![]() |
| Majalah Gatra |
Minggu, 27 September 2009
Dunia Yang Melengkung dan Krisis Pasar
Sabtu, 29 Agustus 2009
Puasa dan Perdamaian
-->
![]() |
| Media Indonesia |
Duduk Perkara di Jalur Gaza
Koran Jakarta, Kamis 20 Agustus 2009
Oleh Mohamad Asrori Mulky
Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.
Penulis : Muhsin Labib dan Irman Abdurrahman
Penerbit : Zahra, Jakarta
Edisi : I, Maret 2009
Tebal : 196 halaman
Serangan udara, dan darat yang dilancarkan tentara Israel ke Jalur Gaza selama 22 hari (27 Desember 2008--17 Januari 2009) hingga merenggut lebih dari 1.500 jiwa warga Palestina, mengundang perdebatan cukup alot di kalangan pakar dan analis politik internasional. Pasalnya, duduk perkara di Jalur Gaza tentang siapa yang melakukan serangan terlebih dahulu sampai kini masih simpang siur dan akar permasalahannya masih diperdebatkan.
Sebagian pihak menilai, agresi militer yang dilakukan Israel ke Gaza adalah reaksi atas serangan roket yang diluncurkan anggota Hamas ke pemukiman Yahudi Israel. Sementara di lain pihak menyatakan, serangan roket Hamas merupakan balasan atas serangan tentara Israel yang telah menewaskan enam anggota sayap militer Hamas di Gaza pada 4 November 2008 lalu, atau satu bulan sebelum gencatan senjata resmi berahkhir.
Buku “Gelegar Gaza” yang ditulis oleh Muhsin Labib dan Irman Abdurrahman ini, berupaya mengungkap fakta yang sebenarnya terjadi di balik serangan Israel ke Gaza. Selama ini, informasi yang kita terima lebih memihak pada Israel sebagai kelompok yang diserang dan Hamas pihak yang menyerang. Agar informasi seputar Gaza jadi seimbang, melalui buku ini, kedua penulis berkepentingan untuk meluruskan duduk perkara yang sesungguhnya terjadi di sana. Sehingga dengan begitu kita pun dapat meletakan persoalan Gaza pada proporsinya masing-masing, tidak dimanipulasi oleh pihak tertentu, apalagi dikaburkan kebenaranya.
Secara kronologis, kedua penulis menjelaskan akar persoalan di Gaza dari sejak terbentuknya kesepakatan gencatan senjata selama enam bulan (19 Juni 2008- 19 Desember 2008) hingga meletusnya perang 22 hari. Bagi penulis, serangan 4 November yang dilakukan tentara Israel adalah titik permulaan mengapa perang 22 hari di Gaza meletus.
Meski demikian, Israel tidak ingin dijadikan pihak yang bertanggungjawab dalam perang ini. Mereka tetap saja mengkambinghitamkan Hamas dengan menebar dalih yang cukup klasik, bahwa “Operation Cast Lead” yang dilakukan Israel adalah respon terhadap roket-roket Hamas yang selama bertahun-tahun telah mengganggu tidur warga Israel di wilayah Selatan. Dengan dalih ini, Israel memiliki alasan cukup kuat untuk berperang (jus ad bellum) dengan Hamas sebagai bentuk “pembelaan diri” (sef-defense).
Di atas itu semua, Norman Finkelstein, penulis buku The Holocaust Industry membeberkan motif-motif fundamental Israel di balik serangannya ke Gaza lebih didasari pada dua faktor: Pertama, Israel ingin mengembalikan pamor kekuatan militernya di mata dunia internasional yang telah dicabik-cabik milisi Hizbullah saat perang 34 hari pada tahun 2006. Dalam perang tersebut Israel mengalami kekalahan besar meski menggunakan senjata super canggih dan lengkap.
Kedua, Israel harus mengeliminasi ancaman yang dihadirkan oleh sebuah “dorongan perdamaian” yang ofensif dari pihak Palestina. Dalam konteks ini, Israel cukup khawatir terbentuknya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. Akibatnya, segala bentuk perdamaian yang ditandatangani di meja runding antara Israel dan Palestina selalu mentah, karena Israel sering melanggar kesepakatan itu.
Sekali lagi, buku ini cukup menarik karena tidak saja mengupas akar persoalan agresi Israel ke Gaza, tapi juga menyuguhkan sejarah panjang Palestina, dari sejak tahun sebelum masehi hingga meletusnya perang Gaza 22 hari. Di mana dalam perang tersebut, menurut penulis, dunia Arab seperti Mesir, Riyadh, Amman, dan lainya memberkati dan merestui serangan itu. Buktinya, sehari sebelum agresi, Kantor Berita Fars menyebutkan adanya pertemuan rahasia kepala-kepala negara Arab dengan Pemimpin Otoritas Palestina Mahmoud Abbas di Ramallah, yang tujunya, membicarakan normalisasi hubungan Arab-Israel. Benarkah demikian?
Minggu, 19 Juli 2009
Menjadi Muslim Indonesia yang Berkeadaban
SINDO, Minggu, 5 Juli 2009
Analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.
Judul Buku : Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan
Penulis : Ahmad Syafi’i Ma’arif
Penerbit : Mizan
Edisi : I, Juni 2009
Tebal : 388 halaman
Buku “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan” yang ditulis cendikiawan muslim Indonesia ternama, Buya Ahmad Syafi’I Ma’arif, bermula dari keresahannya melihat kondisi bangsa ini yang semakin terpuruk—bahkan boleh dibilang nyaris terjerembab ke dalam jurang kehancuran yang teramat dahsyat. Di mana janji-janji yang pernah dicita-citakan para pendulum bangsa ini, yaitu menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang adil, makmur, damai, tenteram, merdeka, berdaulat, dan bermartabat sepertinya masih jauh yang diharapkan. Tak heran jika ada yang berani mengatakan, “Indonesia is beyond help”.
Dengan menggunakan pendekatan kesejarahan, penulis mampu memberikan sejumlah informasi yang cukup kaya tentang asal-usul bangsa ini, dan harus kemana bangsa ini dibawa dan dihantarkan kepada jati diri yang sesungguhnya. Karena itu, bagi penulis, pendekatan kesejarahan adalah metode yang tepat melihat pernak-pernik bangsa Indonesia guna meraup kembli serpihan-serpihan kearifan lokal yang selama ini terkubur. Sambil mengutip pendapat Betheran Russel soal konsep sejarah, penulis berkeyakinan bahwa sejarah adalah laboratorium kearifan bagi siapa saja yang ingin mencari mutiara di dalamnya. Sejarah adalah jembatan penghubung masa lampau dengan masa kini, dan sekaligus menunjukan arah ke masa depan yang lebih baik.
Sebagai sebuah negeri yang megah dan kaya raya akan kekayaan alamnya, yang juga memiliki aneka pola budaya yang berbeda-beda. Pandangan relatifistis dan kecenderungan sinkretis yang kuat dari penduduknya, khususnya orang-orang Jawa, menjadikan budaya Indonesia paduan dari unsur-unsur budaya yang ada—animisme, Hinduisme, Budisme, Islam, Kristen, sampai modernisme atau westernisme yang paling mutakhir ini.
Karena itu, sangat sulit sekali bagi pemimpin bangsa Indonesia menggariskan suatu kebijaksanaan kultural tertentu berdasarkan suatu pola kultural tertentu yang sesuai dengan dan dapat diterima oleh seluruh rakyat yang memliki latar belakang kultur dan agama yang berbeda-beda pula. Penetapan kebijaksanaan yang tidak sesuai dan tidak mampu mengakomodir keinginan seluruh rakyat berpotensi menimbulkan gejolak dan kerawanan bertindak ekstrim yang dilakukan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Munculya bom Marriot, Bali I dan II, dan bom-bom lainya di bumi Indonesia ini, cukup membuktikan ada sebagian kelompok merasa keinginannya belum diakomodir, baik secara ekonomi, politik, dan keyakinan. Fenomena ini tentunya sangat memprihatinkan, apalagi pelakunya seorang muslim yang taat beragama. Ini menjadi cambuk serta kritik bagi umat Islam Indonesia untuk meluruskan makna Islam sesungguhnya sebagai “rahmatan lil alamin”. Karena itu, penulis melalui buku ini menawarkan cara kebeislaman yang santun dan beradab, yang jauh dari sifat-sifat kekerasan dan penindasan, dan sesuai dengan kondisi dan budaya bangsa Indonesia.
Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan adalah solusi yang ditawarkan penulis. Sebagai bangsa yang multi-kultur dan heterogen, penulis berkeyakinan bahwa penerapan Islam dalam bingkai keindonesiaa, dan kemanusiaan tidak saja bisa berjalan bersama dan seiring, tetapi ketiganya dapat menyatu dan saling mengisi untuk membangun sebuah taman sari yang khas Indonesia, bukan Islam ala Arab, Iran, Turki ataupun Eropa. Ketiga kekuatan nilai itu akan saling mengisi dan melengkapi. Di taman sari ini, watak universal Islam tampil dalam wujud “kemanusiaan yang adil dan beradab” sebagaimana yang pernah juga diidamkan Soekarno.
Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan haruslah dianyam sedemikian elok dan asri sehingga sub-kultur yang bertebaran yang membentuk Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara merasa aman dan tentram untuk bertahan di Benua Kepulauan ini sampai masa yang tak terbatas. Untuk mewujudkan hal ini, maka bangsa ini harus bangkit kembali secara autentik dengan melahirkan karya besar dan prestasi yang bermutu tinggi dalam lingkungan suasana keadilan dan kesejahteraan yang dapat dirasakan semua. Islam jika dirasakan secara benar dan cerdas akan memberikan dorongan dan sumbangan yang dahsyat untuk mengukuhkan keindonesiaan kita dibawah naungan payung ”ke-Tuhanan Yang Maha Esa” dan “kemanusiaan yang adil dan beradab”, sebagai salah satu manifeatasi iman kita dalam kehidupan bersama sebagai bangsa.
Kelemahan kita sejak Proklamasi, kita tidak serius mengurus dan menata keindonesiaan sehingga pada periode-periode tertentu masih muncul juga ledakan-ledakan sosial yang berlatar belakang politik, ekonomi, etnis, dan sub-kultur yang selalu membawa korban. Karenanya, dalam anyaman kerangka pikir Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan diharapkan agar bangsa ini bersedia menatap dan membaca ulang masa lampaunya untuk kepentingan kekinian, dan esok hari, secara jujur, bertanggung jawab, dan rasa cinta yang mendalam. Umat Islam sebagai umat terbesar di negeri ini memiliki beban tanggung jawab untuk membela agar tetap utuh dan bersatu. Jangan sampai umat Islam Indonesia mendapat julukan mayoritas minus kualitas.
Perlu dicatat, buku ini tidak saja sebagai refleksi dan jawaban penulis terhadap kondisi Islam Indonesia modern yang hampir kehilangan jati dirinya, di samping itu juga tanggapan terhadap peta umat Islam global di dunia, seperti sedang tidak berdaya dalam mengatasi tantangan yang datang bertubi-tubi. Sebuah stagnasi kultural masih sangat dirasakan di seluruh negeri Muslim, seakan-akan prestasi besar bukan lagi menjadi milik mereka. Maka pertanyaan yang mula diajukan penulis adalah mengapa dunia Islam terlalu lama berada di buritan peradaban dan sukar sekali untuk bangkit?
Mengenai pertanyaan ini, penulis mengutip pendapat cendikiawan Muslim asal Pakista, Fazlur Rahman: we live in a different kind of Islam, not in quranic Islam. Bahwa umat Islam dalam keseluruhannya tengah hidup dalam bayang-bayang makna Islam yang semu dan menipu, bukan Islam qurani yang telah diajarkan rasulullah. Sehingga dengan begitu, sistem kehidupan untuk hidup lebih baik sebagai perwujudan diktum “rahmat bagi alam semesta” tidak dapat dipenuhi.
Penulis juga mengoreksi etos kerja umat Islam yang terlalu percaya pada nasib pasif, apatis, dan gampang menyerah. Menurut penulis, sambil mengutip pandangan Mohamad Iqbal, bahwa menyerah diri pada nasib dengan dalih ketentuan takdir (predeterminisme) telah merobek ajaran Islam tentang wajib kerja dan wajib berjuang di muka bumi ini. Karena itu, setiap muslim harus memfungsikan egonya.
Percikan Api Renaisans dari China
SINDO, 21 Juni 2009
Oleh Mohamad Asrori Mulky
Penulis : Gavin Menzies
Penerbit : Alvabet
Edisi : I, April 2009
Tebal : xvii + 430 halaman
”Biarkan Cina terlelap. Sebab, jika Cina terbangun, dia akan mengguncang dunia lagi”, kata Napoleon Bonaparte. Pernyataan Napoleon ini dapat kita tafsir paling tidak menjadi dua pengertian. Pertama, ada ketakutan yang mendalam dari bangsa Eropa terhadap eksistensi Cina. Karena, Cina dipandang sebagai bangsa yang memiliki potensi besar untuk dapat bersaing dan mengalahkan kejayaan Eropa sekarang ini.
Dan kedua, pernyatan ini seakan memberi petanda, bahwa Cina pernah menjadi bangsa yang besar dan digdaya. Menurut para sejarawan, sejarah kebudayaan Cina adalah salah satu sejarah kebudayaan tertua di dunia. Dari penemuan arkeologi dan antropologi, daerah Cina telah didiami oleh manusia purba sejak 1,7 juta tahun yang lalu. Penemuan ini cukup membuktikan betapa bangsa Cina telah mengalami proses kehidupan yang teramat panjang di alam duni ini.
Sebagai kebudayaan tertua di dunia, Cina memiliki perbedaan yang unik jika dibandingkan dengan kebudayaan dan peradaban dunia lainya, seperti Mesir dan Babilonia. Hal ini disebabkan karena sejarah kebudayaan Cina tidak pernah terputus selama hampir 5000 tahun lamanya. Pergantian pemerintahan dari dinasti ke dinasti tidak menyebabkan kebudayaan dan peradaban Cina mengalami kehancuran dan pergeseran yang teramat besar.
Bahkan hingga kini, peradaban bangsa Cina masih terus eksis dan bertahan, bahkan menjadi perhatian banyak orang, baik dari kalangan ilmuan, pengamat, arkeolog, sosiolog, dan lainya. Menurut keterangan, orang seperti Ibnu Batutah dan Marco Polo di masanya sangat menaruh minat yang mendalam terhadap kebudayaan Cina. Melalui jasa kedua orang inilah, konon, dunia mengetahui kebesaran dan kemegahan kebudayaan bangsa Cina dalam segala bidang. Hingga Nabi Muhammad pun dalam satu riwayatnya pernah menyeru umat manusia untuk belajar ke negeri Cina.
Pada titik inilah, posisi Gavin Menzies dalam buku “1434” ini menjadi penting. Menzies memberi kesimpulan yang cukup mencengangkan, bahwa kemajuan materi peradaban dunia saat ini, terutama dunia Eropa, sesungguhnya mendapat sumbangsih yang cukup besar dari hasil teknologi peradaban Cina. Kesimpulan Menzies ini sebetulnya ingin meluruskan padangan yang mengatakan bahwa renaisans dilukiskan sebagai masa kelahiran kembali peradaban Eropa Klasik Yunani dan Romawi. Bagi Menzies justru percikapan penularan pengetahuan intelektual Cina merupakan bukti yang tak dapat dipungkiri sebagai percikan api yang mengobarkan renaisans di Eropa hingga kini.
Dalam buku setebal 430 halaman ini, Menzies memberikan banyak bukti tentang pengaruh Cina dalam kebangkitan kebudayaan Eropa sekarang ini. Di antara temuan Menzies yang harus ketahui adalah. Bagi Menzies, Cristopher Columbus bukanlah orang yang pertama kali menemukan benua Amerika. Ada orang lain yang pernah menemukan benua itu sebelum Columbus menemukanya. Logikanya bagaimana mungkin seorang Columbus dapat menemukan benua Amerika yang pertama kali pada 1492, sementara ia telah memiliki peta kawasan Amerika 18 tahun sebelum ia melakukan perjalanan dan menemukan benua Amerika?
Begitu juga dengan kasus Magellan, sang penjelajah dari Portugis. Selama ini kita dipaksa meyakini bahwa Magellan adalah orang yang pertama kali menemukan Samudra Pasifik. Padahal, menurut Menzies, Martin Waldseemuller telah menerbitkan peta kawasan Amerika dan Samudra Pasifik pada tahun 1507, 12 tahun sebelum Magellan melakukan pelayaranya. Dan pada tahun 1515, 4 tahun sebelum Magellan berlayar, Johannes Shoner menerbitkan sebuah peta yang memperlihatkan selat Pasifik yang disebut “ditemukan” Magelan itu. Namun demikian, kedua pembuat peta ini, kata Menzies, bukan satu-satunya orang yang memiliki pengetahuan misterius tentang daratan yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh mereka berdua. Ada orang lain—bangsa lain—yang mendahului Magellan dan kedua pembuat peta itu mengetahui benua Pasifik.
Buku yang sarat dengan teka teki ini juga membeberkan pada kita bahwa Paolo Toscanelli pernah mengirimkan peta benua Amerika pada Columbus dan raja Portugal—dari raja Portugal inilah Magellan mendapatkan peta benua Pasifik. Sementara Toscanelli sendiri pernah bertemu duta besar Cina yang singgah ke Florensia, yang secara bersamaan pula duta besar ini bertemu Paus Eugenius IV. Pada saat itulah, delegasi Cina memberikan segudang pengetahuan pada Toscanelli dalam berbagai bidang ilmu: seni, geografi (termasuk peta-peta dunia yang kemudian diteruskan kepada Columbus dan Magellan), astronomi, matematika, percetakan, arsitektur, pembuatan baja, persenjataan militer dan lainya.
Menzies juga menginformasikan pada kita, bahwa Leonardo da Vinci bukanlah seorang yang genius dan pintar sebagaimana kita yakini selama ini. Padahal, menurut Menzies, Leonardo tak lebih sebagai seorang juru gambar ketimbang penemu. Menzies meyakini, Leonardo banyak belajar dari seorang peranacang dan insinyur handal, yaitu Francesco di Giorgio. Darinya Leonardo meniru cara membuat parasut, helikopter, kanal, saluran air dan lainya.
Untuk menguatkan kesimpulan Menzies di atas, Dr. Ladislao Reti, ahli tentang Leonardo dalam “Helicopters and Whirlgigs” menyimpulkan, sebuah model helikopter dalam bentuk mainan baling-baling anak-anak muncul di Italia sekitar 1400 dari China dan memberi dasar teoritis bagi proyek helikopter Leonardo yang terkenal itu. Menzies juga memberi kesimpulan, bahwa sumber pengetahuan yang dimiliki di Georgio tentang gambar-gambar mesin sepenuhnya diambil dari buku Nung Shu yang diterbitkan pada 1313 oleh bangsa China. Buku ini sempat menjadi sumber insiprasi bagi banyak kalangan cendikia.
Buku “1434” ini sangat penting dibaca karena memuat informasi yang baru, yang selama ini belum terpikirkan. Kita hanya meyakini bahwa renaisans pertama kali dikobarkan di daratan Eropa. Namun buku ini memberikan kenyataan yang berbeda. Dengan bukti-bukti yang baru, lengkap, dan akurat, Menzies menghubungkan awal mula renaisans Eropa dengan penjelajahan yang dilakukan bangsa Cina pada abad ke-15, yang dipimpin Laksamana Cheng Ho atas titah Kaisar Xuan De untuk berlayar mengelilingi dunia. Pada saat itulah Eropa diperkenalkan dengan kebudayaan bangsa Cina dari berbagai bidang ilmu pengetahuan.





