammadiyah sudah mengalami krisis pemikiran progresif-liberal atau krisis epistemologis. Sejauh ini Muhammadiyah hanya mengembangkan metode ''bayani'' yang bertumpu pada kekuatan teks hingga akhirnya meninggalkan konteksnya.

 

Semboyan yang kerap didengungkan Muhammadiyah, ar-Rujû' ila al-Qur'ân wa as-Sunnah, kembali kepada Alquran dan sunah, telah menjadikan mereka kaum literalis atau tekstualis. Muhammadiyah lupa bahwa kembali pada ajaran Alquran dan sunah juga memiliki makna liberalnya, yaitu dengan cara menafsir kembali bunyi teks dengan tetap memperhatikan kebutuhan zaman. Hanya dengan cara demikian, Islam yang dikembangkan Muhammadiyah melalui konsep dakwah dan tajdidnya akan mendapat simpati publik dan sesuai dengan semangat khitah 1912 sebagai organisasi pembaruan.

 

Membaca buku ini, kita tidak sekadar disuguhi kritik tajam dari pemikiran Dawam Rahardjo. Lebih dari itu, kita akan mengetahui tanggapan dari kalangan anak muda terhadap tulisan Dawam itu. Yang pasti, kehadiran buku ini tidak perlu dipahami sebagai bentuk dari aktualisasi diri Dawam Rahardjo yang penuh dendam karena dia pernah dipecat dari Muhammadiyah. Sesungguhnya, Dawam tidak peduli ke mana Muhammadiyah akan diarahkan. Dia selama ini bersikap semata-mata karena tanggung jawab moral sebagai pemikir yang ingin menghantamkan gagasannya ke sana kemari dengan tetap berpijak pada data dan fakta yang ada.

-------------------------------------------------------------------------

 

Dimuat di Koran Indo Pos/Jawa Pos, 11 Juli 2010

Mohamad Asrori Mulky, peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta


Judul Buku       : Satu Abad Muhammadiyah; Mengkaji Ulang Arah Pembaruan

Penulis             : M. Dawam Rahardjo dkk

Penerbit          : Paramadina & LSAF

Cetakan           : Pertama, Juni 2010

Tebal               : xxxiv + 248 halaman

 

Senin, 28 Juni 2010

Buku Mentor Jadi Sukses

Senin, Juni 28, 2010 0

SETIAP orang dalam hidupnya selalu bercita-cita meraih sukses dalam segala hal. Namun, tak sedikit dari mereka tahu bagaimana cara mencapai kesuksesan itu.

Terkadang orang bersungguh-sungguh dalam bekerja, banting tulang siang dan malam, hingga lupa makan dan keluarga. Tapi hasilnya masih saja jauh dari yang diharapkan.

Ada juga orang yang memiliki bakat dan potensi besar yang terkandung di dalam dirinya, tapi ia selalu melakukan hal yang salah dalam bertindak. Dan ketika ia menemukan hal yang tepat, ia menjadi sukses dan berjaya.

Bekerja keras lebih dari 15 jam dalam sehari bukan jaminan seseorang akan menjadi sukses. Lalu apa yang salah? Apa yang harus dilakukan? Dan bagaimana cara melakukanya? Buku Think Like A Champion! buah karya Donald Trump, pengusaha dan motivator ternama, menawarkan solusi jitu tentang apa dan bagaimana cara kita meraih kesuksesan dalam hidup.

Bagi Trump, bekerja keras adalah satu hal, dan bekerja cerdas merupakan hal lain. Keduanya tidak bisa disamakan meski terkadang harus seiring sejalan. Orang yang bekerja keras bukan jaminan ia mengetahui bagaimana caranya kesuksesan itu harus diraih.

Hanya orang yang bekerja cerdaslah yang mengetahui bagaimana ia harus bekerja dan meraih sukses. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari pikiran-pikiran cerdas Trump yang akan mengarahkan kita pada kesuksesan.

Apa yang telah dilakukan Trump dalam hidupnya hingga meraih sukses, ia tulis ulang dalam buku ini. Ia berharap setiap orang bisa mengalami kesuksesan seperti yang ia alami.

Kesuksesan bukan suatu rahasia yang harus disembunyikan dari setiap orang atau suatu hal yang mustahil dilakukan oleh siapa saja.

Setiap orang bisa mencapai sukses dengan syarat mengetahui peluang dan tantangan yang dihadapinya. Orang sukses adalah orang yang bisa membaca peluang dan mengerti bagaimana cara memanfaatkan peluang itu.

Setiap peluang ia jadikan kesempatan emas untuk mengembangkan bakat dan potensi dalam dirinya, dan menerapkannya dalam dunia nyata.

Orang yang sukses juga adalah orang yang benar-benar mengetahui tantangan dan mengerti bagaimana cara menghadapi tantangan itu.

Setiap tantangan ia jadikan motivasi dan kekuatan untuk tidak meneyerah. Tantangan mengharuskan kita untuk maju, tak peduli apa yang terjadi di sekitar kita atau pada kita.

Sebagai mentor, motivator, dan pebisnis andal, Trump sering melakukan hal yang baru dalam hidupnya, dan hal itu selalu ia jadikan tantangan yang harus dihadapinya. Melakukan hal baru bukan berarti tanpa perencanaan matang. Perencanaan yang matang atas segala jalan yang akan kita lalui merupakan cara yang pasti untuk mencapai sasaran yang kita targetkan.

Keberhasilan Trump dalam dunia bisnis telah menjadikan dirinya brand dan mantra bagi kesuksesan. Visinya untuk sukses sekaligus menikmati sisa hidupnya benar-benar telah menginspirasi banyak orang, khususnya orang Amerika.

Sebagai mentor bisnis yang profesional, Trump tak ragu-ragu berbagi kiat, taktik, strategi, dan rahasianya guna membantu kita mengembangkan pola pikir juara yang dapat mengantarkan kita pada kesuksesan sinambung dan berkelanjutan. Dengan membaca buku ini, seolah-olah kita sedang dibimbing langsung oleh Trump untuk bisa mempelajari hal-hal apa saja yang dibutuhkan untuk selalu sukses dan menjadi nomor satu.

----------------------------------------------------------------------

 

Dimuat di Koran Jakarta, 28 Juni 2010

 

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.


Judul    : Think Like A Champion! 

 

Penulis : Donald Trump 

 

Penerbit : Daras Books 

 

Edisi : I, Januari 2010 

 

Tebal : 211 halaman

 

Minggu, 30 Mei 2010

Meruntuhkan Budaya Patriarkhi Lewat Ilmu Medis

Minggu, Mei 30, 2010 0

BUDAYA patriarkhi meyakini laki-laki sebagai mahluk superior daripada perempuan. Namun, Marianne J. Legato, professor dari Colombia University membantah tesis itu lewat buku ini. Ia menyimpulkan, laki-laki secara medis tidak lebih superior daripada perempuan. Sebab sifat alamiah laki-laki rapuh dan sebagian besar meninggal lebih cepat dibandingkan dengan perempuan.

Penyakit jantung yang diderita laki-laki lanjut usia merupakan salah satu penyebabnya. Namun, pada usia muda-pun, “pintu” kematian datang lebih cepat melalui beberapa penyakit, seperti kanker, depresi, stres, dan penuaan dini.

Salah satu penyebab biologisnya adalah gen. Kaum hawa memiliki dua kromosom X, sedangkan laki-laki hanya satu. Akibatnya, cacat bawaan yang terkandung dalam mutasi salah satu kromosom bisa di-cover oleh kromosom yang lain.

Hasil penelitiannya juga membuktikan betapa sistem kekebalan tubuh pada mereka sangat rentan. Laki-laki memiliki kemungkinan terserang penyakit jantung koroner pada pertengahan usia 30-an tahun, 15, sampai 20 tahun lebih awal daripada perempuan. Kaum adam juga memiliki kemungkinan meninggal akibat penyakit dua kali lebih besar dibandingkan dengan perempuan.

Penelusuran William R. Hazzard, Ketua Department of Internal Medicine di Bowman Gray School of Medicine of Wake Forest University, Winston-Salem, North Carolina, menyimpulkan hal sama. Cuma, penelitianya tidak semata fokus pada manusia, melainkan juga pada binatang (zoologi). Terbukti, umur jantan pada kera, burung kenari, katak, dan lainya jauh lebih pendek dari betina. William mengklaim, temuanya itu juga merupakan hal yang universal dalam zoologi.

--------------------------------------------------------------------

 

Dimuat di MAJALAH GATRA, edisi 20-26 Mei 2010 

 

Oleh Mohamad Asrori Mulky, Anggota International Interreligious Federation World and Peace, dan Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.


 

Judul : Why Men Die First

 

Penulis : Marianne J. Legato

 

Penerbit : Daras Books

 

Tahun : I, Januari 2010

 

Tebal : 282 halaman

 

Minggu, 16 Mei 2010

Tragedi Pemusnahan Etnis 1740

Minggu, Mei 16, 2010 0

Tahun 1740 merupakan tahun paling kelam bagi warga Tionghoa di Batavia (Jakarta) waktu itu. Tidak kurang dari 10 ribu warga Tionghoa—pria, perempuan, lansia hingga bayi yang baru lahir— dibunuh VOC secara kejam tanpa belas kasihan.

Semua orang Tionghoa, baik bersalah maupun tidak, dibantai dalam peristiwa tersebut. Tragedi kemanusiaan itu akhirnya memaksa seorang akademisi dari Belanda, Johannes Theodorus Vermelulen, meneliti lebih lanjut akar persoalan meletusnya peristiwa 1740 itu.

Buku Tinghoa di Batavia dan Huruhara 1740 merupakan hasil penelitian Vermelulen tersebut. Ketajaman analisis dan keakuratan datanya telah menjadikan buku ini rujukan utama, terutama bagi siapa saja yang ingin mendapatkan kajian akademis terlengkap dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai tragedi kemanusiaan yang menimpa warga Tionghoa di Batavia.

Penelitian Vermelulen dianggap berhasil menggambarkan tragedi berdarah yang menimpa warga Tinghoa bukan sekadar pada objektivitas peristiwanya, tetapi juga pada penyebab, jalan peristiwa, orang-orang, dan lembaga-lembaga yang terlibat, kondisi psikologis zaman, dampak dan sebagainya.

Deskripsi dan data akurat yang diungkap Vermelulen menunjukkan bahwa peristiwa itu memang layak dicatat sebagai lembaran hitam dalam pengalaman sejarah kehidupan orang Tionghoa di Indonesia. Tragedi 1740 bermula ketika pemerintah VOC dan imigran Tionghoa di Jakarta saling menyalakan bara api.

Tepatnya ketika dengan tiba-tiba harga gula di pasaran internasional menurun drastis akibat membeludaknya gula Malabar (India). Hal itu membuat pabrik-pabrik gula yang ada di Batavia mengalami kebangkrutan besar-besaran sehingga banyak warga Tionghoa yang sedang mencari peruntungan di Batavia kesusahan.

Dari jumlah 80 ribu orang, sebagian besar menjadi pengangguran dan gelandangan. Dampaknya, jumlah kriminalitas di Batavia makin meningkat tajam.

Kemudian, VOC membuat peraturan baru, yaitu membatasi kedatangan warga Tionghoa ke Batavia. Mereka yang tinggal di Batavia harus memiliki izin tinggal, berusaha, atau berdagang.

Tapi, bagi para pejabat VOC, hal itu justru dijadikan kesempatan untuk melakukan pungli besar-besaran. Akibatnya, muncul perlawanan dari warga Tionghoa di Batavia dan sekitarnya.

Mereka lantas membentuk kelompok-kelompok terdiri dari 50 sampai 100 orang dan mempersenjati diri untuk melawan Belanda. Perlawanan itu menjadi alasan bagi tentara dan pegawai-pegawai VOC untuk melakukan tindakan semenamena terhadap etnis Tionghoa. Pada 10 Oktober 1740, Gubernur Jenderal Adrian Volckanier mengeluarkan surat perintah untuk membunuh dan membantai orang-orang Tionghoa.

Buku ini membuktikan bahwa ternyata Jakarta sebagai kota yang berumur lebih dari 400 tahun pernah menjadi saksi bisu terjadinya pembantaian berdarah terhadap warga Tionghoa yang dilakukan VOC.

----------------------------------------------------------------------------

 

Dimuat di Koran Jakarta, Jumat, 14 Mei 2010

Mohamad Asrori Mulky, peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta


Judul : Tionghoa di Batavia dan Huru Hara 1740 Penulis : Johannes Theodorus Vermeulen Cetakan : I, Januari 2010 Penerbit : Komunitas Bambu Tebal : xxx + 146 hlm