Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Selasa, 02 Desember 2025

Ketika Lidah Pemuka Agama Menghalangi Cahaya Rahmat

Selasa, Desember 02, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Di dalam sejarah panjang agama, lidah sering kali lebih tajam dari pedang. Ia bisa menjadi jembatan menuju surga, namun juga bisa menjadi tembok penghalang yang menutup pintu-pintu rahmat. Betapa sering agama jatuh terjerembab kedalam lorong gelap sejarah, bukan karena kekurangan ajaran yang luhur, melainkan karena watak retak pemuka agama yang pongoah.

 

Dalam beberapa tayangan video dan siara berita kita menyaksikan seorang habib, dengan suara lantang dan penuh arogan meneriakan seruan perang kepada jama’ahnya. Seolah-olah mimbar adalah gelanggang adu kekuatan, bukan taman ilmu dan kasih. Seolah-olah agama adalah sebilah pedang yang harus dihunus setiap saat, bukan pelita yang menuntun manusia menuju cahaya kedamaian.

 

Kisah para sufi memperingatkan kita akan bahaya lidah yang kehilangan kesejukan. Diceritakan, seorang non-muslim yang hatinya nyaris mekar dalam keindahan iman—hendak memeluk Islam. Ia tertarik oleh kelembutan para salik, oleh keramahan para darwis yang wajahnya selalu bercahaya. Namun, ketika ia hadir dalam majelis seorang pemuka agama yang keras dan pongah, ia mendengar caci maki, ancaman, dan kata-kata yang dipenuhi bara amarah. Seketika bunga iman yang nyaris mekar di hatinya itu layu. Ia pun mengurungkan niatnya untuk memeluk Islam.

 

Para sufi menafsirkan kisah ini dengan mata berair: pemuka agama itu, tanpa sadar, telah menjadi penghalang antara rahmat Allah dan hamba-Nya. Ia telah menutup jalan yang hendak dibuka Tuhan sendiri. Ibn ‘Arabi dalam Futuhat al-Makkiyyah pernah menulis, “Rahmat Ilahi itu seluas semesta, tidak satu pun manusia dapat membatasinya. Namun manusia, dengan kebodohannya, sering menjadikan dirinya penghalang bagi pancaran rahmat itu.”

 

Pemuka agama yang gagal menahan lidahnya, sejatinya hanyalah tawanan egonya sendiri. Ia adalah budak hawa nafsu meski ia mengaku paling suci. Tetapi mereka yang merasa paling suci itu justru sering kali yang paling haus akan kuasa. Kenyataan ini seperti teguran yang menembus zaman: betapa agama bisa ternodai oleh mereka yang menggunakannya sebagai senjata kekuasaan.

 

Agama, pada hakikatnya, adalah samudera kasih yang tak bertepi. Nabi Muhammad sendiri diutus tak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak. Namun, ketika para pewarisnya memamerkan wajah bengis, maka mereka bukan sekadar mengkhianati akhlak, melainkan menghalangi manusia dari rahmat Tuhan itu sendiri. Ibn ‘Arabi mengibaratkan manusia sebagai cermin. Jika cermin itu bersih, ia akan memantulkan cahaya Ilahi. Tetapi jika cermin itu dipenuhi debu amarah dan noda ego, maka yang tampak hanyalah bayangan kelam.

 

Di sini kita patut mengakukan pertanyaan: Apakah kita rela wajah Islam dikenal melalui suara yang lantang mengajak perang, ataukah kita ingin agama ini dikenang lewat kelembutan yang merangkul? Apakah kita hendak menjadi jalan bagi rahmat Tuhan, atau justru menjadi penghalangnya?

 

Di hadapan pertanyaan-pertanyaan itu, suara Rumi kembali bergema, “Agama tanpa cinta hanyalah tubuh tanpa jiwa.” Maka, ketika lidah para pemuka agama digunakan untuk menebar amarah, sebenarnya mereka bukan sedang membela agama, melainkan merobek wajah agama itu sendiri. Rahmat Tuhan tidak bisa dicemari, tetapi manusia bisa menghalangi dirinya sendiri dari rahmat itu. Dan tragisnya, dengan lidahnya, ia juga bisa menghalangi orang lain.

 

Inilah dosa yang amat berat: menutup jalan cinta Ilahi dengan tembok amarah. Dan setiap kita, dengan hati yang masih bergetar, mesti bertanya: apakah lidah kita menjadi pelita yang menuntun, atau pedang yang membunuh cahaya?

Rabu, 08 Oktober 2025

Ketika Kebenaran Menolak Tunduk: Renungan tentang Politik Oposisi dan Jalan Spiritual dalam Sejarah Islam

Rabu, Oktober 08, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Sejarah Islam selalu dimulai dari sebuah kehilangan: wafatnya Nabi Muhammad. Ketika wahyu berhenti turun, umat yang pernah disatukan oleh cinta kenabian tiba-tiba berdiri di antara keraguan dan ambisi. Di Saqifah Bani Sa’idah, para sahabat berdiskusi tentang siapa yang berhak memimpin umat, namun dalam perdebatan itu sesungguhnya tersembunyi keresahan yang lebih dalam—bagaimana menjaga makna wahyu di tengah godaan kekuasaan. Dari sinilah politik dalam Islam lahir: bukan dari kemenangan, melainkan dari luka yang menuntut makna.

 

Khawarij muncul sebagai suara keras yang menolak kompromi. Dengan semboyan lā ḥukma illā lillāh—“tidak ada hukum selain milik Allah”—mereka berusaha memurnikan iman dari campur tangan manusia. Namun di balik ketegasan itu tersimpan kesedihan yang dalam; mereka ingin menegakkan kebenaran, tapi justru terperangkap dalam absolutisme yang meniadakan kasih. Di sisi lain, kelompok Syiah menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar urusan politik, melainkan kelanjutan dari cahaya spiritual yang diwariskan kepada keluarga Nabi, Ahlul Bait. Kedua arus besar ini lahir dari cinta yang sama: cinta kepada kebenaran, namun berjalan di jalan yang berbeda.

 

Di tengah pertentangan itu, muncul tokoh seperti Hasan al-Bashri. Ia tidak membangun pasukan, tidak pula mengangkat senjata. Ia memilih diam dan menasihati dengan kelembutan. Dalam pandangannya, kekuasaan adalah ujian bagi iman, dan dunia ini hanyalah persinggahan yang rapuh. Melalui sikapnya, Hasan al-Bashri memperlihatkan bahwa perlawanan tidak selalu lahir dari teriakan; kadang ia tumbuh dari kesadaran yang memilih kesunyian.

 

Sejarah kemudian mencatat nama-nama besar seperti Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal. Mereka bukan pemberontak, tetapi menolak tunduk kepada kekuasaan yang berusaha mengendalikan tafsir agama. Abu Hanifah menolak jabatan hakim dari penguasa Abbasiyah karena tidak ingin keadilan menjadi alat legitimasi tirani. Imam Ahmad bin Hanbal disiksa karena menolak ajaran resmi bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Dalam penderitaan, keduanya menunjukkan bahwa kebenaran tidak bisa dibeli, dan integritas jauh lebih berharga daripada keselamatan diri. Mereka tidak menentang negara, tetapi mempertahankan martabat akal dan iman agar tidak menjadi budak kekuasaan.

 

Dari dunia fiqih dan teologi, tradisi perlawanan kemudian menjelma menjadi dimensi spiritual dalam diri para sufi. Al-Hallaj, seorang mistikus besar dari Baghdad, menjadi simbol cinta yang menolak tunduk pada kekuasaan. Ucapannya yang terkenal, “Ana al-Ḥaqq”—“Akulah Kebenaran”—bukanlah klaim ketuhanan, melainkan ungkapan fana’, lenyapnya diri di hadapan Tuhan. Namun bagi penguasa, kata-kata itu terdengar berbahaya. Al-Hallaj dihukum mati, bukan karena ia menentang agama, melainkan karena cintanya terlalu jujur untuk dunia yang takut pada kejujuran. Eksekusinya menandai satu bab penting dalam sejarah oposisi Islam: bahwa cinta kepada Tuhan bisa menjadi bentuk tertinggi dari perlawanan terhadap tirani.

 

Rumi, beberapa abad kemudian, meneruskan pesan itu melalui puisi dan hikmah. Ia tidak melawan penguasa dengan pedang, melainkan dengan ajaran tentang cinta, kebijaksanaan, dan kerendahan hati. Dalam pandangan Rumi, politik tanpa spiritualitas adalah tubuh tanpa ruh. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan sejati tidak lahir dari kemampuan memerintah, tetapi dari kemampuan mencintai. Karena itu, bagi para sufi, menolak tunduk kepada penguasa yang zalim bukan sekadar sikap politik, melainkan bentuk ibadah. Mereka melihat kekuasaan bukan sebagai jalan menuju Tuhan, tetapi ujian yang dapat menyesatkan hati jika tidak disertai keikhlasan.

 

Dalam kerangka inilah, prinsip amar ma’ruf nahi munkar mendapatkan maknanya yang paling mendalam. Menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran bukan hanya tugas moral, melainkan panggilan untuk menjaga keseimbangan antara cinta dan keadilan. Al-Ghazali menulis bahwa amar ma’ruf harus dilakukan dengan ilmu dan kebijaksanaan, bukan dengan kemarahan. Ia mengingatkan bahwa menegur penguasa bisa menjadi kewajiban, tetapi bila teguran itu menimbulkan kerusakan yang lebih besar, maka diam bisa menjadi bentuk kebijaksanaan yang lebih tinggi. Bagi Al-Ghazali, perlawanan sejati bukanlah hasil dari amarah, tetapi dari cinta yang disertai pengetahuan.

 

Ibn Taymiyyah menambahkan lapisan lain dalam etika oposisi Islam. Menurutnya, Allah akan menegakkan negara yang adil meskipun dipimpin oleh orang kafir, dan akan menjatuhkan negara yang zalim meskipun dipimpin oleh Muslim. Kalimat ini menggema sepanjang zaman, menegaskan bahwa keadilan adalah fondasi segala pemerintahan, dan bahwa agama tanpa keadilan hanyalah topeng bagi kezaliman. Dalam pandangan Ibn Taymiyyah, oposisi terhadap kezaliman bukanlah pemberontakan, melainkan bentuk tanggung jawab moral yang berakar pada prinsip tauhid—bahwa hanya Allah yang berhak disembah, bukan penguasa, bukan ideologi, bukan sistem.

 

Zaman modern membawa bentuk baru dari perlawanan. Ketika kolonialisme menggerus dunia Islam, muncul pemikir dan aktivis seperti Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, Rachid Ghannouchi, dan Abdolkarim Soroush. Mereka mencoba mengembalikan agama ke dalam ruang publik, meskipun dengan jalan yang beragam. Sebagian menempuh jalan ideologis yang keras, sebagian lain memilih jalur dialogis dan reformis. Dari mereka kita belajar bahwa perlawanan dalam Islam bukanlah satu bentuk tunggal; ia bisa menjadi revolusi, bisa menjadi kritik moral, bisa pula menjadi pembaruan intelektual. Tetapi apa pun bentuknya, semua berangkat dari sumber yang sama: keinginan untuk menegakkan keadilan sebagai cermin dari keesaan Tuhan.

 

Di Indonesia, semangat itu hidup dalam wajah yang lebih lembut. Para ulama dan pemikir seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, dan KH. Abdurrahman Wahid memadukan spiritualitas dan politik dalam satu napas yang tenang. Gus Dur, khususnya, menunjukkan bahwa oposisi bisa dilakukan dengan humor, empati, dan kearifan. Ia mengajarkan bahwa melawan bukan berarti memusuhi; menegur bukan berarti menghancurkan. Dalam dunia yang semakin terbelah oleh kebencian, etika semacam ini menjadi penawar bagi luka umat.

 

Maka, oposisi dalam Islam sejatinya bukan tindakan melawan penguasa semata, melainkan usaha menjaga nurani agar tetap berpihak kepada kebenaran. Ia adalah cermin dari iman yang matang, iman yang tidak butuh panggung untuk menunjukkan keberaniannya. Kadang, oposisi paling tulus justru lahir dari kesunyian—dari hati yang berani menolak tunduk pada kebatilan, namun tetap lembut dalam tutur dan bijak dalam sikap. Kesunyian para sufi, penolakan para ulama, dan kebijaksanaan para pemikir semuanya bersatu dalam satu garis yang panjang: garis cinta yang menolak tunduk kepada kekuasaan yang kehilangan arah.

 

Sejarah Islam menunjukkan bahwa kekuasaan akan selalu datang dan pergi, tetapi kebenaran tidak pernah mati. Dari darah Al-Hallaj hingga tinta Al-Ghazali, dari diamnya Hasan al-Bashri hingga tawa Gus Dur, Islam senantiasa menghadirkan wajah yang kritis, manusiawi, dan penuh kasih. Inilah politik yang tidak berakar pada ambisi, melainkan pada kesadaran spiritual bahwa tugas manusia bukanlah berkuasa, tetapi menjaga keadilan agar tetap bernafas di tengah dunia yang sering sesak oleh kepalsuan.

 

Pada akhirnya, oposisi dalam Islam adalah bentuk cinta yang paling jujur—cinta kepada Tuhan yang menolak dikotori oleh kepentingan duniawi. Dan mungkin, hanya mereka yang mencintai dengan sungguh-sungguhlah yang berani menolak tunduk, bukan karena benci kepada penguasa, tetapi karena ingin menyelamatkan kemanusiaan dari kehancuran moralnya sendiri.

 


Jumat, 03 Oktober 2025

Anak Sebagai Tajalli: Refleksi Dua Tahun Nun A Wening Hyun

Jumat, Oktober 03, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Ada saat-saat tertentu dalam hidup ketika roda waktu yang biasanya berputar tanpa henti, tiba-tiba seakan berhenti, bukan karena ia benar-benar diam, melainkan karena ia ingin memberi ruang bagi sebuah keajaiban yang terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja. Saat-saat itu bukan sekadar momen biasa dalam hitungan kalender, melainkan titik cahaya yang menyinari perjalanan panjang manusia.

 

Salah satu momen yang paling indah dari segala keindahan itu adalah hari ulang tahun seorang anak—sebuah peringatan kecil yang sarat makna, ketika kehidupan seakan berbisik kepada kita bahwa di dunia ini masih ada alasan untuk bersyukur, masih ada sebab untuk merayakan cinta, dan masih ada tanda bahwa harapan belum pernah benar-benar mati.

 

Pada 3 Oktober 2025, genaplah dua tahun usia Nun A Wening Hyun, putri pertama kami yang namanya sendiri telah menjadi doa panjang: Nun, huruf agung yang melambangkan pena dan ilmu; Wening, kejernihan batin yang bening tanpa riak dan kotoran hati; Hyun, cahaya kemilau yang menembus batas pandang. Nama itu adalah mantra kehidupan, dan pemiliknya adalah tajalli—penampakan kasih sayang Ilahi di dunia.

 

Sementara huruf  A dalam nama itu bukan sekadar aksara, melainkan nafas pertama dari segala bahasa. Dalam tradisi linguistik, huruf hidup (vokal) adalah denyut nadi yang memberi kehidupan pada konsonan yang mati. Tanpa vokal, kata hanya menjadi rangka kosong; tetapi dengan vokal, kata menjelma suara yang menggetarkan, makna yang mengalir, dan kehidupan yang berdenyut.

 

Maka ketika A diletakkan dalam nama Nun A Wening Hyun, ia menjadi simbol dari awal mula segala sesuatu—permulaan yang selalu hidup, sumber bunyi yang menyalakan harmoni. Secara filosofis, A adalah representasi dari arché, asal-muasal yang tak pernah habis. Ia adalah alfa dalam tradisi Yunani, huruf pertama yang membuka seluruh kosmos bahasa, dan dalam tradisi spiritual ia dapat dibaca sebagai lambang kehidupan yang murni, belum ternoda, dan selalu siap menghidupi. Dengan kata lain, A adalah benih universal yang menjadikan nama bukan sekadar sebutan, tetapi doa yang terus mengalir di setiap penyebutannya. (Baca juga: Nun A Wening Hyun)

 

Para sufi barangkali akan menyebut huruf A sebagai nafās al-Rahmān, hembusan kasih sayang Ilahi yang darinya segala wujud tercipta. Setiap huruf hidup adalah pancaran hidup dari Sang Hidup (al-Ḥayy). Maka, huruf A dalam nama Wening Hyun adalah penanda bahwa dirinya mengandung kehidupan yang menghidupi: kehadirannya tidak hanya menambah isi dunia, tetapi juga memberi jiwa bagi sekitarnya.

 

Lebih jauh lagi, A adalah simbol keterbukaan. Ia dilafalkan dengan mulut yang terbuka lebar, seakan melambangkan hati yang terbuka bagi segala kemungkinan. Anak yang membawa huruf ini dalam namanya diharapkan tumbuh dengan jiwa yang lapang, keberanian untuk memulai, dan kesiapan untuk memberi kehidupan di tengah dunia yang sering kali terasa sempit. Maka, huruf A bukanlah kebetulan, tetapi pilihan filosofis yang sarat makna. Ia adalah huruf hidup—dan karena itulah ia menghidupi kehidupan.

 

Nun A Wening Hyun, kini dua tahun usiamu. Engkau adalah embun yang belum tercemar debu, engkau adalah cahaya yang belum pudar oleh dunia. Sebagaimana dikatakan Ibn ‘Arabi, bahwa  “jiwa seorang anak masih dekat dengan asalnya, belum terikat oleh debu dunia”. Semoga engkau tumbuh tetap wening, tetap bening, meski zaman membawa gelombang dan riak peradaban masa silam.

 

Pada akhirnya, ulang tahunmu bukan sekadar milikmu. Ia adalah milik kami semua, pengingat bahwa Tuhan belum berhenti menyalakan cahaya di bumi. Engkau adalah bukti bahwa harapan masih hidup, bahwa cinta masih mungkin, dan bahwa dunia masih layak dirayakan. Sebab kata Rumi, kelahiran seorang anak adalah tanda Tuhan masih memberi harapan pada dunia.

 

Maka, pada hari ini, kami merayakan bukan hanya dua tahun usiamu, tetapi juga dua tahun cahaya yang Tuhan titipkan kepada kami melalui dirimu. Engkau adalah tajalli, engkau adalah doa yang hidup, engkau adalah kitab kecil yang sedang ditulis dengan tinta cinta.

Jumat, 12 September 2025

Syekh Abdul Karim al-Bantani: Mursyid Peniup Api Jihad

Jumat, September 12, 2025 0


 

Oleh Mohamad Asrori Mulky


Sejarah Banten laksana kitab agung yang ditulis dengan darah perjuangan, doa para wali, dan airmata rakyat yang tak pernah tunduk pada penjajahan dan tirani. Dari tanah para jawara dan ulama inilah lahir nama-nama besar yang suaranya menembus batas pesisir, menyeberangi samudra, hingga bergema ke jantung dunia Islam.

 

Di antara gugusan bintang yang bertabur di langit sejarah Nusantara, khususnya di tanah para jawara, ada satu cahaya yang tak pernah redup meski abad telah berganti: Syekh Abdul Karim al-Bantani. Ia adalah mursyid agung tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyyah, yang mengajarkan dzikir di satu sisi dan meniupkan api perlawanan di sisi lain.

 

Dalam dirinya, kesalehan tidak pernah tercerabut dari keberanian. Zikir yang diajarkannya bukanlah sekadar getaran lidah yang meruapkan keheningan, melainkan getaran jiwa yang menghidupkan keberanian untuk menentang tirani para penjajah. Doa yang dirapalnya tidak berhenti pada kata yang terbang ke langit, tetapi menjelma menjadi kekuatan yang membakar dada-dada para muridnya agar tegak menghadapi penindasan.

 

Syekh Abdul Karim al-Bantani adalah contoh nyata bahwa tarekat bukan sekadar jalan menuju Tuhan dalam ruang-ruang privat, melainkan juga energi kolektif yang menggerakkan umat. Majelis dzikir yang dipimpinnya di Banten, Makkah, dan berbagai tempat, bukan hanya ruang perenungan batin, melainkan juga kawah candradimuka tempat umat belajar solidaritas, keberanian, dan tekad perlawanan.

 

Dari sana lahir murid-murid yang kemudian menjadi ujung tombak peristiwa besar seperti Geger Cilegon 1888, sebuah letupan amarah rakyat yang telah lama terpendam di bawah cengkeraman kolonial. Murid-muridnya seperti KH. Wasid, KH. Tubagus Ismail, dan Haji Sangadeli bangkit menggerakkan perlawanan, meski pemberontakan itu akhirnya dapat dipadamkan Belanda dengan kekerasan.

 

Para peneliti, seperti Martin van Bruinessen dan Azyumardi Azra, menyebut sosok semacam Syekh Abdul Karim al-Bantani sebagai simpul penting dalam jaringan ulama Nusantara di Makkah, yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menyemai benih kebangkitan. Ia menjadi bukti bahwa sufisme di Nusantara tidak pernah steril dari sejarah sosial, melainkan ikut menorehkan tinta dalam kitab perjuangan bangsa.

 

Selain meninggalkan jejak perjuangan, Syekh Abdul Karim al-Bantani juga menorehkan tinta ilmu. Salah satu karyanya yang masyhur adalah Risalah Silsilah al-Thariqatain al-Qadiriyyah wa al-Naqsyabandiyyah, disusun bersama Syekh Ibrahim Brumbung Demak. Karya ini melanjutkan spirit Fathul Arifin, catatan ceramah ruhani yang pertama kali dihimpun di Makkah pada 1295 H oleh Syekh Muhammad Ismail bin Abdurrahim, murid kesayangan Syekh Ahmad Khatib Sambas. Melalui karya-karya inilah, ia meletakkan batu fondasi penyebaran tarekat di bumi Nusantara.

 

Syekh Abdul Karim al-Bantani lahir sekitar tahun 1840 di Desa Lempuyang, Tanara, Serang. Ia tumbuh dalam keluarga yang darahnya berdenyut dengan tradisi keilmuan dan perjuangan. Garis keturunannya bersambung kepada Maulana Hasanuddin bin Syarif Hidayatullah, pendiri Kesultanan Banten sekaligus putra Sunan Gunung Jati. Sepupunya, Syekh Nawawi al-Bantani, kelak menjadi imam besar Masjidil Haram, simbol ulama kosmopolitan Nusantara. Dari mata air keluarga ini, Abdul Karim menyerap wibawa, kecerdasan, dan keteguhan hati.

 

Jalan ilmunya bermuara hingga ke tanah suci Makkah, pusat cahaya yang memanggil jiwa-jiwa pencari. Di sana, Syekh Abdul Karim al-Bantani menambatkan langkahnya pada seorang guru besar, Syekh Ahmad Khatib Sambas—pendiri tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyyah di Nusantara. Dari tangan sang mursyid agung itu ia memperoleh pengetahuan lahir dan juga rahasia batin yang menautkan syariat dengan hakikat, zikir dengan amal, keheningan dengan keberanian.

 

Dari gurunya itu, Syekh Abdul Karim al-Bantani mewarisi sanad ilmu dan amanah kepemimpinan tarekat, sebuah mata rantai rohani yang menghubungkan para salik di Nusantara dengan sumber mata air spiritualitas di Hijaz. Dengan begitu, Syekh Abdul Karim tidak hanya mengulang apa yang telah diajarkan, tetapi juga melanjutkan estafet tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyyah, meneguhkan dirinya sebagai penjaga dan penerus jalan sufi yang berakar kuat di bumi Arab sekaligus tumbuh subur di tanah airnya.

 

Hingga akhir hayatnya, ia memilih menetap di Makkah, menjaga lentera tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyyah. Tahun wafatnya hingga kini terselubung kabut sejarah, seakan Allah sengaja menyimpan rahasianya. Seusai kepergiannya, corak penyebaran tarekat itu di Indonesia tak lagi terpusat, melainkan berakar dalam banyak kepemimpinan lokal. Namun, jejak Syekh Abdul Karim al-Bantani tetap bercahaya. Dzikir dan wiridnya bergetar di desa-desa, menembus keheningan malam, mengisi jiwa ribuan pengikut.

 

Sepak terjang dan perjuangan Syekh Abdul Karim al-Bantani akan tetap hidup dalam ingatan banyak orang, terutama umat Islam Indonesia. Ia bukan sekadar mursyid yang menuntun dalam dzikir, melainkan penipu api jihad yang menjahit jalan tasawuf dengan keberanian melawan tirani. Namanya mungkin tak tercatat megah dalam dokumen kolonial, tetapi doa, darah, dan dzikirnya masih berdetak dalam denyut sejarah bangsa. Ia adalah pelita dalam malam panjang penjajahan, yang cahayanya masih menuntun kita hingga hari ini.

Kamis, 11 September 2025

Pintu Ketaatan, Pintu Penerimaan

Kamis, September 11, 2025 0

 


ربما فتح باب الطاعة وما فتح لك باب القبول, وربما قضى عليك بالذنب فكان سببا للوصول

 

"Barangkali Allah membukakan bagimu pintu ketaatan, namun belum membukakan pintu penerimaan. Dan barangkali Dia menetapkan atasmu sebuah dosa, yang justru menjadi sebab engkau sampai kepada-Nya."

 

— Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari, Al-Hikam

 

Pintu Ketaatan, Pintu Penerimaan

Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Sering kali manusia terperdaya oleh gemerlap amalnya sendiri. Kita merasa sudah berpuasa, bersedekah, berdoa, mendirikan solat ribuan rakaat, dan menunaikan berbagai bentuk ibadah, lalu hati kecil berbisik, “Aku pasti dekat dengan-Nya.”

 

Padahal, sebagaimana diingatkan oleh Ibnu ‘Athaillah al-Sakandari dalam Al Hikam, tidak setiap amal yang tampak sebagai ketaatan otomatis diterima di sisi Allah. Ada kalanya ibadah itu hanya menampilkan rupa lahiriah, sementara isinya rapuh, tergerus riya, kesombongan, atau rasa cukup pada diri.

 

Bayangkan seorang alim yang setiap hari menebarkan ilmu dari atas mimbar, disanjung banyak orang karena keluasan wawasannya. Namun, diam-diam dalam hatinya tumbuh perasaan lebih tinggi dari yang lain. Ia merasa paling suci, paling benar, dan paling dekat dengan Allah. Pada titik itulah, pintu ketaatan bisa tampak terbuka lebar, namun sesungguhnya pintu penerimaan justru terkunci rapat.

 

Sebaliknya, ada seorang hamba yang terjerat dosa. Berlumur debu kemaksiatan. Ia jatuh, lalu menangis sendirian, menanggung sesak penyesalan yang menghimpit dadanya. Dari keterpurukan itu, ia belajar rendah hati. Ia menemukan betapa manusia begitu rapuh dan betapa ia sangat bergantung pada Allah. Terkadang justru dari air mata tobat itu, pintu penerimaan terbuka luas, mengundang kasih sayang Ilahi.

 

Di sinilah letak paradoks agung kehidupan spiritual: sesuatu yang tampak mulia di mata manusia belum tentu bernilai di sisi Allah, dan sesuatu yang tampak hina di mata dunia bisa justru menjadi jalan menuju keselamatan.

 

Ketaatan, yang di mata lahiriah terhitung sebagai amal suci, tidak otomatis menghadirkan kedekatan dengan Sang Pencipta. Sebab, yang memberi ruh pada amal bukanlah gerak tubuh semata, melainkan sikap batin yang melandasinya. Bila sebuah ibadah diliputi rasa sombong, riya, atau perasaan diri paling suci, maka ibadah itu berubah menjadi dinding yang menutup jalan menuju Allah. Amal lahirnya ada, tetapi jiwanya sirna.

 

Sebaliknya, dosa yang tampak sebagai noda hitam dalam perjalanan hidup manusia tidak selalu membawa kebinasaan. Terkadang, justru dari keterjerembaban dalam dosa, lahirlah kesadaran akan rapuhnya diri. Dari kejatuhan itu, manusia belajar untuk menunduk, untuk menangis, untuk merasakan perihnya jauh dari Allah. Air mata penyesalan itulah yang menjadi hujan, membersihkan karat hati, lalu membuka pintu yang selama ini terkunci.

 

Karena itu, ukuran kedekatan dengan Allah bukanlah pada banyaknya amal yang ditumpuk atau sedikitnya dosa yang dilakukan, melainkan pada keadaan hati. Hati yang terjerat kesombongan, meski dikelilingi ketaatan, ibarat tanah subur yang tertutup batu keras—benih tidak akan pernah tumbuh. Tetapi hati yang luluh karena penyesalan, meski penuh luka oleh dosa, ibarat tanah kering yang menerima tetes hujan—dari situlah tumbuh tunas kehidupan baru.



Inilah paradoks yang sering dilupakan: bahwa Allah lebih dekat dengan hati yang hancur karena penyesalan daripada dengan hati yang membusung oleh kebanggaan atas amal. Sebab, Allah tidak melihat rupa dan perbuatan lahiriah manusia semata, melainkan menilai apa yang berdiam di dalam hati.

 

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menegaskan, “Dosa yang membuatmu rendah hati di hadapan Allah lebih berharga daripada ketaatan yang melahirkan kesombongan.” Sebuah ungkapan yang berpaut erat dengan hikmah Ibnu ‘Athaillah: nilai amal bukan hanya terletak pada bentuknya, melainkan pada ruh yang menghidupinya.

 

Kebanyakan manusia terlalu mencintai kebaikan dirinya sendiri hingga lupa pada kesalahan dan kerendahan diri sendiri. Dosa bisa menjadi luka, tetapi justru melalui luka itu seseorang menemukan jalan pulang menuju Allah. Kebaikan yang melahirkan kesombongan lebih berbahaya daripada dosa yang menyadarkan.

 

Kata-kata mutiara penuh hikmah dari Ibnu ‘Athaillah di atas menuntun kita pada keseimbangan batin: jangan terpedaya oleh tumpukan amal, dan jangan terhempas oleh dosa. Amal tanpa keikhlasan ibarat tubuh tanpa jiwa, sementara dosa yang ditingkahi tobat bisa menjadi tangga menuju kemurnian hati.

 

Hidup ini adalah perjalanan panjang melewati dua pintu: ketaatan dan penerimaan. Pintu pertama bisa tampak terbuka, namun tanpa yang kedua, kita tetap terhenti di ambang jalan. Maka jangan pernah berbangga pada amal, dan jangan pula berputus asa oleh dosa. Yang terpenting adalah hati yang terus merendah, senantiasa mengetuk pintu-Nya dengan penuh pengharapan.

 

Sebagaimana doa para arif: “Ya Allah, jangan Engkau tutup mata hati kami dengan ketaatan yang membuat kami angkuh, dan jangan pula Kau biarkan kami binasa oleh dosa yang menjerumuskan. Bukalah pintu penerimaan-Mu, agar perjalanan hidup kami berakhir dalam pelukan kasih-Mu.”

Nepokids, Perlawanan, dan Martabat yang Diperjuangkan

Kamis, September 11, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Nepal, negeri yang atapnya menyentuh langit, kerap tampak megah dari kejauhan—puncak-puncak Himalaya menjulang laksana baris puisi yang tak pernah runtuh, sementara lembahnya mengalirkan sungai seakan ayat purba yang terus dibacakan. Akan tetapi, di balik panorama yang memesona itu, bersemayam kenyataan getir: kemiskinan yang tak kunjung lepas, politik yang sering tersesat di lorong kuasa, dan generasi muda yang tumbuh dengan peluang serba rapuh.

 

Kathmandu, ibu kota Nepal, yang biasanya berdenyut dengan doa di kuil-kuil kuno, kini menjelma samudra manusia. Jalan-jalan yang dulu mengantar peziarah menuju stupa dan mandir, berubah menjadi panggung amarah: spanduk menjulang, slogan diserukan, dan teriakan rakyat bergemuruh, pecah seperti petir di lembah Himalaya.

 

Anak muda, aktivis, hingga rakyat jelata turun dengan dada yang terbakar. Kemarahan mereka bukan sekadar pada korupsi yang merajalela, melainkan pada sistem yang sejak lama dirasa pincang—panggung tempat segelintir elite menari di atas penderitaan rakyat, sementara anak-anak mereka, para Nepokids, menapaki jalan kuasa seolah tahta adalah warisan keluarga.

 

Nepotisme di Nepal tak lagi bersembunyi di balik kabar burung; ia tampil terang, bahkan dipamerkan tanpa malu. Rakyat menyaksikan bagaimana putra-putri para pemimpin besar—perdana menteri dan pejabat tinggi—dengan mudah memperoleh panggung politik. Dinasti yang berjalan seperti kerajaan lama, di mana darah lebih dipuja daripada kompetensi, silsilah lebih dihormati daripada jerih payah.

 

Di sinilah istilah global nepo baby dan nepo kids menemukan gema paling getirnya. Mula-mula hanya sindiran di dunia hiburan—anak aktor atau musisi yang bersinar karena bayangan orang tua mereka. Namun di Nepal, istilah itu menjadi pisau kritik: tanda bahwa kekuasaan diwariskan, sementara anak-anak muda yang cerdas dan berpendidikan harus puas menunggu di pintu yang tak pernah terbuka.

 

Di satu sisi, para Nepokids menari di pesta, memamerkan kemewahan di layar gawai. Di sisi lain, rakyat kecil menghitung recehan untuk beras, anak-anak berjalan jauh demi sekolah, dan generasi muda berteriak menuntut kesempatan yang adil.

 

Suara lantang Shree Gurung, seorang pemuda di tengah demonstrasi, menjadi gema generasinya: “Kami menuntut akuntabilitas. Kami menuntut penyelidikan. Kami menolak korupsi ini, kemewahan ini, dan anak-anak politisi yang menjadikan penderitaan kami sebagai panggung bagi gaya hidup mereka.” Suara itu berpadu dengan ribuan lainnya, menjelma simfoni kemarahan yang mengguncang jantung Kathmandu.

 

Namun, api protes berubah menjadi badai yang tak terbendung. Rumah-rumah pejabat dibakar, istri seorang mantan perdana menteri tewas, para menteri dipukul, bahkan ada yang ditelanjangi dan dikejar massa. Api bukan hanya membakar gedung-gedung, tapi juga kesabaran rakyat. Negara kini berada di bawah bayang-bayang militer, dengan puluhan nyawa sudah melayang. Sementara ratusan tubuh roboh dihantam senjata militer.

 

Nepal, negeri yang dulu dipuja karena ketenangan spiritualnya, kini menjelma panggung tragedi politik. Sebuah paradoks yang getir: puncaknya menyentuh langit, namun politiknya terperosok ke lumpur.

Pertanyaannya: apakah dari bara ini sebuah bangsa bisa lahir kembali? Ataukah amarah hanya akan melanggengkan siklus dendam dan dinasti?

 

Albert Camus dalam The Rebel pernah menulis, bahwa pemberontakan bukanlah kehendak untuk menghancurkan, melainkan seruan untuk hidup bermartabat. Kata-kata itu seakan menjelma nyata di jalan-jalan Kathmandu. Jeritan rakyat bukan sekadar murka, melainkan permintaan untuk hidup tanpa diperbudak dinasti, tanpa belenggu warisan kekuasaan.

 

Hannah Arendt, sang pemikir kebebasan, mengingatkan, bahwa kekuasaan lahir ketika manusia bertindak bersama, bukan ketika ia diwariskan. Ujian itu kini dihadapi Nepal—apakah kebersamaan rakyat bisa melahirkan tatanan baru, atau sekali lagi akan dilumpuhkan oleh militer dan dinasti yang enggan tumbang?

 

Tragedi Nepal adalah cermin dunia. Dinasti dan nepo kids hadir di banyak negeri, menutup jalan bagi mereka yang ingin bermimpi. Namun seperti Himalaya yang tetap tegak meski diguncang gempa, rakyat Nepal menunjukkan bahwa martabat tak pernah diwariskan; ia hanya bisa diperjuangkan.

 

Jalanan Kathmandu bukan lagi sekadar ruang protes. Ia menjelma altar, tempat rakyat berdoa dengan darah dan pekikan. Doa agar lahir dunia baru, di mana nama keluarga bukan tiket menuju singgasana, dan setiap anak bangsa punya hak yang sama untuk menulis masa depannya.

 

Dan di bawah bayangan Himalaya yang agung, rakyat Nepal sedang menulis puisi mereka sendiri—sebuah puisi tentang kebebasan, tentang keberanian, dan tentang cinta yang tak pernah padam pada tanah air.

Rabu, 10 September 2025

Cak Nur: Lilin Pembaruan dalam Gelapnya Zaman

Rabu, September 10, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Ibarat lilin yang menyinari gelapnya malam. Meski sinarnya tak bisa menerangi seluruh lorong kosong, tapi cahayanya mampu memberi arah bagi mereka yang mau pulang ke jalan yang terang.

 

Gagasan Pembaruan Islam Nurcholish Madjid (Cak Nur) seperti lilin. Terangnya baru menyusup ke sebagian kecil alam pikir manusia Indonesia. Dan di sebagian yang lain, gelap itu masih begitu pekat menyelimuti, terhalang dogmatisme agama yang mengangkangi nalar kritis kita.

 

Memang, tidak semua orang bisa mengikuti setiap seruan yang datang. Bahkan bila seruan itu diarahkan pada jalan kebenaran sekali pun, tetap saja akan masih ada yang menolaknya, bahkan mencibirnya sebagai yang aneh dan nyeleneh.

 

Namun demikian, sejarah selalu berpihak pada mereka yang berani menyalakan cahaya di tengah pekatnya malam. Cak Nur adalah penyalur nyala itu, penggerak ruh pembaruan, dan pengingat bahwa agama bukanlah bekuan dogma yang membatu, melainkan mata air yang senantiasa mengalir, menyuburkan tanah kehidupan.

 

Cak Nur mengingatkan umat bahwa ungkapan “Islam yes, partai Islam no” bukanlah sekadar jargon politik, melainkan sebuah kesadaran historis dan spiritual yang sejati. Ia ingin menegaskan bahwa Islam terlalu agung untuk dikecilkan dalam kotak sempit partai atau kendaraan politik praktis. Bagi Cak Nur, Islam adalah sumber nilai, inspirasi moral, dan energi transendental yang harus menjiwai seluruh denyut kehidupan bangsa.

 

Slogan itu lahir bukan untuk menolak peran Islam dalam ruang publik, melainkan untuk mengangkat martabat agama agar tidak jatuh menjadi alat rebutan kekuasaan yang fana. Dengan begitu, Islam tetap hadir sebagai cahaya yang memandu, bukan sebagai bendera yang diperebutkan; sebagai rumah bersama, bukan sekadar markas bagi segelintir orang yang haus kuasa.

 

Konon, Azyumardi Azra pernah menyebut Cak Nur sebagai “anak zaman” yang paling berhasil menangkap denyut modernitas tanpa kehilangan akar tradisi. Pembaruan yang ditawarkan Cak Nur bukanlah pemutusan tali sejarah, melainkan upaya menyalakan kembali suluh peradaban Islam yang pernah begitu gemilang.

 

Cak Nur adalah jembatan yang kokoh sekaligus lentur, yang menghubungkan Islam Indonesia dengan percakapan intelektual global. Dari riak pemikiran di kampung-kampung pesantren hingga pusaran wacana akademik dunia, ia hadir sebagai penghubung yang membuat Islam Nusantara tidak terjebak dalam lingkaran sempit lokalitas, tetapi juga tidak kehilangan akarnya yang membumi.

 

Ia mampu mengaitkan Timur Tengah dengan Indonesia, menghidupkan kembali warisan klasik sembari membuka pintu lebar terhadap tantangan modernitas. Ia menjadikan Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, dan al-Farabi akrab dalam ruang pikir mahasiswa Indonesia, tetapi pada saat yang sama memperkenalkan suara nyaring John Locke, Kant, atau Harvey Cox ke dalam percakapan keislaman di tanah air.

 

Cak Nur telah meninggalkan kita sejak 2005. Namun nyala lilinnya masih ada, menyala di ruang-ruang akademik, dalam percakapan publik, dan di hati mereka yang merindukan Islam yang sejuk dan mencerahkan. Tugas kita bukanlah mengkultuskan Cak Nur, tetapi meneruskan semangatnya, menghidupkan kembali gagasan-gagasannya, dan menyalakan api baru di tengah generasi yang haus arah.

 

Di titik ini, kita perlu menyadari bahwa setiap generasi memikul tugas untuk menjadi “penjaga api”. Bukan sekadar menyalin gagasan Cak Nur, melainkan merawat ruh pembaruan itu, menyesuaikannya dengan tantangan zaman. Karena, sebagaimana dikatakan Greg Barton, “modernisasi Islam ala Nurcholish Madjid adalah proyek yang belum selesai.” Ia adalah jalan panjang yang memerlukan keberanian, ketekunan, dan kejernihan visi.


Seperti lilin yang terus berpindah tangan, cahaya itu tak boleh padam. Ia harus dirawat, dijaga, dan diperbanyak. Sebab hanya dengan cara itulah, pembaruan pasca-Cak Nur akan terus hidup, tidak redup, bahkan semakin terang menyinari masa depan bangsa ini. 

Sabtu, 30 Agustus 2025

Affan, Camus, dan Pemberontakan Moral Rakyat

Sabtu, Agustus 30, 2025 0



Oleh Mohamad Asrori Mulky

 

Albert Camus, filsuf kelahiran Aljazair yang menulis dalam bahasa Prancis, pernah menegaskan dalam The Rebel: “I rebel—therefore we exist” [Aku memberontak, maka kita ada]. Pernyataan ini bukan sekadar semboyan, melainkan pengakuan eksistensial: bahwa pemberontakan adalah bahasa moral terakhir manusia, seruan yang lahir ketika martabat dan harga diri diinjak, ketika absurditas dan ketidakadilan menutup semua jalan.

 

Hari ini, kata-kata Camus itu seolah menemukan panggung baru di Indonesia. Jalan-jalan yang biasanya riuh oleh iklan dan lalu lintas kini dipenuhi teriakan, api, dan gas air mata. Di tengahnya, nama “Affan Kurniawan” bergema: seorang pemuda pengemudi ojek online, pulang yang tak pernah sampai, nyawa yang terputus di bawah roda kendaraan taktis aparat yang bringas.

 

Affan bukan sekadar korban. Ia menjelma simbol, mantra luka yang menyatukan duka rakyat. Kita mengenalnya dalam wajah-wajah kecil sehari-hari: pengantar makan siang, penjemput anak sekolah, pekerja yang menukar waktu dengan sebutir nasi. Ketika nyawa seperti itu melayang, rakyat tak hanya berduka—mereka merasa dikhianati. Sebab negara yang seharusnya menjadi pelindung justru menjelma bayangan yang menakutkan.

 

Maka, ketika massa turun ke jalan menyebut nama Affan untuk menyuarakan keadilan, itu bukan sekadar amarah buta. Ia adalah “an appeal to the essence of being”—seruan menuju hakikat keberadaan, kata Camus. Dalam setiap teriakan massa tersembunyi kerinduan: kerinduan akan republik yang berjiwa akan keadilan yang hilang.

 

Camus pernah menulis: “Real generosity toward the future lies in giving all to the present.” Maka, apa yang kita saksikan hari ini—jeritan massa, lautan manusia yang meluber di jalanan, dentuman amarah yang tak terbendung—bukanlah kebrutalan tanpa arah. Ia adalah kemurahan hati paling getir: pengorbanan rakyat hari ini agar anak-anak mereka kelak tak lagi mewarisi republik yang koyak, negeri yang terus dipasung oleh ketidakadilan.

 

Pemberontakan rakyat, dalam pandangan Camus, bukanlah kehancuran yang membabi buta. Ia adalah ikhtiar terakhir untuk menyelamatkan jiwa kehidupan bersama. Sebab republik yang menutup pintu keadilan, pada hakikatnya sedang menggali kuburnya sendiri. Republik semacam itu, kata Camus, bukanlah rumah masa depan—ia hanyalah reruntuhan yang menunggu saatnya ambruk.

 

Karena itulah ribuan massa hari ini tak hanya berteriak; mereka meraung. Gedung dewan tak hanya diserbu; ia dilalap api sebagai simbol dari nurani yang dikhianati. Nama Affan tak sekadar disebut; ia menjelma mantra kolektif, menggelegar di udara bersama asap ban yang terbakar. Semua itu bukanlah ledakan murka liar, melainkan penegasan keras: rakyat menuntut agar republik ini kembali berakar pada nurani, atau ia akan kehilangan makna keberadaannya sendiri.

 

Andai Camus masih berjalan di bumi hari ini, barangkali ia akan menundukkan wajahnya lalu berbisik: jangan salah baca kemarahan rakyat. Itu bukan ancaman, melainkan tanda bahwa bangsa ini masih menyimpan jiwa. Sebab yang lebih menakutkan dari rakyat yang marah adalah rakyat yang bungkam; yang lebih mematikan dari teriakan di jalan adalah keheningan yang pasrah, bangsa yang kehilangan asa.

 

Kematian Affan adalah garis api, titik tak kembali. Di sanalah sejarah memisahkan antara republik yang masih hidup dengan republik yang sudah membusuk. Amarah rakyat yang meledak hari ini bukan sekadar teriakan, melainkan jeritan moral terakhir, doa yang menggelegar agar negara ingat kembali tugas sucinya: bukan mencabut nyawa warganya, melainkan menjaga kehidupan mereka.

 

Camus pernah menulis bahwa setiap pemberontakan lahir dari kerinduan akan kepolosan. Kerinduan itulah yang kini menggelegar di jalanan negeri ini. Amarah rakyat bukan kehancuran, melainkan doa keras yang menghantam langit: tuntutan agar republik berhenti menutup pintu keadilan. Sebab keadilan bukan perhiasan yang bisa ditunda, ia adalah fondasi yang menentukan: apakah bangsa ini tumbuh sebagai rumah, atau runtuh sebagai puing.

 

Dan jika suara rakyat terus diabaikan, jangan salahkan siapa pun ketika republik ini roboh oleh luka yang ia goreskan pada tubuhnya sendiri. Tetapi bila jeritan itu didengar, bila nurani kembali dijadikan akar kebijakan, maka dari darah Affan akan lahir republik baru: republik yang tidak lagi menjadikan rakyat korban, melainkan menyalakan mereka sebagai jiwa. Republik yang kembali merawat keadilan—bukan sebagai jargon kosong—tetapi sebagai rumah terakhir bagi kita semua.