Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Minggu, 06 November 2022

Sang Bintang Penuntun

Minggu, November 06, 2022 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

 

“Kadang cahaya kita lenyap dari dalam diri dan dinyalakan lagi oleh pijar dari orang lain. Masing-masing kita punya alasan untuk memikirkan dan memberikan penghargaan mendalam pada orang yang telah menyalakan api di dalam diri kita”, (Albert Schweitzer)

  

Tak terasa dua tahun sudah gurunda kita tercinta, KH. Ahmad Maimun Alie, MA (selanjutnya ditulis Abah), pergi ke pangkuan Illahi. Tempat seluruh hamba akan kembali pada waktunya nanti; saat semuanya telah menyempurnakan perjalanan hidupnya di dunia. Dari-Nya akan kembali kepada-Nya. Innalillahi wa Innailahi Raajiun.

Hingga kini, kepergian Abah masih menyisakan ruang duka bagi kita, terutama keluarga dan orang-orang terdekat. “Dan duka maha tuan bertahta”, demikian Chairil Anwar menggambarkan suasana lirih akibat ditinggal pergi orang-orang terkasih. Ada pilu yang membatin, ada perih berulang pedih.

Manakala saya mengenang sosok Abah, seketika ingatan saya menoleh jauh ke belakang, pada suatu masa dalam waktu, sekitar puluhan tahun yang lalu, saat saya masih nyantri di Pondok Pesantren Modern Subulussalam, yang terletak di ujung Tangerang, pintu masuk Kota Serang: Kresek.

Memang seluruh hal yang mengisahkan masa lampau selalu saja hangat tiba di hati kita. Apalagi bila kenangan itu menorehkan selaksa kisah manis yang masih tersimpan dengan rapih. Semua ingatan tentang masa lampau itu (di pondok) bermunculan bak album kenangan, yang memuat banyak kisah tentang satu dan lain hal. Semuanya begitu nyata seolah baru saja terjadi seketika.

Bagi para santri, khususnya saya pribadi, Abah laksana bintang penuntun ke arah jalan terang. Dalam menapaki jalan hidup, siapa saja termasuk kita, bisa sempat ‘tersesat’ arah atau salah mencari jalan kembali. Dalam situasi seperti itu diperlukan penuntun yang bisa mengantarkan kita ‘kembali’ ke jalan pulang. Jalan yang direstui para ulama dan para nabi; jalan yang bila dilalui tidak akan pernah memberi penyesalan.

Saya tidak mengingkari ada banyak bintang yang telah menuntun saya dari lorong gelap, lalu mengantarkan saya pada kesadaran akan pentingnya cahaya bernama ilmu pengetahuan. Namun di antara bintang-bintang penuntun yang ada itu, Abah memberi pondasi kuat dan mendasari semua tuntunan yang saya terima.

 

Jalan Ilmu

Pernah dalam suatu hari saya menemui Abah di kediamannya, sekedar untuk menyimak petuah-petuah dan nasehatnya-nasehatnya yang menenteramkan hati dan menambah asupan gizi bagi jiwa ini. Entah mengapa sepanjang obrolan kala itu hal yang banyak dibahas justru seputar manfaat dan keutamaan ilmu. Perkara yang sebetulmya sudah sering kita dengar dari beliau saat memberi wejangan kepada para santri.

“Ilmu adalah cahaya (العلم نور), yang akan menjaga dan menerangi jalan hidup kita,” kira-kira seperti itu Abah pernah menyampaikan. Memang benar ilmu akan menjadi pelita bagi hati yang gundah dan jiwa yang resah. Dia mampu menjaga apa yang tidak dapat dijaga oleh harta. Silahkan saja dicek qaul ulama terdahulu mengenai perkara ini, dipastikan semuanya mengatakan hal yang senada. Betapa pentingnya posisi ilmu dalam Islam hingga wahyu pertama yang diterima baginda Nabi Muhammad Saw. tidak lain adalah perintah membaca: Bacalah! (اقرأ). Dan membaca adalah salah satu ikhtiar untuk mendapatkan tetesan ilmu dari lautan ilmu Allah yang tak terhingga.

Ilmu adalah pondasi bagi amal. Berapa banyak amalan ibadah seorang hamba jadi rusak—bahkan tertolak—hanya karena dikerjakan tanpa dasar ilmu. Itulah mengapa Imam al Ghazâlî, dalam Ihyâ’ Ulûm al Dîn, menulis bab khusus mengenai fadhl ‘ilm ‘alâ al ‘amal (keutamaan ilmu atas amal). Amal tanpa ilmu bisa cacat, bahkan bisa mengatarkan pelakunya terperosok pada kekeliruan. Berkenaan dengan keutamaan ilmu atas amal, kita pernah sering mendengar sebuah riwayat yang berkisah tentang syetan yang mengaku lebih takut kepada orang berilmu yang tidur ketimbang orang bodoh yang sholat.

Apa yang disampaikan Abah perihal keutamaan ilmu kala itu begitu meresap, masuk ke inti hati, hingga membangkitkan semangat saya untuk terus belajar dan belajar. Sementara saat itu—masih semester pertama di Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Jakarta—saya kurang begitu bergairah masuk kuliah. Maklum, metode pembelajaran di fakultas yang katanya menjalin kerjasama dengan Al Azhar Mesir itu lebih mengandalkan ceramah satu arah (tarîqah ilqâiyyah), sebuah metode yang umumnya lazim dipraktikan di kampus-kampus Timur Tengah.

Padahal, dalam al tarbiyyah wa al ta’lîm yang pernah kita pelajari selama di Subulussalam, metode pembelajaran (turuq al tadrîs) relatif banyak, sebut saja misalnya (semoga saya tidak keliru) metode dialog (al tarîqah al tahâwuriyyah), metode diskusi (al tarîqah al munâqasyah), metode aplikatif/penerapan (al tarîqah al tatbîqiyyah), dan metode eksperimen/riset (al tarîqah al tajrîbiyyah). Sehingga dengan begitu seorang pendidik harus bisa menerapkan metode-metode tersebut secara bergantian demi kelancaran proses belajar mengajar di kelas, agar tidak membosankan dan menjemukan anak didik.

Selama satu semester di tahun pertama saya masih lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluyuran ketimbang menelaah materi-materi kuliah. Namun, berkat wejangan Abah tentang pentingnya ilmu membuat saya kembali ke kampus meski harus bosan mengikuti model ceramah satu arah dari para dosen. Tapi itulah kenyataan yang harus saya dan teman-teman FDI terima kala itu.

Untuk memuaskan dahaga mencari ilmu, akhirnya saya keluar masuk forum-forum kajian yang ada di Ciputat. Salah satunya adalah Komunitas Pintu Terbalik (Koplik). Di forum kajian ini saya mendapat bimbingan langsung dari Miming Ismail dan Ahmad Mahromi (keduanya alumni Subulussalam). Suhu intelektual Ciputat kala itu memang sedang bergairah dengan diskursus tema-tema baru yang sebelumnya tak pernah terpikirkan dan belum terpikirkan oleh saya sendiri.

Sejak itulah, perlahan tapi pasti pengetahuan saya kian bertumbuh, pikiran ekslusif dan literal yang saat itu masih mendominasi saya tepikan demi menerima kelapangan ragam pengetahuan. UIN Jakarta yang menjadi tempat bertemunya aneka pemikiran, ideologi, dan latar belakang kultural, memaksa saya harus membuka diri terhadap segala keragaman dan perbedaan yang ada. Tanpa prinsip itu, betapapun canggihnya perkembangan zaman yang ditopang ilmu dan teknologi, tidak akan membuat kita bertumbuh maju.

Apa yang saya terima di UIN Ciputat, sebetulnya fondasinya sudah saya peroleh di Subulussalam. Metode kritis, berpikir logis, bebas dan luas sebetulnya sudah sama-sama kita peroleh sejak di Subulussalam. Kalau kita mengingat kembali MOTTO PONDOK (poin ketiga: Berpengetahuan Luas dan poin keempat: Berpikiran Bebas) dan PANCA JIWA PONDOK (poin kelima: Kebebasan), semua kesadaran itu sudah ditanamkan sejak menjadi santri, dan diharapkan bisa diinternalisasikan dalam menapaki jalan hidup di dunia. Kita juga diperkenalkan Ilmu Mantiq (Imu Logika dalam tradisi Aristotelian di Barat). Sebuah ilmu yang mendorong kita berpikir kritis, sistimatis, koheren, dan lurus. Sehingga ketika kita berpikir terhindar dari cacat logika dan gagal paham.

Belum lagi kalau kita bicara fikih yang diajarkan di Subulussalam. Salah satu kitab yang jadi pegangan santri adalah Bidâyah al Mujtahid wa Nihâyah al Muqtashid, karya mujtahid ternama dan filosof terbesar di dunia Islam bernama Ibn Rusyd. Kitab ini menjelaskan secara baik sebab-sebab munculnya perbedaan (khilâf) di kalangan ulama tentang satu dan lain persoalan, mengapa khilâf sampai terjadi, menyebutkan pendapat paling absah yang mungkin bisa diikuti, tanpa harus mengarahkan pada satu klaim kebenaran sehingga menafikan pendapat yang lain. Mencermati kitab ini kita akan mendapati kesadaran kritis yang sudah ditanamkan sang filosof.

Selain itu, kurikulum yang digunakan Subulussalam adalah Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyyah (KMI). Saya tidak tahu persis mengapa pondok kita mesti mengadopsi KMI. Tapi saya menduga Abah mengimajinasikan suatu proses belajar mengajar layaknya di tempat kuliah (kampus), di mana para santri diorietasikan seperti mahasiswa yang berpikir kritis, metodologis, dan berpandangan maju kedepan. Memang sistem KMI diadopsi dari Pondok Pesantren Darussalam Gontor. Tapi aktor yang membawa sistem tersebut dan mengadaptasikannya sesuai dengan kurikulum dan kebutuhan Subulussalam adalah Abah sendiri. Dari sini kita bisa mengerti kalau Abah sebetulnya sudah membangun pondasi kuat bagi keilmuan para santri. Kelak di kehidupan riil santri mampu menerapkannya.

Abah sendiri adalah penjelajah ilmu yang luar biasa. Beliau telah banyak mereguk pahit-manisnya proses mencercap ilmu pengetahuan. Beliau lewati batas-batas negara untuk tiba studi di Madinah dan Pakistan meski jauh terpisah dari keluarga. Beliau sadar ilmu pengetahuan mesti dicari meski harus ke negeri orang. Tak peduli berapa jarak yang harus dilewati. Tak mengapa betapa beda budaya tempat beliau menempa ilmu. Pahit getir menuntut ilmu adalah bagian yang harus dilewati para pencari. Sebab “siapa yang tidak merasakan getirnya menuntut ilmu, maka nikmatilah kebodohan sepanjang hidup.” Kira-kira seperti itu kalimat mutiara yang pernah kita pelajari.

Dalam proses menuntut ilmu, seseorang memang dipinta untuk berkorban; merelakan segenap waktu, tenaga, pikiran, perasaan, bahkan materi. Kesuksesan bagi penuntut ilmu adalah bilamana dia mampu melampaui macam batu ujian yang menghampirinya, dalam bentuk dan wujudnya yang berbeda-beda. Tapi sebaliknya, kekalahan terbesar dari hidup yang kalah adalah menyerah di tengah proses belajar. Abah mampu melewati segala macam batu ujian yang menghampirinya saat menimba ilmu hingga pada akhirnya memperoleh gelar master (MA). Sebuah gelar starta dua (S2) yang kala itu di zamannya sangat jarang dimiliki oleh banyak orang.

Sebagai pimpinan pondok, tidak cukup sekali beliau menghimbau para santri agar tangguh dalam menuntut ilmu walau harus melewati batas-batas negara yang jauh sekali pun. Dalam keyakinan beliau, ilmu akan menempatkan seseorang pada derajat paling tinggi sebagaimana janji Allah SWT dalam salah satu firman-Nya (يرفع الله الذين آمنوا منكم والذين أوتوا العلم درجات). Meski terkadang, pada zaman yang merepih seperti pasir ini, masih banyak orang mengukur kehormatan bahkan keberhasilan seseorang hanya dalam timbangan materi semata.

Abah pernah berpesan: “seseorang dihormati karena ilmunya”. Kata-kata itu masih terngiang jelas di telinga saya. Apalagi saat itu beliau mengucapkannya dengan nada dan intonasi penuh penekanan—suatu hal yang amat lazim beliau lakukan saat menyampaikan perkara yang dianggapnya penting. Tentu saja pesan itu disampaikan tidak secara khusus kepada saya, tapi juga ditujukan kepada para santri Subulussalam, dari angkatan pertama sampai sekarang.

Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa Abah di mata saya bak bintang penuntun yang menyinari gelapnya lapisan malam. Meski sinarnya tak bisa menerangi semua lorong kosong, tapi cahayanya mampu memberi arah bagi mereka yang mau pulang ke jalan yang terang. Abah menuntun kita melalui banyak cara; pengajaran, pembelajaran, keteladanan, dan alunan doa yang beliau rapal dalam setiap munajat-munajatnya. Dalam sepi, dalam sunyi, dan dalam diam, tak terbilang berapa doa dipanjatkan untuk kebaikan para santrinya. Tak terhitung berapa laksa munajat yang dirapal untuk kita semua.

Abah ingin para santrinya meraih bintang-bintang (cita-cita) yang pernah digantungkan di petala langit paling tinggi, atau paling tidak setiap harapan yang pernah diletakan tepat 3 inci di depan kening para santri bisa hasil maksud. Abah pernah bilang, doa-doanya di persetiga malam selalu pasti menyebut nama-nama santri secara umum. Semoga kita semua mendapat limpahan berkah dari doa-doa beliau. Amin ya rabbal alamin.

Rabu, 02 November 2022

Manusia adalah Serigala bagi Sesamanya

Rabu, November 02, 2022 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi manusia lain. Pepatah Latin ini sepertinya cukup mewakili kebrutalan seorang ayah yang dengan biadab membantai putri dan istrinya hingga meregang nyawa. Peristiwa pembantaian ini terjadi di Jatijajar, Tapos, Depok, 1 November 2022. Motifnya hal sepele, gara-gara kalah judi online. Naudzubillah min dzalik!

Dari informasi yang saya terima melalui sejumlah laman berita, korban mengalami luka cukup parah. Mata korban dicongkel dan jari-jari tangannya putus. Peristiwa ini cukup menghentak kesadaran publik sebab dilakukan ayah kandungnya sendiri. Entah syetan mana yang merasuki pikiran si pelaku. Tapi begitulah kondisi seseorang bilamana akalnya sudah dikuasai watak serigala yang siap memangsa kapan saja.

Istilah homo homini lupus pertama kali diperkenalkan sastrawan Romawi, Titus Maccius Plautus (254-184 SM) dalam Asinaria. Plautus menuliskan, “Lupus est homo homini, non homo, quom qualis sit non novit.” Manusia bukanlah manusia, tetapi serigala bagi orang lain. Apa yang disampaikan Plautus itu tidak lain merupakan kritik keras terhadap perilaku manusia yang gemar memangsa sesamanya. Tak peduli seperti apa korban meregang nyawa, tak mengapa meski ribuan manusia menggelepar penuh luka.

Sejak berabad-abad yang silam, Plautus sudah memperingati watak purba manusia yang bersifat destruktif itu, yang sesekali akan muncul manakala manusia dalam keadaan terdesak. Memang, manusia pada puncak moralitas dan spiritualnya akan menjelma sebagai Tuhan: dipuja dan disembah. Tapi pada titik paling terendah manusia akan menjelma sebaliknya, bak binatang buas. Bahkan lebih biadab dari binatang sekalipun.

Intelektual Islam Ali Syariati dalam On the Sociology mengalisa, bahwa sejatinya manusia tidak bisa dipisahkan dari sejarah kekerasan. Bahkan sejarah manusia di buka bumi ini ditandai dengan pertumpahan darah. Pembunuhan Habil oleh Qabil bukti kekejaman manusia atas manusia lain. Kemudian, kekerasan terus berlangsung, bahkan seperti terwariskan hingga sekarang sebagai habitus, dan selanjutnya mewarnai ekspresi peradaban kita.

Dalam sejarah umat manusia, kekejaman demi kekejaman kerap ditampilkan manusia di muka bumi justru bukan untuk menghabisi lawan-lawannya, tapi untuk memenuhi kesenangan-kesenangannya. Masih ingatkah kita tentang bagaimana sepak terjang tentara Jepang yang tanpa ampun membantai warga Nanking tak berdosa.

Dalam aksi kejinya, tentara Jepang tanpa belaskasihan menghabisi warga Nanking. Tua-muda dibantai, laki-laki-perempuan dihabisi, bahkan anak-anak balita pun tidak luput dari kebiadaban mereka. Puluhan ribu kepala dipisahkan dari tubuhnya, mayat-mayat bergelimpangan, situasinya saat itu amat mencekam. Nanking seperti kota mati tak berpenghuni.

Sementara para algojo melakukan aksinya itu tanpa rasa iba. Mereka malah melakukannya dengan penuh bangga. Dikisahkan, untuk mendukung nafsu membunuhnya, petinggi militer Jepang memberi hadiah besar bagi prajurit yang berhasil memenggal banyak kepala. Dalam perang yang terlanjur digelar tidak pernah ada yang dimenangkan, kecuali kesengsaraan yang mencekam bagi para korban.

Manusia di dalam dirinya memiliki kualitas predator, kejam, tidak manusiawi. Apa yang ditampilkan pelaku di Depok kian menguatkan watak dasar manusia sebagai pembunuh berdarah dingin. Pelaku tak peduli siapa sasaran yang menjadi korbannya. Yang ada dalam pikirannya adalah melampiaskan nafsu membunuhnya. Homo homini lupus. Manusia adalah mangsa bagi manusia lainnya.

Ada banyak contoh kekerasan dan kekejaman yang dilakukan manusia terhadap manusia lainnya. Semuanya dilakukan dengan bentuk dan wujud yang berbeda-beda, dengan dalih dan alasan yang berbeda pula. Dan semua itu merupakan watak purba dari manusia yang harus dihindari. Watak dasar manusia kata Hegel adalah keinginan menguasai yang lain. Dan dalam upaya menguasai itu, seseorang akan meniadakan dan bahkan menghacurkan yang lainnya.

Sejarah manusia, terang Hegel adalah sejarah dialektika. Sejarah saling meniadakan, saling menghancurkan.

 

Homo Homini Socius

Homo homini socius. Manusia adalah teman bagi sesamanya. Manusia adalah mahluk sosial. Begitu tulis Filusuf Romawi, Lucius Annaeus Seneca (4 SM-65 SM). Pernyataan Seneca ini menaggapi nukilan drama berjudul Asinari karya Plautus, yang menuliskan, “Lupus est homo homini, non homo, quom qualis sit non novit.” Manusia bukanlah manusia, tetapi serigala bagi orang lain.

Dalam situasi manusia dihantui sifat seperti predator dan gemar memangsa manusia lain, Seneca mengajukan suatu sikap alternatif guna menanggulangi kekacauan tersebut. manusia diharapkan bisa menajdi teman/sahabat bagi sesamanya. Sebagai mahluk sosial, manusia diharapkan saling membantu dan menolong dalam menghadapi problem kehidupan.

Dalam menapaki hidup ini, manusia tidak akan bisa hidup sendiri. Manusia tidak akan bisa keluar dari watak dasarnya sebagai mahluk sosial dan bermasyarakat. Dan di dalam hidup bermasyarakat itulah manusia satu sama lain dituntut untuk saling membutuhkan, bukan untuk saling menghancurkan dan membunuh. Manusia adalah teman bagi sesamanya, bukan mangsa bagi yang lainnnya.

Dari uraian di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa di dalam diri manusia ada sifat predator layaknya mesin pembunuh dan sifat bersahabat yang berorientasi melestarikan hidup harmonis antar sesama manusia. Kedua sifat ini pada akhirnya berusaha untuk saling mempengaruhi perilaku manusia. Mana yang lebih dominan, maka itulah yang mempengaruhi cara hidup manusia.

Singkatnya, manusia sudah diberikan pilihan. Dan manusia pula-lah yang menentukan; sebagai homo homini lupus atau homo homini socius.

 

Rabu, 26 Oktober 2022

Muhammad Potret Seorang Pembaharu

Rabu, Oktober 26, 2022 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Dimuat di media cetak Pelita, Jum’at 13 April 2007

 

Sejauhmana pengetahuanku terhadap Rasul, sebatas itu pula kelayakanku menerima pahala Allah. Sejauhmana kebodohan dan kekufuranku terhadap Rasul, sejauh itu pula kelayakanku menerima azab Allah baik di dunia maupun di akhirat nanti. Maka amat penting bagiku untuk mengetahuinya.

[Bint As-Syathi]

 

Sabtu, 31 Maret 2007 M/12 Rabi’ul Awwal 1428 H adalah hari yang amat bersejarah bagi umat Islam di seluruh dunia. Pasalnya, pada tahun ini seorang anak manusia yang melampaui sisi kemanusiaan manusia pada umumnya dilahirkan (12 Rabi’ul Awwal 570 H) di Tanah Arab untuk membawa risalah dan amanah yang diterimanya dari Allah SWT.

Michael H. Hart dalam The 100: A Ranking of The Most Influential Person in History (1978) menempatkan Nabi Muhammad pada urutan teratas. Karena menurutnya Muhammad adalah satu-satunya orang yang sukses baik dalam tataran sekular manupun agama. Ia mampu mengintegrasikan persoalan-persoalan dunia dan akhirat secara bersamaan. Dan dia juga adalah orang yang mampu mengubah altar-altar pemujaan, sesembahan, agama, pikiran, kepercayaan serta jiwa manusia dari kejahilan.

Kesabaran, ketabahan, dan keberaniaannya dalam menegakkan agama Islam banyak dipuji kawan maupun lawan, ia sama sekali tidak berhasrat untuk membangun kekuasaan dan ketenaran, ia singkirkan tuhan-tuhan palsu dengan mengenalkan Tuhan yang sesungguhnya yang membahawa keselamatan dan kedamaian dalam hati, ia ajarkan kebajikan, moral dan etika sebagai nilai luhur yang harus dijunjung.

Atas jasa-jasanya itulah banyak label positif yang tertera pada dirinya, seperti Muhammad adalah seorang agamawan, reformis sosial, teladan moral, administrator massa, sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami yang penuh kasih dan seorang ayah yang penyayang. Semua menjadi satu berada dalam diri Nabi Muhammad SAW. Sehingga tidak ada manusia dalam sejarah duniamampu melebihi atau menyamainya dalam setiap aspek kehidupan tersebut.

 

Pribadi yang Revolusioner

Mengutip perkataan Sir George Bernard Shaw (1817-1902) dalam The Genuine Islam “Jika ada agama yang berpeluang menguasai Inggris bahkan Eropa beberapa tahun dari sekarang, maka Islam-lah agama tersebut”.

Di sini Bernard Shaw ingin menegaskan bahwa di tengah hiruk pikuk arus modernisasi yang mengusung jargon kebebasan tanpa batas, sekularisasi, inklusivisme dan pluralisme. Ditambah dengan kemajuan ilmu dan tekhnologi yang begitu pesat dan menakjubkan sekaligus kehadirannya juga membawa dampak yang negatif dan membahayakan keselamatan umat manusia, kemanusiannya dan akidah. Maka, menurutnya (Shaw) dalam kondisi seperti ini dunia sangat membutuhkan seorang yang berpikir, berkepribadian, dan berakhlak mulia seperti Nabi Muhammad.

Penilaian ini tentu tidak berlebihan dan tidak mengada-ada. Kalau kita coba buka lembaran sejarah Islam kembali pada masa lalu. Islam mampu menyatukan, mengintegrasikan serta mengubah peradaban dunia yang biadab dan tak berperadaban kepada dunia yang sangat beradab dan berperiadaban. Kita bisa melihat masa-masa kejayaan pada empat Khulafa Al-Rasyidin, Dinasti Muawiyyah dan Abbasiyah. Di mana pada saat itu pluralitas dihargai, kebebasan untuk berkarya dan berinovasi difasilitasi, hak individu dan nasib hidup orang banyak diperjuangkan. Sehingga melahirkan kedamaian, ketenteraman, kesejukan dan keadilan yang merata. Kesemuanya adalah ajaran universal yang telah Nabi berikan dan ajarkan kepada sahabat-sahabatnya.

Sepanjang masa kenabiannya yang terhitung amat pendek, yaitu 23 tahun, Nabi Muhammad mampu merubah Jazirah Arab yang amat memperihatinkan; dari paganisme yang memuja gunung, pepohonan, mahluk halus dan lainnya menjadi para pemuja Tuhan yang Esa, dari peperangan dan perpecahan antara suku menjadi bangsa yang bersatupadu menegakkan kalimat Allah SWT, dari kaum pemabuk dan pengacau menjadi kaum pemikir dan penyabar, dari kaum tak berhukum dan anarkhis menjadi kaum yang teratur dan moralis.

Ini merupakan hasil yang sangat prestesiun dan gemilang. Sejarah manusia dalam peradaban-peradabannya sungguh tidak mengenal transformasi dan kemajuan yang dicapai begitu cepat dan pesat seperti ini, sebuah masyarakat yang bermoral dan beradab, berbudi dan berperadaban, serta masyarakat yang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi.

Dalam mengemban amanah yang diterimanya ini, Nabi mampu menciptakan inovasi-inovasi dan pembaruan yang cukup modern di zamannya. Sebagai contoh, jauh sebelum, asas-asas demokrasi modern—kebebasan, kesetaraan, dan Hak Asasi Manusia—ditemukan oleh John Lock, Nabi Muhammad telah memperkenalkan Al Hurriyyah, Al Musawwah, dan Huquq Al Insaniyyah kepada umat Islam. Yang intinya adalah sama-sama menghargai kebebasan, hidup rukun yang berdasarkan pada cinta dan kasih sayang tanpa diskriminasi.

Dan diakui atau tidak bahwa Islam pada masanya telah mempraktikkan dan mengajarkan demokrasi sebagai sistem yang universal. Karena demokrasi pada dirinya telah tertanam pada ajaran Islam yang universal dan abadi. Sebagai contoh kecil saja demokrasi dalam Islam terwujud lima kali sehari ketika seorang hamba dan seorang raja berlutut dan bersembah sujud, berdampingan dan mengakui: Allah Maha Besar.

Di atas itu semua, W. Montgomery Watt dalam Mohammad at Mecca, 1953 memberikan apresiasi yang begitu besar terhadap perjuangan dan ketabahan Muhammad dalam menyebarkan agama Islam. Ia mengatakan bahwa kesiapannya menempuh tantangan atas keyakinannya, ketinggian moral para pengikutnya, serta pencapaiannya yang luar biasa semuanya menunjukkan integritasnya. Mengira Muhammad sebagai seorang penipu hanyalah memberikan masalah dan bukan jawaban. Lebih dari itu, tiada figur yang digambarkan begitu istimewa selain Nabi Muhammad Saw.

Dengan demikian, di tahun kelahirannya (Maulid Nabi) ini menjadi pemting bagi kita sebagai umat Islam untuk merayakan dan mengenang perjuangannya dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Karena memperingati atau merayakan kelahiran Nabi Saw itu sendiri sesungguhnya sudah dilakukan dan dicontohkan oleh Nabi Saw sendiri. Yaitu berdasarkan hadist Nabi ketika suatu saat Nabi ditanya oleh sahabat beliau mengenai mengapa beliau berpuasa di hari Senin. Kemudian Rasul menjawab: “Di hari itu aku dilahirkan dan di hari itu pula aku memperoleh wahyu” (HR. Muslim, Abu Daud, dan Ahmad). Hadist ini mengandung pesan bahwa untuk mengenang hari kelahirannya , Nabi Muhammad harus melakukan puasa sebagai tadzkirah dan pengagungan, walaupun sebagian ulama mengatakan bahwa merayakan kelahiran Nabi (Maulid Nabi) itu tidak bedasarkan pada Al Qur’an dan Hadist.

Paling tidak, pada momen Maulid Nabi ini kita bisa meluruskan sejarah Nabi Muhammad yang selama ini ada sebagian tokoh yang mencoba memberikan kesan negatif terhadap perjuangan Nabi Muhammad. Padahal kita tahu bukan pedang yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya sebagaimana yang dituduhkan Robert Moore. Tapi dia datang dengan kedamaian, kesejukan, ketenteraman, kesederhanaan, kebersahajaan, keadilan dan ukhuwah islamiyyah.