Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Rabu, 17 Agustus 2022

Kemerdekaan Minus Pembebasan

Rabu, Agustus 17, 2022 1


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Indonesia boleh saja merdeka dari belenggu para penjajah. Tapi negeri yang kita diami ini tidak boleh luput dari perjuangan pembebasan yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa. Kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, ketidak-adilan, korupsi dan diskriminasi masih menyandera negeri ini. Kemerdekaan minus pembebasan.

Kemerdekaan dan pembebasan mengandung makna yang berbeda. Keduanya tidak bisa diidentikan, meski sering dipertukarkan. Yang pertama bermaksud keluar dari tekanan pihak lain (kolonial), yang kedua lebih menonjolkan partisipasi bersama untuk tujuan bersama. Yang pertama ingin lepas dari cengkeraman asing, yang kedua berjuang melawan penjajahan yang dilakukan anak bangsa sendiri.

Kita masih terus berjuang meninggikan martabat negeri dari sekumpulan orang yang gemar melakukan “penghisapan” dan penyelewengan; atas tanah, air, udara, dan apa saja yang terdapat di atas, dan dalam perut bumi. Perampasan, perampokan, dan eksploitasi atas semua aset negeri, hingga kini, masih terjadi dan itu dilakukan elite berdasi dan cukong berduit.

Banyak orang berkata, kejahatan preman berpangkat jauh lebih berbahaya dan menyengsarakan rakyat. Faktanya memang begitu. Korupsi, eksploitasi dan bentuk penyalahan wewenang lainnya dipertontonkan secara telanjang di depan mata kita. Moralitas dihilangkan, tata nilai diabaikan. Yang ada dalam benak mereka adalah bagaimana mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya.

Mereka itu, kata Bung Karno, adalah sebenar-benarnya penjajah. Hobinya menjarah kekayaan alam negerinya sendiri, demi, dan untuk tujuan pemenuhan syahwat duniawi. Nafsu berburu materi tak pernah padam meski harus “menumbalkan” hidup dan kehidupan wong cilik. Mereka tega memainkan perasaan rakyat dengan obral janji dan harapan palsu. Mereka adalah musuh dalam selimut yang sewaktu-waktu muncul menikam dari dalam. Tak mengenal ampun, tak mengerti belas-kasihan.

Penjajahan sendiri punya banyak wajah, dengan bentuk dan ragamnya yang berbeda-beda. Ada yang terlihat secara kasat mata, ada yang bersembunyi di balik kehalusan tatak rama. Penjajahan dalam wujudnya yang nyata bisa kita waspadai. Namun yang tersembunyi di balik topeng “pemikat” sulit diantisipasi. Seperti halnya duri dalam daging yang bila dibiarkan akan terasa sakit. Begitu juga dengan musuh yang datang dari dalam bila dibiarkan makin bebas menghisap kekayaan bangsa sendiri.

Penjajahan dalam bentuknya yang tersembunyi memang suka memerdaya kesadaran kita. Menutupi pikiran waras manusia. Kadang kita tertipu oleh tampilan yang memesona, atau oleh senyuman manis yang tersungging. Padahal di balik itu semua menyimpan perangkap yang siap menjerat masa depan bangsa.

Lihat saja bagaimana kelakuan para elite negeri ini. Mereka hidup penuh dengan sopan santun. Tapi semua kebohongan, kedengkian, dan kelicikan tersembunyi di balik tatak rama yang menawan. Ibarat lalat yang berebut kotoran, mereka (elite) berlomba berebut kepalsuan; busuk dan penuh tipu daya. Mereka tak ada yang mau mengalah. Tak ada yang ingin dikalahkan. Satu dengan yang lain menjadi musuh bagi yang lainnya.

Watak retak elite tak mudah diobati. Keputusan mereka sulit dipahami. Kata-katanya bercabang, susah dipercaya. Janji-janjinya membuai, lalu memuai mengikuti terpaan arah angin. Apa yang diucapkannya dalam sekejap waktu bisa berubah. Entah apa jadinya bila negeri ini diurus pemimpin seperti itu. Apalagi bila para elite dalam situasi saling curiga. Maka masyarakat jadi korban, hanya target obral janji murahan belaka. Tak ada keinginan untuk menyejahterakan, apalagi memberi keamanan dan kenyamanan pada rakyat.

77 tahun sudah kita merdeka. Lepas bebas dari invasi asing. Tiap tahun kita memperingati momen penting dalam sejarah bangsa ini. Semangat kemerdekaan diekspresikan dalam banyak perlombaan; mulai dari balap karung, tarik tambang, makan kerupuk, panjat pinang, hingga karnaval budaya. Upacara menaikan Bendera Merah Putih juga dilakukan di seluruh sekolah di pelosok Indonesia. Bahkan presiden dan bawahannya tak ketinggalan merayakannya. Itu semua dilakukan sebagai tanda syukur atas kemerdekaan yang sudah diraih bangsa ini.

Namun, hakikat kemerdekaan bukan sekedar seremonial dan "upacara" basi-basi belaka. Hakikat kemerdekaan adalah bebas dari kemiskinan, kebodohan, ketidak-adilan, korupsi, diskriminasi, eksploitasi, dan perilaku elite yang menjadi beban bagi masyarakat banyak. Selama semua itu masih terjadi di persada ibu pertiwi, maka peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) yang rutin dirayakan setiap 17 Agustus, hanyalah embel-embel belaka. Itulah Kemerdekaan Minus Pembebasan.

Selamat HUT RI ke 77. Betapapun negeri ini ditimpah cobaan berkali-kali, semoga kita tetap bisa pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat. Merdekaaa....!!!

Jumat, 03 Juni 2022

Aare dan Eril

Jumat, Juni 03, 2022 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky


Tak ada kesedihan yang paling menusuk inti hati selain rasa kehilangan. Kesedihan, kata Al Kindi (dalam Al Hillah Lidaf’i Al Ahzân), muncul oleh sebab hilangnya yang dicinta dan luputnya yang didamba.

 

Kehilangan adalah bagian dari garis hidup yang niscaya dilalui, oleh siapa pun, tak terkecuali. Entah kapan, atau di mana. Segera, atau masih dalam waktu lama. Semua sedang menunggu gilirannya, seluruhnya.

 

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, selain ketabahan seorang ayah yang menyusuri Aare, inci demi inci, sedepa demi sedepa, sementara hatinya porak, tak tahu di titik mana buah hatinya itu berada.

 

Tak ada yang lebih taban dari hujan bulan Juni, selain ketabahan seorang ibu yang iklas melepas pergi anak laki-lakinya, sementara hatinya koyak, tak tahu di kedalaman berapa cahaya jiwanya itu terkapar.

 

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, selain ketabahan seorang adik yang rela terpisah dari kakak satu-satunya, sementara hatinya remuk tak berdaya menerima kenyataan hidup yang pahit ini.

 

Di tepi sungai Aare mereka duduk termenung, dalam sepi, dalam sunyi. Dan kali ini, hening bicara untuk dirinya sendiri. Hening yang mengatakan bahwa mereka tak perlu lagi menjelaskan segala sesuatu kepada satu sama lain. Hanya doa yang dirapal untuk satu nama, Eril.

Senin, 02 Mei 2022

Idul Fitri dan Kampung Spiritual

Senin, Mei 02, 2022 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Setelah sekian lama para pengembara pergi berkelana mencari nafkah bumi, kini, mereka harus kembali pulang ke kampung halaman, mudik ke tempat asal kelahiran. Inilah arus kembali, memanggil para pengelana, pulang ke rumah kenangan.

 

Idul Fitri adalah momen kembali, baik secara kultural maupun spiritual. Sebagai peristiwa kebudayaan, Idul Fitri melibatkan gelombang massa yang begitu besar, yang datang silih berganti, dari, dan menuju arah daerah yang berbeda-beda.

 

Saya tidak tahu persis kapan fenomena sosial ini dimulai. Saya hanya tahu telah terjadi kesadaran kolektif dari para pemudik untuk kembali pulang ke pangkuan kampung halaman; tak peduli berapa jarak yang harus ditempuh; tak mengapa betapa sulit jalan yang harus dilalui. Semua rintangan yang datang menghadang dianggap bukanlah apa-apa.

 

Rindu pulang akan rumah kelahiran adalah panggilan yang datang dari dalam diri, yang didorong oleh suara hati yang paling jujur. Semakin panjang jarak yang ditempuh para pengembara, menjauhi tempat masa kanak-kanak, semakin menjadi rindu untuk segera pulang; bertemu orangtua, keluarga, sanak saudara, dan guru-guru tercinta.

 

Pepatah lama mengatakan: “Lebih baik hujan batu di negeri sendiri, daripada hujan emas di negeri orang”. Lebih baik memilih hidup yang dilumuri jalan berliku di kampung sendiri, ketimbang bergelimang harta dan kemewahan namun jauh dari tempat kelahiran. “di ribuan kilo, angin kabut berlainan // di kampung halaman, rembulan lebih benderang (Zhou Fuyuan, dalam Purnama di Bukit Langit).

 

Adakalahnya kita mesti pergi menjauh dari rumah untuk sebuah cita-cita yang telah disimpan lama di alam al khayyâl (imajinasi). Adakalanya kita juga harus kembali mencari jejak lama yang pernah ditinggalkan selaksa purnama. “Kam min Manzilin fî al Ardi Ya’lifuhu al Fatâ, wa Hanînuhu Abadan li Awwali Manjilin”. Banyak sudah tempat disinggahi para pengelana (pemuda), tapi rindu rumah kelahiran tidak akan pernah hilang dalam ingatan.

 

Kepulangan kita di hari yang fitri ini bukan sekedar pulang ke kampung halaman untuk memenuhi kewajiban kultural, tapi juga untuk saling memaafkan. Boleh jadi pernah terselip kata yang melukai orangtua, atau prasangka buruk yang tak berdasar kepada tetangga dan guru-guru kita. Dalam situasi seperti itu, berjabat tangan untuk saling memaafkan adalah bagian terdalam dari kerendahan hati. Keangkuhan hanya membuat kita angkuh, dan rapuh.

 

Idul Fitri memaksa para pengembara kembali pulang ke kampung sosial, tempat kelahiran. Tetapi arah kembali yang sejati (yaitu kampung spiritual) tidak boleh luput dari ingatan kita. Sebagai manusia kelana, yang datang dari alam ruhani (sebelum alam rahim), pengembaraan kita tiba di alam bumi ini telah banyak dilumuri dosa dan kesalahan.

 

Saat masih di alam ruhani kita sempat mengucap ikrar setia hanya kepada Sang Pencipta, bersaksi selamanya hanya kepada Dia tempat kembali, dan berjanji mengabdi hanya kepada Dia Sang Pengatur segala. Tetapi pengembaraan kita di alam fana ini membuat semua ikrar dan janji setia itu terlupakan oleh karena hilangnya cahaya hati yang tertutup noda hitam.

 

Dalam suasana seperti itu, perlu kiranya kita segera kembali kepada titik paling suci (Tuhan) sebagai makna terdalam dari pagelaran Idul Fitri yang cenderung kita rayakan sebagai fenomena kultural belaka. Idul Fitri mengingatkan kita akan kampung spiritual, tempat muasal kita sebelum mengembara di alam fana.

Kamis, 21 April 2022

Karna dan Hal-Hal Yang Tak Pernah Selesai

Kamis, April 21, 2022 0

 

Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Dalam kisah Mahabharata, Karna, dikenal sebagai musuh utama Arjuna. Keduanya bersaing untuk selalu menjadi yang terbaik. Dalam seni memanah dan olah keprajuritan, mereka disebut-sebut memiliki kemampuan yang sepadan. Tapi, saya berani mengatakan, Karna berada satu tingkat di atas rivalnya itu.

 

Tak mudah mengalahkan Karna dalam sebuah pertempuran. Dalam Baratayudha misalnya, Basudewa Krisna perlu melakukan banyak tipuan agar murid terkasih dari Begawan Parashurama itu bisa dikalahkan Arjuna. Karna pun berhasil dibunuh. Dia dihabisi saat sedang dalam keadaan tidak bersenjata, saat semua pengetahuannya tiba-tiba saja sirna hilang dari dirinya.

 

Di ujung kematiannya, tepat sesaat panah Gandhiwa milik Arjuna akan dilepaskan, Karna teringat pada sebuah kutukan yang pernah diucapkan sang guru, Parashurama. “Akan tiba suatu masa di mana seluruh pengetahuan-mu akan hilang, di saat paling menentukan dalam hidup-mu berada di tubir kematian”. Kutukan itu membantu memenangkan Arjuna dalam sebuah pertempuran paling menentukan.

 

Perang di Kurusetra yang semula digelar untuk menegakkan dharma (kebajikan) dan menumpas kejahatan, justru dibaluri noda ketidakjujuran. Pengkhianatan demi pengkhianatan dirancang guna menjegal kemenangan Karna. Sesuatu yang sebetulnya tidak boleh dilakukan oleh watak ksatria agung seperti Krisna dan Arjuna. Namun, dalam perang yang terlanjur digelar itu, semua siasat dan tipu muslihat biasa dilakukan untuk sebuah kemenangan.

 

Kemahiran memanah Karna dilengkapi perisai yang menempel di tubuhnya sejak lahir membuat gentar lawan-lawannya. Tak ada satu senjata pun yang bisa melukai tubuhnya. Dia juga dikarunia Pashopati, senjata sakti pemberian Dewa Indra. Hanya dengan menyebut satu nama, senjata sakti itu bisa menuntaskan tujuannya. Ksatria manapun sebisa mungkin menghindari perang terbuka dengan Karna.

 

****

 

Betapapun hebatnya Karna, selama hidupnya, dia tidak pernah mendapat pengakuan publik hanya karena Putrasuta (anak kusir), kasta terendah di zaman Veda. Sistem kasta dan tata nilai di masyarakat kala itu telah membuat suami dari Vrusali ini, dikalahkan oleh pandangan hidup yang picik. Di mana pengetahuan dan kemampuan dari seseorang selain Brahmana atau Ksatria dianggap kesalahan.

 

Pada zaman yang merepih seperti pasir sekarang pun, status sosial menjadi alat ukur paling ampuh untuk memastikan kehormatan seseorang. Tampilan mengaburkan kemampuan. Bentuk mengalahkan isi. Kulit menenggelamkan inti. Dan akhirnya seseorang akan dihormati, dipandang, disukai, didekati, bahkan dicintai karena asal-usul, keturunan, dan status sosial. Bukan karena pengetahuan dan kemampuan.

 

Lihatlah di sekeliling kita—saya dan mungkin juga pembaca—bisa jadi termasuk bagian dari masyarakat yang didikte oleh kultur, nilai, kebiasaan moral, bahkan oleh prinsip-prinsip religius dan politik yang mengekang. Sehingga kita tidak lagi menjadi manusia bebas yang punya kuasa mengekpresikan dan mengaktualisasikan kemampuan yang ada dalam diri.

 

Kenyataan seperti ini yang dalam istilah Antonio Gramsi disebut sebagai hegemoni. Di mana pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan disebarkan dalam masyarakat baik secara institusional maupun perorangan. Akibatnya, budaya hegemonik masuk menyusup ke dalam sendi-sendi kehidupan.

 

Karna hidup dalam tata nilai seperti itu. Dia terhegemoni oleh sebuah sistem keyakinan yang mengakar di tengah masyarakat. Di mana kaum suta tidak boleh melampaui capaian kaum Ksatria dan Brahmana. Karna benar-benar terjerat dalam lingkaran tradisi yang membelenggu dirinya dan kemampuannya. Kemampuannya dibatasi, bahkan sama sekali tidak diakui.

 

Karna adalah kisah tentang anak manusia yang tidak pernah dikehendaki terlahir di bumi. Sejak bayi dia dibuang ke Sungai Gangga oleh ibunya, Kunti, hanya karena perbuatan yang sama sekali tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Kunti melahirkan Karna di luar pernikahan, suatu perbuatan yang dianggap kotor dan mencoreng nama baik keluarga. Demi menutupi aib keluarga, Karna dibuang.

 

Sebagaimana Wisanggeni, Karna telah banyak mereguk pahit getir kehidupan. Dia terlahir begitu saja, terlempar ke dalam kehidupan dunia yang penuh enigmatik. Dia berada dalam dunia yang sama sekali tidak pernah menerima kehadirannya. Dibesarkan oleh tukang kusir, Adirata. Dikucilkan masyarakat. Dan ditolak menjadi murid oleh beberapa guru—salah satunya Dorna, guru para Pandawa dan Kurawa.

 

“Tidak ada yang lebih mengerti tentang kesepian dan kesendirian selain Karna”, kata Bhisma. Putra Gangga ini tahu betul derita yang dialami Karna. Dia sangat memahami suasana batin yang mengganggu pikiran Karna. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak sanggup melawan tradisi, apalagi mendobraknya. Sebagai pejabat Hastinapura dan tokoh bangsa Arya, seharusnya Bhisma bisa merubah tradisi yang tidak mendukung kemajuan dan perkembangan zaman.

 

Pengalaman hidup Karna adalah potret sial dari struktur nilai yang semena-mena yang dibuat oleh para elite penguasa, oleh sebuah tradisi yang menjerat kebebasan dan membelenggu ekspresi seseorang. Tidak mudah menjalani hidup seperti karna. Tapi dia mampu melewati beragam pergolakan dalam seluruh perjalanan hidupnya. Perjuangannya untuk mendapat pengakuan publik atas kemampuannya dalam olah keperajuritan tidak pernah kenal lelah.

 

Bagi Karna, siapapun tidak menghendaki terlahir dalam keadaan miskin. Setiap yang dilahirkan tidak punya kuasa memilih harus terlahir dalam status sosial yang mana. Bahkan setiap manusia tidak pernah diminta untuk dilahirkan. Tiba-tiba saja kita ada di dunia. Lalu kenapa Karna harus dihukum dan dikucilkan dari masyarakat hanya karena dia terlahir dari keuarga Suta.


Tak ada usaha yang sia-sia. Tak ada hasil yang mengkhianati upaya. Pasca kematiannya, Karna dikenal sebagai ksatria besar. Namanya harum, bersanding dengan nama-nama besar lain sperti Bhisma, Dhorna, dan Arjuna. Sejarah mencatatkan namanya sebagai ksatria sejati, setia pada kebenaran yang diyakininya, dan rela mengorbankan jiwa raga demi sebuah persahabatan.

 

Tentu saja pengalaman hidup Karna bisa terulang di zaman ini kepada siapa pun, selama tata nilai masyarakat masih mempertahankan struktur kelas yang diskriminatif dan budaya hegemonik yang dikendalikan elite. Karna dan hal-hal yang tak pernah selesai akan selalu ada dari watu ke waktu, dari generasi ke generasi, selama putaran zaman masih menampung buangan sampah peradaban masa lalu, yang menolak kemajuan dan perubahan.