Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Rabu, 02 November 2022

Manusia adalah Serigala bagi Sesamanya

Rabu, November 02, 2022 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi manusia lain. Pepatah Latin ini sepertinya cukup mewakili kebrutalan seorang ayah yang dengan biadab membantai putri dan istrinya hingga meregang nyawa. Peristiwa pembantaian ini terjadi di Jatijajar, Tapos, Depok, 1 November 2022. Motifnya hal sepele, gara-gara kalah judi online. Naudzubillah min dzalik!

Dari informasi yang saya terima melalui sejumlah laman berita, korban mengalami luka cukup parah. Mata korban dicongkel dan jari-jari tangannya putus. Peristiwa ini cukup menghentak kesadaran publik sebab dilakukan ayah kandungnya sendiri. Entah syetan mana yang merasuki pikiran si pelaku. Tapi begitulah kondisi seseorang bilamana akalnya sudah dikuasai watak serigala yang siap memangsa kapan saja.

Istilah homo homini lupus pertama kali diperkenalkan sastrawan Romawi, Titus Maccius Plautus (254-184 SM) dalam Asinaria. Plautus menuliskan, “Lupus est homo homini, non homo, quom qualis sit non novit.” Manusia bukanlah manusia, tetapi serigala bagi orang lain. Apa yang disampaikan Plautus itu tidak lain merupakan kritik keras terhadap perilaku manusia yang gemar memangsa sesamanya. Tak peduli seperti apa korban meregang nyawa, tak mengapa meski ribuan manusia menggelepar penuh luka.

Sejak berabad-abad yang silam, Plautus sudah memperingati watak purba manusia yang bersifat destruktif itu, yang sesekali akan muncul manakala manusia dalam keadaan terdesak. Memang, manusia pada puncak moralitas dan spiritualnya akan menjelma sebagai Tuhan: dipuja dan disembah. Tapi pada titik paling terendah manusia akan menjelma sebaliknya, bak binatang buas. Bahkan lebih biadab dari binatang sekalipun.

Intelektual Islam Ali Syariati dalam On the Sociology mengalisa, bahwa sejatinya manusia tidak bisa dipisahkan dari sejarah kekerasan. Bahkan sejarah manusia di buka bumi ini ditandai dengan pertumpahan darah. Pembunuhan Habil oleh Qabil bukti kekejaman manusia atas manusia lain. Kemudian, kekerasan terus berlangsung, bahkan seperti terwariskan hingga sekarang sebagai habitus, dan selanjutnya mewarnai ekspresi peradaban kita.

Dalam sejarah umat manusia, kekejaman demi kekejaman kerap ditampilkan manusia di muka bumi justru bukan untuk menghabisi lawan-lawannya, tapi untuk memenuhi kesenangan-kesenangannya. Masih ingatkah kita tentang bagaimana sepak terjang tentara Jepang yang tanpa ampun membantai warga Nanking tak berdosa.

Dalam aksi kejinya, tentara Jepang tanpa belaskasihan menghabisi warga Nanking. Tua-muda dibantai, laki-laki-perempuan dihabisi, bahkan anak-anak balita pun tidak luput dari kebiadaban mereka. Puluhan ribu kepala dipisahkan dari tubuhnya, mayat-mayat bergelimpangan, situasinya saat itu amat mencekam. Nanking seperti kota mati tak berpenghuni.

Sementara para algojo melakukan aksinya itu tanpa rasa iba. Mereka malah melakukannya dengan penuh bangga. Dikisahkan, untuk mendukung nafsu membunuhnya, petinggi militer Jepang memberi hadiah besar bagi prajurit yang berhasil memenggal banyak kepala. Dalam perang yang terlanjur digelar tidak pernah ada yang dimenangkan, kecuali kesengsaraan yang mencekam bagi para korban.

Manusia di dalam dirinya memiliki kualitas predator, kejam, tidak manusiawi. Apa yang ditampilkan pelaku di Depok kian menguatkan watak dasar manusia sebagai pembunuh berdarah dingin. Pelaku tak peduli siapa sasaran yang menjadi korbannya. Yang ada dalam pikirannya adalah melampiaskan nafsu membunuhnya. Homo homini lupus. Manusia adalah mangsa bagi manusia lainnya.

Ada banyak contoh kekerasan dan kekejaman yang dilakukan manusia terhadap manusia lainnya. Semuanya dilakukan dengan bentuk dan wujud yang berbeda-beda, dengan dalih dan alasan yang berbeda pula. Dan semua itu merupakan watak purba dari manusia yang harus dihindari. Watak dasar manusia kata Hegel adalah keinginan menguasai yang lain. Dan dalam upaya menguasai itu, seseorang akan meniadakan dan bahkan menghacurkan yang lainnya.

Sejarah manusia, terang Hegel adalah sejarah dialektika. Sejarah saling meniadakan, saling menghancurkan.

 

Homo Homini Socius

Homo homini socius. Manusia adalah teman bagi sesamanya. Manusia adalah mahluk sosial. Begitu tulis Filusuf Romawi, Lucius Annaeus Seneca (4 SM-65 SM). Pernyataan Seneca ini menaggapi nukilan drama berjudul Asinari karya Plautus, yang menuliskan, “Lupus est homo homini, non homo, quom qualis sit non novit.” Manusia bukanlah manusia, tetapi serigala bagi orang lain.

Dalam situasi manusia dihantui sifat seperti predator dan gemar memangsa manusia lain, Seneca mengajukan suatu sikap alternatif guna menanggulangi kekacauan tersebut. manusia diharapkan bisa menajdi teman/sahabat bagi sesamanya. Sebagai mahluk sosial, manusia diharapkan saling membantu dan menolong dalam menghadapi problem kehidupan.

Dalam menapaki hidup ini, manusia tidak akan bisa hidup sendiri. Manusia tidak akan bisa keluar dari watak dasarnya sebagai mahluk sosial dan bermasyarakat. Dan di dalam hidup bermasyarakat itulah manusia satu sama lain dituntut untuk saling membutuhkan, bukan untuk saling menghancurkan dan membunuh. Manusia adalah teman bagi sesamanya, bukan mangsa bagi yang lainnnya.

Dari uraian di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa di dalam diri manusia ada sifat predator layaknya mesin pembunuh dan sifat bersahabat yang berorientasi melestarikan hidup harmonis antar sesama manusia. Kedua sifat ini pada akhirnya berusaha untuk saling mempengaruhi perilaku manusia. Mana yang lebih dominan, maka itulah yang mempengaruhi cara hidup manusia.

Singkatnya, manusia sudah diberikan pilihan. Dan manusia pula-lah yang menentukan; sebagai homo homini lupus atau homo homini socius.

 

Rabu, 26 Oktober 2022

Muhammad Potret Seorang Pembaharu

Rabu, Oktober 26, 2022 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Dimuat di media cetak Pelita, Jum’at 13 April 2007

 

Sejauhmana pengetahuanku terhadap Rasul, sebatas itu pula kelayakanku menerima pahala Allah. Sejauhmana kebodohan dan kekufuranku terhadap Rasul, sejauh itu pula kelayakanku menerima azab Allah baik di dunia maupun di akhirat nanti. Maka amat penting bagiku untuk mengetahuinya.

[Bint As-Syathi]

 

Sabtu, 31 Maret 2007 M/12 Rabi’ul Awwal 1428 H adalah hari yang amat bersejarah bagi umat Islam di seluruh dunia. Pasalnya, pada tahun ini seorang anak manusia yang melampaui sisi kemanusiaan manusia pada umumnya dilahirkan (12 Rabi’ul Awwal 570 H) di Tanah Arab untuk membawa risalah dan amanah yang diterimanya dari Allah SWT.

Michael H. Hart dalam The 100: A Ranking of The Most Influential Person in History (1978) menempatkan Nabi Muhammad pada urutan teratas. Karena menurutnya Muhammad adalah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular manupun agama. Ia mampu mengintegrasikan persoalan-persoalan dunia dan akhirat secara bersamaan. Dan dia juga adalah orang yang mampu mengubah altar-altar pemujaan, sesembahan, agama, pikiran, kepercayaan serta jiwa manusia dari kejahilan.

Kesabaran, ketabahan, dan keberaniaannya dalam menegakkan agama Islam banyak dipuji kawan maupun lawan, ia sama sekali tidak berhasrat untuk membangun kekuasaan dan ketenaran, ia singkirkan tuhan-tuhan palsu dengan mengenalkan Tuhan yang sesungguhnya yang membahawa keselamatan dan kedamaian dalam hati, ia ajarkan kebajikan, moral dan etika sebagai nilai luhur yang harus dijunjung.

Atas jasa-jasanya itulah banyak label positif yang tertera pada dirinya, seperti Muhammad adalah seorang agamawan, reformis sosial, teladan moral, administrator massa, sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami yang penuh kasih dan seorang ayah yang penyayang. Semua menjadi satu berada dalam diri Nabi Muhammad SAW. Sehingga tidak ada manusia dalam sejarah duniamampu melebihi atau menyamainya dalam setiap aspek kehidupan tersebut.

 

Pribadi yang Revolusioner

Mengutip perkataan Sir George Bernard Shaw (1817-1902) dalam The Genuine Islam “Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa beberapa tahun dari sekarang, maka Islam-lah agama tersebut”.

Di sini Bernard Shaw ingin menegaskan bahwa di tengah hiruk pikuk arus modernisasi yang mengusung jargon kebebasan tanpa batas, sekularisasi, inklusivisme dan pluralisme. Ditambah dengan kemajuan ilmu dan tekhnologi yang begitu pesat dan menakjubkan sekaligus kehadirannya juga membawa dampak yang negatif dan membahayakan keselamatan umat manusia, kemanusiannya dan akidah. Maka, menurutnya (Shaw) dalam kondisi seperti ini dunia sangat membutuhkan seorang yang berpikir, berkepribadian, dan berakhlak mulia seperti Nabi Muhammad.

Penilaian ini tentu tidak berlebihan dan tidak mengada-ada. Kalau kita coba buka lembaran sejarah Islam kembali pada masa lalu. Islam mampu menyatukan, mengintegrasikan serta mengubah peradaban dunia yang biadab dan tak berperadaban kepada dunia yang sangat beradab dan berperiadaban. Kita bisa melihat masa-masa kejayaan pada empat Khulafa Al-Rasyidin, Dinasti Muawiyyah dan Abbasiyah. Di mana pada saat itu pluralitas dihargai, kebebasan untuk berkarya dan berinovasi difasilitasi, hak individu dan nasib hidup orang banyak diperjuangkan. Sehingga melahirkan kedamaian, ketenteraman, kesejukan dan keadilan yang merata. Kesemuanya adalah ajaran universal yang telah Nabi berikan dan ajarkan kepada sahabat-sahabatnya.

Sepanjang masa kenabiannya yang terhitung amat pendek, yaitu 23 tahun, Nabi Muhammad mampu merubah Jazirah Arab yang amat memperihatinkan; dari paganisme yang memuja gunung, pepohonan, mahluk halus dan lainnya menjadi para pemuja Tuhan yang Esa, dari peperangan dan perpecahan antara suku menjadi bangsa yang bersatupadu menegakkan kalimat Allah SWT, dari kaum pemabuk dan pengacau menjadi kaum pemikir dan penyabar, dari kaum tak berhukum dan anarkhis menjadi kaum yang teratur dan moralis.

Ini merupakan hasil yang sangat prestesiun dan gemilang. Sejarah manusia dalam peradaban-peradabannya sungguh tidak mengenal transformasi dan kemajuan yang dicapai begitu cepat dan pesat seperti ini, sebuah masyarakat yang bermoral dan beradab, berbudi dan berperadaban, serta masyarakat yang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi.

Dalam mengemban amanah yang diterimanya ini, Nabi mampu menciptakan inovasi-inovasi dan pembaruan yang cukup modern di zamannya. Sebagai contoh, jauh sebelum, asas-asas demokrasi modern—kebebasan, kesetaraan, dan Hak Asasi Manusia—ditemukan oleh John Lock, Nabi Muhammad telah memperkenalkan Al Hurriyyah, Al Musawwah, dan Huquq Al Insaniyyah kepada umat Islam. Yang intinya adalah sama-sama menghargai kebebasan, hidup rukun yang berdasarkan pada cinta dan kasih sayang tanpa diskriminasi.

Dan diakui atau tidak bahwa Islam pada masanya telah mempraktikkan dan mengajarkan demokrasi sebagai sistem yang universal. Karena demokrasi pada dirinya telah tertanam pada ajaran Islam yang universal dan abadi. Sebagai contoh kecil saja demokrasi dalam Islam terwujud lima kali sehari ketika seorang hamba dan seorang raja berlutut dan bersembah sujud, berdampingan dan mengakui: Allah Maha Besar.

Di atas itu semua, W. Montgomery Watt dalam Mohammad at Mecca, 1953 memberikan apresiasi yang begitu besar terhadap perjuangan dan ketabahan Muhammad dalam menyebarkan agama Islam. Ia mengatakan bahwa kesiapannya menempuh tantangan atas keyakinannya, ketinggian moral para pengikutnya, serta pencapaiannya yang luar biasa semuanya menunjukkan integritasnya. Mengira Muhammad sebagai seorang penipu hanyalah memberikan masalah dan bukan jawaban. Lebih dari itu, tiada figur yang digambarkan begitu istimewa selain Nabi Muhammad Saw.

Dengan demikian, di tahun kelahirannya (Maulid Nabi) ini menjadi pemting bagi kita sebagai umat Islam untuk merayakan dan mengenang perjuangannya dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Karena memperingati atau merayakan kelahiran Nabi Saw itu sendiri sesungguhnya sudah dilakukan dan dicontohkan oleh Nabi Saw sendiri. Yaitu berdasarkan hadist Nabi ketika suatu saat Nabi ditanya oleh sahabat beliau mengenai mengapa beliau berpuasa di hari Senin. Kemudian Rasul menjawab: “Di hari itu aku dilahirkan dan di hari itu pula aku memperoleh wahyu” (HR. Muslim, Abu Daud, dan Ahmad). Hadist ini mengandung pesan bahwa untuk mengenang hari kelahirannya , Nabi Muhammad harus melakukan puasa sebagai tadzkirah dan pengagungan, walaupun sebagian ulama mengatakan bahwa merayakan kelahiran Nabi (Maulid Nabi) itu tidak bedasarkan pada Al Qur’an dan Hadist.

Paling tidak, pada momen Maulid Nabi ini kita bisa meluruskan sejarah Nabi Muhammad yang selama ini ada sebagian tokoh yang mencoba memberikan kesan negatif terhadap perjuangan Nabi Muhammad. Padahal kita tahu bukan pedang yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya sebagaimana yang dituduhkan Robert Moore. Tapi dia datang dengan kedamaian, kesejukan, ketenteraman, kesederhanaan, kebersahajaan, keadilan dan ukhuwah islamiyyah.

Selasa, 20 September 2022

Azyumardi Azra Pergi Sebagai Jiwa Yang Abadi

Selasa, September 20, 2022 2


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Dalam suasana negeri masih diterpa awan mendung akibat kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang kian menambah beban hidup masyarakat, kita dikejutkan kabar duka atas berpulangnya cendikiwan ternama Prof. Azyumardi Azra, CBE, ke pangkuan Sang Pengatur Segala, Allah SWT. “Dan duka maha tuan bertahta”, demikian Chairil Anwar menggambarkan suasana lirih akibat ditinggal orang-orang terkasih.

Prof. Azyumardi Azra, CBE, menghembuskan nafas terakhir pada Minggu (18/9/2022), di Rumah Sakit (RS) Serdang di Selangor, Malaysia, saat hendak memenuhi undangan diskusi “Kosmopolitan Islam: Mengilham Kebangkitan, Meneroka Masa Depan”. Kini, Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya, setelah sebelumnya Buya Syafi’i Ma’arif lebih dulu memenuhi panggilan Illahi.

Di forum seminar ilmiah itu, Prof. Azyumardi Azra sebetulnya sudah menyiapkan makalah berjudul “Nusantara Untuk Kebangkitan Peradaban: Memperkuat Optimisme dan peran Umat Muslim Asia Tenggara”. Dalam makalahnya, mantan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini, bicara tentang kemungkinan kebangkitan Peradaban Islam—dia biasa menyebutnya sebagai Kebangkitan Peradaban Islam Jilid II—yang muncul di Asia Tenggara, seperti Indonesia dan Malaysia.

Gagasan kebangkitan Peradaban Islam jilid II sering dia utarakan dalam banyak kesempatan. Saya sendiri sering mendengar hal itu, baik dalam forum seminar terbuka maupun saat kuliah di SPs UIN Jakarta. Menurutnya, kebangkitan Islam akan terjadi hanya bila: pertama, stabilitas politik dan sosial dalam bernegara berjalan dengan aman dan damai, kedua, terciptanya kemandirian dan kemajuan ekonomi, dan ketiga, terinternalisasinya wawasan pengetahuan keislaman yang luas dan rahmatanlilalamin.

Tesis kebangkitan Peradaban Islam jilid II yang dimungkinkan dimulai di wilayah Nusantara, di mana Indonesia sebagai kawasan paling potensial, itu dia kemukakan setelah melihat negara-negara Timur Tengah hingga kini masih disibukan dengan perang dan konflik internal yang tak kunjung usai. Negara-negara Islam kontemporer terkotak-kotak menjadi kepingan persoalan kekinian yang membuat ‘macet’ keran persatuan dan kesatuan umat Islam. Negara-negara Islam masih dicabik perpecahan dan permusuhan. Semua itu makin membuat buram wajah Islam di mata dunia.

Apa yang dipikirkan Prof. Azyumardi Azra di atas cukup membuktikan serta memperkuat kesimpulan Bassam Tibi yang menyebut negara-negara Islam masih dalam kultur pra-industri. Di mana mental sektarianisme dan konservatisme beragama masih menyusup kuat kedalam laku hidup dan alam pikir masyarakat muslim. Dalam bukunya berjudul The Crisis of Modern Islam: A Preindustrial Culture in the Scientific-Technological Age, Tibi memastikan belum ada negara Islam yang masuk kedalam kultur industri yang ditandai kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Hingga saat ini masyarakat Islam masih menjadi konsumen negara-negara maju—bila tidak ingin disebut ‘sapi perah’ orang kulit putih.

Sementara itu, kata Prof. Azyumardi Azra, Barat kian mengalami ‘kemerosotan peradaban’ (the decline of Western civilization), dan kian gugup menyaksikan kebangkitan ekonomi China dalam beberapa tahun belakangan. China memang sedang menjadi kekuatan baru dan penantang kuat dominasi peradaban Barat yang patut diperhitungkan. Saat ini, kebangkitan China terjadi tidak hanya dalam sektor ekonomi, tapi juga sains dan teknologi. Jepang dan India yang semula sebagai kekuatan poros utama Asia berhasil disalip China. Fakta ini membuat Barat, terutama Amerika Serikat (AS), ketar-ketir, dan mulai melakukan tekanan demi tekanan ke negeri yang berjuluk tirai bambu itu.

Wacana tentang ‘kebangkrutan’ peradaban Barat sebetulnya sudah diramalkan oleh banyak ahli dan pengamat internasional. Salah satunya, seperti dikutip Prof. Azyumardi Azra, adalah Fareed Zakaria. Dalam buku yang berjudul The Post American World (2008) Fareed Zakaria meramalkan kejayaan AS sudah habis bersamaan dengan segala kebijakannya yang kontroversial dan merugikan masyarakat dunia.

Kebijakan standar ganda yang sering AS praktekan membawa petaka bagi masa depan bangsanya sendiri. Pada satu kesempaan AS mengkampanyekan demokrasi pada negara-negara muslim, namun pada sisi yang lain kebijakan luar negerinya tidak mencerminkan nilai-nilai demokrasi. AS sering mencampuri urusan dalam negeri bangsa lain dan tidak jarang menciptakan peta konflik hingga menimbulkan agresi militer. Pengalaman pahit yang kini dialami masyarakat Irak adalah buah dari kesewenang-wenangan AS terhadap negara lain.

Dalam situasi seperti diuraikan di atas, Indonesia dan Malaysia, yang mewakili ‘suara dari Asia Tenggara’, mesti segera mengambil bagian dalam percaturan global untuk kemajuan peradaban Islam. Prof. Azyumardi Azra optimistis hanya Indonesia dan Malaysia yang bisa mengambil peran kebangkitan Islam. Optimisme tentang kebangkitan Islam di Nusantara, tentu saja, kata Prof. Azyumardi Azra, mensyaratkan umat Islam membebaskan diri dari psikologi konspiratif dan enclosed mind.

Pada saat yang sama umat Islam harus lebih menumbuhkan orientasi ke depan daripada romantisme tentang kejayaan peradaban Muslim di masa silam. Masa silam hanyalah milik orang terdahulu yang belum tentu sesuai dengan masa kini. Muslim masa kini punya problem kultur yang berbeda dengan para pendahulunya. Karena itu, muslim masa kini harus lebih mengkonsentrasikan diri pada upaya-upaya kreatif dan produktif daripada terus dikuasai sikap defensif, apologetik, dan reaksioner yang sering eksesif. Itu semua, kata Prof. Azyumardi Azra, dilakukan agar masyarakat Islam bisa bersaing dengan bangsa lain.

******

Di mata saya, Prof. Azyumardi Azra adalah guru sejati. Pengabdiannya pada ilmu pengetahuan dan dunia pendidikan begitu tulus. Jalan hidup seperti itulah yang dia pilih hingga akhir hayatnya. Sebagai guru, dia telah memenuhi tugasnya, menerangi kegelapan alam pikiran manusia. Dalam bahasa Sansakerta, guru berasal dari gu berarti tidak berpengatahuan atau gelap, sementara ru bermakna terang. Maka guru adalah orang yang membawa kegelapan kepada jalan terang penuh pengetahuan dan pencerahan. Sebagai murid/mahasiswanya, saya telah banyak mereguk ilmu pengetahuan darinya—bila perlu sampai suara kedunguan dalam diri ini sudah tidak lagi terdengar.

Dia adalah guru bangsa yang selama hidupnya konsisten menjaga moralitas negeri agar berjalan pada nilai-nilai luhur keadaban, seraya tetap berpijak pada jati diri bangsa yang berpedoman pada Pancasila. Suara pembelaannya pada hak-hak minoritas terdengar begitu nyaring hingga tak satu syetan pun mampu merintangi jalannya. Dalam konteks nasional pengaruhnya begitu nyata: dia perkuat demokrasi subtansial dengan cara memberi ruang kebebasan bagi setiap warga negara untuk berpendapat dan berkarya. Sebab kebebasan adalah intisari dari cara bagaimana manusia modern hidup berbangsa, beragama, dan bernegara. Dan atas dasar itulah dia diberi jabatan sebagai Ketua Dewan Pers Indonesia periode 2022-2025 untuk merawat kebebasan dalam mewartakan berita, bersuara, dan menyampaikan pendapat.

Dalam lingkup wawasan keislaman: dia gencar memberi pemahaman yang memadai tentang moderasi beragama (Islam Washatiyah), yang merupakan ciri dari Islam Nusantara (NU) dan Islam Berkemajuan (Muhammadiyah). Kedua ormas keagamaan ini dia sebut sebagai dua sayap Islam Indonesia yang satu sama lain saling mendukung dan melengkapi untuk masa depan masyarak Islam dan keutuhan bangsa. Sementara dalam konteks global: gagasan moderasi beragama yang menjadi ciri khas Islam Indonesia dia perkenalkan ke level dunia. Berbagai diskusi dan dialog internasional mengenai hubungan kerukunan beragama dan relasi agama-agama dia ikuti. Dia berharap terciptanya tata dunia baru yang rukun penuh kedamaian. 

Atas dedikasi dan pengabdiannya pada ilmu pengetahuan dan konsistensinya mempromosikan moderasi beragama dan dialog kerukunan beragama dalam kontek nasional maupun global, Prof. Azyumardi Azra mendapat gelar kehormatan Commander of the Order of British Empire (CBE) dari Ratu Alizabeth II. Gelar kehormatan tersebut diberikan kepada warga sipil dan angkatan bersenjata yang telah berjasa, baik secara nasional maupun internasional. Dengan gelar kehormatan tersebut maka dengan sendirinya mengantarkan Prof. Azyumardi Azra pada level internasional sebagai cendikiawan yang patut diperhitungkan.

Prof. Azyumardi Azra juga dikenal pakar dalam bidang Sejarah Islam. Hingga gelar akademiknya dia raih sebagai Guru Besar Sejarah Islam di UIN Jakarta. Karya tulisnya mengenai “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII” membuka banyak diskusi hangat di kalangan pakar dan akademisi. Keberhasilan Prof. Azyumardi Azra melacak jaringan dan geneologi keilmuan ulama Timur Tengah dengan Nusantara pada akhirnya mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah pujian dari Prof. MC Ricklefs yang mengatakan hal itu kepada Fakhry Ali: “This is a very good dissertation”. Penelitian disertasi Prof. Azyumardi Azra ini menepis asumsi yang umumnya dinyatakan akademisi Barat bahwa Islam Indonesia adalah Islam pinggiran, tidak otentik.

Jaringan keilmuan antara ulama Timur Tengah dengan Nusantara cukup memberi penjelasan, seperti dikatakan Prof. Azyunardi Azra, bahwa Islam Indonesia juga berasal dari sumber yang sama, meski ekspresinya berbeda. Perbedaan ekspresi keagamaan justru menunjukan citra Islam yang amat lentur dan akomodatif terhadap budaya. Salah satu kritik Prof. Azyumardi Azra terhadap para sejarawan dunia adalah absennya pembahasan mengenai sejarah kesultanan dan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Selama ini, penulisan tentang materi Sejarah Peradaban Islam hanya membahas periode Nabi Muhammad, Khulafa Al Rasyidin, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Fatimiyah, Kerajaan Mughal, dan Turki Utsmani. Sementara ulasan mengenai kerajaan dan kesultanan di Nusantara luput dari pembahasan.

*********

Prof. Azyumardi Azra adalah cendikiawan mandiri. Dia konsisten menjaga jarak dari bau harum kekuasaan. Dia lebih setia kepada kebenaran pengetahuan yang diyakininya ketimbang ‘bisikan’ elite negara yang kerap menyalahi hati nurani rakyat. Perlawananya pada korupsi dan diskriminasi, serta pembelaanya pada kaum lemah, mencirikan pribadi yang peduli pada nilai-nilai kemanusiaan. Prof. Azyumardi Azra adalah sosok yang mempuni dalam banyak bidang. Rasanya sulit mencari penggantinya dalam waktu dekat ini. Kepergiannya untuk selama-lamanya tentu meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga, bangsa, tapi juga masyarakat dunia.

Ujung dari perjalanan manusia di dunia adalah kematian. Sebab hidup, kata Martin Heidegger, adalah menuju kematian. Ibarat pengembara merindukan jalan pulang. Begitu juga setiap manusia merindukan ruang kembali pada Yang Maha Suci. Manusia harus menyempurnakan perjalanan panjangnya di dunia dengan kembali pada asal primordialnya, yaitu kampung spiritual. 

Dalam literatur agama, kematian adalah perjumpaan aku (hamba) dengan Tuhan, yang menakutkan hingga membuat kita gentar dan gemetar. Tuhan dirasakan sebagai sesuatu yang dahsyat, kudus, dan tak terhampiri. Inilah yang disebut oleh Rudolf Otto sebagai mysterium tremendum, pengalaman yang menggetarkan saat kehadiran Tuhan. Namun, di kalangan mistikus Islam (sufi), kematian adalah perjumpaan dengan Sang Kekasih (Tuhan). Gejolak rindu sang pecinta hanya bisa ditebus oleh temu melalui momen kematian. Inilah yang disebut Otto, sebagai mysterium fascinosum, pengalaman yang mengasyikan dan memesona hati.

Perihal kematian, mistikus besar Jalaluddin Rumi pernah berdendang seperti ini:

Ketika melihat jenazahku diusung,

Janganlah menangis karena kepergianku

Aku bukan pergi

Aku telah sampai pada Cinta Yang Abadi

 

Prof. Azyumardi Azra tidak pergi. Dia masih ada bersama kita. Lewat karya dan tulisannya kita masih akan tetap bisa membersamainya. Takdir tubuh memang hancur, lebur bersama amuk waktu. Tapi karya cipta beruba buku akan tetap abadi meski melewati ribuan waktu. Prof. Azyumardi Azra, engkau pergi sebagai jiwa yang abadi. Selamat jalan, prof!  

 

Rabu, 17 Agustus 2022

Kemerdekaan Minus Pembebasan

Rabu, Agustus 17, 2022 1


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Indonesia boleh saja merdeka dari belenggu para penjajah. Tapi negeri yang kita diami ini tidak boleh luput dari perjuangan pembebasan yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa. Kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, ketidak-adilan, korupsi dan diskriminasi masih menyandera negeri ini. Kemerdekaan minus pembebasan.

Kemerdekaan dan pembebasan mengandung makna yang berbeda. Keduanya tidak bisa diidentikan, meski sering dipertukarkan. Yang pertama bermaksud keluar dari tekanan pihak lain (kolonial), yang kedua lebih menonjolkan partisipasi bersama untuk tujuan bersama. Yang pertama ingin lepas dari cengkeraman asing, yang kedua berjuang melawan penjajahan yang dilakukan anak bangsa sendiri.

Kita masih terus berjuang meninggikan martabat negeri dari sekumpulan orang yang gemar melakukan “penghisapan” dan penyelewengan; atas tanah, air, udara, dan apa saja yang terdapat di atas, dan dalam perut bumi. Perampasan, perampokan, dan eksploitasi atas semua aset negeri, hingga kini, masih terjadi dan itu dilakukan elite berdasi dan cukong berduit.

Banyak orang berkata, kejahatan preman berpangkat jauh lebih berbahaya dan menyengsarakan rakyat. Faktanya memang begitu. Korupsi, eksploitasi dan bentuk penyalahan wewenang lainnya dipertontonkan secara telanjang di depan mata kita. Moralitas dihilangkan, tata nilai diabaikan. Yang ada dalam benak mereka adalah bagaimana mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya.

Mereka itu, kata Bung Karno, adalah sebenar-benarnya penjajah. Hobinya menjarah kekayaan alam negerinya sendiri, demi, dan untuk tujuan pemenuhan syahwat duniawi. Nafsu berburu materi tak pernah padam meski harus “menumbalkan” hidup dan kehidupan wong cilik. Mereka tega memainkan perasaan rakyat dengan obral janji dan harapan palsu. Mereka adalah musuh dalam selimut yang sewaktu-waktu muncul menikam dari dalam. Tak mengenal ampun, tak mengerti belas-kasihan.

Penjajahan sendiri punya banyak wajah, dengan bentuk dan ragamnya yang berbeda-beda. Ada yang terlihat secara kasat mata, ada yang bersembunyi di balik kehalusan tatak rama. Penjajahan dalam wujudnya yang nyata bisa kita waspadai. Namun yang tersembunyi di balik topeng “pemikat” sulit diantisipasi. Seperti halnya duri dalam daging yang bila dibiarkan akan terasa sakit. Begitu juga dengan musuh yang datang dari dalam bila dibiarkan makin bebas menghisap kekayaan bangsa sendiri.

Penjajahan dalam bentuknya yang tersembunyi memang suka memerdaya kesadaran kita. Menutupi pikiran waras manusia. Kadang kita tertipu oleh tampilan yang memesona, atau oleh senyuman manis yang tersungging. Padahal di balik itu semua menyimpan perangkap yang siap menjerat masa depan bangsa.

Lihat saja bagaimana kelakuan para elite negeri ini. Mereka hidup penuh dengan sopan santun. Tapi semua kebohongan, kedengkian, dan kelicikan tersembunyi di balik tatak rama yang menawan. Ibarat lalat yang berebut kotoran, mereka (elite) berlomba berebut kepalsuan; busuk dan penuh tipu daya. Mereka tak ada yang mau mengalah. Tak ada yang ingin dikalahkan. Satu dengan yang lain menjadi musuh bagi yang lainnya.

Watak retak elite tak mudah diobati. Keputusan mereka sulit dipahami. Kata-katanya bercabang, susah dipercaya. Janji-janjinya membuai, lalu memuai mengikuti terpaan arah angin. Apa yang diucapkannya dalam sekejap waktu bisa berubah. Entah apa jadinya bila negeri ini diurus pemimpin seperti itu. Apalagi bila para elite dalam situasi saling curiga. Maka masyarakat jadi korban, hanya target obral janji murahan belaka. Tak ada keinginan untuk menyejahterakan, apalagi memberi keamanan dan kenyamanan pada rakyat.

77 tahun sudah kita merdeka. Lepas bebas dari invasi asing. Tiap tahun kita memperingati momen penting dalam sejarah bangsa ini. Semangat kemerdekaan diekspresikan dalam banyak perlombaan; mulai dari balap karung, tarik tambang, makan kerupuk, panjat pinang, hingga karnaval budaya. Upacara menaikan Bendera Merah Putih juga dilakukan di seluruh sekolah di pelosok Indonesia. Bahkan presiden dan bawahannya tak ketinggalan merayakannya. Itu semua dilakukan sebagai tanda syukur atas kemerdekaan yang sudah diraih bangsa ini.

Namun, hakikat kemerdekaan bukan sekedar seremonial dan "upacara" basi-basi belaka. Hakikat kemerdekaan adalah bebas dari kemiskinan, kebodohan, ketidak-adilan, korupsi, diskriminasi, eksploitasi, dan perilaku elite yang menjadi beban bagi masyarakat banyak. Selama semua itu masih terjadi di persada ibu pertiwi, maka peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) yang rutin dirayakan setiap 17 Agustus, hanyalah embel-embel belaka. Itulah Kemerdekaan Minus Pembebasan.

Selamat HUT RI ke 77. Betapapun negeri ini ditimpah cobaan berkali-kali, semoga kita tetap bisa pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat. Merdekaaa....!!!