-->
![]() |
| Koran Jakarta |
![]() |
| Koran Jakarta |
![]() |
| Majalah Gatra |
Oleh Mohamad Asrori Mulky
Deputi Direktur Freedom Foundation Jakarta dan Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina
Penulis : Joe Studwell
Penerbit : Alvabet
Cetakan : I, Maret 2009
Istilah godfather pertama kali diperkenalkan oleh Mario Puzo dalam novelnya,The Godfather,yang berkisah tentang seorang tokoh Vito Corleone.
Tokoh ini sangat dihormati, dicintai, sekaligus ditakuti dan dibenci oleh kawan maupun lawan-lawannya. Meski sebagai mafia penguasa New York, Vito dari Sisilia-Italia ini menolak tradisi balas dendam. Kenyataan seperti itu tentu tidak lazim dilakukan dalam dunia mafia yang identik dengan aksi barbarisme, anarkisme, dan brutalisme terhadap kelompok di luar mereka.
Berbeda dengan buku The Godfather karya Mario Puzo, buku Asian Godfathers karya Joe Studwell lebih menggambarkan tradisitradisi paternalisme, kekuasaan laki-laki, penyendirian, dan mistik yang benar-benar menjadi bagian dari kisah para taipan Asia dari dulu hingga kini.
Karya ini bermaksud menunjukkan pada pembaca bahwa ada mitologi lain yang tumbuh di antara para taipan-taipan Asia, yang besar dan tak tersentuh. Dalam buku ini, Studwell tidak menilai keseluruhan taipan Asia (godfather) sebagai spesies yang benar-benar berhati dengki dan terlibat dalam sejumlah kejahatan terorganisasi meski kenyataannya ada sebagian dari mereka terlibat kejahatan terorganisasi tersebut.
Karena itulah, para taipan Asia ini sulit dijangkau dan diverifikasi. Bila kita perhatikan lebih mendalam, seluruh rangkaian legenda yang terjadi di Asia, khususnya kawasan Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Indonesia, Hong Kong, dan Filipina mengandung sejumlah submitos tentang ras, budaya, genetika, entrepreneuralisme, dan keseluruhan dasar dari kemajuan ekonomi kawasan ini sejak akhir kolonialisme.
Maka, dalam pengertian seperti inilah, buku Asian Godfathers merupakan kebalikan dari The Godfather karya Mario Puzo. Dalam sejarah Asia Tenggara, seluruh perekonomian di kawasan ini sepenuhnya dikendalikan oleh segelintir konglomerat atau taipan. Umumnya mereka itu dikenal sebagai godfather Asia.
Menurut Studwell, pada 1990-an, mereka termasuk delapan dari 25 orang terkaya di dunia. Sebut saja misalnya Li Ka-shing, sang miliuner Hong Kong; Stanley Ho, bandar kasino di Macau; Lim Goh Tong, pemilik Genting Highland Resort yang sangat besar di Malaysia; Lucio Tan, miliuner tembakau di Filipina; atau para konglomerat Indonesia, dari Achmad Bakrie, Haji Kalla, Eka Tjipta Widjaya, hingga Tommy Winata.
Dalam buku ini,Studwell memberi analisa yang menarik tentang awal kemunculan para godfather Asia. Menurutnya, lanskap ekonomi kontemporer Thailand, Malaysia, Indonesia, Filipina, Singapura, dan Hong Kong dibentuk oleh interaksi antara dua kekuatan sejarah, yaitu migrasi dan kolonialisme.
Kehadiran kaum imigran ke daerah-daerah Asia ini, seperti India, China, dan Arab, mendahului kaum kolonial Eropa. Mereka datang ke kawasan Asia tidak saja melibatkan diri dalam urusan perdagangan, tapi juga dalam kegiatan- kegiatan lainnya. Di Thailand, sejak abad ke-16 kaum imigran dipekerjakan dalam berbagai pekerjaan yang disetujui oleh pengadilan.
Orang-orang Persia dan China mengoperasikan monopoli- monopoli perdagangan dan jasa pengumpulan pajak. Hingga abad ke-18, orang-orang China tercatat bekerja untuk pengadilan Thailand sebagai administrator dan akuntan. Fenomena ini juga tak jauh berbeda terjadi di Pulau Jawa di Indonesia.
Tercatat dengan jelas bahwa para pengusaha China memasuki manajemen administratif dan pengelolaan monopoli bersama kaum aristokrat Jawa sebelum kedatangan orang-orang Eropa pada abad ke-16. Sementara itu, kedatangan kaum kolonial Eropa,yang muncul pada abad ke-16, namun tidak ekspansionis secara agresif hingga abad ke-19,memperkuat kecenderungan yang sudah tampak.
Kaum kolonial berusaha berkuasa melalui elite-elite yang ada, baik secara politik maupun ekonomi. Mereka merepresentasikan diri sebagai penguasa tertinggi sehingga para pemimpin politik dan ekonomi lokal mau tidak mau membutuhkan mereka dan begitu pula sebaliknya. Bagi para imigran yang ambisius, baik dari China, Arab, dan Persia,kehadiran orang Eropa merupakan momentum tepat untuk mengakulturasi diri mereka dengan para penguasa baru itu yang merepresentasikan diri sebagai kekuatan dominan.
Di Indonesia, para taipan China mendapat perlakuan yang istimewa dari Belanda sehingga lama kelamaan orang China menjadi godfather di negeri ini. Perlu diketahui, terutama di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, bahwa perkembangan ekonominya merupakan produk dari kekuatan politik dan ekonomi yang berkembang di era kolonial dengan setumpuk karakter yang berbeda pascakolonial.
Dalam hubungan ini, elite politik memberikan kepada elite ekonomi konsesikonsesi monopoli ekonomi. Para taipan di setiap kawasan Asia Tenggara, secara keseluruhan cenderung melayani kepentingan politik dan para elitenya. Mereka—godfatehr—mendapatkan kekayaan personal yang besar dari hubungan itu,namun mereka tidak banyak memberikan kemajuan ekonomi secara keseluruhan.
Maka, pada titik inilah, kawasan Asia Tenggara memiliki kelemahan besar dalam pembangunan politik dan institusional, yang membuat kawasan ini mengalami kehancuran yang sangat akut. Sebagian besar dari problem itu belum bisa teratasi dalam satu dekade sejak krisis melanda seluruh kawasan itu.
Oleh Mohamad Asrori Mulky
Penulis : Mohamad Shofan
Penerbit : LSAF dan Ar-Ruzz Media
Cetakan : I, Desember 2008
Tebal : 484 Halaman
Dalam sejarah agama-agama, baik Yahudi, Kristen, dan juga Islam, pertentangan dan pertikaian di seputar tafsir keagamaan menjadi hal yang lumrah terjadi. Ironisnya, pertikaian yang terjadi antara dua belah pihak ini dalam catatan sejarah pemikiran Islam, khusunya, dan agama-agama lainya, pada umumnya, tidak selalu bersifat dialektis dan akomodatif, tapi lebih mengarah pada sikap kontradiktif dan monolitik.
Fenomena tersebut pada akhirnya sering melahirkan represi, kekerasan dan tragedi yang berdarah-darah, yang karenanya, menurut Adonis (Ali Ahmad Said), sisi ‘kemapanan’ (ats-tsâbit) lebih mendominasi sisi ‘perubahan’ (al-mutahawwil) dan dia selalu menjegal segala upaya yang dilakukan oleh kecenderungan gerakan kreatif dan dinamis.
Hingga saat ini, antara ‘kemapanan’ (ats-tsâbit) dan ‘perubahan’ (al-mutahawwil) selalu berebut peran dalam segala lini kehidupan, baik dalam bidang teologi, politik, budaya, hukum, bahkan bahasa dan sastra. Di Indonesia, dalam bidang politik misalnya, terdapat kelompok yang menginginkan terbentuknya negara berdasarkan demokrasi. Namun pada sisi lain, ada kelomok yang menginginkan terbentuknya sebuah negara Islam, yang berlandaskan pada syariat Islam atau khlafah.
Penggunaan istilah ‘kemapanan’ (ats-tsâbit) dan ‘perubahan’ (al-mutahawwil) oleh Adonis sesungguhnya ia ingin memetakan watak nalar masyarakat Islam ke dalam dua kategori, ‘nalar ekslusif’ dan ‘nalar inklusif’. Di mana satu sama lain saling berseberangan, memperlebar jarak, dan selalu membuat jurang pemisah yang begitu terjal hingga sulit untuk dijembatani dan didamaikan. Parahnya lagi tak jarang menimbulkan perang dan bentrok fisik lainya.
Melalui pemetaan nalar ke dalam nalar inklusif dan ekslusif di atas, dapat kita katakan, kasus pemecatan yang menimpa Moh. Shofan, Dosen tetap di Universitas Muhammadiyah Gresik—sebagaimana diuangkapkan dalam buku “Menegakan Pluralisme” ini—pada awal Februari 2007 lalu, terkait dengan salah satu tulisanya “Natal dan Pluralisme Agama” yang diterbitkan di media cetak, lebih mengarah pada pertarungan otoritas nalar, yang bisa saja diekspresikan ke dalam nalar ekslusif atau nalar inklusif.
Buku yang ditulis oleh Moh. Shofan ini merupakan refleksi atas kondisi umat Islam yang tidak mengekpresikan nilai-nilai pluralitas, inklusivitas, dan demokrasi. Dan Shofan dalam buku ini berusaha melawannya. Untuk mewujudkan perlawanannya itu, tak segan-segan Shofan mengkritik Muhamadiyah yang dalam prakteknya lebih merepresentasikan dirinya sebagai organisasi yang mengedepankan nalar ekslusif, ketimbang organisasi yang bernalar inklusif, dinamis, dan progresif.
Shofan sangat menyayangkan sikap yang dilakukan Muhammadiyah. Sebagai Ormas keagamaan yang mendapat perhatian besar dari beragam kalangan, sangat tidak bijak Muhammadiyah mengklaim Shofan karena tulisannya itu dengan sesat hingga berujung pada pemecatan dirinya. Hal ini tentunya, tidak saja telah memasung kreativitas seseorang untuk berpikir dan berpendapat, tapi juga telah melupakan peranya sendiri sebagai sebuah kelompok pembaharu yang mengidealkan nilai-nilai progresivitas dan modernitas. Padahal sejak semula, KH. Ahmad Dahlan, tokoh dan pendiri Muhammadiyah ini selalu mencita-citakan nilai-nilai tersebut. Namun hingga kini, dan dalam faktanya nilai-nilai itu terpasung dan bahkan terancam punah oleh para penerusnya yang lebih berpikiran ekslusif dan dogmatis.
Seharusnya, dalam lingkup akademik, sejatinya pluralitas dan keragaman itu harus senantiasa didukung dan diapresisasi, bukan dicerca dan dicibir begitu saja. Apalagi sampai melakukan tuduhan-tuduhan yang tidak mencerminkan sikap akademis. Karena itu, kehadiran buku ini layak diapresiasi dan dapat dijadikan pelajaran bagi ormas kegamaan lainya untuk bersikap arif, bijak, dan demokratis dalam menyikapi segala persoalan. Jangan sampai keputusan yang dikeluarkan bertentangan dengan nalar inklusif dan merusak demokrasi yang sedang kita bangun.
Dimuat di SINDO Minggu 1 Februari 2009
Oleh: Mohamad Asrori Mulky
Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta
Judul Buku : Investasi Emas
Penulis : Nofie Iman
Penerbit : Daras Books
Cetakan : I Januari 2009
Tebal : 182 halaman
Di tengah krisis global mendera perekonomian dunia, kita dituntut untuk mencari solusi yang terbaik dalam mengatasi krisis ekonomi global tersebut. Sebab, menempuh pilihan yang salah dalam menggunakan instrumen investasi akan berisiko pada merosotnya nilai aset di masa yang akan datang
.
Akibatnya, kita mengalami rugi besar. Krisis ekonomi global, khususnya yang terjadi di kawasan Asia ini, berawaldari krisis nilai tukar mata uang, yaitu ketika makin kuatnya nilai mata uang asing—khususnya dolar Amerika—terhadap mata uang domestik. Akibatnya, harga-harga meningkat secara berlipat karena struktur ekonomi Indonesia didominasi impor, baik bahan baku maupun barang jadi. Pada bidang jasa keuangan pun demikian.
Tingkat suku bunga meroket sehingga pada puncaknya pernah mencapai 90%. Dunia usaha macet, tingkat pengangguran semakin besar, inflasi meninggi, pertumbuhan negatif, dan seterusnya. Fenomena ini tentunya sangat memprihatinkan. Karena itu, investasi emas di masa krisis ini adalah solusi alternatif untuk mengatasi krisis finansial. Buku Investasi Emas yang ditulis Nofie Iman ini membantu kita untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dalam menggunakan emas, apalagi dalam konteks krisis ekonomi global.
Selain itu, buku ini juga membeberkan keutamaan investasi emas dibandingkan investasi konvensional seperti saham, obligasi, reksa dana, valuta asing, hingga properti. Fakta membuktikan, ternyata investasi konvensional tak mampu menahan gempuran krisis global. Berinvestasi dalam emas bisa menggunakan beberapa variasi media seperti emas batangan, koin emas, sertifikat emas, tabungan emas, reksa dana dengan underlying perusahaan pertambangan emas, maupun kontrak berjangka komoditi emas.
Menurut Nofie, sejak zaman dahulu, orang-orang telah menggunakan emas sebagai nilai tukar. Sebagai contoh, Alexander The Great mampu menyatukan Mediterania dari wilayah kecil Masedonia karena menggunakan koin perak, Julius Caesar menjadi ikon kejayaan Romawi karena menggunakan standar emas di negerinya. Begitu juga Napoleon Bonaparte menjadi emperor Prancis setelah menerapkan standar emas.
Keutamaan emas tidak saja dalam bentuk fisiknya yang elok dan menarik, tapi juga lonjakan harga logam yang satu ini bisa mendatangkan keuntungan yang luar biasa bagi pemiliknya. Nilainya cukup stabil bahkan terus menanjak hingga dianggap tak punya efek inflasi (zero inflation effect). Ada dua hal yang membuat logam mulia ini terus melonjak.
Pertama,menurunnya nilai mata uang flat karena anjloknya nilai dolar seperti yang terjadi sekarang. Kedua, kecilnya peluang mendapatkan keuntungan dari instrumen alternatif lainnya, seperti saham dan obligasi. Sejak 2001, harga emas naik begitu tajam melampaui (hampir) setiap mata uang di planet ini. Rubel Rusia, yuan China, real Brasil, maupun euro dan dolar, semuanya takluk di tangan emas.
Bahkan, sebagian dari mata uang tersebut telah mencapai titik terendah sepanjang sejarahnya.Meski demikian, masyarakat modern masih terjebak pada anggapan yang mengatakan bahwa emas itu adalah instrumen investasi yang buruk dan tak menguntungkan. Emas tidak memberikan bunga yang tinggi sebagaimana dalam investasi konvensional dan bahkan pertumbuhannya pundianggaplamban.
Sebuah analisis yang dirilis pada 2003 menyebutkan, pada 10–12 tahun mendatang harga emas akan mencapai USD 8.000 per troy ounce.Harga itu diperkirakan akan terjadi pada 2013–2015, sehingga bila pada 2007 seseorang menginvestasikan emas senilai Rp 200 juta, maka pada 2013–2015 kelak ia akan memiliki emas senilai Rp 2,2 miliar. Dengan kata lain, ia meraupuntung dari kenaikan harga yang mencapai 1.112 %.
Jika hal itu terjadi, dapat dipastikan tidak ada instrumen investasi yang bisa mengungguli keperkasaan dan ketangguhan nilainya,kecuali emas. Konsultan manajemen sekaligus motivator ternama, Tung Desem Waringin, sejak dulu hingga kini selalu optimistis bahwa emas merupakan investasi teraman dan paling menguntungkan bagi pemiliknya. Ketika kita membeli obligasi pemerintah, counter party risk melekat pada negara yang kita beli obligasinya.
Begitu pula ketika membeli saham, kita akan menerima risiko mampu tidaknya perusahaan tersebut memenuhi kewajibannya dalam membayar dividen. Sementara padae mas, tidak terikat pada perusahaan atau negara mana pun. Malah, emas akan menjadi bemper yang akan melindungi kekayaan kita dari pemerintah yang mencetak uang dengan seenaknya dan membuat uang fiat menjadi tak berguna.
Karena itu, pilihan terhadap investasi emas saat ini tetap dinilai paling menguntungkan dibandingkan opsi yang lain, mengingat sifatnya yang ”kebal” inflasi dan stabil. Buku ini memberikan informasi yang cukup mendasar bagi mereka yang ingin mengetahui lebih lanjut kegunaan dan fungsi emas.
Judul Three Cups of Tea![]() |
| Majalah Gatra |
Dimuat di Suara Karya, 30 Desember 2008
Oleh Mohamad Asrori Mulky
Penulis adalah Analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, Jakarta
Raja Abdullah bin Abdul Azis dari Arab Saudi belakangan ini sedang dalam sorotan publik dunia. Dialog antar agama yang ia prakarsai di Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, 12-13/11 yang lalu, mendapat sambutan baik dari berbagai kalangan.
Tak tanggung-tanggung, acara tersebut dihadiri para pemimpin dunia, antara lain, Presiden Amerika Serikat George Walker Bush, Presiden Pakistan Asif Ali Zardari, Presiden Afghanistan Hamid Kharzai, Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, Raja Yordania Abdullah II, Presiden Israel Shimon Peres, mantan Perdana Menteri Prancis Alain Juppe, Perdana Menteri Palestina Salam Fayyad, dan para diplomat PBB dari 80 negara.
Langkah maju Raja Abdullah ini tidak saja bertujuan mempersatukan umat beragama yang hingga kini dalam kondisi retak, tapi juga menyelesaikan konflik sepanjang masa di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Palestina dan Israel.
Sejak Israel menduduki tanah rakyat Palestina konflik dan ketegangan di kawasan tersebut tak pernah padam. Karena itu, Raja Abdullah mengajukan proposal yang isinya seruan agar Israel segera mundur dari seluruh wilayah yang mereka duduki sejak perang berkecamuk tahun 1967.
Sebenarnya, proposal Abdullah ini sudah pernah diajukan enam tahun yang lalu, namun hingga kini proposal tersebut tidak pernah mendapatkan tanggapan serius dari pihak Israel dan sekutu-sekutunya. Pihak Israel malah mengklaim bahwa seluruh tanah Yerusalem (dari Barat hingga Timur) merupakan hak sah bangsa Israel yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Untuk melegalkan aksinya, mereka mengambil legitimasi dari kitab suci mereka.
Untuk pertama kali ini dalam sejarahnya, pemimpin Arab Saudi Abdullah bin Abdul Azis dan Presiden Israel Shimon Peres, keduanya berada dalam satu ruangan pertemuan membahas masa depan Timur Tengah dan kelangsungan umat beragama. Dalam pidatonya, Presiden Israel Shimon Peres memuji ikhtiar Raja Abdullah dalam mendukung dialog umat beragama.
Dialog agama yang diselenggarakan di gedung PBB ini diharapkan dapat meningkatkan peran agama-agama yang ada di dunia, yaitu menghentikan tindak kekerasan terorisme yang makin menjadi-jadi. Terkait dengan isu terorisme, pemerintah Arab Saudi telah menangkap tidak kurang dari 1.000 aktivis di Arab Saudi, yang dituduh mempunyai kaitan dengan gerakan teroris.
Langkah konkret penguasa Arab Saudi Raja Abdullah itu ingin membuktikan kepada umat dunia bahwa dirinya tidak akan memberikan ruang bebas bagi kaum 'teroris'. Sebab, aksi teror dengan mengatasnamakan agama tidak saja telah melukai dan menghilangkan nyawa manusia, tapi juga telah mencederai dan mengotori misi profetik agama itu sendiri sebagai pembawa kedamaian dan kesejahteraan.
Berulang kali para nabi menegaskan bahwa misi mereka adalah untuk kedamaian, bukan menciptakan ketegangan dan kekacauan antarumar beragama. Perbedaan syariat yang dibawa oleh para nabi- Nabi Musa dengan syariat Yahudi, Isa dengan syariat Kristen, dan Muhammad dengan syariat Islam seharusnya tidak dijadikan alasan bagi umat beragama untuk saling memusuhi dan mengklaim dirinya paling benar.
Klaim kebenaran akan memperlakukan umat di luar dirinya sebagai umat yang harus dibinasakan. Sikap seperti ini harus ditinggalkan jauh-jauh dengan cara memandang pemeluk agama lain sebagai saudara seagama, yang bila kita runut berakar pada diri Nabi Ibrahim. Umat Yahudi, Kristen, dan Islam semuanya berasal dari keturunan Nabi Ibrahim. Dari Nabi Ibrahim inilah kemudian Yahudi, Kristen, dan Islam muncul.
Atas landasan seperti inilah, Raja Abdullah berkeyakinan, bahwa umat beragama yang dalam kondisi mengkhawatirkan ini dapat dipersatukan dan saling menghagai satu sama lain. Permusuhan dan ketegangan yang selama ini terjadi antara ketiga agama tersebut disebabkan, kata Raja Abdullah, karena satu sama lain tidak mengetahui sejarah bagaimana ketiga agama itu lahir, dan dari mana berasal. Umat beragama harus sudah mengetahui bahwa kita sesungguhnya bersaudara, satu keturunan, dan satu tujuan.
Sebagai raja di negeri para nabi, Raja Abdullah memiliki tanggung jawab yang teramat berat, yaitu menciptakan kerukunan dan kedamaian bagi umat beragama di dunia. Sebab, Nabi Muhammad pada beberapa abad silam telah melakukan hal tersebut di tanah umat Islam itu.
Sebagai kota suci dan rujukan bagi umat Islam di seluruh dunia, Arab Saudi harus memberikan contoh yang baik dalam berinteraksi dengan umat yang berbeda agama. Karena hubungan yang tidak harmonis antar umat, tak jarang sering melahirkan ketegangan dan kekerasan.
Baru-baru ini warga Muslim dibuat marah oleh pemuatan lagi kartun Nabi Muhammad SAW dan pembaptisan tokoh Muslim oleh Paus Benediktus XVI. Fenomena ini tentunya menjadi cambuk bagi Raja Abdullah untuk lebih giat lagi memberikan pemahaman kepada umat beragama agar senantiasa saling menghargai dan menghormati.
Jangan sampai fenomena pembuatan karikatur nabi memicu kekerasan antaragama. Dalam kasus ini, umat Islam harus menahan amarahnya, karena bisa jadi ini merupakan upaya profokatif dari pihak yang tidak menginginkan kedamaian antaragama terwujud. Begitu pula dengan pihak yang bersangkutan, hendaknya menghormati agama lain dan tidak menghina simbol-simbol agama yang bila dicederai akan menyulut api peperangan.
Akhirnya, dengan diselenggarakannya dialog agama di PBB, semoga dapat memberikan pemahaman kepada masing-masing pemeluk agama bahwa tanpa dialog keberadaan agama-agama di muka bumi ini akan rentan dari kekerasan. Untuk itu, apa yang dilakukan Raja Abdullah ini patut mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya, dan menjadikan ikhtiar suci ini sebagai langkah awal agar ke depan kita dapat melakukan hal yang sama.