Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Selasa, 08 Februari 2022

Wasathiyah Islam, Solusi Kebhinekaan Kita

Selasa, Februari 08, 2022 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Islam adalah agama cinta damai dan penuh kasih (rahmatan lil ‘âlamîn). Begitulah pesan profetik Nabi Muhammad Saw sejak misi suci itu pertamakali dirisalahkan. Tapi kini, pesonanya mulai memudar dilumuri faham-faham intoleran dan sikap juru dakwah yang gemar memaki dan memprovokasi. Ini tidak bisa dibiarkan. Sebab berpotensi mengancam kerukunan hidup umat beragama dan kelangsungan masa depan kebangsaan kita.

Pada hari-hari yang belakangan, saat suasana kebatinan kita masih dirundung awan kelam pandemi yang tak menentu, masih saja terdapat perundungan kepada umat agama lain. Di mana sekelompok warga Tulang Bawang, Lampung dan Jambi secara berjama’ah mempersoalkan keberadaan gereja yang tegak berdiri di tempat yang berbeda. Aksi intoleran ini dilakukan saat saudara-saudara kita itu tengah merayakan ibadah Natal 2021 lalu.

Apa yang dilakukan sekelompok warga di atas sebetulnya mencerminkan watak retak dari para juru dakwah atau pemuka agamanya yang juga gemar memaki dan memprovokasi. Kebencian terhadap umat lain malah sering diproduksi di mimbar-mimbar jum’at, majelis taklim, dan sejumlah acara keagamaan lain—hal yang seharusnya tidak boleh terjadi. Klaim universalisme Islam sebagai agama ramah dan penuh damai sama sekali tidak ditampilkan oleh para juru dakwah kita. 

Tentu saja kita masih ingat saat seorang pemuka agama memaki sesembahan agama lain dengan menyebut di dalam Salib ada jin kafir, atau saat seorang pria bergamis dengan sikap yang angkuh menendang sesajen di Lumajang, Gunung Semeru. Apa yang dipertontonkan dalam dua kasus yang berbeda itu sungguh tidak mencerminkan Islam yang ramah, toleran dan inklusif. Tuhan tidak pernah bermaksud membuat perbedaan tak pernah ada meski Dia bisa melakukannya. Tapi hal itu tidak Dia lakukan.

Indonesia dengan keragaman suku, budaya, bahasa, dan agamanya merupakan aneka kekayaan yang patut disyukuri bersama. Namun, keragaman itu juga menyimpan potensi segregasi yang bisa membelah kesatuan menjadi permusuhan. Tentu saja kita tidak menghendaki itu terjadi. Dan karena itu, para juru dakwah sebagai "penyambung lidah" para nabi memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk memaklumatkan perbedaan dengan selalu mendakwahkan Islam yang ramah, toleran, inklusif, dan moderat (moderasi Islam/washatiyah Islam).

Washatiyah Islam

Islam Indonesia adalah Islam wasathiyah atau moderat. Watak wasathiyah Islam Indonesia termanifestasi dengan jelas dalam sikap tawasut (moderasi), tasamuh (toleran), ta’adul (proposional), dan tawazun (seimbang) dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam sikap beragama bahkan bernegara.

Dalam beragama, Islam Indonesia mengambil sikap moderasi (berada di tengah) di antara dua posisi ekstrem kiri dan kanan. Ekstrem kanan biasanya representasi dari pemahaman Islam ekslusif, konservatif, dan tekstualis. Mereka lebih menghendaki penerapan syariah secara ketat dan kaku, seperti menginginkan hukuman rajam, cambuk, dan potong tangan.

Sementara ekstrim kiri lebih menitikberatkan pemahaman Islam yang liberal, bebas tanpa aturan agama. Prinsip bebas tanpa aturan ini tidak jarang melabrak norma-norma agama yang sudah jamak disepakati. Mereka tidak lagi mempersoalkan seks bebas, mabuk-mabukan, bahkan membolehkan praktik nikah sesama jenis atau biasa disebut LGBT.

Adapun sikap moderasi Islam Indonesia dalam hubungannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara cukup bijaksana dan mementingkan kemaslahan masyarakat. Dalam catatan sejarah, Islam Indonesia menerima Pancasila sebagai dasar negara. Padahal, secara kuantitas Indonesia dihuni mayoritas Umat Islam. Tetapi demi menjaga keutuhan dan persatuan bangsa, Islam Indonesia dengan rela hati dan lapang dada menerima Pancasila. Islam Indonesia tidak keberatan mencoret ‘tujuh kata’ dalam Pembukaan UUD 1945. Kata “Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya” dicoret dan diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Bila kita telusuri ke belakang, sikap dan watak moderasi Islam Indonesia sebetulnya sudah terjadi sejak penyebaran Islam di bumi Nusantara ini. Dalam catatan saya, semua juru dakwah, ulama (dalam hal ini adalah Walisongo) datang ke bumi Nusantara membawa Islam penuh dengan kedamaian. Tanpa ada konflik berdarah. Kehadiran mereka tanpa membawa pasukan perang, melainkan misi profetik, yaitu menyeru kepada keesaan Tuhan dan jalan keselamatan.

Secara teoritis, konsep wasathiyah atau moderasi beragama yang dipraktekan Islam Indonesia sejak awal kemunculannya hingga kini, merupakan representasi dari pengalaman pesan moral yang terdapat dalam kitab suci Al-Quran. Surat Al-Baqoroh: 143 yang berbunyi: 

و كذالك جعلناكم أمة وسطا لتكون شهداء على الناس و يكون الرسول عليكم شهيدا

“Demikian pula Kami telah menjadikan kamu [umat Islam] ummatan wasathan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul [Muhammad] menjadi saksi atas [perbuatan] kamu”.

Prof. Dr. Azyumardi Azra pernah mengatakan, bahwa jati diri Islam Indonesia itu adalah wasathiyah atau moderasi beragama yang memiliki ortodoksinya sendiri, yang terdiri dari tiga aspek sekaligus: pertama, dari segi kalam (teologi). Islam Indonesia mendasarkan aqidahnya pada aliran kalam Asy’ariyah-Jabariyah. Dalam studi kalam, Asy’ariyah-Jabariyah  merupakan jalan tengah antara Mu’tazilah dan Khawarij. Kedua, dari segi fiqh. Islam Indonesia menganut mazhab Syafi’i, yang memoderasi pandangan mazhab Abu Hanifah yang rasional dan mazhab Ahmad bin Hambal yang tekstualis. Dan ketiga adalah dari segi aliran tasawuf. Islam Indonesia mengikuti tasawuf al-Ghazali, yang biasanya disebut tasawuf akhlaqi (amali). Ketiga aspek ortodoksi ini terbentuk sejak abad 17-18 dan seterusnya.

Secara garis besar, Islam Indonesia berbeda dengan Islam Arab dan dunia Islam lain. Perbedaan itu bisa dilihat dalam penerimaan budaya. Islam Indonesia sangat akomodatif terhadap budaya atau tradisi. Sejak dulu hingga kini, Islam Indonesia menerima budaya, bahkan menjadikan budaya sebagai sarana perjuangan dalam berdakwah. Sunan Kalijaga misalnya, menjadikan wayang sebagai sarana untuk berdakwah. Kita pun tidak keberatan menggunakan bedug, menara, dan kuba—yang merupakan budaya lain— sebagai ornamen keagamaan.

Namun demikian, keberadaan Islam Indonesia yang berciri wasathiyah atau moderat itu bukan tanpa tantangan yang berarti. Paling tidak ada dua tantangan yang mesti menjadi perhatian Islam Indonesia. Pertama adalah kemunculan Islam trans-nasional seperti Wahabi dan HTI yang menghendaki penerapan syariah secara ketat dan kaku, dan menghendaki berdirinya sistem khilafah di negari ini. Itu semua terjadi sebagai akibat dari demokratisasi dan liberalisasi politik pasca tumbangnya Orde Baru (Orba) Soeharto. Dan yang kedua adalah sikap ekslusif dan fanatik buta umat beragama yang melahirkan klaim kebenaran. Akibat dari pemahaman ini, bangsa ini beberapa kali menghadapi kasus konflik berlatar agama. Sebut saja di antaranya adalah, kasus Poso (tahun 1998-2000), Ambon (1999), Jawa Timur (1996), Ahmadiyah Cikeusik Banten (2011), dan Syi’ah Sampang (2011). Belum lagi kasus pemboman terhadap sejumlah Gereja pada tahun 2000 silam yang terjadi pada malam Natal, dan beberapa kasus serupa di beberapa tempat di Indonesia. 

Untuk menghadapi itu semua, ormas-ormas Islam di Indonesia harus mengarahkan orientasi dakwah dan perjuangannya ke dalam pemahaman Islam wasathiyah atau moderasi beragama. Hanya dengan itu, kemunculan Islam trans-nasional yang menghendaki penerapan syariat dan penegakan khilafah, dan juga sikap ekslusif beragama, bisa diatasi. Peran Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai wakil Islam wasathiyah harus menjadi lokomotif perubahan dan aktor utama dalam menerapkan Islam wasathiyah di negeri ini.

Sebagai penutup, Indonesia adalah bangsa yang majemuk, plural, dan multikultural, baik dari segi bahasa, suku, budaya, bahkan agama. Fakta ini menjadi berkah bagi Indonesia, tapi boleh jadi bisa juga menjadi petaka bila tidak dikelola dengan baik dan benar. Mendakwahkan Islam yang ramah, toleran, penuh cinta kasih kepada sesama manusia harus menjadi prioritas utama. Nilai-nilai itu semua merupakan watak dan sikap dari Islam wasathiyah. Wallahua’lam!

Senin, 03 Januari 2022

Siklus Waktu, Harapan Baru

Senin, Januari 03, 2022 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Dalam suasana muram akibat terpaan pandemi yang tak kunjung usai ini, kita lewati bersama pergantian tahun dengan satu keyakinan, bahwa setelah gelap pasti akan ada terang.

 

2022 bukan lagi sekedar pergantian kalender, yang datang seperti tahun-tahun lalu, tapi siklus waktu ini diharapkan bisa melahirkan jiwa baru, tunas baru, dan harapan baru.

 

Waktu selalu datang silih berganti. Hari-hari dulu berlalu, berubah menjadi minggu, lalu bulan, kemudian tahun. Selalu begitu. Dan akan begitu. Tapi mengapa Sapardji Djoko Damono memahami “waktu” sebagai fana? Bukankah kita tidak akan terbebas dari siklus waktu?

 

"Yang fana adalah waktu.

Kita abadi:

memungut detik demi detik,

merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa

'Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?' tanyamu.

Kita abadi"

 

Demikian Sapardji Djoko Damono mengatakan dalam baris sajaknya yang terkenal itu.

 

Yang fana adalah waktu” adalah satire bagi manusia yang gemar menyia-nyiakan waktu. Betapa menyedihkan mereka yang menghabiskan waktu pada hal-hal kurang bermanfaat. Apalagi jika hal tersebut hanya bersifat sementara dan fana. Akibat dari itu semua, akhirnya akan timbul suatu penyesalan yang umumnya datang terlambat.

 

Memang kita tidak akan sanggup mengejar lari matahari. Tapi kita harus terus berlari mengejar harapan demi harapan, meski terkadang perlu berhenti sejenak, bukan karena pasrah, apalagi menyerah, tapi untuk sekedar mengatur langkah dan arah.

 

Memupuk harapan yang tertunda di tahun-tahun lalu, menjadi motivasi bahwa kemungkinan yang tak mungkin terjadi di masa lalu, bisa saja terjadi di tahun 2022 ini. “Yang menarik dari hidup ini adalah sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin”, demikian Paulo Coelho, novelis The Alchemist terkemuka asal Brazil itu mengatakan.

 

Tak mengapa membuka kembali asa dan cita-cita yang masih terpendam di masa dulu, meski kini tahun telah berubah. Hidup serba kemungkinan. Tak ada yang tahu masa depan. Tapi alam semesta beserta isinya, kata Paulo Coelho, akan membantu mewujudkan keinginan mereka yang punya tekad dan keyakinan.

 

Kegagalan GARUDA tak perlu disesali, apalagi diratapi. Sekali-kali, bukan karena GAJAH PERANG itu sulit dirobohkan. Tapi memang daya juang kita di lapangan yang kadang timbul dan tenggelam. Di suatu saat dalam waktu nanti, GARUDA kita bisa terbang lebih tinggi lagi dan lagi, meninggalkan GAJAH PERANG yang masih berderap di tanah lapang.

 

Bila masa lalu kita dipenuhi ingatan akan sebuah kenangan luka yang bercoreng karat atau kegagalan yang sulit dihapuskan. Tinggalkanlah itu semua, karena ia tanda kelambanan. Jangan jadikan masa lalu sebagai teror atau bayang-bayang yang tak mungkin bisa hilang. Terjanglah kenyataan yang ada! Lawanlah gelombang! Karna di dalam pergulatan melawan gelombang kehidupan terdapat keabadian.

 

Waktu harus dipandang sebagai gerak maju, bukan gerak mundur ataupun tetap berpijak di titik yang sama, yang memungkinkan kita tergilas dan terhempas amuk waktu. Waktu adalah pedang. Jika kita tidak mampu mengendalikanya. Maka segala harapan dan keinginan kita akan ditebas.

 

Ia (waktu adalah pedang) akan selalu mengarahkan matanya ke jantung kehidupan kita. Mengoyak kesadaran kita. Dan pada akhirnya kita harus kalah terkapar, tersungkur ke dalam lumpur yang kotor. Waktu adalah maut. Jika kita tidak bisa menghidupkanya. Ia akan menghabisi kita dan melemparkan kita ke dalam kubur kegelapan.

 

Pada akhirnya, semua rangkaian perjalanan masa lalu hingga masa kini, kita lalui tanpa disadari. Segala harapan yang telah tercapai, pengalaman pahit yang terus jadi memori, ataupun kebahagiaan yang mestinya menjadi cermin dan bekal untuk menempa diri agar lebih baik, terlewat tanpa bekas. Jejak langkah harus senantiasa diperbaharui. Tapak baru harus segera ditempuh. 2022 menjadi torehan baru akan sebuah harapan baru. Cita-cita baru. Dan hari baru.

 

Kita meninggalkan 2021 saat suasana negeri masih diselimuti awan mendung. Begitu banyak kejadian, begitu banyak persoalan: wabah corona yang belum berakhir, sengkarut politik yang makin kusut, kondisi ekonomi yang belum stabil, korupsi yang terus bertambah, wajah pendidikan yang muram, distribusi keadilan yang tidak merata, kemiskinan yang terus bertumbuh, dan masa depan kerukunan umat beragama yang masih mengkhawatirkan.

 

Semoga pergantian tahun ini membawa angin perubahan bagi bangsa kita. Masih ada lorong waktu yang panjang untuk bersama-sama berbenah. Indonesia adalah rumah bersama. Kitalah yang menjaganya. Tanah tumpah kelahiran ini tidak boleh ditanamkan benih permusuhan dan kebencian. Tunas-tunas bangsa harus tumbuh, dan jangan pernah layu sebelum berkembang.

 

Sebagai penutup, izinkah saya kutipkan sajak dari penyair sufi, Hakim Sana’i:

 

Kurun beralih, bocah yang dulu lemah lembut

Kini telah berakal dan dewasa pula

Ada yang menjadi orang utama

Ada yang hanya fasih berkata-kata

 

Tahun bersalin tahun, batu-batu keras

Kini telah tersepuh cahaya matahari

Moga kelak sangguplah batu-batu ini

Menjadi permata nilam atau akik Yaman

 

Minggu telah silam oleh minggu lainnya

Moga setumpuk kapas yang tumbuh dari air dan tanah

Kelak jadi pakaian dan hiasan wanita cantik

Atau kain kafan pembungkus yang mati syahid

 

[Hakim Sana`i, abad ke-12 M].

 

Dan apa pun kini adanya, kita adalah anak-anak waktu. Selamat Tahun Baru 2022 M.

 

 

Sumber: thecolumnist.id

Rabu, 22 September 2021

Kedai Kopi dan Anak-Anak Revolusi

Rabu, September 22, 2021 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Revolusi lahir dari kedai kopi, yang sengaja diselundupkan oleh sekelompok anak-anak muda ke dalam rahim ibu pertiwi.

 

Dari sanalah (kedai kopi) benih-benih perubahan dirancang dan gelora perlawanan dinyalakan. Ada yang perlu dirobohkan. Ada yang mesti dihancurkan. Sebab pemimpin tiran dan tata nilai yang merusak peradaban, tak cukup dibasuh dengan air mata penderitaan.

 

Api revolusi menyala saat “cangkir-cangkir kemapanan” itu diremukan, saat gema perlawanan ditalu hingga terdengar memenuhi sudut-sudut ruangan, saat batas paling akhir dari cita-cita anak-anak revolusi di sebuah negeri tak lagi didengar.

 

Revolusi dimulai dari kedai kopi, saat rasa pahit dan getir direguk bersama, berubah menjadi daya. Daya yang bisa merobohkan dinding-dinding kekuasan yang tadinya kokoh tegak berdiri.

 

Kedai kopi, kini, bukan sekedar tempat melepas dahaga untuk saling tukar cerita. Bukan lagi tempat berteduh dari banyak pergulatan yang membuat lelah. Juga bukan persinggahan dari perjalanan hidup yang kalah.

 

Dia sudah menjadi titik temu dari ragam aliran pemikiran dan ideologi. Tempat silang pendapat dari kalangan akademisi, intelektual, aktivis, politisi, dan sastrawan. Setidaknya, itu yang terjadi di Mesir, seperti tersaji dalam novel memorial “Karnak Cafe” karya Najib Mahfudz ini.

 

Karnak Cafe, menggambarkan situasi Mesir di akhir 1960-an. Mesir yang bermodal kepercayaan tinggi pasca revolusi 1952, harus menerima kenyataan pahit, kalah terhina dalam perang enam hari 1967. Kekalahan dari Israel menyisakan luka dan trauma, sangat membekas dalam ingatan (memori) penduduk negeri Piramid.

 

Spirit sosialisme Arab (Pan-Arabisme) yang pernah dipercikkan Gamal Abdul Nasser ke dalam jiwa anak-anak revolusi Mesir, sempat menumbuhkan gairah kebangsaan (nasionalisme) dan optimisme. Namun, kekalahan 1967 itu telah merubah segalanya. Situasi Mesir menjadi pelik dan runyam. Rakyat mengalami kekecewaan, depresi, dan kehilangan arah.

 

Sementara sepak terjang Anwar Sadat yang sewenang-wenang kian memperumit keadaan. Banyak darah tertumpah sejak Sadat dikukuhkan menjadi presiden. Para ekstrimis agama, politisi, dan intelektual kiri dibersihkan. Para penyetia Revolusi 1952 ditangkap tanpa proses pengadilan. Semua itu dilakukan dengan alasan ketertiban.

 

Dalam situasi porak dan saling curiga itulah, politik diberbincangkan oleh orang-orang dari berbagai latar belakang di Kafe Karnak, di ujung jalan al-Mahdi, Kairo. Pemilik kedai kopi itu bernama Qurunfula, mantan bintang tari Mesir yang di usia mendekati senjanya masih berparas cantik, bertubuh menawan, memesona banyak orang. 

 

Novel ini, boleh jadi, ekspresi dari bentuk kemarahan penulisnya terhadap situasi Mesir yang kian merosot (al-Nakshah). Seperti karya-karya lainya, Najib Mahfudz, masih setia menggunakan cara bercerita satu narator dan sudut pandang tunggal. Eksplorasi prosaiknya tidak berjarak dari realitas keseharian penulis dan situasi Mesir kala itu. Siapa pun bisa dengan mudah mengikuti alur cerita novel ini. Saya sendiri cukup menikmati.

 

Kisahnya dimulai saat “aku” (narator)—identitasnya disembunyikan hingga akhir cerita—singgah di sebuah kedai kopi Karnak, milik Qurunfula. Di sana “aku” menemukan sekelompok orang dengan latar belakang berbeda membahas situasi politik Mesir yang kian kalut. Mereka kecewa dan marah dengan sikap represif pemerintah terhadap siapa pun yang berbeda pandangan ideologi.

 

Alih-alih mengembalikan stabilitas negeri, pemerintah menahan anak-anak Revolusi 1952 seperti Hilmi Hamada, Ismail Syeikh, dan Zainab Diyab. Ketiganya merupakan tokokh imajiner, rekaan Najib Mahfudz. Mereka dituduh pembangkang yang tidak setia pada semangat revolusi.

 

Hilmi Hamada, pengunjung setia Karnak berkali-kali dipenjara, dituduh sebagai pengkhianat revolusi hanya karena dianggap komunis. Kekasih hati Qurunfula ini, harus meregang nyawa di penjara setelah menerima ragam siksaan. Sementara jasadnya tak diketahui dimakamkan di mana.

 

Ismail Syeikh mengalami nasib serupa. Beberapa kali keluar masuk penjara. Dia dituduh antek Ikhwanul Muslimin (IM), gerakan bawah tanah yang jadi target Sadat untuk diberangus. Sementara Zaenab Diyab mengalami peristiwa paling memilukan dalam hidupnya, dicabuli di salah satu ruang interogasi. Zaenab ditangkap karena memiliki hubungan khusus dengan Ismail Syeikh.

 

Singkat cerita, banyak aktivis revolusi yang sering berkumpul di Karnak ditangkap. Tidak diketahui siapa yang membocorkan kegiatan mereka. Tak jelas lagi siapa kawan, siapa lawan. Situasi cukup mencekam. Semua benda yang tergeletak seolah bisa bicara. Para pengunjung saling curiga, hingga tak ada lagi kenyamanan saat menikmati suguhan kopi.

 

Tidak ada harga yang murah untuk sebuah revolusi. Terkadang, revolusi memakan anak kandungnya sendiri. Apa yang dikisahkan Najib Mahfudz, mengingatkan kita pada tragedi berdarah penculikan para jenderal yang terjadi di Indonesia di tahun 1965. Para pahlawan revolusi itu harus menemui ajal dengan jalan yang tragis: diculik lalu dimasukan ke Lubang Buaya.

 

Sebagai sastrawan realis, Najib Mahfudz cukup berhasil menggambarkan seluruh jalan cerita dari masing-masing tokoh. Kepiawaiannya dalam menulis tak perlu diragukan. Dari tangannya tidak kurang dari 40 novel dan ratusan cerita pendek yang telah dia tulis. 1988 dia meraih Nobel Sastra, orang Arab pertama yang mendapat penghargaan tersebut.

 

Dalam karier kepengarangannya, Najib Mahfudz tidak bisa dilepaskan dari kedai kopi. Salah satu kafe yang sering disinggahi adalah El-Fishawi. Beberapa karyanya ditulis di sana, seperti Khan Khalili, al-Bidayah wa al-Nihayah, Awlad Haratina, dan lain-lain.

 

El-Fishawi jadi tempat primadona. Pengunjung datang silih berganti. Konon, El-Fishawi, pernah menjadi persinggahan tokoh dan pemikir besar, seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Saa’ad Zaghlul, Mustafa Kamil, Abbas Mahmud Akkad, Ahmad Amin, Thaha Husein, dan Ahmad Syauqi. Bahkan dua filsuf eksistensial Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir, juga sempat merasakan sensasi tempatnya.

 

Sastrawan Mesir, Ahmad Bahauddin, dalam Ayyam laha Tarikh (Hari-hari yang Memiliki Sejarah), mengisahkan Kafe Mitatia yang punya andil besar dalam mengubah sejarah Mesir. Dia menceritakan, revolusi 1919 melawan imperialisme Inggris digodok di Mitatia. Anak-anak revolusi yang berasal dari latar belakang berbeda, berkumpul di sini. Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Sa’ad Zaglul, dan beberapa tokoh penting lain sempat singgah. Bukan untuk sekedar meminum kopi. Tapi membicarakan masa depan Mesir agar lepas dari Inggris.

 

 ---------------------------------------------------------------------------

Judul              : Karnak Cafe

Penulis           : Najib Mahfudz

Penerbit         : Alvabet, Jakarta

Tebal              : 166 Halaman