Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Rabu, 17 Desember 2025

Alam Bernafas dan Tuhan Tidak Pergi

Rabu, Desember 17, 2025 0

 


Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Alam semesta tidak pernah benar-benar diam. Ia bergerak, berdenyut, dan seakan memiliki hukum-hukum yang setia menuntunnya. Namun pertanyaan klasik, bahkan paling purba, terus menggema di lorong-lorong pemikiran manusia:

 

Apakah alam ini berdiri sendiri, ataukah ia hidup karena setiap saat “dihidupkan” oleh Tuhan?

 

Pertanyaan inilah yang menjadi poros perenungan dalam perdebatan panjang tentang dependensi dan otonomi alam.

 

Dependensi Dan Otonomi Alam

Dalam pandangan okasionalisme Asy‘ariyah, alam bukanlah bangunan kokoh yang berdiri dengan sendirinya, melainkan rangkaian peristiwa rapuh yang setiap detiknya bergantung pada kehendak Tuhan.

 

Atom-atom, menurut teori ini, tidak bertahan lama; ia lenyap dan diciptakan kembali dalam sekejap mata. Sehingga ketika Tuhan berhenti mencipta—walau hanya sesaat—maka runtuhlah semesta tanpa suara.

 

Di sini, alam bukan aktor utama, melainkan panggung yang terus dibangun ulang oleh Sang Sutradara Ilahi. Al-Baqillani dan al-Ghazali memeluk gagasan ini dengan keyakinan teologis yang mendalam: segala sebab hanyalah ilusi, dan apa yang kita sebut hukum alam hanyalah kebiasaan Tuhan yang berulang-ulang kita saksikan

 

Al-Ghazali, dalam Tahāfut al-Falāsifah, bahkan berani meruntuhkan bangunan kausalitas yang selama ini dianggap sakral. Api tidak membakar karena kodratnya, tetapi karena Tuhan menghendaki pembakaran terjadi pada saat itu. Jika Tuhan berkehendak lain, api bisa menjadi sejuk—seperti yang dialami Nabi Ibrahim pada dahulu kala.

 

Di sini, keajaiban, dalam hal ini mukjizat, bukan pelanggaran hukum alam, melainkan penyingkapan hakikat alam yang sejati: tidak memiliki kuasa apa pun. Ia tidak berdiri sendiri, tak terpisah dari kehendak Tuhan yang Perkasa.

 

Mawlana Jalaluddin Rumi memperhalus gagasan ini dengan bahasa cinta dan metafora yang menakjubkan. Baginya, sebab–akibat hanyalah ilusi persepsi manusia—seperti bara api yang diputar cepat hingga tampak membentuk lingkaran cahaya. Yang bekerja sesungguhnya bukanlah api, melainkan gerak Tuhan yang terlalu cepat ditangkap mata.

 

Namun sejarah pemikiran tidak berhenti di sana. Ketika Newton datang dengan mekanika alamnya, semesta berubah wajah: ia menjadi mesin raksasa. Planet bergerak, benda jatuh, dan energi bekerja mengikuti hukum-hukum pasti. Alam tampak matang, dewasa, dan—dalam batas tertentu—mandiri.

 

Dari sinilah lahir Deisme: Tuhan sebagai pembuat jam kosmik. Setelah mencipta dan mengatur roda-roda hukum alam, Tuhan seolah mundur ke kejauhan, membiarkan semesta berputar sendiri. Alam pun memperoleh otonomi, dan Tuhan perlahan tersingkir dari ruang pengalaman sehari-hari manusia

 

Berdiri di Antara Dua Ekstrem

Tulisan reflektif ini tidak mengajak kita memilih salah satu ekstrem secara simplistik. Kita diajak merenung di antara dua kutub: antara alam yang sepenuhnya bergantung dan alam yang sepenuhnya otonom dari kehendak Tuhan.

 

Jika alam dipahami terlalu otonom, Tuhan tereduksi menjadi konsep abstrak yang tidak lagi hadir dalam pengalaman hidup. Hukum alam menjadi penjelasan final, bukan lagi sebagai tanda (āyah) dari kehendak yang lebih dalam. Akibatnya, Tuhan hadir secara konseptual, tetapi absen secara eksistensial—tidak lagi dialami sebagai sumber makna, tujuan, dan orientasi hidup.

 

Jelasnya, otonomi alam yang absolut berisiko melahirkan deisme fungsional atau bahkan ateisme praktis: Tuhan mungkin diakui secara teoritis, tetapi tidak lagi relevan dalam pengalaman manusia sehari-hari.

 

Sebaliknya, jika alam dipahami sebagai sepenuhnya pasif dan tidak memiliki hukum kausal apa pun, maka setiap peristiwa dianggap terjadi langsung karena kehendak Tuhan tanpa perantaraan sebab alamiah. Dalam pandangan ini, manusia tidak lagi dipandang sebagai agen yang efektif.

 

Konsekuensinya, tanggung jawab moral dan sosial melemah. Usaha manusia kehilangan signifikansinya, karena keberhasilan maupun kegagalan dipahami bukan sebagai hasil tindakan, melainkan sebagai keputusan mutlak dari luar dirinya. Alam berubah menjadi panggung pasif, dan manusia menjadi penonton dalam sejarahnya sendiri.

 

Dependensi alam yang absolut dengan demikian berisiko melahirkan fatalisme religius, di mana kebebasan manusia hanya bersifat semu dan akal tidak lagi berfungsi sebagai instrumen etis maupun praktis.

 

Di sinilah filsafat dan tasawuf bertemu. Ibn ‘Arabi pernah menulis bahwa alam adalah tajalli—penampakan Tuhan—bukan Tuhan itu sendiri. Alam memiliki pola, keteraturan, dan hukum, tetapi wujudnya tetap pinjaman. Ia nyata, namun tidak berdiri sendiri.

 

Sejalan dengan itu, Whitehead, filsuf proses modern, menyebut Tuhan bukan sebagai penguasa mekanik, melainkan “the poet of the world”—penyair semesta yang senantiasa hadir dalam setiap peristiwa.

 

Alam semesta, jika kita dengarkan dengan keheningan batin, sedang bersujud tanpa suara. Geraknya adalah doa, keteraturannya adalah tasbih. Ia tidak sepenuhnya bebas, tetapi juga tidak mati. Ia hidup dalam ketergantungan yang penuh makna.

 

Maka pertanyaan terakhir bukan lagi: apakah alam bergantung pada Tuhan atau otonom dari-Nya? Melainkan: Apakah kita masih mampu melihat Tuhan yang hadir dalam hukum, dan hukum yang hidup dalam kehendak Tuhan?

 

Di sanalah iman, rasio, dan keindahan bertemu—bukan dalam kepastian matematis, melainkan dalam kesadaran eksistensial yang rendah hati

 

Rabu, 10 Desember 2025

Tarik Tambang NU

Rabu, Desember 10, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Nahdlatul Ulama berdiri tegak di atas lintasan sejarah yang panjang dan berliku—dibesarkan oleh kesabaran waktu, ditempa oleh pergulatan zaman, dan dijaga oleh doa-doa yang mengalir dari mimbar hingga bilik pesantren. Ia telah melewati badai ideologi, gelombang politik, dan perubahan sosial yang silih berganti, tanpa kehilangan wajah dasarnya sebagai jam’iyah khidmah. Namun pada titik sejarah ini, NU berhadapan dengan sebuah ujian yang jauh lebih halus sekaligus lebih mengguncang: bukan serangan dari luar, melainkan tarikan dari dalam.

 

Seutas tali, kini menegang di tubuh organisasi itu, ditarik dari dua arah yang sama-sama menyimpan klaim kebaikan. Di satu sisi, ada khidmah—jalan sunyi pengabdian yang merendah, yang menakar langkah dengan adab dan kehati-hatian. Di sisi lain, ada kuasa—daya yang menjanjikan percepatan, efektivitas, dan pengaruh. Di antara hikmah yang menuntut kebeningan nurani dan harta yang menawarkan kemudahan duniawi; di antara niat menyejahterakan umat dan godaan halus untuk menaklukkan dunia atas nama maslahat, NU berada dalam ketegangan yang tidak mudah diurai.

 

Inilah Tarik Tambang NU: sebuah drama batin kolektif yang bekerja di lapisan terdalam kesadaran organisasi. Ia tidak selalu hadir dalam sorotan wacana atau gemuruh polemik, tetapi bergetar perlahan hingga ke akar identitas—mengajukan pertanyaan filosofis yang mendasar: sampai di mana pengabdian boleh bersentuhan dengan kekuasaan, dan pada titik mana kekuasaan mulai menggerus makna pengabdian itu sendiri.

 

Tali itu tidak kasatmata, namun tegangannya nyata. Di satu ujung, ada keyakinan lama: NU adalah rumah para penjaga makna, khādim al-ummah, yang mengolah ilmu dan akhlak agar umat selamat meniti waktu. Di ujung lain, ada bisikan zaman: NU harus kuat secara material, mandiri secara ekonomi, lincah mengelola sumber daya—agar khidmah tak berhenti pada niat baik. Dua ujung ini sama-sama mengaku benar. Keduanya sama-sama mengangkat dalil. Dan di tengah, tubuh NU tertarik, diuji, ditanya: sampai di mana batas kebolehan bersekutu dengan dunia?

 

Tarik-menarik ini bukan sekadar soal kebijakan, bukan pula semata konflik personal. Ia adalah pertarungan paradigma. Ketika agama berjumpa dengan kapital, yang diuji bukan hanya prosedur, melainkan kejernihan tujuan. Filsuf-filsuf moral mengingatkan: alat yang kuat akan selalu menuntut legitimasi; sementara tujuan yang luhur akan selalu diuji oleh alat yang dipilih. Dalam tarikan itu, pertanyaannya bukan “siapa menang,” melainkan “apa yang berubah.”

 

Ada yang memandang tali itu sebagai jalan keluar: jika umat ingin sejahtera, organisasi harus berani masuk ke medan ekonomi. Ada pula yang melihatnya sebagai jalan licin: semakin kuat tarikan dunia, semakin besar risiko tergelincir dari ethos. Di sinilah etika publik diuji. Sebab kekuatan ekonomi tanpa etika adalah percepatan tanpa rem; sementara etika tanpa kekuatan kerap tinggal harapan.

 

Namun NU bukan organisasi yang lahir kemarin. Ia tumbuh dari kebijaksanaan pesantren yang paham ritme: kapan melangkah, kapan berhenti. Tradisi fiqh-nya mengajarkan tahqīq al-manā—menakar konteks sebelum menetapkan sikap. Tradisi tasawufnya menekankan tazkiyat al-nafs—membersihkan niat sebelum memetik hasil. Dalam kearifan itu, Tarik Tambang seharusnya tidak berakhir pada putusnya tali, melainkan pada temu-tarik: keseimbangan yang adil, bukan kemenangan sepihak.

 

Yang paling rapuh dalam tarik-menarik adalah marwah. Ia tak bisa ditambal oleh angka, tak bisa dibeli oleh keuntungan. Marwah hidup dari kepercayaan—dan kepercayaan tumbuh dari konsistensi. Sekali publik membaca NU sebagai entitas yang berubah wajah dari jama’ah menjadi korporasi, luka itu sulit sembuh. Sebaliknya, jika NU menutup diri dari realitas ekonomi, khidmah bisa melemah, pesan keadilan sosial kehilangan daya.

 

Maka, Tarik Tambang NU seharusnya dibaca sebagai ujian kedewasaan institusional. Dewasa bukan berarti anti-dunia, melainkan mampu menundukkan dunia pada nilai. Dewasa bukan berarti steril dari konflik, melainkan sanggup mengelolanya dengan adab. Dalam filsafat Aristoteles, kebajikan adalah jalan tengah—bukan kompromi lemah, melainkan puncak ketepatan. Jalan tengah NU bukan di tengah tali, tetapi di tengah nilai: manfaat yang terukur, risiko yang dikendalikan, dan niat yang diawasi.

 

Di akhirnya, tali itu akan tetap ada. Zaman tak pernah berhenti menarik. Pertanyaannya: siapa yang memegang simpul? Jika simpul dipegang oleh etika, tali menjadi penopang. Jika simpul dikuasai ambisi, tali menjadi jerat. NU—dengan sejarah panjang kebijaksanaannya—ditantang untuk mengikat simpul itu dengan benang yang paling kuat: amanah.

 

Sebab yang paling menentukan bukan seberapa keras tarikan, melainkan ke mana NU melangkah setelah tarikan reda. Apakah ia berdiri lebih tegak, atau justru terseret? Di sanalah Tarik Tambang NU menemukan maknanya: bukan sebagai pertarungan untuk menang, melainkan sebagai pelajaran untuk tetap menjadi diri sendiri di tengah dunia yang gemar menguji.

Selasa, 02 Desember 2025

Ketika Lidah Pemuka Agama Menghalangi Cahaya Rahmat

Selasa, Desember 02, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Di dalam sejarah panjang agama, lidah sering kali lebih tajam dari pedang. Ia bisa menjadi jembatan menuju surga, namun juga bisa menjadi tembok penghalang yang menutup pintu-pintu rahmat. Betapa sering agama jatuh terjerembab kedalam lorong gelap sejarah, bukan karena kekurangan ajaran yang luhur, melainkan karena watak retak pemuka agama yang pongoah.

 

Dalam beberapa tayangan video dan siara berita kita menyaksikan seorang habib, dengan suara lantang dan penuh arogan meneriakan seruan perang kepada jama’ahnya. Seolah-olah mimbar adalah gelanggang adu kekuatan, bukan taman ilmu dan kasih. Seolah-olah agama adalah sebilah pedang yang harus dihunus setiap saat, bukan pelita yang menuntun manusia menuju cahaya kedamaian.

 

Kisah para sufi memperingatkan kita akan bahaya lidah yang kehilangan kesejukan. Diceritakan, seorang non-muslim yang hatinya nyaris mekar dalam keindahan iman—hendak memeluk Islam. Ia tertarik oleh kelembutan para salik, oleh keramahan para darwis yang wajahnya selalu bercahaya. Namun, ketika ia hadir dalam majelis seorang pemuka agama yang keras dan pongah, ia mendengar caci maki, ancaman, dan kata-kata yang dipenuhi bara amarah. Seketika bunga iman yang nyaris mekar di hatinya itu layu. Ia pun mengurungkan niatnya untuk memeluk Islam.

 

Para sufi menafsirkan kisah ini dengan mata berair: pemuka agama itu, tanpa sadar, telah menjadi penghalang antara rahmat Allah dan hamba-Nya. Ia telah menutup jalan yang hendak dibuka Tuhan sendiri. Ibn ‘Arabi dalam Futuhat al-Makkiyyah pernah menulis, “Rahmat Ilahi itu seluas semesta, tidak satu pun manusia dapat membatasinya. Namun manusia, dengan kebodohannya, sering menjadikan dirinya penghalang bagi pancaran rahmat itu.”

 

Pemuka agama yang gagal menahan lidahnya, sejatinya hanyalah tawanan egonya sendiri. Ia adalah budak hawa nafsu meski ia mengaku paling suci. Tetapi mereka yang merasa paling suci itu justru sering kali yang paling haus akan kuasa. Kenyataan ini seperti teguran yang menembus zaman: betapa agama bisa ternodai oleh mereka yang menggunakannya sebagai senjata kekuasaan.

 

Agama, pada hakikatnya, adalah samudera kasih yang tak bertepi. Nabi Muhammad sendiri diutus tak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak. Namun, ketika para pewarisnya memamerkan wajah bengis, maka mereka bukan sekadar mengkhianati akhlak, melainkan menghalangi manusia dari rahmat Tuhan itu sendiri. Ibn ‘Arabi mengibaratkan manusia sebagai cermin. Jika cermin itu bersih, ia akan memantulkan cahaya Ilahi. Tetapi jika cermin itu dipenuhi debu amarah dan noda ego, maka yang tampak hanyalah bayangan kelam.

 

Di sini kita patut mengakukan pertanyaan: Apakah kita rela wajah Islam dikenal melalui suara yang lantang mengajak perang, ataukah kita ingin agama ini dikenang lewat kelembutan yang merangkul? Apakah kita hendak menjadi jalan bagi rahmat Tuhan, atau justru menjadi penghalangnya?

 

Di hadapan pertanyaan-pertanyaan itu, suara Rumi kembali bergema, “Agama tanpa cinta hanyalah tubuh tanpa jiwa.” Maka, ketika lidah para pemuka agama digunakan untuk menebar amarah, sebenarnya mereka bukan sedang membela agama, melainkan merobek wajah agama itu sendiri. Rahmat Tuhan tidak bisa dicemari, tetapi manusia bisa menghalangi dirinya sendiri dari rahmat itu. Dan tragisnya, dengan lidahnya, ia juga bisa menghalangi orang lain.

 

Inilah dosa yang amat berat: menutup jalan cinta Ilahi dengan tembok amarah. Dan setiap kita, dengan hati yang masih bergetar, mesti bertanya: apakah lidah kita menjadi pelita yang menuntun, atau pedang yang membunuh cahaya?

Rabu, 08 Oktober 2025

Ketika Kebenaran Menolak Tunduk: Renungan tentang Politik Oposisi dan Jalan Spiritual dalam Sejarah Islam

Rabu, Oktober 08, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Sejarah Islam selalu dimulai dari sebuah kehilangan: wafatnya Nabi Muhammad. Ketika wahyu berhenti turun, umat yang pernah disatukan oleh cinta kenabian tiba-tiba berdiri di antara keraguan dan ambisi. Di Saqifah Bani Sa’idah, para sahabat berdiskusi tentang siapa yang berhak memimpin umat, namun dalam perdebatan itu sesungguhnya tersembunyi keresahan yang lebih dalam—bagaimana menjaga makna wahyu di tengah godaan kekuasaan. Dari sinilah politik dalam Islam lahir: bukan dari kemenangan, melainkan dari luka yang menuntut makna.

 

Khawarij muncul sebagai suara keras yang menolak kompromi. Dengan semboyan lā ḥukma illā lillāh—“tidak ada hukum selain milik Allah”—mereka berusaha memurnikan iman dari campur tangan manusia. Namun di balik ketegasan itu tersimpan kesedihan yang dalam; mereka ingin menegakkan kebenaran, tapi justru terperangkap dalam absolutisme yang meniadakan kasih. Di sisi lain, kelompok Syiah menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar urusan politik, melainkan kelanjutan dari cahaya spiritual yang diwariskan kepada keluarga Nabi, Ahlul Bait. Kedua arus besar ini lahir dari cinta yang sama: cinta kepada kebenaran, namun berjalan di jalan yang berbeda.

 

Di tengah pertentangan itu, muncul tokoh seperti Hasan al-Bashri. Ia tidak membangun pasukan, tidak pula mengangkat senjata. Ia memilih diam dan menasihati dengan kelembutan. Dalam pandangannya, kekuasaan adalah ujian bagi iman, dan dunia ini hanyalah persinggahan yang rapuh. Melalui sikapnya, Hasan al-Bashri memperlihatkan bahwa perlawanan tidak selalu lahir dari teriakan; kadang ia tumbuh dari kesadaran yang memilih kesunyian.

 

Sejarah kemudian mencatat nama-nama besar seperti Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal. Mereka bukan pemberontak, tetapi menolak tunduk kepada kekuasaan yang berusaha mengendalikan tafsir agama. Abu Hanifah menolak jabatan hakim dari penguasa Abbasiyah karena tidak ingin keadilan menjadi alat legitimasi tirani. Imam Ahmad bin Hanbal disiksa karena menolak ajaran resmi bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Dalam penderitaan, keduanya menunjukkan bahwa kebenaran tidak bisa dibeli, dan integritas jauh lebih berharga daripada keselamatan diri. Mereka tidak menentang negara, tetapi mempertahankan martabat akal dan iman agar tidak menjadi budak kekuasaan.

 

Dari dunia fiqih dan teologi, tradisi perlawanan kemudian menjelma menjadi dimensi spiritual dalam diri para sufi. Al-Hallaj, seorang mistikus besar dari Baghdad, menjadi simbol cinta yang menolak tunduk pada kekuasaan. Ucapannya yang terkenal, “Ana al-Ḥaqq”—“Akulah Kebenaran”—bukanlah klaim ketuhanan, melainkan ungkapan fana’, lenyapnya diri di hadapan Tuhan. Namun bagi penguasa, kata-kata itu terdengar berbahaya. Al-Hallaj dihukum mati, bukan karena ia menentang agama, melainkan karena cintanya terlalu jujur untuk dunia yang takut pada kejujuran. Eksekusinya menandai satu bab penting dalam sejarah oposisi Islam: bahwa cinta kepada Tuhan bisa menjadi bentuk tertinggi dari perlawanan terhadap tirani.

 

Rumi, beberapa abad kemudian, meneruskan pesan itu melalui puisi dan hikmah. Ia tidak melawan penguasa dengan pedang, melainkan dengan ajaran tentang cinta, kebijaksanaan, dan kerendahan hati. Dalam pandangan Rumi, politik tanpa spiritualitas adalah tubuh tanpa ruh. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan sejati tidak lahir dari kemampuan memerintah, tetapi dari kemampuan mencintai. Karena itu, bagi para sufi, menolak tunduk kepada penguasa yang zalim bukan sekadar sikap politik, melainkan bentuk ibadah. Mereka melihat kekuasaan bukan sebagai jalan menuju Tuhan, tetapi ujian yang dapat menyesatkan hati jika tidak disertai keikhlasan.

 

Dalam kerangka inilah, prinsip amar ma’ruf nahi munkar mendapatkan maknanya yang paling mendalam. Menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran bukan hanya tugas moral, melainkan panggilan untuk menjaga keseimbangan antara cinta dan keadilan. Al-Ghazali menulis bahwa amar ma’ruf harus dilakukan dengan ilmu dan kebijaksanaan, bukan dengan kemarahan. Ia mengingatkan bahwa menegur penguasa bisa menjadi kewajiban, tetapi bila teguran itu menimbulkan kerusakan yang lebih besar, maka diam bisa menjadi bentuk kebijaksanaan yang lebih tinggi. Bagi Al-Ghazali, perlawanan sejati bukanlah hasil dari amarah, tetapi dari cinta yang disertai pengetahuan.

 

Ibn Taymiyyah menambahkan lapisan lain dalam etika oposisi Islam. Menurutnya, Allah akan menegakkan negara yang adil meskipun dipimpin oleh orang kafir, dan akan menjatuhkan negara yang zalim meskipun dipimpin oleh Muslim. Kalimat ini menggema sepanjang zaman, menegaskan bahwa keadilan adalah fondasi segala pemerintahan, dan bahwa agama tanpa keadilan hanyalah topeng bagi kezaliman. Dalam pandangan Ibn Taymiyyah, oposisi terhadap kezaliman bukanlah pemberontakan, melainkan bentuk tanggung jawab moral yang berakar pada prinsip tauhid—bahwa hanya Allah yang berhak disembah, bukan penguasa, bukan ideologi, bukan sistem.

 

Zaman modern membawa bentuk baru dari perlawanan. Ketika kolonialisme menggerus dunia Islam, muncul pemikir dan aktivis seperti Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, Rachid Ghannouchi, dan Abdolkarim Soroush. Mereka mencoba mengembalikan agama ke dalam ruang publik, meskipun dengan jalan yang beragam. Sebagian menempuh jalan ideologis yang keras, sebagian lain memilih jalur dialogis dan reformis. Dari mereka kita belajar bahwa perlawanan dalam Islam bukanlah satu bentuk tunggal; ia bisa menjadi revolusi, bisa menjadi kritik moral, bisa pula menjadi pembaruan intelektual. Tetapi apa pun bentuknya, semua berangkat dari sumber yang sama: keinginan untuk menegakkan keadilan sebagai cermin dari keesaan Tuhan.

 

Di Indonesia, semangat itu hidup dalam wajah yang lebih lembut. Para ulama dan pemikir seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, dan KH. Abdurrahman Wahid memadukan spiritualitas dan politik dalam satu napas yang tenang. Gus Dur, khususnya, menunjukkan bahwa oposisi bisa dilakukan dengan humor, empati, dan kearifan. Ia mengajarkan bahwa melawan bukan berarti memusuhi; menegur bukan berarti menghancurkan. Dalam dunia yang semakin terbelah oleh kebencian, etika semacam ini menjadi penawar bagi luka umat.

 

Maka, oposisi dalam Islam sejatinya bukan tindakan melawan penguasa semata, melainkan usaha menjaga nurani agar tetap berpihak kepada kebenaran. Ia adalah cermin dari iman yang matang, iman yang tidak butuh panggung untuk menunjukkan keberaniannya. Kadang, oposisi paling tulus justru lahir dari kesunyian—dari hati yang berani menolak tunduk pada kebatilan, namun tetap lembut dalam tutur dan bijak dalam sikap. Kesunyian para sufi, penolakan para ulama, dan kebijaksanaan para pemikir semuanya bersatu dalam satu garis yang panjang: garis cinta yang menolak tunduk kepada kekuasaan yang kehilangan arah.

 

Sejarah Islam menunjukkan bahwa kekuasaan akan selalu datang dan pergi, tetapi kebenaran tidak pernah mati. Dari darah Al-Hallaj hingga tinta Al-Ghazali, dari diamnya Hasan al-Bashri hingga tawa Gus Dur, Islam senantiasa menghadirkan wajah yang kritis, manusiawi, dan penuh kasih. Inilah politik yang tidak berakar pada ambisi, melainkan pada kesadaran spiritual bahwa tugas manusia bukanlah berkuasa, tetapi menjaga keadilan agar tetap bernafas di tengah dunia yang sering sesak oleh kepalsuan.

 

Pada akhirnya, oposisi dalam Islam adalah bentuk cinta yang paling jujur—cinta kepada Tuhan yang menolak dikotori oleh kepentingan duniawi. Dan mungkin, hanya mereka yang mencintai dengan sungguh-sungguhlah yang berani menolak tunduk, bukan karena benci kepada penguasa, tetapi karena ingin menyelamatkan kemanusiaan dari kehancuran moralnya sendiri.

 


Jumat, 03 Oktober 2025

Anak Sebagai Tajalli: Refleksi Dua Tahun Nun A Wening Hyun

Jumat, Oktober 03, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Ada saat-saat tertentu dalam hidup ketika roda waktu yang biasanya berputar tanpa henti, tiba-tiba seakan berhenti, bukan karena ia benar-benar diam, melainkan karena ia ingin memberi ruang bagi sebuah keajaiban yang terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja. Saat-saat itu bukan sekadar momen biasa dalam hitungan kalender, melainkan titik cahaya yang menyinari perjalanan panjang manusia.

 

Salah satu momen yang paling indah dari segala keindahan itu adalah hari ulang tahun seorang anak—sebuah peringatan kecil yang sarat makna, ketika kehidupan seakan berbisik kepada kita bahwa di dunia ini masih ada alasan untuk bersyukur, masih ada sebab untuk merayakan cinta, dan masih ada tanda bahwa harapan belum pernah benar-benar mati.

 

Pada 3 Oktober 2025, genaplah dua tahun usia Nun A Wening Hyun, putri pertama kami yang namanya sendiri telah menjadi doa panjang: Nun, huruf agung yang melambangkan pena dan ilmu; Wening, kejernihan batin yang bening tanpa riak dan kotoran hati; Hyun, cahaya kemilau yang menembus batas pandang. Nama itu adalah mantra kehidupan, dan pemiliknya adalah tajalli—penampakan kasih sayang Ilahi di dunia.

 

Sementara huruf  A dalam nama itu bukan sekadar aksara, melainkan nafas pertama dari segala bahasa. Dalam tradisi linguistik, huruf hidup (vokal) adalah denyut nadi yang memberi kehidupan pada konsonan yang mati. Tanpa vokal, kata hanya menjadi rangka kosong; tetapi dengan vokal, kata menjelma suara yang menggetarkan, makna yang mengalir, dan kehidupan yang berdenyut.

 

Maka ketika A diletakkan dalam nama Nun A Wening Hyun, ia menjadi simbol dari awal mula segala sesuatu—permulaan yang selalu hidup, sumber bunyi yang menyalakan harmoni. Secara filosofis, A adalah representasi dari arché, asal-muasal yang tak pernah habis. Ia adalah alfa dalam tradisi Yunani, huruf pertama yang membuka seluruh kosmos bahasa, dan dalam tradisi spiritual ia dapat dibaca sebagai lambang kehidupan yang murni, belum ternoda, dan selalu siap menghidupi. Dengan kata lain, A adalah benih universal yang menjadikan nama bukan sekadar sebutan, tetapi doa yang terus mengalir di setiap penyebutannya. (Baca juga: Nun A Wening Hyun)

 

Para sufi barangkali akan menyebut huruf A sebagai nafās al-Rahmān, hembusan kasih sayang Ilahi yang darinya segala wujud tercipta. Setiap huruf hidup adalah pancaran hidup dari Sang Hidup (al-Ḥayy). Maka, huruf A dalam nama Wening Hyun adalah penanda bahwa dirinya mengandung kehidupan yang menghidupi: kehadirannya tidak hanya menambah isi dunia, tetapi juga memberi jiwa bagi sekitarnya.

 

Lebih jauh lagi, A adalah simbol keterbukaan. Ia dilafalkan dengan mulut yang terbuka lebar, seakan melambangkan hati yang terbuka bagi segala kemungkinan. Anak yang membawa huruf ini dalam namanya diharapkan tumbuh dengan jiwa yang lapang, keberanian untuk memulai, dan kesiapan untuk memberi kehidupan di tengah dunia yang sering kali terasa sempit. Maka, huruf A bukanlah kebetulan, tetapi pilihan filosofis yang sarat makna. Ia adalah huruf hidup—dan karena itulah ia menghidupi kehidupan.

 

Nun A Wening Hyun, kini dua tahun usiamu. Engkau adalah embun yang belum tercemar debu, engkau adalah cahaya yang belum pudar oleh dunia. Sebagaimana dikatakan Ibn ‘Arabi, bahwa  “jiwa seorang anak masih dekat dengan asalnya, belum terikat oleh debu dunia”. Semoga engkau tumbuh tetap wening, tetap bening, meski zaman membawa gelombang dan riak peradaban masa silam.

 

Pada akhirnya, ulang tahunmu bukan sekadar milikmu. Ia adalah milik kami semua, pengingat bahwa Tuhan belum berhenti menyalakan cahaya di bumi. Engkau adalah bukti bahwa harapan masih hidup, bahwa cinta masih mungkin, dan bahwa dunia masih layak dirayakan. Sebab kata Rumi, kelahiran seorang anak adalah tanda Tuhan masih memberi harapan pada dunia.

 

Maka, pada hari ini, kami merayakan bukan hanya dua tahun usiamu, tetapi juga dua tahun cahaya yang Tuhan titipkan kepada kami melalui dirimu. Engkau adalah tajalli, engkau adalah doa yang hidup, engkau adalah kitab kecil yang sedang ditulis dengan tinta cinta.

Jumat, 12 September 2025

Syekh Abdul Karim al-Bantani: Mursyid Peniup Api Jihad

Jumat, September 12, 2025 0


 

Oleh Mohamad Asrori Mulky


Sejarah Banten laksana kitab agung yang ditulis dengan darah perjuangan, doa para wali, dan airmata rakyat yang tak pernah tunduk pada penjajahan dan tirani. Dari tanah para jawara dan ulama inilah lahir nama-nama besar yang suaranya menembus batas pesisir, menyeberangi samudra, hingga bergema ke jantung dunia Islam.

 

Di antara gugusan bintang yang bertabur di langit sejarah Nusantara, khususnya di tanah para jawara, ada satu cahaya yang tak pernah redup meski abad telah berganti: Syekh Abdul Karim al-Bantani. Ia adalah mursyid agung tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyyah, yang mengajarkan dzikir di satu sisi dan meniupkan api perlawanan di sisi lain.

 

Dalam dirinya, kesalehan tidak pernah tercerabut dari keberanian. Zikir yang diajarkannya bukanlah sekadar getaran lidah yang meruapkan keheningan, melainkan getaran jiwa yang menghidupkan keberanian untuk menentang tirani para penjajah. Doa yang dirapalnya tidak berhenti pada kata yang terbang ke langit, tetapi menjelma menjadi kekuatan yang membakar dada-dada para muridnya agar tegak menghadapi penindasan.

 

Syekh Abdul Karim al-Bantani adalah contoh nyata bahwa tarekat bukan sekadar jalan menuju Tuhan dalam ruang-ruang privat, melainkan juga energi kolektif yang menggerakkan umat. Majelis dzikir yang dipimpinnya di Banten, Makkah, dan berbagai tempat, bukan hanya ruang perenungan batin, melainkan juga kawah candradimuka tempat umat belajar solidaritas, keberanian, dan tekad perlawanan.

 

Dari sana lahir murid-murid yang kemudian menjadi ujung tombak peristiwa besar seperti Geger Cilegon 1888, sebuah letupan amarah rakyat yang telah lama terpendam di bawah cengkeraman kolonial. Murid-muridnya seperti KH. Wasid, KH. Tubagus Ismail, dan Haji Sangadeli bangkit menggerakkan perlawanan, meski pemberontakan itu akhirnya dapat dipadamkan Belanda dengan kekerasan.

 

Para peneliti, seperti Martin van Bruinessen dan Azyumardi Azra, menyebut sosok semacam Syekh Abdul Karim al-Bantani sebagai simpul penting dalam jaringan ulama Nusantara di Makkah, yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menyemai benih kebangkitan. Ia menjadi bukti bahwa sufisme di Nusantara tidak pernah steril dari sejarah sosial, melainkan ikut menorehkan tinta dalam kitab perjuangan bangsa.

 

Selain meninggalkan jejak perjuangan, Syekh Abdul Karim al-Bantani juga menorehkan tinta ilmu. Salah satu karyanya yang masyhur adalah Risalah Silsilah al-Thariqatain al-Qadiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah, disusun bersama Syekh Ibrahim Brumbung Demak. Karya ini melanjutkan spirit Fathul Arifin, catatan ceramah ruhani yang pertama kali dihimpun di Makkah pada 1295 H oleh Syekh Muhammad Ismail bin Abdurrahim, murid kesayangan Syekh Ahmad Khatib Sambas. Melalui karya-karya inilah, ia meletakkan batu fondasi penyebaran tarekat di bumi Nusantara.

 

Syekh Abdul Karim al-Bantani lahir sekitar tahun 1840 di Desa Lempuyang, Tanara, Serang. Ia tumbuh dalam keluarga yang darahnya berdenyut dengan tradisi keilmuan dan perjuangan. Garis keturunannya bersambung kepada Maulana Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah, pendiri Kesultanan Banten sekaligus putra Sunan Gunung Jati. Sepupunya, Syekh Nawawi al-Bantani, kelak menjadi imam besar Masjidil Haram, simbol ulama kosmopolitan Nusantara. Dari mata air keluarga ini, Abdul Karim menyerap wibawa, kecerdasan, dan keteguhan hati.

 

Jalan ilmunya bermuara hingga ke tanah suci Makkah, pusat cahaya yang memanggil jiwa-jiwa pencari. Di sana, Syekh Abdul Karim al-Bantani menambatkan langkahnya pada seorang guru besar, Syekh Ahmad Khatib Sambas—pendiri tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyyah di Nusantara. Dari tangan sang mursyid agung itu ia memperoleh pengetahuan lahir dan juga rahasia batin yang menautkan syariat dengan hakikat, zikir dengan amal, keheningan dengan keberanian.

 

Dari gurunya itu, Syekh Abdul Karim al-Bantani mewarisi sanad ilmu dan amanah kepemimpinan tarekat, sebuah mata rantai rohani yang menghubungkan para salik di Nusantara dengan sumber mata air spiritualitas di Hijaz. Dengan begitu, Syekh Abdul Karim tidak hanya mengulang apa yang telah diajarkan, tetapi juga melanjutkan estafet tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyyah, meneguhkan dirinya sebagai penjaga dan penerus jalan sufi yang berakar kuat di bumi Arab sekaligus tumbuh subur di tanah airnya.

 

Hingga akhir hayatnya, ia memilih menetap di Makkah, menjaga lentera tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyyah. Tahun wafatnya hingga kini terselubung kabut sejarah, seakan Allah sengaja menyimpan rahasianya. Seusai kepergiannya, corak penyebaran tarekat itu di Indonesia tak lagi terpusat, melainkan berakar dalam banyak kepemimpinan lokal. Namun, jejak Syekh Abdul Karim al-Bantani tetap bercahaya. Dzikir dan wiridnya bergetar di desa-desa, menembus keheningan malam, mengisi jiwa ribuan pengikut.

 

Sepak terjang dan perjuangan Syekh Abdul Karim al-Bantani akan tetap hidup dalam ingatan banyak orang, terutama umat Islam Indonesia. Ia bukan sekadar mursyid yang menuntun dalam dzikir, melainkan penipu api jihad yang menjahit jalan tasawuf dengan keberanian melawan tirani. Namanya mungkin tak tercatat megah dalam dokumen kolonial, tetapi doa, darah, dan dzikirnya masih berdetak dalam denyut sejarah bangsa. Ia adalah pelita dalam malam panjang penjajahan, yang cahayanya masih menuntun kita hingga hari ini.

Kamis, 11 September 2025

Pintu Ketaatan, Pintu Penerimaan

Kamis, September 11, 2025 0

 


ربما فتح باب الطاعة وما فتح لك باب القبول, وربما قضى عليك بالذنب فكان سببا للوصول

 

"Barangkali Allah membukakan bagimu pintu ketaatan, namun belum membukakan pintu penerimaan. Dan barangkali Dia menetapkan atasmu sebuah dosa, yang justru menjadi sebab engkau sampai kepada-Nya."

 

— Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari, Al-Hikam

 

Pintu Ketaatan, Pintu Penerimaan

Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Sering kali manusia terperdaya oleh gemerlap amalnya sendiri. Kita merasa sudah berpuasa, bersedekah, berdoa, mendirikan solat ribuan rakaat, dan menunaikan berbagai bentuk ibadah, lalu hati kecil berbisik, “Aku pasti dekat dengan-Nya.”

 

Padahal, sebagaimana diingatkan oleh Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari dalam Al Hikam, tidak setiap amal yang tampak sebagai ketaatan otomatis diterima di sisi Allah. Ada kalanya ibadah itu hanya menampilkan rupa lahiriah, sementara isinya rapuh, tergerus riya, kesombongan, atau rasa cukup pada diri.

 

Bayangkan seorang alim yang setiap hari menebarkan ilmu dari atas mimbar, disanjung banyak orang karena keluasan wawasannya. Namun, diam-diam dalam hatinya tumbuh perasaan lebih tinggi dari yang lain. Ia merasa paling suci, paling benar, dan paling dekat dengan Allah. Pada titik itulah, pintu ketaatan bisa tampak terbuka lebar, namun sesungguhnya pintu penerimaan justru terkunci rapat.

 

Sebaliknya, ada seorang hamba yang terjerat dosa. Berlumur debu kemaksiatan. Ia jatuh, lalu menangis sendirian, menanggung sesak penyesalan yang menghimpit dadanya. Dari keterpurukan itu, ia belajar rendah hati. Ia menemukan betapa manusia begitu rapuh dan betapa ia sangat bergantung pada Allah. Terkadang justru dari air mata tobat itu, pintu penerimaan terbuka luas, mengundang kasih sayang Ilahi.

 

Di sinilah letak paradoks agung kehidupan spiritual: sesuatu yang tampak mulia di mata manusia belum tentu bernilai di sisi Allah, dan sesuatu yang tampak hina di mata dunia bisa justru menjadi jalan menuju keselamatan.

 

Ketaatan, yang di mata lahiriah terhitung sebagai amal suci, tidak otomatis menghadirkan kedekatan dengan Sang Pencipta. Sebab, yang memberi ruh pada amal bukanlah gerak tubuh semata, melainkan sikap batin yang melandasinya. Bila sebuah ibadah diliputi rasa sombong, riya, atau perasaan diri paling suci, maka ibadah itu berubah menjadi dinding yang menutup jalan menuju Allah. Amal lahirnya ada, tetapi jiwanya sirna.

 

Sebaliknya, dosa yang tampak sebagai noda hitam dalam perjalanan hidup manusia tidak selalu membawa kebinasaan. Terkadang, justru dari keterjerembaban dalam dosa, lahirlah kesadaran akan rapuhnya diri. Dari kejatuhan itu, manusia belajar untuk menunduk, untuk menangis, untuk merasakan perihnya jauh dari Allah. Air mata penyesalan itulah yang menjadi hujan, membersihkan karat hati, lalu membuka pintu yang selama ini terkunci.

 

Karena itu, ukuran kedekatan dengan Allah bukanlah pada banyaknya amal yang ditumpuk atau sedikitnya dosa yang dilakukan, melainkan pada keadaan hati. Hati yang terjerat kesombongan, meski dikelilingi ketaatan, ibarat tanah subur yang tertutup batu keras—benih tidak akan pernah tumbuh. Tetapi hati yang luluh karena penyesalan, meski penuh luka oleh dosa, ibarat tanah kering yang menerima tetes hujan—dari situlah tumbuh tunas kehidupan baru.



Inilah paradoks yang sering dilupakan: bahwa Allah lebih dekat dengan hati yang hancur karena penyesalan daripada dengan hati yang membusung oleh kebanggaan atas amal. Sebab, Allah tidak melihat rupa dan perbuatan lahiriah manusia semata, melainkan menilai apa yang berdiam di dalam hati.

 

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menegaskan, “Dosa yang membuatmu rendah hati di hadapan Allah lebih berharga daripada ketaatan yang melahirkan kesombongan.” Sebuah ungkapan yang berpaut erat dengan hikmah Ibnu ‘Athaillah: nilai amal bukan hanya terletak pada bentuknya, melainkan pada ruh yang menghidupinya.

 

Kebanyakan manusia terlalu mencintai kebaikan dirinya sendiri hingga lupa pada kesalahan dan kerendahan diri sendiri. Dosa bisa menjadi luka, tetapi justru melalui luka itu seseorang menemukan jalan pulang menuju Allah. Kebaikan yang melahirkan kesombongan lebih berbahaya daripada dosa yang menyadarkan.

 

Kata-kata mutiara penuh hikmah dari Ibnu ‘Athaillah di atas menuntun kita pada keseimbangan batin: jangan terpedaya oleh tumpukan amal, dan jangan terhempas oleh dosa. Amal tanpa keikhlasan ibarat tubuh tanpa jiwa, sementara dosa yang ditingkahi tobat bisa menjadi tangga menuju kemurnian hati.

 

Hidup ini adalah perjalanan panjang melewati dua pintu: ketaatan dan penerimaan. Pintu pertama bisa tampak terbuka, namun tanpa yang kedua, kita tetap terhenti di ambang jalan. Maka jangan pernah berbangga pada amal, dan jangan pula berputus asa oleh dosa. Yang terpenting adalah hati yang terus merendah, senantiasa mengetuk pintu-Nya dengan penuh pengharapan.

 

Sebagaimana doa para arif: “Ya Allah, jangan Engkau tutup mata hati kami dengan ketaatan yang membuat kami angkuh, dan jangan pula Kau biarkan kami binasa oleh dosa yang menjerumuskan. Bukalah pintu penerimaan-Mu, agar perjalanan hidup kami berakhir dalam pelukan kasih-Mu.”