Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Sabtu, 18 Januari 2025

Menyelamatkan Misi Profetik Agama

Sabtu, Januari 18, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Misi profetik agama-agama adalah membawa damai, cinta, dan welas asih. Begitulah sejatinya watak agama sejak pertama kali dititahkan Tuhan kepada para nabi-nabi suci terdahulu.

 

Tetapi, dalam seluruh perwujudannya di ruang publik yang menyejarah, agama sering ditempatkan pada lorong gelap peradaban. Segala bentuk kekerasan diatribusikan pada wajah agama. Agama dituduh sebagai peletup konflik dan pertikaian.

 

Dan yang paling dirugikan dengan sejumlah pemberitaan tentang kekacauan atas nama agama adalah Islam. Barat cenderung menghubungkan kekerasan agama pada Islam, meski kekerasan itu sebetulnya terjadi di mana-mana dan melibatkan semua agama.

 

Islam menjadi pihak yang tertuduh, kata Akbar S. Ahmed (Islam Under Siege: 2003). Serangan teroris di Amerika Serikat, 11 September 2001, kian menebalkan tuduhan itu, dan menambah pandangan negatif dalam alam pikiran penduduk dunia terhadap Islam.

 

Di tengah awan kelam yang menyelimuti wajah agama, Karen Asrmstrong, seorang mantan biarawati Katolik, memberi harapan dan optimisme tentang esensi agama yang ramah dan welas asih. Dalam Fields of Blood (2014) dia mendengungkan ajaran kasih yang dibawa agama seraya menyangkal segenap tuduhan yang diarahkan pada wajah agama.

 

Kalaupun agama, di suatu waktu dulu meletupkan konflik, itu karena, kata Armstrong, lebih disebabkan perannya telah diselewengkan oleh kekuatan sosial, ekonomi, dan politik untuk meraih tujuan-tujuan tertentu. Agama telah dipolitisasi, bahkan didikapitalisasi sedemikian rupa dengan cara keji dan menjijikan.

 

Apa yang pantas kita katakan terhadap sejumlah peristiwa berdarah yang mencabik martabat manusia seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Timur Tengah, Boko Haram di Afrika, Perang Salib, ekstremis Buddha dan Hindu di Myanmar dan India, selain perebutan kuasa atas lahan dan tanah berlatar politik.

 

Dalam buku ini, Arsmtrong menghubungkan kejadian-kejadian besar dalam sejarah dengan konteks lebih luas. Dia menunjukkan bagaimana konflik-konflik tersebut lebih dipengaruhi oleh perjuangan untuk kekuasaan, identitas, dan dominasi sosial daripada oleh motivasi keagamaan murni.

 

Fields of Blood mengajak para pembaca untuk mempertimbangkan kembali pandangan mereka tentang agama dan kekerasan. Dengan keahlian dan wawasan sejarahnya yang memadai, Arsmtrong menyajikan narasi yang mengajak kita untuk melihat agama bukan sebagai penyebab utama kekerasan, melainkan elemen yang sering dipolitisasi oleh kekuatan sosial dan politik tertentu.

 

Buku ini sangat cocok dan direkomendasikan bagi mereka yang tertarik pada studi agama, sejarah, dan konflik, serta bagi siapa saja yang ingin memahami hubungan yang lebih kompleks antara agama dan kekerasan dalam sejarah manusia. Salah satu aspek yang menarik dari buku ini adalah pendekatannya yang sangat historis. Membabar setiap peristiwa sejarah dengan begitu gamblang dan mendalam.

 

Armstrong tidak hanya membahas agama dalam konteks kontemporer, tetapi juga melibatkan pembaca dalam analisis sejarah yang luas, mengkaji peran agama dalam peradaban kuno, abad pertengahan, hingga dunia modern. Buku ini benar-benar memberi wawasan yang mendalam dan berbeda dari buku-buku lain yang lebih fokus pada teori atau analisis sosial-politik semata.

 

Setelah membaca buku ini, ada semacam kelagaan yang lapang bahwa agama bukan seperti yang dituduhkan. Armstrong benar-benar telah membasuh muka agama dari noda hitam dengan kesejukan dan menyelamatkan misi profetik setiap agama sebagai pembawa kasih dan welas asih.

 

Selamat membaca!

Kamis, 09 Januari 2025

Dua Wajah Agama

Kamis, Januari 09, 2025 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Kehadiran agama di ruang publik tidak pernah sepi dari kritik dan persepsi negatif. Betapapun agama mewartakan kebenaran yang datang dari Tuhan melalui para nabi yang suci, tetap saja banyak pihak menuduhnya sebagai pembawa petaka dan kehancuran, bahkan sumber kekerasan.


Agama melahirkan dua wajah yang berbeda. Masing-masing memperlihatkan bentuk dan wataknya yang saling bertolak belakang: kadang jahat kadang baik, kadang berlumur darah kadang dipenuhi cahaya kasih. Semua bergantung pada pemahaman umat beragama. Wajah mana yang dipilih menentukan sikap dan ekspresi mereka pada agama yang dipeluknya.

 

Richard Dawkins dalam The God Delusion (2006) menuduh agama, khususnya tiga agama besar seperti Yahudi, Kristen dan Islam sebagai sumber kekerasan dan biang malapetaka. Kekerasan yang terjadi dalam sejarah umat manusia, dari dulu hingga kini, menurutnya, dapat ditelusuri akar persoalannya ke dalam ajaran dan dogma setiap agama.

 

Tuhan, dan agama dengan segenap ajarannya, menurut Dawkins, bukan sekedar ilusi tapi delusi. Yang dalam diskursus psikologi dimaknai sebagai gejala dari gangguan mental atau psikiatri, seperti skizofrenia atau gangguan delusional. Di mana seseorang mungkin memiliki keyakinan yang sangat kuat terhadap hal-hal yang tidak rasional dan ilmiah.

 

Kecurigaan terhadap agama juga diutarakan Rene Girard dalam Violence and the Sacred. Menurutnya, agama berfungsi sebagai sistem yang menjustifikasi kekerasan melalui ritual pengorbanan. Untuk mendukung pandangannya, Girard mengembangkan teori scapegoat (kambing-hitam) dan mimesis (tiruan).

 

Teori mimesis menjelaskan konflik dan kekerasan muncul karena manusia meniru keinginan orang lain—bukan sekedar meniru tindakan. Keinginan yang saling meniru itu akan menghasilkan persaingan dan ketegangan, hingga pada akhirnya melahirkan konflik dan kekerasan.

 

Teori scapegoat (kambing-hitam) menggambarkan bagaimana masyarakat mencari korban untuk mengalihkan dan menenangkan kekerasan. Untuk meredakan ketegangan sosial akibat kekerasan yang muncul dari persaingan mimesis, masyarakat sering kali memilih seseorang atau kelompok untuk disalahkan dan dikorbankan, yang disebut scapegoat atau "kambing hitam."

 

Menurut Girard, ritual pengorbanan hanya mengendalikan kekerasan untuk sementara waktu, dan yang sebetulnya terjadi adalah melegalkan kekerasan dalam rentang waktu yang cukup panjang. Banyak agama dan ritual tradisi kuno menggunakan pengorbanan untuk mengatasi masalah yang dihadapi manusia: tradisi qurban dalam Islam, penyaliban Yesus, dan pengorbanan manusia untuk kepentingan para dewa.

 

Darah yang ditumpahkan dalam setiap pengorbanan itu sudah cukup bagi Girard untuk membuktikan, dan kian menebalkan kecurigaannya pada pelestarian kekerasan dalam doktrin agama. Siklus kekerasan yang termanifestasikan dalam pengorbanan doktrin agama sulit untuk dipangkas, apalagi diakhiri.

 

Sementara itu, Christopher Hitchens, jurnalis dan penulis Inggris-Amerika, dalam God Is Not Great: How Religion Poisons Everything (2007), memberi catatan hitam pada agama. Hitchens menegaskan bahwa agama tidak sekedar penyebab kekerasan, tetapi juga berkontribusi pada banyak aspek buruk dalam sejarah manusia, termasuk penindasan perempuan, diskriminasi, dan terorisme yang belakangan menjadi isu global.

 

Hitchens berpandangan meski ada banyak tindakan kebajikan yang dilakukan individu beragama, institusi agama itu sendiri seringkali menindas kebebasan berpikir, memicu ketegangan sosial, dan mengorbankan kehidupan demi dogma yang tidak rasional. Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Timur Tengah, Boko Haram dan Lord’s Resistance Army di Afrika, Perang Salib yang melenyapkan banyak jiwa manusia, ekstremis Buddha dan Hindu di Myanmar dan India, kian menguatkan pandangan populer bahwa agama adalah sumber kekerasan dan konflik yang berdarah-darah.

Berbeda dengana pandangan para tokoh sebelumnya, Karen Armstrong justru memberi penilaian cukup positif terhadap peran agama di ruang publik. Dalam Fields of Blood: Religion and the History of Violence, dia memberi penjelasan historis mengenai relasi agama dan kekerasan. Kekerasan yang dilakukan atas nama agama, menurutnya, sering kali berkaitan dengan dinamika sosial, politik, dan ekonomi ketimbang ajaran agama.

 

Dalam buku tersebut, Armstrong menggali akar penyebab kekerasan yang terjadi dalam konteks agama, dengan memisahkan elemen-elemen yang berasal dari ajaran agama dengan kekerasan yang disebabkan oleh faktor eksternal, seperti politik dan ekonomi. Dia menunjukkan fakta bahwa banyak konflik yang dipandang sebagai "perang agama" sebenarnya memiliki dimensi politik yang lebih besar.

 

Agama yang sering disalahpahami, kata Armstrong, sebagaimana dia uraikan dalam The Case for God (2009), malah dapat menjadi sarana membangun perdamaian dan mengatasi perpecahan sosial. Agama bisa menjadi sumber perdamaian, cinta kasih, dan transformasi sosial menuju peradaban emas. Dalam arti lain, agama hadir untuk menentang perang, kebencian, dan bentuk kekerasan lain.

 

John D. Caputo dalam The Weakness of God: A Theology of the Event—diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Agama Cinta: Agama Masa Depan— meyakinkan semua umat beragama tentang cinta sebagai inti dari ajaran agama. Menurutnya, agama sejati adalah yang tidak menguasai, menekan dan memaksa orang lain, apalagi jadi biang konflik dan kekerasan.

 

Inilah yang oleh Ibn ‘Arabi disebut sebagai agama cinta: Cinta kepada-Nya adalah agama dan keyakinanku (فالحب ديني و إيماني) dalam Tarjumân al Asywâq. Agama yang tidak didasari pada tali kasih bukanlah agama yang sejati. Bila agama memecah-belah, menjadi sumber konflik dan kekerasan, apa guna kehadirannya di muka bumi ini???

Jumat, 03 Januari 2025

Kebenaran Berwajah Plural

Jumat, Januari 03, 2025 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Dalam beberapa abad yang silam penyair mistik terbesar sepanjang zaman, Maulana Rumi atau Jalaluddin Rumi, mengurai pokok-pokok pemikirannya dalam Divan-e Kebir, yang kemudian sering dikenal dengan The Great Divan of Rumi.


Dalam buku itu, di antara tema yang dibahas Rumi adalah mengenai kebenaran yang dipersepsi oleh setiap orang; kebenaran yang tak satu orang pun bisa menggapainya walau sekejap mata. Apalagi memperolehnya secara sempurna dan sepanjang masa.


“Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan terpecah berkeping-keping. Tiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.” Demikian Rumi mengibaratkan kebenaran laksana cermin yang jatuh terserak menjadi kepingan dan potongan-potongan kecil.


Manusia dan para pencari (kebenaran) hanya mampu memungut potongan kecil dari cermin kebenaran itu. Lalu kemudian, masing-masing akan memantulkan kebenaran dari cermin yang diperolehnya. Tentu saja sesuai kadar dan kapasitasnya.


Dalam wacana Filsafat Ilmu, kebenaran tidak tunggal. Justru beragam dan berwajah plural. Hal itu terjadi karena makna kebenaran didekati dari pelbagai perspektif dan sudut pandang yang berbeda.


Makna kebenaran bisa berkonotasi empiris ketika harus dijustifikasi dengan kenyataan aktual/faktual. Makna kebenaran bisa memiliki arti matematis dan logis, menyuguhkan wacana yang bersifat abstrak logis-matematis. Makna kebenaran juga bisa berarti pragmatis, ketika kita menuntut manfaat dan kegunaan praktis dalam kehidupan konkret sehari-hari.


Dalam perkembangannya, arti kebenaran pun tidak hanya berhenti di sana. Ada pula kebenaran performatif yang mengandung makna untuk melakukan sesuatu yang dititahkan oleh figur yang berwenang. Akhirnya, ada pula kebenaran konsensus yang berlaku dalam level kajian saintifik dan kebenaran konsensus dalam level diskursus sosial-politik.


Begitulah manusia. Kita hanya mampu menangkap sekeping kebenaran dari semesta kebenaran yang membentang di hadapan kita. Kita tidak pernah selesai dalam mencandra seluruh realitas yang hadir dalam kehidupan kita. Semua gagasan, wawasan, dan pengetahuan tentang seluruh fenomena kehidupan yang kita konstruksi merupakan konstruksi dari sudut pandang tertentu.


Lalu kita bertanya, adakah kebenaran objektif atau universal yang bisa diterima oleh semua orang?


Tentu saja kebenaran semacam itu ada. Namun ketika hal itu sudah bergumul dengan manusia yang terkurung dengan segala subjektivitasnya, maka makna kebenaran seperti yang dimaksud menjadi bersifat subjektif dan historis.


Apalagi kalau kita bicara makna kebenaran-kebenaran dalam wacana saintifik, kehidupan sosial, dan filsafat pengetahuan. Semuanya hanya mengkonstruksi sepotong makna kebenaran dalam konteksnya masing-masing untuk akhirnya saling bertegus sapa, saling mengkritik, saling mengisi, dan memperkaya makna kebenaran satu sama lain.

Selasa, 24 Desember 2024

Harapan di Tahun Yubileum

Selasa, Desember 24, 2024 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Perayaan Natal dan pergantian tahun 2024 kali ini begitu istimewa karena bertepatan dengan Tahun Yubileum. Umat Kristiani memaknainya sebagai tahun penyucian dosa dan pembebasan.

 

Dalam khotbah Misa Malam Natal di Basilika Santo Petrus, Paus Fransiskus menyampaikan pesan yang menggugah tentang hope, tentang sebuah harapan yang bernada dinamis dan optimis.

 

"Pengharapan tidak mati, pengharapan hidup dan memeluk hidup kita selamanya," ucapnya tegas. Harapan mesti dipahami seperti api semangat yang terus menyala dan dipastikan tidak pernah padam.

 

Meski kadang kita merasakan hidup ini begitu absurd seperti klaim Albert Camus dalam The Myth of Sisyphus, tetapi pencarian makna dalam dunia yang tampaknya tidak memiliki makna dan tujuan ini, harus tetap dilakukan.

 

Kita, kata Camus, harus menerima absurditas ini dan tetap memilih untuk hidup dengan penuh kesadaran dan keberanian, meskipun tidak ada jaminan akan adanya harapan atau tujuan yang lebih tinggi.

 

Natal mengajak seluruh umat manusia untuk melangkah bersama sebagai peziarah cahaya, membawa harapan bagi dunia yang gelap, yang masih dilanda perang dan persaingan global yang berdaya destruktif.

 

Perang yang terlanjur digelar di Palestina, dan di beberapa negara-negara Timur Tengah, telah menghancurkan tata dunia. Kemanusiaan hilang, empati sirna, yang tersisa adalah watak binal dari sifat manusia yang purba.

 

Sementara persoalan di “rumah bersama” kita yang bernama NKRI ini masih menumpuk. Mulai dari distribusi keadilan yang belum merata, pendidikan nasional yang masih tanpa arah, kemiskinan yang terus meningkat, penegakkan hukum yang tumpul, ekonomi yang timpang, hingga watak koruptif yang masih menguasai naluri para pemimpin kita.

 

Dalam nestapa keadaan seperti itu, Tahun Yubileum adalah momen untuk menemukan kembali harapan yang sejati, dan memperbarui komitmen kita sebagai pembawa damai dan kasih Tuhan bagi dunia yang dilanda ketidakpastian. Tahun (Yubileum) yang memberi harapan tentang pembebasan yang dicita-citakan umat manusia.


Kamis, 19 Desember 2024

Membedah Sejarah Tuhan

Kamis, Desember 19, 2024 0

 

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Tuhan tidak punya sejarah. Sebab Dia tidak terikat dengan ruang dan waktu. Dia bukan ini, juga bukan itu. Tidak di sini, juga tidak di sana. Dia melampaui semuanya. Seluruhnya.


Dan karena itu, yang dimaksud dengan Sejarah Tuhan (History of God) dalam karya ‘keren’ Karen Armstrong, adalah Tuhan yang dapat dipahami, dimengerti, dan dipirkan oleh manusia.


Sejak dulu hingga kini, dan bahkan pada masa yang akan datang nanti, Tuhan hanya bisa dihampiri melalui apa yang dapat dipersepsi manusia.Sejarah Tuhan melacak sejarah persepsi dan pengalaman umat manusia tentang Tuhan.

 

Begitulah Tuhan, yang menurut Ibn‘Arabi disebut al Illah fi al Ma’rifah (Tuhan dalam Pengetahuan Manusia). Sementara Tuhan yang Hakiki nan Sejati, melampaui semua definisi dan kategori. Nirguna (tanpa sifat), Nirakara (tanpa bentuk), menurut doktrin Advaita Vedanta (Hindu).

 

Karen Armstrong menyadari pemahaman tentang Tuhan sedemikian kompleks, ruwet, berubah seiring perjalanan waktu. Mulai dari agama-agama politeistik yang menganggap Tuhan sebagai entitas yang bisa didekati secara langsung (imanen/tasybih), hingga monoteistik yang menjauhkan Tuhan dari manusia (transenden/tanzih).

 

Di masa lalu, tepatnya pada masa kanak-kanak saya dulu, saya memahmi Tuhan sebagai yang berwujud (berjenis) laki-laki, Maha Besar, yang kebesaran-Nya melampaui gambaran tubuh raksasa. Dia (Tuhan) mengangkangi bumi dan keseluruhan semesta ini. Kapan saja, sebisa Dia mau, mampu menghancurkannya dengan sekali injakan kaki-Nya.

 

Tetapi, seiring berjalan waktu, pengalaman, dan literatur yang saya dalami, pemahaman tentang Tuha seperti saya sebutkan, telah berubah.Tuhan begitu paradoks; Dia menampilkan diri-Nya sebagai Yang Awal sekaligus Yang Akhir; Yang Nampak sekaligus Yang Tersembunyi; Yang Jauh sekaligus Yang Dekat.

 

Karen Armstrong mengajak pembaca untuk memahami evolusi pemikiran tentang Tuhan dari zaman kuno hingga era modern. Terutama evolusi pemikiran komunitas tiga agama besar dunia; Yahudi, Kristen, dan Islam.

 

Buku ini menggabungkan studi sejarah, filsafat, dan teologi untuk memberikan perspektif yang komprehensif mengenai bagaimana berbagai peradaban dan budaya memandang Tuhan. Buku ini juga mengulas berbagai konflik dan perbedaan dalam pemikiran tentang Tuhan yang sering kali memicu perpecahan dan perang, namun juga memunculkan pencarian spiritual yang mendalam.

 

Selamat membaca!

Jumat, 22 November 2024

Al Ghazali dan Tafsir Esoterik Anjing

Jumat, November 22, 2024 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Masyarakat Islam Indonesia, bahkan dunia, memandang anjing masih dengan pandangan sinis. Anjing dianggap sebagai binatang menjijikan penuh najis, sehingga harus dijauhi, bila perlu dimusnahkan. Memeliharanya dianggap tabu dan dianggap telah menyimpang dari ajaran agama.


Tidak cukup sampai di situ, anjing dituduh penyebab terhalangnya malaikat masuk ke dalam rumah seseorang. Sehingga siapa saja yang memeliharanya di dalam rumah tidak akan mendapatkan rahmat Allah SWT. Penghuninya jauh dari keberkahan dan kemudahan dunia.


Tentu saja pandangan seperti di atas bukan tanpa dasar. Hujah yang mereka jadikan dasar adalah sebuah sabda dari baginda Muhammad Saw, La Tadkhulu al Malaikah Baitan fihi Kalbun (لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب), yang bila diterjemahkan secara bebas berarti: “malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah seseorang membawa berkah selama di dalamnya ada anjing”.


Kebanyakan ulama memahami hadist tersebut secara tekstual. Mereka mengambil makna zahirnya saja sebagaimana pengertian harfiahnya atau skripturalnya. Model tafsir yang ditempuh semacam itu sah-sah saja, sebab secara metodologis bisa dibenarkan.


Tetapi untuk memperoleh makna yang dikehendaki tidak cukup hanya mengandalkan pada apa yang tertulis, pada kata yang tersusun rangkaian huruf. Sebab teks, kata Nasr Hamid Abu Zaed, bukanlah satu-satunya medium memperoleh makna. Perlu upaya penyingkapan. Sebab makna biasanya tersembunyi di balik teks.


Atas dasar pemikiran tersebut, mari kita simak seperti apa Hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali atau biasa dipanggil Imam Al Ghazali menafsirkan hadis yang sudah disebutkan di bagian terdahulu.


Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali memberi penjelasan berbeda dari pemahaman ulama pada umumnya. Menurut Imam Al Ghazali, “rumah” (بيت) tidak selalu dipahami sebagai ruang secara fisik. Rumah dapat bermakna ruang batin atau ruang secara spiritual.


Demikian juga anjing. Anjing tidak selalu diartikan secara harfiah sebagai hewan peliharaan yang kita kenal. Anjing dapat bermakna simbolis yang berarti sifat-sifat tercela manusia yang mengotori batin atau ruang spiritual manusia. Oleh karena itu, kata Imam Al-Ghazali, ruang yang perlu dibersihkan dan disucikan adalah rumah secara spiritual yang tidak lain adalah batin manusia dari segala sifat-sifat tercela. Kebersihan batin ini yang menentukan kesediaan malaikat pembawa rahmat, ilmu, kearifan, dan segala bentuk kebaikan untuk singgah dan tinggal di dalamnya.


 والقلب بيت هو منزل الملائكة ومهبط أثرهم ومحل استقرارهم والصفات الرديئة مثل والغضب والشهوة والحقد والحسد والكبر والعجب وأخواتها كلاب نابحة فأنى تدخله الملائكة وهو مشحون بالكلاب ونور العلم لا يقذفه الله تعالى في القلب إلا بواسطة الملائكة

Artinya, “Batin merupakan rumah, yaitu tempat malaikat dan tempat singgah jejak mereka, dan tempat tetap mereka. Sedangkan akhlak tercela seperti marah, syahwat, dengki, hasud, sombong, ujub, dan penyakit hati sejenis merupakan anjing yang mengonggong. Bagaimana malaikat hendak masuk ke dalamnya. Sedangkan rumah itu dipenuhi anjing. Sementara cahaya ilmu tidak dimasukkan oleh Allah ke dalam batin seseorang kecuali dengan perantara malaikat,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz I, halaman 68).


Singkatnya, selama rumah batin seseorang yaitu rumah spiritual atau hati didiami sifat kebinatangan seperti karakter anjing yang rakus, tamak, mudah terprovokasi, gemar mencari musuh, suka mengusik ketenangan, dan lain-lain, maka cahaya Tuhan dan malaikat sulit untuk masuk ke dalam hati. Hadis ini mengajarkan kepada kita tentang bagaimana seharusnya kita membersihkan hati dari segala sifat yang tercela seperti yang dimiliki anjing.


Mengakhiri pembahasan ini, saya kutipkan penjelasan al Ghazali dalam Misykat al Anwar. Dia menjelaskan:


ليس الظاهر مرادا بل المراد تخلية بيت القلب عن كلب الغضب لأنه يمنع المعرفة التي هي من أنوار الملائكة

"Larangan itu tidak dimaksudkan secara lahiriah, tapi yang dimaksudkan ialah ‘mengosongkan rumah-rumah kalbu dari anjing kemurkaan’, sebab dialah yang meghalangi masuknya makrifat yang berasal dari cahaya-cahaya malaikat”.

 

 

Kamis, 21 November 2024

Nabi Muhammad Dua Kali Patah Hati

Kamis, November 21, 2024 0


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Dalam sejarah Islam, bahkan dunia, Nabi Muhammad adalah tokoh yang tidak bisa dipinggirkan dalam panggung sejarah peradaban umat manusia. Michael H. Hart dalam The 100 A Ranking Of The Influential Persons In The History, menempatkannya pada urutan pertama mendahului tokoh-tokoh dunia sebelum Albert Einstein, Isaac Newton, Nabi Isa, Budha, dan tokoh besar lainnya.

 

Tapi siapa sangka di balik kebesaran nama dan kemegahan kontribusinya terhadap Islam dan peradaban manusia, Nabi Muhammad pernah mengalami patah hati. Wanita yang dicintainya tidak menyambut uluran tangannya. Nabi patah hati, bahkan sampai dua kali.

 

Peristiwa itu, kata Martin Lings, tidak membuat Nabi Muhammad larut bersedih. Dia menyadari ada lelaki yang lebih berhak karena lebih dulu meminang wanita pujaannya itu. Dia adalah Hubayroh, sosok yang baik perangainya, kaya, terhormat, dan penyair berbakat.

 

Hubayroh adalah putra saudara ibu Abu Thalib yang berasal dari Bani Makhzum. Kala itu, kekuasaan Bani Makhzum semakin meningkat di saat kekuasaan Bani Hasyim kian merosot. Lantas, siapakah wanita yang berani menolak cinta Nabi Muhammad itu?

 

Dalam buku Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, yang ditulis Marting Lings, menyebutkan, wanita itu bernama Fakhitah, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ummu Hani, putri Abu Thalib, pamah Nabi sendiri.

 

Karena cintanya yang mendalam kepada Ummu Hani, Nabi Muhammad di suatu waktu pernah mengutarakan perasaannya itu kepada sang paman untuk menjadikan putrinya sebagai istri. Tapi apa boleh dikata. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Abu Thalib lebih memilih Hubayroh ketimbang memberikan putrinya kepada Nabi.

 

Cinta Nabi Muhammad kepada Ummu Hani ternyata begitu besar. Tidak mudah bagi Nabi mengeluarkan Ummu Hani dari perasaan hatinya. Meski bulan berganti tahun, perasaan itu masih melekat di hati sang nabi. Tepatnya, saat peristiwa pembebasan Kota Makkah (Fathul Makkah), Nabi sempat bertemu Ummu Hani setelah sekian lama berpisah.

 

Dalam peristiwa pembebasan Kota Makkah banyak kaum Quraisy memilih selamat dengan masuk Islam. Sementara Hubayroh, suami Ummu Hanni, memilih kabur ke Yaman dalam keadaan masih memeluk agama nenek moyangnya yang menyembah berhala.

 

Mengetahui Hubayroh meninggalkan Ummu Hani dan beberapa anaknya, Nabi Muhammad merasa iba dan kasihan. Pada saat itulah Nabi dikisahkan sempat mau melamarnya kembali. Sayang, lamaran Nabi ditolak untuk kedua kali. Pinangan Nabi yang kedua ini dimaksudkan untuk menghibur Ummu Hani yang sudah menua dan ditinggal pergi sang suami.

 

Ummu Hani adalah kakak dari Ali bin Abi Thalib RA. Ayahnya bernama Abu Thalib, sedangkan ibunya Fatimah binti Asad. Dari Hubayroh, dia memiliki empat orang anak, di antaranya Amr, Ja’dah, Hani, dan Yusuf. Ummu Hani pertama kali mengucapkan dua kalimat syahadat kepada Rasulullah ketika terjadi penaklukan Makkah.


Ummu Hani terus hidup hingga tahun 50 Hijriyah. Namun, ia menyimpan duka yang mendalam hingga akhir hayatnya. Yaitu duka yang diakibatkan peristiwa terbunuhnya adik yang ia cintai, Ali bin Abi Thalib.