Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Minggu, 30 Mei 2010

Meruntuhkan Budaya Patriarkhi Lewat Ilmu Medis

Minggu, Mei 30, 2010 0

BUDAYA patriarkhi meyakini laki-laki sebagai mahluk superior daripada perempuan. Namun, Marianne J. Legato, professor dari Colombia University membantah tesis itu lewat buku ini. Ia menyimpulkan, laki-laki secara medis tidak lebih superior daripada perempuan. Sebab sifat alamiah laki-laki rapuh dan sebagian besar meninggal lebih cepat dibandingkan dengan perempuan.

Penyakit jantung yang diderita laki-laki lanjut usia merupakan salah satu penyebabnya. Namun, pada usia muda-pun, “pintu” kematian datang lebih cepat melalui beberapa penyakit, seperti kanker, depresi, stres, dan penuaan dini.

Salah satu penyebab biologisnya adalah gen. Kaum hawa memiliki dua kromosom X, sedangkan laki-laki hanya satu. Akibatnya, cacat bawaan yang terkandung dalam mutasi salah satu kromosom bisa di-cover oleh kromosom yang lain.

Hasil penelitiannya juga membuktikan betapa sistem kekebalan tubuh pada mereka sangat rentan. Laki-laki memiliki kemungkinan terserang penyakit jantung koroner pada pertengahan usia 30-an tahun, 15, sampai 20 tahun lebih awal daripada perempuan. Kaum adam juga memiliki kemungkinan meninggal akibat penyakit dua kali lebih besar dibandingkan dengan perempuan.

Penelusuran William R. Hazzard, Ketua Department of Internal Medicine di Bowman Gray School of Medicine of Wake Forest University, Winston-Salem, North Carolina, menyimpulkan hal sama. Cuma, penelitianya tidak semata fokus pada manusia, melainkan juga pada binatang (zoologi). Terbukti, umur jantan pada kera, burung kenari, katak, dan lainya jauh lebih pendek dari betina. William mengklaim, temuanya itu juga merupakan hal yang universal dalam zoologi.

--------------------------------------------------------------------

 

Dimuat di MAJALAH GATRA, edisi 20-26 Mei 2010 

 

Oleh Mohamad Asrori Mulky, Anggota International Interreligious Federation World and Peace, dan Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.


 

Judul : Why Men Die First

 

Penulis : Marianne J. Legato

 

Penerbit : Daras Books

 

Tahun : I, Januari 2010

 

Tebal : 282 halaman

 

Minggu, 16 Mei 2010

Tragedi Pemusnahan Etnis 1740

Minggu, Mei 16, 2010 0

Tahun 1740 merupakan tahun paling kelam bagi warga Tionghoa di Batavia (Jakarta) waktu itu. Tidak kurang dari 10 ribu warga Tionghoa—pria, perempuan, lansia hingga bayi yang baru lahir— dibunuh VOC secara kejam tanpa belas kasihan.

Semua orang Tionghoa, baik bersalah maupun tidak, dibantai dalam peristiwa tersebut. Tragedi kemanusiaan itu akhirnya memaksa seorang akademisi dari Belanda, Johannes Theodorus Vermelulen, meneliti lebih lanjut akar persoalan meletusnya peristiwa 1740 itu.

Buku Tinghoa di Batavia dan Huruhara 1740 merupakan hasil penelitian Vermelulen tersebut. Ketajaman analisis dan keakuratan datanya telah menjadikan buku ini rujukan utama, terutama bagi siapa saja yang ingin mendapatkan kajian akademis terlengkap dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah mengenai tragedi kemanusiaan yang menimpa warga Tionghoa di Batavia.

Penelitian Vermelulen dianggap berhasil menggambarkan tragedi berdarah yang menimpa warga Tinghoa bukan sekadar pada objektivitas peristiwanya, tetapi juga pada penyebab, jalan peristiwa, orang-orang, dan lembaga-lembaga yang terlibat, kondisi psikologis zaman, dampak dan sebagainya.

Deskripsi dan data akurat yang diungkap Vermelulen menunjukkan bahwa peristiwa itu memang layak dicatat sebagai lembaran hitam dalam pengalaman sejarah kehidupan orang Tionghoa di Indonesia. Tragedi 1740 bermula ketika pemerintah VOC dan imigran Tionghoa di Jakarta saling menyalakan bara api.

Tepatnya ketika dengan tiba-tiba harga gula di pasaran internasional menurun drastis akibat membeludaknya gula Malabar (India). Hal itu membuat pabrik-pabrik gula yang ada di Batavia mengalami kebangkrutan besar-besaran sehingga banyak warga Tionghoa yang sedang mencari peruntungan di Batavia kesusahan.

Dari jumlah 80 ribu orang, sebagian besar menjadi pengangguran dan gelandangan. Dampaknya, jumlah kriminalitas di Batavia makin meningkat tajam.

Kemudian, VOC membuat peraturan baru, yaitu membatasi kedatangan warga Tionghoa ke Batavia. Mereka yang tinggal di Batavia harus memiliki izin tinggal, berusaha, atau berdagang.

Tapi, bagi para pejabat VOC, hal itu justru dijadikan kesempatan untuk melakukan pungli besar-besaran. Akibatnya, muncul perlawanan dari warga Tionghoa di Batavia dan sekitarnya.

Mereka lantas membentuk kelompok-kelompok terdiri dari 50 sampai 100 orang dan mempersenjati diri untuk melawan Belanda. Perlawanan itu menjadi alasan bagi tentara dan pegawai-pegawai VOC untuk melakukan tindakan semenamena terhadap etnis Tionghoa. Pada 10 Oktober 1740, Gubernur Jenderal Adrian Volckanier mengeluarkan surat perintah untuk membunuh dan membantai orang-orang Tionghoa.

Buku ini membuktikan bahwa ternyata Jakarta sebagai kota yang berumur lebih dari 400 tahun pernah menjadi saksi bisu terjadinya pembantaian berdarah terhadap warga Tionghoa yang dilakukan VOC.

----------------------------------------------------------------------------

 

Dimuat di Koran Jakarta, Jumat, 14 Mei 2010

Mohamad Asrori Mulky, peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta


Judul : Tionghoa di Batavia dan Huru Hara 1740 Penulis : Johannes Theodorus Vermeulen Cetakan : I, Januari 2010 Penerbit : Komunitas Bambu Tebal : xxx + 146 hlm

 

Minggu, 14 Februari 2010

Menguatkan Jalinan Sosial dengan Maaf

Minggu, Februari 14, 2010 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Peresensi adalah pegiat di LSIK (Lembaga Studi Islam dan Kebudayaan)

Senin, 15 Februari 2010

 


Judul               : Effective Apology: Merajut Hubungan, Memulihkan Kepercayaan

Penulis           : John Kador

Penerbit         : Alvabet

Cetakan         : I, November 2009

Tebal              : 332 halaman

 

Siapa pun tidak bisa menyangkal bahwa manusia diciptakan secara sempurna di antara makhluk Tuhan lainnya. Tapi tidak ada yang bisa menjadi sempurna untuk menjalani hidup di dunia ini. “Manusia terbaik bukanlah manusia yang tidak pernah melakukan dosa dan kesalahan,” kata Nabi Muhammad, “tapi manusia yang menyadarinya, berjanji untuk tidak melakukannya lagi, dan segera meminta maaf.”

 

Melalui buku Effective Apology: Merajut Hubungan, Memulihkan Kepercayaan, John Kador mendedahkan keterampilan “permintaan maaf” kepada pihak lain, utamanya dalam dunia pekerjaan dan bisnis.

 

Bagi Kador, permintaan maaf yang menyangkut masalah pribadi, yang lingkup dan tantangannya lebih kecil, mungkin akan lebih mudah diucapkan orang. Apalagi jika orang yang bersangkutan tergolong individu yang tidak memiliki pengaruh besar. Tapi, bagaimana jika hal itu terjadi pada sebuah perusahaan bisnis beken yang menyangkut harkat dan martabat perusahaan tersebut, atau menimpa seseorang yang memiliki status sosial yang cukup tinggi? Inilah yang jadi fokus pembahasan Kador dalam buku ini.

 

Permintan maaf adalah perbuatan yang mengulurkan diri kita kepada orang lain karena kita mementingkan hubungan baik ketimbang kebutuhan untuk menjadi benar tanpa noda. Permintaan maaf mensyaratkan kerendahan hati dan kepasrahan jiwa dari orang bersangkutan. Dan ini bukan berarti berpikir rendah akan diri kita sendiri, membiarkan kita diinjak-injak, dicemooh, ataupun memosisikan diri kita lebih hina dari orang lain, tapi lebih dari itu, targetnya adalah memikirkan keberlanjutan kemaslahatan antara kita dan orang lain.

 

Permintaan maaf harus dilakukan secara tulus dan ikhlas yang bersumber dari hati nurani yang paling dalam, bukan paksaan atas pertimbangan untung dan rugi. Dalam buku ini, Kador menggarisbawahi bahwa bukan seberapa banyak kita harus melakukan permintaan maaf kepada orang lain, tapi bagaimana kita meminta maaf yang efektif dan membawa hasil kebaikan. Permintaan maaf efektif dalam rumusan Kador mensyaratkan terpenuhinya situasi yang harmonis dan terciptanya kebaikan. Yaitu, sebuah permintaan maaf yang memulihkan ketegangan dalam hubungan, menciptakan peluang untuk maju, dan memberi hasil yang lebih baik bagi semua pihak tanpa pandang bulu.

 

Buku ini mengajak kita berpikir tentang nilai mendasar suatu permintaan maaf, bagi kita dan sang penerima, dengan menelusuri secara terperinci dimensi-dimensi kunci–yang disebut Kador sebagai 5 P–permintaan maaf yang tulus, permintaan maaf yang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan dan memperbarui. Kador juga memberikan kiat-kiat menerima atau menolak permintaan maaf, sepuluh hal yang harus dan tidak boleh dilakukan (dos and don’ts) perihal permintaan maaf, serta kuis untuk menguji AQ (Apology Quotient) kita. Kesemuanya membantu kita untuk bagaimana bersikap baik dalam meminta dan memberi maaf.

 

Buku ini memberi tahu kita hal-hal pokok dalam merangkai permintaan maaf yang efektif serta membuahkan hasil di dunia kerja dan bisnis. Buku ini dilengkapi lebih dari 70 contoh permintaan maaf yang baik, buruk, maupun yang tidak efektif. Semuanya itu dijelaskan dengan begitu mengagumkan oleh Kador.

Senin, 08 Februari 2010

Pelobi Israel Menjajah Amerika

Senin, Februari 08, 2010 0
Dimuat di MAJALAH GATRA, 07 Februari 2010
Oleh Mohamad Asrori Mulky
Anggota International Interreligious Federation World and Peace, dan Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.

Judul buku      : Zionisme dan Keruntuhan Amerika
Penulis           : James Petras
Penerbit         : Zahra Pustaka, Jakarta
Cetakan         : I, November 2009
Tebal buku     : xiv + 271 halaman


Dalam peta politik Amerika, ada tiga organisasi Yahudi yang punya pengaruh sangat kuat di Kongres dan pemerintahan. Bukti kaum minoritas mampu membungkam kelompok mayoritas.

Di dunia ini, tiada negara yang pengaruhnya di Amerika Serikat sedemikian kuat kecuali Israel. Kekuatan lobinya di Kongres tanpa disadari telah memperbudak negara Super Power itu. Ini dibuktikan, antara lain, oleh John J. Mearsheimer dari University of Chicago dan Stephen M. Walt dari Harvard University.

Kedua pakar itu pernah menulis risalah berjudul "The Israel Lobby and US Foreign Policy” yang sempat menghebohkan warga AS. Dikatakan, meski populasi Yahudi Amerika hanya tiga persen dari hampir 300 juta penduduk Amerika, lobi mereka jauh lebih kuat dibandingkan dengan kelompok mana pun.

Inilah yang disebut James Petras sebagai “Mayoritas yang Dibungkam”. Dalam buku ini, James menyodorkan sejumlah bukti tentang bagaimana “yang minoritas” (Yahudi Amerika) mengendalikan “yang mayoritas” (warga Amerika dan pemerintahanya). Seperti kedua profesor tadi, James juga berkesimpulan, lobi Yahudi memiliki peran dominan di Kongres. Salah satu hasilnya adalah invansi AS ke Irak yang tanpa sebab.

Lalu apa yang membuat Yahudi yang minoritas bisa mengendalikan Amerika, bahkan dunia? Theodere Hezl, pencetus negara Zionis Israel menjelaskan, ada tiga hal yang harus dikuasai untuk menguasai dunia. Pertama media. Sebagai wartawan internasional, ia tahu peran media sangat mendukung bagi perjuangan negara zionis.

Majalah Gatra


Kedua, kekuatan lobi. Lobi sangat berpengaruh dalam terbentuknya negara Yahudi. Kekuatan lobi juga yang membuat pemerintah Inggris menyerahkan sebagian tanah Palestina ke tangan Yahudi. Ketiga adalah ekonomi. Faktanya, segala aksi Yahudi selalu disokong pengusaha-pengusaha kaya Yahudi dan Amerika Serikat.

Terkait dengan lobi itu, menurut James, sekurang-kurangnya ada dua organisasi Yahudi yang sangat menentukan sikap luar negeri Amerika, yakni JINSA (Jewish Institute for National Security Affairs) dan CSP (Center for Security Policy). Keduanya memiliki hubungan amat erat dengan CPD (Committee on the Present Danger), tempat berkumpulnya kelompok “Hawkish” Gedung Putih dan Pentagon seperti Paul Wolfowitz, Dick Cheney, Karl Rove, dan Richard Perle.

Di bawah JINSA dan CSP ada AIPAC (American Israel Public Affairs Committee). AIPAC dibentuk oleh komunitas Yahudi Amerika untuk menjaga kepentingan Israel. AIPAC memiliki lima atau enam pelobi resmi di Kongres dengan staf berjumlah 150 orang, dengan dukungan anggaran tahunan sebesar US$ 15 juta. Tujuanya, melobi Kongres dan pemerintah untuk memperoleh dukungan pembentukan negara Zionis Israel di tanah Palestina.

Menurut James, organisasi-organisasi Zionis ini memiliki tiga agenda besar yang harus dilakukan oleh setiap pemerintahan di AS: selalu mendukung Israel dalam segala hal, selalu menambah anggaran militer Israel, dan selalu menentang traktat kontrol senjata yang bisa merugikan. Organisasi-organisasi ini pula yang mengontrol setiap kebijakan presiden, apakah menguntungkan Israel atau sebaliknya. Jika mau kekuasaannya tetap aman, presiden harus menjalankan ketiga agenda tadi. Kalau tidak, jangan harap dalam pemilu berikut dia akan terpilih lagi.

Tak ada yang berani mengkritik campur tangan AIPAC di Amerika. Kalau ada, orang itu akan dicap sebagai anti-semit. Sebuah survei yang dilakukan Eric Alterman, profesor Inggris di Brooklyn College, mengungkapkan hanya lima dari 66 komentator media massa besar di Amerika yang berani mengambil posisi pro-Arab dan menentang setiap langkah Israel soal Palestina. Justru sebaliknya, media ternama seperti Wall Street Journal, The Chicago Sun-Times, The Washington Times, bahkan New York Times, secara rutin menulis tajuk pro-Israel dan menutupi keburukannya.

Senin, 18 Januari 2010

Membaca Skandal Bank Century

Senin, Januari 18, 2010 0
Dimuat di Koran Jakarta, Senin, 18 Januari 2010

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Aktivis Lembaga Studi Islam dan Kultur (LSIK) Ciputat

Judul Buku : Century Gate; Refleksi Ekonomi-Politik Skandal Bank Century

Penulis : Herdi Sahrasad

Penerbit : Freedom Foundation dan YIB (Yayasan Indonesia Baru)

Cetakan : I, Desember 2009

Tebal : xiv + 336 halaman


Dalam buku yang ditulis dengan gaya jurnalisme ini, Herdi Sahrasad mencoba mendedahkan dan meletakan duduk perkara soal kasus Bank Century yang hingga kini masih saja ramai diperbincangkan.


Kasus skandal Bank Century yang terus menggelinding ke sana kemari, mengingatkan kita pada berbagai skandal masa lalu seperti Bank Duta dan BLBI era Orba (Orde Baru) dan Bank Bali era transisi BJ Habibie.


Pertanyaanya, mengapa pada kasus Century timbul gejolak antar pemegang kepentingan, terutama pemerintah dan BI? Ke mana aliran dana bailout Century itu mengalir?


Dalam buku yang ditulis dengan gaya jurnalisme ini, Herdi Sahrasad mencoba mendedahkan dan meletakkan duduk perkara soal kasus Bank Century yang hingga kini masih saja ramai diperbincangkan, baik oleh kalangan intelektual, pengamat, akademisi, LSM, pejabat pemerintah, hingga masyarakat awam, utamanya soal motif dan ke mana dana talangan itu dikucurkan.


Penulis sadar bahwa kasus Century adalah kasus kontroversial dan sangat musykil, yang melibatkan jajaran pejabat negara. Karena itu, agar kasus ini tidak hanya dikonsumsi kelas menengah ke atas, dapat dipahami oleh semua kalangan, penulis menggunakan bahasa yang mudah dan renyah—atau dalam istilah penulis sendiri menggunakan “teks jurnalisme politik” karena memang tujuanya untuk khalayak umum. Dalam buku ini, penulis melacak akar persoalan Century.


Menurutnya, gejolak itu muncul karena pemerintah melalui Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) mengeluarkan uang untuk merekap Bank Century yang sebenarnya sudah default (gagal) senilai 6,7 triliun rupiah. Padahal, tanpa ada bantuan dari negara, dalam arti jika Bank Century ditutup saat itu, tidak akan berpengaruh signifi
kan pada ekonomi nasional seperti yang dikhawatirkan selama ini.


Hal ini disebabkan, kata penulis, bank tersebut hanyalah bank kecil yang hanya memiliki aset sekitar 0,72 persen dari aset perbankan nasional saat ini. Persoalan juga muncul ketika DPR dalam kasus ini merasa dilangkahi oleh pemerintah. Karena pada awalnya pemerintah dan DPR hanya bersepakat untuk mengeluarkan uang hanya senilai 1,3 triliun rupiah, tidak lebih dari itu. Tapi dalam kenyataanya lebih besar dari itu, bahkan sekarang muncul dugaan bukan hanya 6,7 triliun rupiah, melainkan 9 triliun rupiah.


Angka yang besar ini jelas di luar kesepakatan yang telah disepakati. Sebagai langkah solutif, penulis menawarkan, agar suntikan dana segar ke Bank Century sebesar 6,7 triliun rupiah harus tetap dipertanggungjawabkan kepada publik oleh pemerintah dan BI.


Hal ini lebih penting daripada penjelasan soal krisis sistemik pada perbankan. Adapun prosesnya adalah melakukan investigasi secara tuntas oleh BPK dan kemudian diproses secara hukum. Proses ini jauh lebih penting daripada hanya sekadar meminta mundur pejabat yang bertanggung jawab seperti Menkeu Sri Mulyani. Perdebatan soal sistemik atau tidak juga tidak menyelesaikan masalah.


Minggu, 10 Januari 2010

Ternyata Atlantis Itu di Indonesia

Minggu, Januari 10, 2010 0

-->Dimuat di Jawa Pos/Indo Pos, Minggu 10 Januari 2010
Oleh Mohamad Asrori Mulky
Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta

Judul buku : Atlantis; The Lost Continent Finally Found
Penulis : Prof Arysio Santos
Penerbit : Ufuk Press, Jakarta
Cetakan : I, November 2009
Tebal : iv + 677 halaman

CERITA mengenai keberadaan Benua Atlantis hingga kini terus menjadi misteri sejak dideskripsikan filsuf Yunani, Plato, pada ribuan tahun lalu dalam dua dialognya, ''Timaeus'' dan ''Critias". Tak hanya Plato, penulis kuno klasik lainnya seperti Homer, Hesiod, Pindar, Orpheus, Appolonius, Theopompos, Ovid, Pliny si tua, Diodorus Siculus, Strabo, dan Aelian juga ikut meramaikan soal keberadaan Atlantis.

Kenyataan ini pada akhirnya memunculkan perdebatan tak kunjung usai di kalangan saintis klasik dan modern. Bahkan, masing-masing meletakkan Atlantis di tempat yang mereka yakini sesuai dengan hasil temuannya seperti Al-Andalus, Kreta, Santorini, Siprus, Timur Tengah, Malta, Sardinia, Troya, Antartika, Australia, Kepulauan Azores, Tepi Karibia, Bolivia, Laut Hitam, Inggris, Irlandia, Kepulauan Canary, Tanjung Verde, Isla de la Juventud dekat Kuba, dan Meksiko.

Pandangan yang paling mutakhir mengenai Atlantis -dan sangat mengejutkan kita- datang dari seorang geolog dan fisikawan nuklir asal Brazil Prof Arysio Santos. Dia membantah tesis di atas dan meyakini bahwa Atlantis yang pernah digambarkan Plato sebagai sebuah negara makmur dengan kekayaan emas, batuan mulia, dan mother of all civilization dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga itu adalah Indonesia.

Kesimpulan Santos yang merujuk pada pandangan Plato bukan tanpa pertimbangan kuat. Selama 30 tahun ia melakukan studi dan penelitian. Selama itu pula hidupnya dipergunakan untuk mengungkap letak Atlantis yang sebenarnya. Hasil penelitiannya itu kemudian ia tulis dalam buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato's Lost Civilization. Untuk memperkuat argumentasinya, Santos juga merujuk pada tradisi-tradisi suci tentang mitos banjir besar yang melanda seluruh dunia.

Jawa Pos/Indo Pos
Dalam buku ini, secara tegas Santos menyatakan bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia. Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis. Mereka memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi. Itu terjadi sebagai hukuman dari Tuhan atas keserakahan dan keangkuhannya.

Dengan menggunakan perangkat ilmu pengetahuan mutakhir seperti geologi, astronomi, paleontologi, arkeologi, linguistik, etnologi, dan comparative mythology, Santos juga mengungkap sebab-sebab hilangnya Atlantis dari muka bumi. Dia pun membantah hipotesis yang menyatakan bahwa musnahnya Atlantis disebabkan tabrakan meteor raksasa yang disebabkan oleh komet dan asteroid. Menurut Santos, tabrakan di luar angkasa itu adalah order of magnitude yang lebih jarang terjadi bila dibandingkan dengan letusan gunung berapi.

Hipotesis lain yang dibantah Santos adalah tesis yang mengatakan Atlantis musnah disebabkan pergeseran kutub dan memanasnya Antartika pada zaman es. Menurut Santos, fenomena seperti itu mustahil terjadi pada masa lalu jika dilihat dari sisi fisik dan geologisnya.

Musnahnya Atlantis, menurut Santos, lebih disebabkan banjir mahadahsyat yang menenggelamkan hampir seluruh permukaan dunia, yang membinasakan 70 persen penduduk dunia -termasuk di dalamnya binatang. Yang memegang peran penting dalam bencana tersebut adalah letusan Gunung Krakatau dan Gunung Toba, selain puluhan gunung berapi lainnya yang terjadi hampir dalam waktu yang bersamaan.

Bencana alam beruntun itu, kata Santos, dimulai dengan ledakan dahsyat Gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar, yaitu Selat Sunda, hingga memisahkan Pulau Sumatera dan Jawa. Letusan tersebut menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran rendah antara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, antara Jawa dan Kalimantan, serta antara Sumatera dan Kalimantan. Bencana besar itu disebut Santos sebagai ''Heinrich Events''.

Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa fly-ash naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (zaman es pleistosen). Abu itu kemudian turun dan menutupi lapisan es. Karena adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut. Gletser di Kutub Utara dan Eropa kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia.

Banjir akibat tsunami dan lelehan es itulah yang mengakibatkan air laut naik sekitar 130 hingga 150 meter di atas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam di bawah permukaan laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi. Tekanan air yang besar itu menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya zaman es pleistosen secara dramatis.

Terlepas dari benar atau tidaknya teori tersebut, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Santos sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang luar ke Indonesia. Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali ''tidak meyakinkan'' untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya, ini adalah suatu proses dari hukum alam tentang masa keemasan dan kemunduran suatu bangsa.

Minggu, 03 Januari 2010

Paradoks Pemikiran George Soros

Minggu, Januari 03, 2010 0
Dimuat di Koran Jakarta, 04 Januari 2010

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramdina Jakarta


Judul : George Soros; Selalu Membaca Pasar & Menang

Penulis : George Soros

Penerbit : Daras Books, Jakarta

Tahun : I, November 2009

Tebal : 348 Halaman


Sebagai salah satu spekulan valuta asing terbesar dunia, George Soros dituduh penyebab krisis
yang menimpa ekonomi dunia, terutama di Asia Tenggara tahun 1997. Di sisi lain, ia dikenal dermawan melalui Open Society Institute yang ia dirikan, yang tugasnya membantu gerakan prodemokrasi dan mempromosikan konsep masyarakat terbuka. Pada titik inilah pemikiran Soros terlihat paradoks.

Buku ini berawal dari serangkaian wawancara dengan Soros yang dilakukan Kristzina Koene, wartawan di Frankfurter Allgemeine Zeitung, dan Byron Wien, sahabat karib Soros yang juga ahli strategi investasi untuk Morgan Stanley. Sebagai buku hasil wawancara, tentunya banyak hal yang belum sempat disampaikan Soros dalam wawancara tersebut. Karena itu, untuk melengkapi data dan informasi soal konsep, pemikiran dan riwayat hidup, Soros harus memoles kembali hingga menjadi seperti dialog Socrates.

Dalam salah satu wawancara, Soros mencoba menanggapi tuduhan yang dialamatkan kepadanya soal krisis 1997. Menurutnya, krisis yang terjadi saat itu tidak semua kesalahan harus dilimpahkan kepadanya. Justru pemerintahlah yang harus bertanggung jawab, karena mereka berurusan dengan pasar. Sementara Soros, menurutnya, adalah bagian kecil dari pasar. Sebagai spekulan ia hanya bisa menebak apa yang akan terjadi di pasar.

Karena itu, menurut Soros, konsep kapitalisme global yang diterapkan di hampir seluruh negara harus direformasi. Menurutnya, meskipun kapitalisme sudah menjadi sistem global dan dipakai oleh banyak negara dunia, namun dalam kenyataanya konsep tersebut sedang mengalami krisis, dan keberadaanya sangat membahayakan konsep masyarakat terbuka yang sedang ia perjuangkan.

Bagi Soros, kapitalisme telah menimbulkan fragmentasi anarki produksi dan ketidakstabilan dalam perkembangan ekonomi. Hal ini ditandai dengan gulung tikarnya industri kecil yang ditelan oleh industri besar dan persaingan yang saling menghancurkan dalam produk dan pemasaran. Keberadaan ini pada masa-masa tertentu dapat menimbulkan persoalan sosial yang akut, bahkan juga perang, konflik dan krisis yang berkepanjangan.

Praktik dari sistem kapitalisme menekankan persaingan dan mengukur keberhasilanya dalam terminologi uang. Sehingga apapun bidangnya, baik hukum, politik, budaya, pendidikan, bahkan hal-hal yang bersifat pribadi sekali-pun, telah dikonversi ke dalam terminologi uang. Karena itu, reformasi sistem kapitalisme yang ditawarkan Soros harus sejalan dengan konsep masyarakat terbuka, atau kapitalisme yang sejalan dengan nilai-nilai demokrasi.

Konsep masyarakat terbuka yang diajukan Soros diinsiprasi oleh Karl Popper, dosen dan profesor filsafat, ketika ia masih menjadi mahasiswa di London School of Economics. Masyarakat terbuka menurut Soros didasarkan pada pengakuan bahwa kita semua bertindak atas dasar pemahaman tak sempura. Tak seorang pun memiliki kebenaran utama seperti yang diidealkan ideologi fasisme dan komunisme (masyarkat tertutup). Dalam masyarakat terbuka dibutuhkan penjunjungan kebebasan dan hak asasi manusia, supremasi hukum, dan kesadaran tanggung jawab dan keadilan sosial. Bahwa kita semuanya bermula dari pemahaman tak sempurna.

Buku ini selain memuat materi wawancara yang mendalam mengenai konsep, pemikiran, dan riwayat hidup Soros hingga ia menjadi orang sukses di dunia, juga menyajikan halaman apendiks yang memuat tulisan-tulisan pilihan Soros.