Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Sabtu, 30 Agustus 2025

Affan, Camus, dan Pemberontakan Moral Rakyat

Sabtu, Agustus 30, 2025 0



Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Albert Camus, filsuf kelahiran Aljazair yang menulis dalam bahasa Prancis, pernah menegaskan dalam The Rebel: “I rebel—therefore we exist” [Aku memberontak, maka kita ada]. Pernyataan ini bukan sekadar semboyan, melainkan pengakuan eksistensial: bahwa pemberontakan adalah bahasa moral terakhir manusia, seruan yang lahir ketika martabat dan harga diri diinjak, ketika absurditas dan ketidakadilan menutup semua jalan.

 

Hari ini, kata-kata Camus itu seolah menemukan panggung baru di Indonesia. Jalan-jalan yang biasanya riuh oleh iklan dan lalu lintas kini dipenuhi teriakan, api, dan gas air mata. Di tengahnya, nama “Affan Kurniawan” bergema: seorang pemuda pengemudi ojek online, pulang yang tak pernah sampai, nyawa yang terputus di bawah roda kendaraan taktis aparat yang bringas.

 

Affan bukan sekadar korban. Ia menjelma simbol, mantra luka yang menyatukan duka rakyat. Kita mengenalnya dalam wajah-wajah kecil sehari-hari: pengantar makan siang, penjemput anak sekolah, pekerja yang menukar waktu dengan sebutir nasi. Ketika nyawa seperti itu melayang, rakyat tak hanya berduka—mereka merasa dikhianati. Sebab negara yang seharusnya menjadi pelindung justru menjelma bayangan yang menakutkan.

 

Maka, ketika massa turun ke jalan menyebut nama Affan untuk menyuarakan keadilan, itu bukan sekadar amarah buta. Ia adalah “an appeal to the essence of being”—seruan menuju hakikat keberadaan, kata Camus. Dalam setiap teriakan massa tersembunyi kerinduan: kerinduan akan republik yang berjiwa akan keadilan yang hilang.

 

Camus pernah menulis: “Real generosity toward the future lies in giving all to the present.” Maka, apa yang kita saksikan hari ini—jeritan massa, lautan manusia yang meluber di jalanan, dentuman amarah yang tak terbendung—bukanlah kebrutalan tanpa arah. Ia adalah kemurahan hati paling getir: pengorbanan rakyat hari ini agar anak-anak mereka kelak tak lagi mewarisi republik yang koyak, negeri yang terus dipasung oleh ketidakadilan.

 

Pemberontakan rakyat, dalam pandangan Camus, bukanlah kehancuran yang membabi buta. Ia adalah ikhtiar terakhir untuk menyelamatkan jiwa kehidupan bersama. Sebab republik yang menutup pintu keadilan, pada hakikatnya sedang menggali kuburnya sendiri. Republik semacam itu, kata Camus, bukanlah rumah masa depan—ia hanyalah reruntuhan yang menunggu saatnya ambruk.

 

Karena itulah ribuan massa hari ini tak hanya berteriak; mereka meraung. Gedung dewan tak hanya diserbu; ia dilalap api sebagai simbol dari nurani yang dikhianati. Nama Affan tak sekadar disebut; ia menjelma mantra kolektif, menggelegar di udara bersama asap ban yang terbakar. Semua itu bukanlah ledakan murka liar, melainkan penegasan keras: rakyat menuntut agar republik ini kembali berakar pada nurani, atau ia akan kehilangan makna keberadaannya sendiri.

 

Andai Camus masih berjalan di bumi hari ini, barangkali ia akan menundukkan wajahnya lalu berbisik: jangan salah baca kemarahan rakyat. Itu bukan ancaman, melainkan tanda bahwa bangsa ini masih menyimpan jiwa. Sebab yang lebih menakutkan dari rakyat yang marah adalah rakyat yang bungkam; yang lebih mematikan dari teriakan di jalan adalah keheningan yang pasrah, bangsa yang kehilangan asa.

 

Kematian Affan adalah garis api, titik tak kembali. Di sanalah sejarah memisahkan antara republik yang masih hidup dengan republik yang sudah membusuk. Amarah rakyat yang meledak hari ini bukan sekadar teriakan, melainkan jeritan moral terakhir, doa yang menggelegar agar negara ingat kembali tugas sucinya: bukan mencabut nyawa warganya, melainkan menjaga kehidupan mereka.

 

Camus pernah menulis bahwa setiap pemberontakan lahir dari kerinduan akan kepolosan. Kerinduan itulah yang kini menggelegar di jalanan negeri ini. Amarah rakyat bukan kehancuran, melainkan doa keras yang menghantam langit: tuntutan agar republik berhenti menutup pintu keadilan. Sebab keadilan bukan perhiasan yang bisa ditunda, ia adalah fondasi yang menentukan: apakah bangsa ini tumbuh sebagai rumah, atau runtuh sebagai puing.

 

Dan jika suara rakyat terus diabaikan, jangan salahkan siapa pun ketika republik ini roboh oleh luka yang ia goreskan pada tubuhnya sendiri. Tetapi bila jeritan itu didengar, bila nurani kembali dijadikan akar kebijakan, maka dari darah Affan akan lahir republik baru: republik yang tidak lagi menjadikan rakyat korban, melainkan menyalakan mereka sebagai jiwa. Republik yang kembali merawat keadilan—bukan sebagai jargon kosong—tetapi sebagai rumah terakhir bagi kita semua.



Sabtu, 23 Agustus 2025

Subulussalam: Tiga Puluh Lima Tahun Menjaga Jalan-Jalan Keselamatan

Sabtu, Agustus 23, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Aku masih menyimpan dengan utuh ingatan tentang hari pertama ketika kaki ini menjejak gerbang Pondok Pesantren Modern Subulussalam, Kresek, Tangerang. Waktu itu, adzan zuhur sedang berkumandang, melayang di antara terik matahari yang begitu menyala, seolah langit hendak menguji keteguhan langkah seorang anak muda yang datang dengan sejuta harap dari daerah terpencil bernama Jiput. Panas menyengat dahi hingga meneteskan peluh, tetapi justru di dalam dada tumbuh getar bahagia yang tak tertahankan: inilah hari pertama, saat sebuah perjalanan panjang dimulai—perjalanan menuju rumah kedua, sekolah jiwa, ladang ilmu, dan samudra pengalaman yang tak akan pernah kering.

 

Dari kejauhan, mataku menangkap sosok seorang kiai luhur dengan ilmu dan kharisma, keluar dari rumah sederhana. Beliau berjalan dengan langkah tenang menuju mushala, hendak mengimami santri yang telah menunggu. Seketika, seolah ada takdir kecil yang bekerja, beliau menoleh ke arahku—anak asing yang masih berdiri ragu di depan gerbang. Wajah kiai itu begitu teduh, matanya penuh kasih, dan sebuah senyum menawan mengembang ke arahku bagai cahaya fajar yang menyejukkan sisa-sisa malam yang dingin. Senyum itu seolah berbicara tanpa kata: “Selamat datang, anakku. Di sinilah engkau akan belajar, ditempa, dan dibimbing.”

 

Sekejap panas yang menguasai udara siang itu luruh oleh kesejukan batin. Di hadapan senyum itu, aku tak lagi merasa asing. Aku merasa pulang ke rumahku sendiri.

 

Kiai itu bernama KH. Ahmad Maimun Alie, MA. Beliau telah "berpulang", kembali kepangkuan Illahi dengan tenang dan damai. Aku merasa pertemuan pertama dengan senyum beliau saat itu menjadi penanda perjalanan rohani yang panjang. Dari senyum itulah aku belajar, bahwa pesantren bukan semata ruang untuk menimba ilmu, melainkan rumah kasih sayang, tempat di mana senyum guru adalah doa, tatapan beliau adalah pelita, dan bimbingannya adalah jalan keselamatan. Harapan yang tadinya samar, tiba-tiba berubah menjadi keyakinan yang bulat: di Subulussalam, aku akan menemukan cahaya.

 

Mistikus Islam Jalaluddin Rumi pernah berkata: “Apa yang berasal dari hati, akan sampai ke dalam hati.” Senyum sang kiai itulah bahasa hati yang tak pernah usang; sebuah bahasa kasih yang menembus segala jarak. Dan benar adanya pepatah Arab yang diwariskan para ulama: “Al-mu’allim rahmah, wal-mu’allim siraj.” Guru adalah rahmat, guru adalah pelita.

 

Maka sejak detik itu aku memahami, bahwa ilmu tidak hanya tumbuh dari buku, melainkan juga dari sikap, dari tatapan, dari senyum yang lahir dari jiwa seorang kiai. Seperti yang pernah diungkapkan Imam al-Ghazali, “Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu bakar.” Di Subulussalam, ilmu dan adab berpadu; keduanya mengalir bersama, menjadi sungai jernih yang menuntun santri menuju samudra hikmah.

 

****

 

Dan kini, Subulussalam sudah berusia 35 tahun. Di usia tiga puluh lima tahun ini seolah menjadi jeda yang bening: sebuah titik koma dalam kalimat panjang sejarah, saat kita menoleh ke belakang dengan rasa syukur dan menatap ke depan dengan nyala harap. Tiga puluh lima tahun bukan sekadar hitungan musim; ia adalah anyaman pagi yang tekun, malam yang khusyuk, dan siang yang tak henti mengukir kerja—pada buku, pada diri, pada bumi tempat di mana kita berpijak. Di lumbung-lumbung padi Kresek, angin membawa kabar tentang santri yang datang dengan mimpi dan pulang dengan amanah. Di serambi-serambi Subulussalam, ilmu tak pernah berjalan sendirian; ia selalu bergandengan tangan dengan adab agar siapa saja yang mereguknya mendapat kemuliaan.

 

Di sinilah sebuah filosofi merapat ke tubuh ikhtiar: modern tetapi bersujud, maju tanpa kehilangan arah kiblat. Nurcholish Madjid atau yang biasa disapa Cak Nur pernah mengingatkan dengan jernih, “Modernisasi adalah rasionalisasi, bukan Westernisasi.” Kalimat ini, ringkas namun bernas, seolah menjadi janji diam-diam yang dijaga Subulussalam: bahwa pembaruan bukan penyeragaman, bahwa sains dan teknologi adalah alat kebajikan bila dipandu cahaya kalam. Maka kurikulum—seperti sungai yang bertemu muara—menyatukan fikih dan fisika, balaghah dan biologi, ushuluddin dan ilmu data. Di kelas-kelas yang terang, ayat-ayat kauniyah dibaca dengan rasa ingin tahu yang riang, sementara ayat-ayat qauliyah dilafazkan dengan hati yang rendah.

 

Abdurrahman Wahid, Gus Dur, mengingatkan jejak identitas yang khas itu ketika ia menulis, “Pesantren adalah subkultur.” Bukan sekadar institusi, pesantren menyimpan ekologi nilai, ritme sosial, dan tata rasa yang memerdekakan. Di dalam subkultur itulah Subulussalam tumbuh: menjaga yang lama yang baik, menyambut yang baru yang lebih baik [المحافظة على القديم الصالح و الأخذ بالجديد الأصلح]. Subkultur ini mengajari kita cara berjalan di atas dua jalan yang sejajar—tradisi yang meneduhkan dan inovasi yang mencerahkan—tanpa membuat keduanya saling meniadakan.

 

Indonesianis seperti Clifford Geertz pernah menyebut pesantren sebagai “the classical Islamic boarding school”—sebuah pusat pengkaderan santri yang menegaskan ortodoksi sembari berdialog dengan realitas setempat. Martin van Bruinessen menunjukkan bagaimana “kitab kuning” menjadi tulang punggung transmisi ilmu, bukan sebagai fosil masa silam, melainkan sebagai organisme pengetahuan yang terus bernafas melalui syarah, hasyiyah, dan karya-karya baru. Dari bingkai ini, kontribusi Subulussalam terbaca: menjaga kesinambungan sanad intelektual sekaligus mendorong keberanian metodologis untuk menjawab soal-soal kontemporer—ekologi pesisir, ekonomi kreatif, literasi digital, hingga moderasi beragama. Tradisi luhur semacam ini tidak boleh ditepikan, apalagi dihilangkan dari kurikulum pesantren. 

 

Tiga setengah dekade terakhir, Subulussalam menulis kisahnya bukan hanya di kelas-kelas lusuh, tetapi juga di ruang-ruang sosial. Di saat bangsa memerlukan jembatan, pesantren hadir sebagai penyeberangan yang aman: menautkan desa dan kota, sekolah dan keluarga, pasar dan mushala. Ketika negara memerlukan argumen kebangsaan yang lembut namun tegas, santri mengajukan dalil-dalil etika publik: cinta tanah air sebagai kesalehan sosial, ketaatan hukum sebagai bentuk kepatuhan pada kemaslahatan. Di sini gema pemikiran Cak Nur terasa dekat: agama dan negara tak mesti berhadap-hadapan; keduanya dapat bersekutu dalam cita-cita keadaban. Modernisasi, demikian ruh pesannya, menuntut kedewasaan akal—dan pesantren menyediakan disiplin batin agar akal tidak tersesat oleh keangkuhan.

 

Gus Dur menafsirkan peran itu dengan berkali-kali menekankan fungsi pesantren sebagai agen perubahan sosial. Subulussalam mewujudkannya dalam skala yang setia sekaligus kreatif: program pengabdian yang merangkul warga, literasi yang menghidupkan balai, pelatihan wirausaha yang mengubah bakat menjadi manfaat, dan teladan toleransi yang tak lelah menenangkan perbincangan-perbincangan yang bising. Di halaman pesantren, keberagamaan menjadi taman: tiap bunga tumbuh sesuai warna, tiap harum saling menguatkan, dan tanahnya disirami oleh adab—adab pada ilmu, pada guru, pada sesama.

 

Sejak semula, pesantren mendidik manusia utuh: jasad yang terlatih, akal yang cermat, dan ruh yang teduh. Subulussalam menambahkan aksen zamannya: kecakapan abad ke-21. Santri belajar merangkai argumen seteliti ulama ushul, menulis laporan setertib auditor, berdiskusi sefixi ruh musyawarah, dan memanfaatkan teknologi seperti tukang kayu memegang pahat—sadar alat, tahu batas. Ilmu pengetahuan modern bukan altar, melainkan obor; ia menyala untuk menerangi, bukan menyilaukan. Dan tak ada obor yang abadi jika tak diberi minyak akhlak.

 

Pada usia 35, ada hikmah yang pantas dirayakan, yaitu ketahanan. Ketahanan menghadapi gelombang nasional yang datang silih berganti—krisis literasi, ekonomi, pandemi, fragmentasi sosial, dan polarisasi wacana. Subulussalam bertahan bukan karena keras kepala, tetapi karena luwes—seperti bambu yang lentur namun tak patah. Lentur dalam metode, teguh dalam tujuan. Teguh pada tauhid, lentur pada strategi. Teguh pada akhlak, lentur pada ekspresi budaya. Di sinilah kearifan lokal bertemu universalitas Islam: tradisi Banten yang bersahaja menyalami kosmopolitanisme ilmu.

 

Kontribusi bagi bangsa, negara, dan agama bukan jargon di spanduk ulang tahun; ia hadir sebagai laku harian. Bagi bangsa, Subulussalam menyumbang kohesi sosial: menumbuhkan warga yang sanggup berbeda tanpa bermusuhan, yang hafal doa sekaligus peka data. Bagi negara, ia memanen buah kepatuhan sipil: taat aturan bukan karena takut sanksi, melainkan karena paham makna maslahat. Bagi agama, ia menjaga aliran makna: agar ibadah tidak mengeras menjadi ritual kosong, dan agar syariat tetap berbuah menjadi keadilan dan kasih.

 

Geertz, dengan lensa antropologisnya, pernah memperlihatkan betapa jaringan simbol, ritus, dan pengetahuan di pesantren membentuk struktur makna yang mengikat komunitas. Namun para santri Subulussalam menunjukkan sesuatu yang lebih: bahwa struktur makna itu tak statis. Ia tumbuh bersama pengalaman: menafsir ulang teks tanpa menistakan penulisnya, memelihara tradisi tanpa memenjarakan kemungkinan. Van Bruinessen menandai dinamika ini ketika ia menulis tentang mobilitas intelektual ulama dan santri—pertemuan pasar kitab, halaqah lintas-kota, dan pengetahuan yang berpindah dari rak ke laku.

 

Pada akhirnya, ulang tahun bukanlah tepuk tangan untuk diri sendiri, melainkan pengingat akan amanah. Tiga puluh lima tahun adalah prolog yang panjang; bab-bab berikutnya menunggu keberanian baru. Semoga Subulussalam menjaga tiga keseimbangan: antara dalil dan data, antara zikir dan fikir, antara akar dan sayap. Akar agar tidak tercerabut dari tanah kemanusiaan; sayap agar mampu terbang mengejar cakrawala pengetahuan.

 

Di ambang fajar peringatan ini, mari kita kirimkan doa yang sederhana tetapi dalam: semoga Allah menjaga para guru yang menjadi mata air, para santri yang menjadi sungai, para alumni yang menjadi hujan, dan para orang tua yang menjadi awan peneduh. Semoga Subulussalam terus mengukir jejak yang halus namun kuat—jejak ilmu yang menyala tetapi menenangkan, jejak adab yang sunyi tetapi menggerakkan, jejak bakti yang kecil di mata manusia namun besar di sisi-Nya.

 

Dan bila suatu saat, anak-anak kita bertanya apa arti 35 tahun bagi sebuah pesantren, kita bisa menjawab: ini adalah umur sebuah janji—janji untuk setia pada ilmu, berani pada zaman, dan rendah hati pada Tuhan. Selamat milad ke-35, Pondok Pesantren Modern Subulussalam, Kresek. Langitmu semoga selalu luas; tanahmu semoga selalu subur; dan jalanmu, seperti namamu, selalu menjadi “subul al-salām”—jalan-jalan keselamatan.

Selasa, 24 Juni 2025

Agama Tanpa Akal

Selasa, Juni 24, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Agama diturunkan bukan untuk membelenggu, tetapi membebaskan umat manusia dari segala ilusi dan tipu daya. Di tangan mereka yang keliru, agama yang suci bisa berubah menjadi pedang yang menikam, memghancurkan, dan tameng yang menolak kasih. Akal dituduh sebagai bid’ah, nalar disingkirkan demi dogma, dan pertanyaan dibungkam oleh ancaman.

 

Imam al-Ghazali—sang pembela ortodoksi yang akhirnya menemukan jalan sufi—pernah menulis dalam al Mustasfa tentang pentingnya peran akal. Dan dalam al-Munqidz min al-Dhalal ia memastikan: "Keraguan adalah awal dari pengetahuan." Maka dengan itu semua ia ingin menghidupkan api pencarian, dan memadamkan bara kepalsuan. Sebab menurutnya iman yang tak boleh dipertanyakan adalah iman yang rapuh, tak berakar kuat.

 

Ibn Rusyd, filsuf agung dari Andalusia, dengan semangat berlipat membela rasionalitas dalam beragama. Dalam Fasl al-Maqāl, ia berkata: "Kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran." Maksudnya: wahyu dan akal, jika benar, takkan saling membatalkan. Justru saling menerangi, seperti bulan dan matahari dalam satu atap langit.

 

Tetapi, lihatlah hari ini—betapa banyak luka dunia berasal dari mereka yang mengatasnamakan agama tapi membunuh nalar. Yang meledakkan rumah ibadah, yang merendahkan martabat wanita di muka umum, yang menuduh orang sesat hanya karena berpikir berbeda. Mereka menyebutnya iman. Padahal itu adalah tirani yang berselimut kesucian.

 

Serial film Walid yang viral belakangan ini, adalah potret getir dari agama tanpa akal. Di situ, pemimpin spiritual menjadi manipulator ilusi paling ulung, menggunakan ayat-ayat suci sebagai belenggu. Para pengikutnya tidak berpikir—mereka hanya tunduk, meski logika telah terbakar dan moral telah mati. Inilah potret beragama yang kehilangan cahaya akal: indah di luar, kelam di dalam.

 

Karen Armstrong, menyebut dalam The Battle for God: “Ketika agama terpisah dari rasionalitas, ia mudah berubah menjadi ideologi kekerasan.” Agama adalah jalan menuju Tuhan, tapi tanpa akal, jalan itu bisa menyesatkan ke dalam fanatisme, ekstremisme, dan kehampaan. Ritual jadi beku, doa menjadi hafalan tanpa jiwa, dan hati menjadi medan pertempuran antara kesalehan palsu dan keraguan yang terbungkam.

 

Bila agama tanpa akal, maka iman hanyalah kebisingan. Tapi bila agama bersama akal, maka ia menjadi simfoni suci, yang mengantar manusia pada Tuhan dengan langkah sadar dan hati terbuka. Akal bukan pengkhianat agama. Ia adalah penjaga tafsir, penyaring kebenaran, dan penerang di tengah gelap zaman. Ia tidak melawan wahyu—ia menafsirkan. Ia tidak menghina Tuhan—ia mencari-Nya.

 

Maka mari kita rawat iman dengan cinta dan pikir. Kita sambut wahyu bukan hanya dengan dada yang lapang, tapi dengan nalar yang tajam. Karena hanya dengan itu, kita menjadi benar-benar hamba—yang taat karena mengerti, dan tunduk karena mencinta. Jangan serahkan pikiranmu pada siapa pun yang melarangmu berpikir. Karena Tuhan tak pernah melarang manusia bertanya. Ia menciptakan akal justru agar kita kembali kepada-Nya dengan sadar, bukan sekadar ikut-ikutan.

Minggu, 22 Juni 2025

Bahkan Berbuat Jahat di Tempat Suci Tidak Menghilangkan Dosa

Minggu, Juni 22, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Kita hidup di zaman ketika tempat suci tak lagi sakral bagi hati yang berkarat. Kubah-kubah yang menjulang, sajadah yang dibentangkan, bahkan Ka'bah yang dikelilingi umat dari segala penjuru, tidak bisa serta-merta membasuh hati yang bernanah oleh ambisi dan kebencian. Dosa tidak luruh hanya karena dikerjakan di tempat suci. Kesalahan tidak menghilang hanya karena dilakukan sambil menyebut nama Tuhan.

 

Di tempat-tempat suci yang seharusnya menjadi pelabuhan jiwa yang lelah, kita sering mendengar suara-suara pilu: suara kotak amal yang pecah direnggut oleh tangan yang dikuasai nafsu mencuri; mimbar-mimbar agama yang seharusnya menjelma pelita malah dipenuhi api caci maki, nyala hujat, dan bara amarah. Petuah juru dakwah yang mestinya menyejukkan hati kini malah berubah menjadi pedang yang melukai, membelah hati umat menjadi sekat-sekat yang saling melumat.

 

Dalam beberapa kasus pilu di pesantren, tubuh-tubuh tak berdeosa direnggut kehormatannya, bukan oleh musuh agama, tapi oleh mereka yang mengajarkan ayat-ayat-Nya. Sementara itu, di belahan dunia lain, di antara pilar-pilar masjid yang menjulang tinggi, bom meledak. Rentetan tembakan dimuntahkan. Lalu kemudian darah terburai menodai sajadah. Duka menggantikan takbir. Mereka yang datang membawa niat suci harus pulang dengan tubuh berbalut kafan putih. Seseorang mengira surga bisa dibeli dengan ledakan yang membinasakan manusia.

 

Tempat suci kini bergetar dalam diam. Dinding-dindingnya tak lagi hanya memantulkan doa, tetapi juga jeritan dan trauma psikologis yang mencekam. Langit pun menunduk, malu kepada bumi ketika nama Tuhan diseret dalam arak-arakan kejahatan yang dibungkus dalam jubah kesalehan. Lalu kita bertanya apakah tempat yang suci mampu menghapus kekejian semacam itu? Apakah lantai mihrab yang dibasahi darah bisa disebut tanah yang diberkahi?

 

Tempat suci, seperti masjid, gereja, sinagoga, kuil—dalam keagungannya mestinya adalah ruang untuk mengendapkan dosa, bukan ladang bagi lahirnya dosa baru. Namun, sejarah dan kenyataan mutakhir memperlihatkan kenyataan yang sebaliknya. Kejahatan dapat bersarang bahkan di bawah kubah yang menjulang. Di balik azan yang berkumandang, terkadang bersembunyi dusta, kerakusan, dan niat-niat gelap yang membungkus dirinya dalam nama Tuhan.

 

Para pelaku kejahatan mengira bahwa melakukan kejahatan di tempat suci membuatnya menjadi "lebih ringan", seolah bangunan kudus memiliki kekuatan gaib untuk melarutkan dosa yang disengaja. Padahal, justru sebaliknya: kejahatan yang dilakukan di tempat suci adalah pelanggaran berlapis. Ia tidak hanya merusak hubungan antar manusia, tetapi juga mencederai makna spiritual ruang yang dipercayai sebagai perpanjangan dari langit.

 

Seorang yang mencuri di pasar mungkin disebut pencuri. Tetapi seseorang yang mencuri di masjid atau di tempat suci lain—di mana ia tahu bahwa kotak amal adalah titipan Tuhan—telah menodai dua dimensi sekaligus: moralitas dan kesakralan. Ia tidak sekadar merampok harta, tetapi juga merampok kepercayaan umat kepada tempat yang mereka kira aman dari tipu daya. Mereka yang meledakkan dirinya di tengah jamaah shalat mengira telah membeli surga dengan darah. Bahkan melakukan kejahatan di depan Ka’bah tidak akan menghilangkan dosa seseorang.

 

Kenyataan pahit dalam sejarah spiritual umat manusia adalah ketika rumah-rumah Tuhan dijadikan medan perang. Ketika bait-bait suci dijadikan gudang senjata. Ketika ayat-ayat cinta dibacakan dengan nada kebencian. Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, memperingatkan bahwa dosa yang dilakukan oleh seseorang, atau oleh orang yang tampak religius itu lebih berbahaya, sebab ia membungkus kejahatan dengan kesalehan, dan itu adalah bentuk kemunafikan yang paling dalam.

 

Kesucian bukanlah atribut ruang, melainkan pantulan dari hati. Sebuah masjid yang penuh kemewahan tak akan menyucikan seseorang jika hatinya tertutup. Sebaliknya, ruang kecil yang bersahaja bisa menjadi tempat perjumpaan dengan Tuhan jika dijalani dengan kerendahan hati. Maka dosa yang dilakukan di tempat suci bukan hanya tidak hilang, tapi juga menjadi saksi atas betapa jauh manusia telah menyimpang dari makna sejatinya.

 

Kesucian tidak dapat dipalsukan. Bahkan malaikat pun tak bisa membela manusia yang menipu di tempat suci. Sajadah yang dibasahi air mata palsu tak akan menyelamatkanmu dari api yang dinyalakan oleh ketidakadilan. Tempat suci adalah panggilan bagi jiwa, bukan tempat persembunyian bagi dosa. Jika engkau berbuat jahat di sana, engkau tak hanya berdosa, tetapi engkau juga telah menistakan diri sendiri.


Kamis, 19 Juni 2025

Khaled Abou El Fadl: Tuhan yang Dibisukan Manusia

Kamis, Juni 19, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Di tengah teror dan bayang-bayang kekerasan yang mengusik ketenteraman hidup umat manusia di dunia, ada suara Tuhan yang dihilangkan, bahkan sengaja dibisukan oleh sebuah ambisi dan arogansi. Sementara manusia lantang berbicara, tak peduli meski suaranya hanyalah onggokan sampah yang menebar bau busuk peradaban, tak mengapa sekalipun suaranya itu merampas otoritas Tuhan.

 

Manusia telah lama bercakap atas nama Tuhan. Tapi betapa sering suara-Nya itu dibisukan, digantikan oleh pekik kebencian, dan desir pelatuk senjata. Dalam lorong-lorong gelap di mana bom bunuh diri meledak dan nyawa manusia tercerabut, kita menyaksikan tragedi agung: manusia membunuh manusia, lalu melemparkan tanggung jawabnya kepada langit. Lagi-lagi itu semua dilakukan atas nama Tuhan.

 

Kasih Tuhan kepada manusia dibajak. Ia diringkus, dipenjara dalam ideologi sempit, dan dijadikan juru bicara dendam oleh tangan-tangan yang memeluk senjata lebih erat dari kitab suci. Setiap ledakan bukan hanya menghancurkan tubuh, tapi juga merobek nalar dan mengoyak belas kasih. Dan dalam kepingan serpihan itu, terdengarlah bisikan getir: ini bukan suara Tuhan tapi suara mausia yang wataknya telah retak oleh ambisi dan arogansi.

 

Khaled Abou El Fadl, dalam Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority and Women, menulis dengan nada lirih: “Tidak ada yang lebih berbahaya daripada lidah manusia yang mengklaim suara Tuhan, namun diselubungi kabut ego.” Tuhan dibisukan, sementara manusia banyak bicara. Dan Abou El Fadl heran mengapa agama dijadikan alat, bukan jalan. Sementara hukum-hukum Tuhan dibekukan dalam dingin yang tak mengenal dekapan kasih sayang.

 

Dalam pergulatan intelektualnya yang penuh gemuruh itu, Abou El Fadl menuliskan: “Mereka tidak berbicara untuk Tuhan, tapi menutup pintu bagi-Nya. Mereka menamakan kekerasan sebagai ibadah, dan membungkam suara nurani yang tulus dalam diri kita semua.” Baginya, kekerasan atas nama agama adalah bentuk paling brutal dari pengingkaran iman—karena ia tidak tumbuh dari cinta, tapi dari kerakusan akan kuasa. Ketika tafsir dijadikan senjata dan Tuhan dipaksa berpihak, yang lahir bukanlah pencerahan, melainkan kezaliman dan otoritarianisme yang nyata.

 

Karen Armstrong, penulis ternama tentang Sejarah Tuhan dan agama-agama, memastikan dalam Fields of Blood: “Agama bukan penyebab utama kekerasan; ia telah dikotori oleh manusia yang gagal memahami bahwa Tuhan adalah misteri, bukan alat politik.” Bagi Armstrong, setiap kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan bukanlah ketundukan, melainkan pengkhianatan. Ia menyaksikan bagaimana agama yang mestinya menjadi pelabuhan kasih berubah menjadi medan tempur yang menebar maut.

 

Ketika dunia mulai retak karena ambisi dan arogansi manusia bengis tanpa belas kasih, Tuhan terus dipanggil-panggil oleh para pembunuh. Nama-Nya ditulis di bendera, diteriakkan sebelum bom diledakkan, diseru dalam setiap aksi kekerasan. Tapi tahukah mereka, bahwa Tuhan yang sejati tidak pernah meminta darah manusia ditumpahkan demi nama-Nya? Bahwa Dia lebih menyukai air mata tobat daripada jeritan korban yang merintih kesakitan.

 

Dalam dunia yang gemar meneriakkan nama Tuhan tapi melupakan kasih-Nya, suara Abou El Fadl adalah tamparan sekaligus pelukan. Tamparan bagi arogansi keagamaan. Pelukan bagi jiwa-jiwa yang mencari Tuhan yang benar: Tuhan yang tak membenci, tak membelenggu, tak menghardik—tetapi Tuhan yang hadir dalam cinta, kebijaksanaan, dan keindahan. Dan mungkin, dalam sujud terakhir yang sunyi, kita akan menemukan bahwa Tuhan tidak pernah bisu. Kitalah yang tak pernah benar-benar mau mendengar.


Baginya, ketika seseorang bicara atas nama Tuhan tanpa kesadaran atas keterbatasan dirinya, maka ia telah menggusur Tuhan dari keagungan-Nya, menggantikannya dengan idolatri ego yang dibalut jubah syariah. Tuhan, dalam versi mereka, adalah cermin ambisi kekuasaan, bukan Sang Kekasih yang Maha Pengasih. “The arrogance of speaking for God, while dismissing others, is the beginning of tyranny,” tulis Abou El Fadl dalam Speaking in God's Name.


Senin, 16 Juni 2025

Jalan Sunyi Al Ghazali

Senin, Juni 16, 2025 0


 

Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Di tengah riuh zaman yang kian kehilangan makna, serba cepat dan tak terkendali, akibat arus modernitas dengan segala perkembangan ilmu dan teknologinya, manusia, kata Seyyed Hossein Nasr, dipacu tanpa arah ruhani, dan terjebak dalam pusaran kecemasan yang makin dalam. Mereka teralienasi dalam hidupnya sendiri. Dan dalam keadaan seperti itu, kita memerlukan seberkas cahaya yang datang meski dari sunyi.

 

Sunyi yang tidak bisu, melainkan berbicara kepada nurani terdalam, yang selama ini tersingkir oleh nalar spekulatif. Sunyi yang tidak kosong, melainkan dipenuhi oleh kehadiran Yang Maha Hadir. Dan melalui lorong-lorong sunyi itulah, pada beberapa abad yang silam, seorang manusia bernama Abu Hamid Al-Ghazali berjalan pelan tapi pasti, menuju pemulihan jiwanya—dan jiwa umatnya.

 

Sepanjang hayatnya, lelaki dari Tus itu telah mereguk air jernih dari ribuan kitab, menyelami samudra akal, dan menguji tiap serpihan cahaya dari indera. Tapi di suatu malam yang diselimuti kabut gelap, dan ketika bintang-bintang filsafat kehilangan sinarnya, ia bertanya penuh gelisah: “Adakah suatu kepastian yang tak tergoyahkan?” Ia menjawab dalam al-Munqidh min al-Dalal, bahwa kepastian itu mesti ilmu yakin yang tidak menyisakan kebimbangan (العلم اليقين الذي لايبقى معه ريب).

 

Maka dimulailah perjalanan epistemologis Al-Ghazali, yang dimulai dari keraguan (الشكوك) bukan dari keyakinan yang selama ini ditapaki kebanyakan orang. “Keraguanlah yang bisa mengantarkan kepada kebenaran” (الشكوك هي الموصلة الى الحق). Demikian Al-Ghazali menuliskan dalam Mizan Al Amal. Dengan nada pasti dan penuh keyakinan, ia menelusuri kebenaran yang tak terbantahkan.

 

Di awal pencarian, Al-Ghazali menggenggam keyakinan bahwa indera adalah pangkal segala pengetahuan. Apa yang terlihat, terdengar, disentuh dan dikecap dianggap sebagai dasar realitas. Namun, sebagaimana cahaya yang tampak terang hanya sampai senja, keyakinan ini pun meredup, lenyap, tak terlihat. Ia mulai menyadari bahwa indera kerap menipu: “Bintang tampak sebesar dinar padahal lebih besar dari bumi,” tulisnya dalam al-Munqidh min al-Dalal. Bayangan tampak diam, tapi ia bergerak perlahan. Air tampak dalam cawan, padahal ia melengkung.

 

Indra, dalam pandangannya, adalah gerbang yang mudah disusupi ilusi dan tipuan. Sehingga pengetahuan yang mendasarinya rapuh sehingga mudah roboh. “Jika indraku telah berdusta padaku, bagaimana aku bisa mempercayainya?” Karena itulah Al-Ghazali mulai meragukan segala pengetahuan indrawi—tidak sebagai skeptisisme murni, tapi sebagai luka pertama yang membuka jalan perenungan lebih dalam dan lebih meyakinkan. Ia meragukan pengetahuan yang dihasilkan amatan mata, pendengaran, sentuhan kulit.

 

Dalam keraguan terhadap indera itu, ia kemudian membangun harapan pada akal. Akal—yang dapat memisahkan antara mungkin dan mustahil, yang bisa menetapkan bahwa dua adalah lebih dari satu, dan mustahil sesuatu bisa berada di dua tempat sekaligus. Dalam fase ini, Al-Ghazali memasuki dunia filsafat: logika Aristoteles, metafisika Ibn Sina, hingga geometri Euclid. Ia menguasainya bukan sekadar sebagai murid, tapi sebagai penguji paling tajam.

 

Namun kemudian ia menemukan bahwa akal pun tak bisa menembus tirai metafisika yang paling dalam. Akal bisa menjawab "bagaimana", tapi tak bisa menjawab "mengapa". Ia bisa membedah dunia, tapi tak bisa menjamah makna. Akal bisa menggambar peta, tapi tak bisa mengantarkan jiwa untuk pulang. Dalam al-Munqidh, ia menulis: “Keraguanku terhadap kemampuan akal bagaikan penyakit, namun penyakit ini diturunkan Allah kepadaku... maka tak ada obat selain cahaya yang dilemparkan ke dalam hati.”

 

Setelah meruntuhkan dua menara epistemologi—indra dan akal—Al-Ghazali memulai jalan sunyi, yaitu memalingkan wajahnya ke arah intuisi ilahiah, atau dalam istilah sufistik: dzawq. Ia menemukan bahwa hati yang disucikan bisa menjadi cermin kebenaran yang sejati. Kebenaran tidak lahir dari debat, tapi dari dzikir. Ia tidak tumbuh dalam logika, tapi dalam kesendirian yang lapang dan pengasingan yang diserahkan kepada Tuhan.

 

Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, ia menulis: “Ilmu yang hakiki adalah cahaya yang dilemparkan Allah ke dalam hati seorang hamba... ia tidak diperoleh melalui pena dan buku, tapi melalui penyucian jiwa dan pengabdian yang tulus.” Al-Ghazali menempuh jalan sufi, bukan sebagai pelarian, tapi sebagai puncak dari seluruh pencarian epistemologinya. Tetapi, jalan sufi yang sunyi, yang ditempuh Al-Ghazali bukanlah tanpa nalar. Ia tidak menolak akal.

 

Oliver Leaman dalam A Brief Introduction to Islamic Philosophy, menyebut Al-Ghazali sebagai tokoh yang “memusnahkan sistem filsafat tanpa memusnahkan semangat berpikir.” Ia tidak menolak akal, tapi mengkritiknya agar tunduk kepada cahaya batin. Ia tidak meninggalkan dunia, tapi memandangnya dari kejauhan. Bagi Al-Ghazali, akal ibarat cahaya yang menerangi jalan yang disusuri manusia di tengah lorong dan jurang yang gelap. Siapa saja yang menepikannya akan tersesat.

 

Frank Griffel, pembaca Al-Ghazali, melihat dalam diri sang Imam sebuah pergeseran radikal: dari seorang profesor di Baghdad yang dielu-elukan sebagai mahkota para ulama, menjadi seorang pengembara ruhani yang tak dikenali siapa pun kecuali dirinya sendiri. Dalam karyanya, Al-Ghazali’s Philosophical Theology, Griffel menegaskan bahwa krisis eksistensial yang dialami Al-Ghazali bukan semata gejala pribadi, melainkan refleksi dari krisis epistemik dunia Islam kala itu. Maka jalan sunyi yang ia tempuh adalah jalan menyembuhkan peradaban, jalan yang dianggap paling sahih untuk mengembalikan kesadaran umat Islam dari sampah zaman yang meniup bau busuk.

 

Jalan sunyi Al-Ghazali adalah jalan sufi—jalan pelepasan, jalan pengasingan dari keramaian dunia yang begitu bising, memabukkan, dan penuh jebakan. Maka ketika itu, saat ruh Al Ghazali disesaki debu ilmu yang belum basah oleh makna, dan dadanya merasakan kekeringan dalam lautan kata-kata, Al-Ghazali—yang saat itu telah mencapai puncak kemasyhuran sebagai guru besar Nizamiyah Baghdad—tiba-tiba merasakan kehampaan yang dalam, seperti seseorang yang berdiri di atas gunung tetapi tak lagi melihat langit. 

 

Sekali lagi, jalan sunyi yang ditempuh Al-Ghazali bukanlah membuang akal hingga tak dibutuhkan, tapi justru cahaya ketuhanan yang masuk ke dalam hatinya telah membenarkan pertimbangan logis secara meyakinkan. Dalam Al-Munqid ia menulis,:

 

حتى شفى الله تعالى من ذلك المرض وعادت النفس الى الصحة و الاعتدال و رجعت الضروريات العقلية مقبولة موثوقا بها على أمن و يقين, و لم يكن ذلك بنظم دليل و ترتيب كلام, بل بنور قذفه الله تعالى في الصدر, و ذلك النور هو مفتاح أكثر المعارف

 

"Allah menyembuhkan penyakitku sakitku tersebut, sampai jiwaku pun kembali sehat dan moderat lagi. Hasil daya pikir pun kembali diterima dan dipercaya serta penuh rasa aman dan yakin. Dan kesemua itu bukan karena adanya dalil yang teratur rapi serta kata yang tersusun benar, tapi karena adanya cahaya yang diturunkan Allah dalam kalbu, yaitu cahaya yang menjadi kunci kebanyakan pengetahuan."

 


Jumat, 06 Juni 2025

Makna Simbolik Qurban: Ibrahim dan Keakuan yang Tersayat

Jumat, Juni 06, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Di balik kisah yang menyayat hati tentang Ibrahim dan Ismail — yang kerap dibaca secara literal sebagai narasi tentang ketaatan nabi kepada perintah Tuhan — para sufi membaca teks purba ini justru dengan mata batin yang lembut dan tajam. Mereka memasukinya lebih jauh ke dalam wilayah yang lebih intim dan sublim: ke dalam rahasia batin dan perjalanan cinta ruhaniah.

 

Qurban, bagi para sufi, bukan sekedar ritual atau ibadah formal tahunan. Ia adalah tahap agung dalam perjalanan menuju fana’ — yaitu lenyapnya diri dalam kehadiran Tuhan. Dan dalam kisah Ibrahim yang menggetarkan jiwa itu, yang sesungguhnya dikorbankan bukanlah Ismail, melainkan keakuan (ego) Ibrahim itu sendiri: rasa memiliki, rasa mencintai sesuatu selain Allah, bahkan rasa kebapakan yang menjadi bagian dari dunia.

 

Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi menggambarkan hal itu dengan sangat baik: “Lihatlah Ibrahim, ia tidak membunuh anaknya. Ia membunuh dirinya sendiri, yang bernama keakuan, yang memisahkan pecinta dari Kekasih-nya.” Dan setelah beberapa abad yang silam pasca-Rumi, Ali Syariati dalam Hajj menyampaikan hal yang senada. Menurutnya, Ismail hanyalah simbol dari apa yang paling dicintai manusia di dunia. Ia bisa berupa anak, harta, nama baik, pangkat, jabatan, bahkan diri sendiri.

 

Dalam magnum opusnya itu, Ali Syariati mengajak manusia menziarahi makna terdalam dari sebuah perintah purba yang lahir dari langit dan bersemayam dalam lubuk kesadaran profetik: menyembelih Ismail. Baginya, Ismail bukan semata anak Ibrahim, bocah suci yang dihamparkan di atas batu karang Mina dengan dada yang lapang dan jiwa yang pasrah. Ismail adalah segala yang dicintai manusia, segala yang membuat dada berdebar dan hati terikat, segala yang melahirkan rasa takut kehilangannya.

 

"Setiap manusia," tulis Syariati, "memiliki Ismailnya masing-masing." Maka Mina bukan hanya sebidang tanah di jazirah Arab, tapi medan spiritual yang sunyi di dalam dada manusia. Di sanalah, setiap anak Adam diuji untuk menyembelih apa yang paling dicintainya, agar ia bisa mencintai Sang Pemilik Cinta itu sendiri. Ismail adalah cermin, dan dalam cermin itu kita melihat apa yang menawan hati kita selain Tuhan.

 

Martin Buber, dalam I and Thou, menyiratkan bahwa relasi manusia yang autentik hanya terjadi bila manusia mampu keluar dari dirinya dan menanggalkan ego yang membatu. Dalam kerangka ini, "Ismail" adalah ego yang membuat relasi manusia dengan Tuhan dan sesama menjadi relasi yang semu, relasi "aku–itu", bukan "aku–Engkau". Maka menyembelih Ismail berarti menembus ruang antara, menyucikan cinta dari kepemilikan dan menyingkap wajah Yang Maha Lain.

 

Maka saat Ibrahim mengarahkan pisau, sesungguhnya ia bukan sedang mengarahkannya kepada putra terkasihnya, melainkan kepada diri lamanya, yang belum sepenuhnya terbebas dari ikatan duniawi. Di situlah momen transformatif itu: ketika pisau tidak jadi meneteskan darah manusia, tapi justru memotong tali yang mengikat jiwa kepada yang selain Tuhan.


Ketahuilah, bahwa cinta kepada anak, meski sah dan naluriah, bisa menjadi tirai. Tirai tipis yang menghalangi pandangan ruhani manusia. Ismail dalam kisah Ibrahim adalah cermin cinta duniawi yang paling suci,  tetapi cinta seperti itu menurut para sufi tetap cinta duniawi yang harus disayat. Maka dalam qurban, manusia diminta untuk menyembelih keterikatan yang menjadikannya berhala kecil dalam hati.

 

Qurban dan Hasrat yang Tak Pernah Puas

Lalu apa relevansi ibadah qurban bagi manusia modern yang hedonis dan materialis?

 

Dalam dunia modern yang bising, yang disusupi aneka iklan, gaya konsumtif, dan semarak pencitraan, manusia telah membangun altar baru: yaitu dirinya sendiri. Ia sujud bukan lagi kepada Tuhan, melainkan kepada bayangannya sendiri di cermin. Ia tidak lagi berkurban demi Yang Gaib, tetapi justru mengurbankan segala makna demi pencapaian yang bisa diukur, dilihat, dan dipamerkan.

 

Di sinilah ibadah qurban tampil bukan hanya sebagai ritus keagamaan, tetapi sebagai kontra-narasi spiritual terhadap peradaban modern yang terobsesi pada tubuh, kepemilikan, dan kepuasan instan. Qurban adalah protes yang senyap namun mendalam terhadap hedonisme yang menjadikan kesenangan sebagai tujuan tertinggi, serta materialisme yang menurunkan nilai manusia menjadi sekadar angka, status sosial, atau barang yang dipajang.

 

Ali Syariati, dengan kepekaan eksistensialnya, membaca qurban sebagai tindakan revolusioner. Menurutnya, menyembelih Ismail adalah metafora dari membunuh ego, melepaskan kepemilikan, dan menundukkan kehendak diri kepada kehendak Ilahi. Dalam dunia yang mengajarkan "aku, milikku, untukku", Syariati justru menyeru: “Sembelihlah keakuanmu, karena di sanalah letak perbudakanmu yang sejati.”

 

“Zaman ini,” tulis Syariati, “adalah zaman di mana berhala-berhala baru bermunculan dalam bentuk modern: mobil mewah, apartemen, gelar, kekuasaan, dan tubuh yang dibentuk seperti dewa. Tapi berhala tetaplah berhala—apa pun wujudnya.” Semua kemelakatan itu harus disayat, disingkirkan dalam diri manusia.

 

Dalam pandangan tasawuf, ego adalah hijab terbesar antara manusia dan Tuhan. Al-Ghazali menyebut nafs al-ammārah sebagai sumber segala penyakit batin. Sedang Rumi menyindir ego sebagai "penjara dari kaca"—ia tampak indah, tetapi mengurung cahaya batin. Maka qurban adalah upaya menghancurkan penjara itu, menghancurkan “aku” agar terbuka jalan menuju “Engkau”.

 

Dan dalam dunia modern, ‘penyembelihan’ itu bukan terjadi di Mina, tetapi dalam setiap detik ketika manusia berani menolak sistem yang memaksanya menjadi konsumtif, narsistik, dan egoistik. Qurban menjadi latihan spiritual untuk detachment (pelepasan), sebagaimana dijelaskan oleh Erich Fromm dalam To Have or To Be? bahwa manusia modern telah kehilangan being karena terlalu terobsesi pada having. Qurban, dalam hakikatnya, mengajak manusia untuk kembali dari memiliki kepada menjadi.

 

Di zaman yang menanamkan bahwa eksistensi ditentukan oleh jumlah followers dan saldo rekening, qurban datang sebagai pelajaran abadi bahwa kebermaknaan hidup justru terletak pada kemampuan untuk melepaskan. Bahwa kebahagiaan sejati bukanlah akumulasi, melainkan pengorbanan dengan segala kepasrahan dan keberserahan yang total sebagaimana telah diajarkan Khalilullah Ibrahim As.