Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Sabtu, 14 Februari 2009

Wajah Pluralisme di Indonesia

Sabtu, Februari 14, 2009 0
dimuat di Koran Jakarta, Jum'at 13 Februari 2009

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.

Judul : Menegakan Pluralisme

Penulis : Mohamad Shofan

Penerbit : LSAF dan Ar-Ruzz Media

Cetakan : I, Desember 2008

Tebal : 484 Halaman


Dalam sejarah agama-agama, baik Yahudi, Kristen, dan juga Islam, pertentangan dan pertikaian di seputar tafsir keagamaan menjadi hal yang lumrah terjadi. Ironisnya, pertikaian yang terjadi antara dua belah pihak ini dalam catatan sejarah pemikiran Islam, khusunya, dan agama-agama lainya, pada umumnya, tidak selalu bersifat dialektis dan akomodatif, tapi lebih mengarah pada sikap kontradiktif dan monolitik.


Fenomena tersebut pada akhirnya sering melahirkan represi, kekerasan dan tragedi yang berdarah-darah, yang karenanya, menurut Adonis (Ali Ahmad Said), sisi ‘kemapanan’ (ats-tsâbit) lebih mendominasi sisi ‘perubahan’ (al-mutahawwil) dan dia selalu menjegal segala upaya yang dilakukan oleh kecenderungan gerakan kreatif dan dinamis.


Hingga saat ini, antara ‘kemapanan’ (ats-tsâbit) dan ‘perubahan’ (al-mutahawwil) selalu berebut peran dalam segala lini kehidupan, baik dalam bidang teologi, politik, budaya, hukum, bahkan bahasa dan sastra. Di Indonesia, dalam bidang politik misalnya, terdapat kelompok yang menginginkan terbentuknya negara berdasarkan demokrasi. Namun pada sisi lain, ada kelomok yang menginginkan terbentuknya sebuah negara Islam, yang berlandaskan pada syariat Islam atau khlafah.


Penggunaan istilah ‘kemapanan’ (ats-tsâbit) dan ‘perubahan’ (al-mutahawwil) oleh Adonis sesungguhnya ia ingin memetakan watak nalar masyarakat Islam ke dalam dua kategori, ‘nalar ekslusif’ dan ‘nalar inklusif’. Di mana satu sama lain saling berseberangan, memperlebar jarak, dan selalu membuat jurang pemisah yang begitu terjal hingga sulit untuk dijembatani dan didamaikan. Parahnya lagi tak jarang menimbulkan perang dan bentrok fisik lainya.


Melalui pemetaan nalar ke dalam nalar inklusif dan ekslusif di atas, dapat kita katakan, kasus pemecatan yang menimpa Moh. Shofan, Dosen tetap di Universitas Muhammadiyah Gresik—sebagaimana diuangkapkan dalam buku “Menegakan Pluralisme” ini—pada awal Februari 2007 lalu, terkait dengan salah satu tulisanya “Natal dan Pluralisme Agama” yang diterbitkan di media cetak, lebih mengarah pada pertarungan otoritas nalar, yang bisa saja diekspresikan ke dalam nalar ekslusif atau nalar inklusif.


Buku yang ditulis oleh Moh. Shofan ini merupakan refleksi atas kondisi umat Islam yang tidak mengekpresikan nilai-nilai pluralitas, inklusivitas, dan demokrasi. Dan Shofan dalam buku ini berusaha melawannya. Untuk mewujudkan perlawanannya itu, tak segan-segan Shofan mengkritik Muhamadiyah yang dalam prakteknya lebih merepresentasikan dirinya sebagai organisasi yang mengedepankan nalar ekslusif, ketimbang organisasi yang bernalar inklusif, dinamis, dan progresif.


Shofan sangat menyayangkan sikap yang dilakukan Muhammadiyah. Sebagai Ormas keagamaan yang mendapat perhatian besar dari beragam kalangan, sangat tidak bijak Muhammadiyah mengklaim Shofan karena tulisannya itu dengan sesat hingga berujung pada pemecatan dirinya. Hal ini tentunya, tidak saja telah memasung kreativitas seseorang untuk berpikir dan berpendapat, tapi juga telah melupakan peranya sendiri sebagai sebuah kelompok pembaharu yang mengidealkan nilai-nilai progresivitas dan modernitas. Padahal sejak semula, KH. Ahmad Dahlan, tokoh dan pendiri Muhammadiyah ini selalu mencita-citakan nilai-nilai tersebut. Namun hingga kini, dan dalam faktanya nilai-nilai itu terpasung dan bahkan terancam punah oleh para penerusnya yang lebih berpikiran ekslusif dan dogmatis.


Seharusnya, dalam lingkup akademik, sejatinya pluralitas dan keragaman itu harus senantiasa didukung dan diapresisasi, bukan dicerca dan dicibir begitu saja. Apalagi sampai melakukan tuduhan-tuduhan yang tidak mencerminkan sikap akademis. Karena itu, kehadiran buku ini layak diapresiasi dan dapat dijadikan pelajaran bagi ormas kegamaan lainya untuk bersikap arif, bijak, dan demokratis dalam menyikapi segala persoalan. Jangan sampai keputusan yang dikeluarkan bertentangan dengan nalar inklusif dan merusak demokrasi yang sedang kita bangun.

Sabtu, 31 Januari 2009

Emas Solusi di Masa Krisis

Sabtu, Januari 31, 2009 0

Dimuat di SINDO Minggu 1 Februari 2009


Oleh: Mohamad Asrori Mulky

Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta



Judul Buku : Investasi Emas

Penulis : Nofie Iman

Penerbit : Daras Books

Cetakan : I Januari 2009

Tebal : 182 halaman


Di tengah krisis global mendera perekonomian dunia, kita dituntut untuk mencari solusi yang terbaik dalam mengatasi krisis ekonomi global tersebut. Sebab, menempuh pilihan yang salah dalam menggunakan instrumen investasi akan berisiko pada merosotnya nilai aset di masa yang akan datang

.

Akibatnya, kita mengalami rugi besar. Krisis ekonomi global, khususnya yang terjadi di kawasan Asia ini, berawaldari krisis nilai tukar mata uang, yaitu ketika makin kuatnya nilai mata uang asing—khususnya dolar Amerika—terhadap mata uang domestik. Akibatnya, harga-harga meningkat secara berlipat karena struktur ekonomi Indonesia didominasi impor, baik bahan baku maupun barang jadi. Pada bidang jasa keuangan pun demikian.


Tingkat suku bunga meroket sehingga pada puncaknya pernah mencapai 90%. Dunia usaha macet, tingkat pengangguran semakin besar, inflasi meninggi, pertumbuhan negatif, dan seterusnya. Fenomena ini tentunya sangat memprihatinkan. Karena itu, investasi emas di masa krisis ini adalah solusi alternatif untuk mengatasi krisis finansial. Buku Investasi Emas yang ditulis Nofie Iman ini membantu kita untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dalam menggunakan emas, apalagi dalam konteks krisis ekonomi global.


Selain itu, buku ini juga membeberkan keutamaan investasi emas dibandingkan investasi konvensional seperti saham, obligasi, reksa dana, valuta asing, hingga properti. Fakta membuktikan, ternyata investasi konvensional tak mampu menahan gempuran krisis global. Berinvestasi dalam emas bisa menggunakan beberapa variasi media seperti emas batangan, koin emas, sertifikat emas, tabungan emas, reksa dana dengan underlying perusahaan pertambangan emas, maupun kontrak berjangka komoditi emas.


Menurut Nofie, sejak zaman dahulu, orang-orang telah menggunakan emas sebagai nilai tukar. Sebagai contoh, Alexander The Great mampu menyatukan Mediterania dari wilayah kecil Masedonia karena menggunakan koin perak, Julius Caesar menjadi ikon kejayaan Romawi karena menggunakan standar emas di negerinya. Begitu juga Napoleon Bonaparte menjadi emperor Prancis setelah menerapkan standar emas.


Keutamaan emas tidak saja dalam bentuk fisiknya yang elok dan menarik, tapi juga lonjakan harga logam yang satu ini bisa mendatangkan keuntungan yang luar biasa bagi pemiliknya. Nilainya cukup stabil bahkan terus menanjak hingga dianggap tak punya efek inflasi (zero inflation effect). Ada dua hal yang membuat logam mulia ini terus melonjak.


Pertama,menurunnya nilai mata uang flat karena anjloknya nilai dolar seperti yang terjadi sekarang. Kedua, kecilnya peluang mendapatkan keuntungan dari instrumen alternatif lainnya, seperti saham dan obligasi. Sejak 2001, harga emas naik begitu tajam melampaui (hampir) setiap mata uang di planet ini. Rubel Rusia, yuan China, real Brasil, maupun euro dan dolar, semuanya takluk di tangan emas.


Bahkan, sebagian dari mata uang tersebut telah mencapai titik terendah sepanjang sejarahnya.Meski demikian, masyarakat modern masih terjebak pada anggapan yang mengatakan bahwa emas itu adalah instrumen investasi yang buruk dan tak menguntungkan. Emas tidak memberikan bunga yang tinggi sebagaimana dalam investasi konvensional dan bahkan pertumbuhannya pundianggaplamban.


Sebuah analisis yang dirilis pada 2003 menyebutkan, pada 10–12 tahun mendatang harga emas akan mencapai USD 8.000 per troy ounce.Harga itu diperkirakan akan terjadi pada 2013–2015, sehingga bila pada 2007 seseorang menginvestasikan emas senilai Rp 200 juta, maka pada 2013–2015 kelak ia akan memiliki emas senilai Rp 2,2 miliar. Dengan kata lain, ia meraupuntung dari kenaikan harga yang mencapai 1.112 %.


Jika hal itu terjadi, dapat dipastikan tidak ada instrumen investasi yang bisa mengungguli keperkasaan dan ketangguhan nilainya,kecuali emas. Konsultan manajemen sekaligus motivator ternama, Tung Desem Waringin, sejak dulu hingga kini selalu optimistis bahwa emas merupakan investasi teraman dan paling menguntungkan bagi pemiliknya. Ketika kita membeli obligasi pemerintah, counter party risk melekat pada negara yang kita beli obligasinya.


Begitu pula ketika membeli saham, kita akan menerima risiko mampu tidaknya perusahaan tersebut memenuhi kewajibannya dalam membayar dividen. Sementara padae mas, tidak terikat pada perusahaan atau negara mana pun. Malah, emas akan menjadi bemper yang akan melindungi kekayaan kita dari pemerintah yang mencetak uang dengan seenaknya dan membuat uang fiat menjadi tak berguna.


Karena itu, pilihan terhadap investasi emas saat ini tetap dinilai paling menguntungkan dibandingkan opsi yang lain, mengingat sifatnya yang ”kebal” inflasi dan stabil. Buku ini memberikan informasi yang cukup mendasar bagi mereka yang ingin mengetahui lebih lanjut kegunaan dan fungsi emas.

Selasa, 20 Januari 2009

Mengukir Janji di Himalaya

Selasa, Januari 20, 2009 1
Dimuat di Majalah GATRA (15-21 Januari 2009)
Oleh Mohamad Asrori Mulky
Anggota International Interreligious Federation World and Peace, dan Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.

Judul Three Cups of Tea
Penulis Greg Mortenson & David Oliver Relin
Penerbit Hikmah, Jakarta
Cetakan I, September 2008
Tebal xvi + 629 Halaman

Walau gagal menaklukan puncak tertinggi di dunia, Greg Mortenson menunaikan janji membangun sekolah di pedalaman Utara Pakistan. Sebuah petualangan yang impresif.

Pada 1954, Sir Edmund Hillary berhasil menaklukan puncak gunung Everest bersama Tenzing Norgay. Berbeda dengan Norgay, Hillary memilih kembali ke Lembah Khumbu untuk menunaikan tugas kemanusiaan yang pernah ia janjikan: membangun sekolah bagi komunitas Sherpa, suku asal para pemandu andal dalam ekspedisi itu.

Hillary menulis buku ‘’Schoolhouse in the Clouds’’ (Sekolah di Atas Awan) pada 1964. buku ini bercerita tentang pahit getir pengalamannya selama proses pembangunan gedung sekolah itu. Ia harus melewati lembah yang terjal, jurang yang menganga, hamparan daratan yang luas, dan musim yang kurang bersahabat. Hillary menyadari, ternyata tugasnya lebih sulit daripada mendaki puncak Himalaya.

Pada 1993, Greg Mortenson, perawat asal Montana, Amerika Serikat mencoba menaklukkan puncak tertinggi sedunia, K2, di Himalaya. Ironisnya, tidak hanya gagal, Mortenson juga tersesat, mengalami keletihan kronis, bahkan kehilangan 15 kilogram bobot tubuhnya.

Setelah berjalan kaki tertatih-tatih turun gunung selama tujuh hari, Mortenson menuju Askole. Ia malah tiba di Korphe, desa yang bahkan tak pernah dilihatnya di peta Karakoram. Di sanalah, di gubuk Haji Ali (Kepala suku Korphe), Mortenson dijamu dengan ramah, dirawat dengan penuh perhatian, dan dilayani bak tamu agung.

Majalah Gatra

Buku Three Cups of Tea ini merupakan kisah petualangan seru sekaligus kesaksian akan kekuatan semangat kemanusiaan dan keteguhan hati yang diperankan Mortenson. Sebuah kisah pemenuhan janji yang pernah ia torehkan kepada Haji Ali, yakni membangun gedung sekolah di Desa Korphe, Pakistan Utara. Dalam waktu satu dekade, Mortenson mampu membangun tak kurang dari 51 sekolah—terutama untuk anak-anak perempuan—di kawasan terluar dari daerah terlarang rezim Taliban itu. Hasil yang sangat luar biasa dan mengagumkan.

Bila kita bandingkan kisah Hillary dengan Schoolhouse in the Clouds­-nya dan Mortenson dengan Three Cups of Tea-nya, ternyata jalan yang ditempuh Hillary jauh lebih mudah ketimbang Mortenson. Hillary tidak begitu banyak mendapatkan kesulitan dalam proses pembangunan gedung sekolah di lembah Khumbu. Begitu juga dalam penggalangan dana. Ketika Hillary mengajukan bantuan dana kepada perusahaan-perusahaan donor terkemuka, mereka malah berebut untuk bisa mensponsori ‘’Ekspedisi Gedung Sekolah Himalaya’’ milik Hillary.

Sebagai catatan, pada 1963, World Book Encyclopedia menyuplai Hillary dengan dana sejumlah US$ 52.000. Tak hanya itu, Sears Roebuck, yang baru-baru ini mulai menjual tenda dan kantong tidur merek Sir Edmund Hillary, menyediakan pakaian untuk seluruh anggota ekspedisi dan mengirim kru untuk merekam semua kegiatan Hillary. Setelah menaklukkan puncak Everest, Hillary pun jadi salah orang terkenal.

Sedangkan Mortenson tidak hanya gagal menaklukkan puncak K2. Ketika kembali ke Amerika, ia dalam keadaan bangkrut karena harta yang ia miliki ludes untuk kepentingan pendakian. Bahkan hubunganya dengan sang istri, Mariana sempat retak. Mengenai dana, dari 580 surat permohonan yang ia kirim, hanya satu yang mendapat jawaban. Itu pun dari Tom Brokaw, teman Mortenson di University of South Dakota. Brokaw mengirimkan cek senilai US$ 100 beserta surat yang isinya doa untuk keberhasilan Mortenson.

Three Cups of Tea tidak seperti Schoolhouse in the Clouds. Buku yang ditulis David Oliver Relin, penulis yang mendampingi Mortenson di lembah Khumbu ketika membangun gedung sekolah, tidak sekadar menyajikan petualangan Mortenson dalam pembangunan sekolah, melainkan juga menyuguhkan kisah-kisah menarik lainya. Termasuk pengalaman perhadapan dengan sekelompok ulama radikal Taliban yang merekrut anak-anak untuk dijadikan pengikutnya.

Karya ini terhitung sebagai buku terlaris versi New York Times selama 74 pekan sejak diterbitkan pada akhir 2007. Penerjemahan buku ini oleh penerbit Hikmah diharapkan memberi inspirasi bagi bangsa kita, betapa tekad bulat dan keinginan tulus akan berbuah manis, meski harus menghadapi berbagai rintangan. Juga pendidikan, terutama dalam memerangi terorisme dan radikalisme agama, yang pada konteks sekarang terjadi di mana-mana.

Jumat, 02 Januari 2009

Raja Abdullah Kumandangkan Dialog Agama

Jumat, Januari 02, 2009 0

Dimuat di Suara Karya, 30 Desember 2008


Oleh Mohamad Asrori Mulky

Penulis adalah Analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina, Jakarta


Raja Abdullah bin Abdul Azis dari Arab Saudi belakangan ini sedang dalam sorotan publik dunia. Dialog antar agama yang ia prakarsai di Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, 12-13/11 yang lalu, mendapat sambutan baik dari berbagai kalangan.


Tak tanggung-tanggung, acara tersebut dihadiri para pemimpin dunia, antara lain, Presiden Amerika Serikat George Walker Bush, Presiden Pakistan Asif Ali Zardari, Presiden Afghanistan Hamid Kharzai, Perdana Menteri Inggris Gordon Brown, Raja Yordania Abdullah II, Presiden Israel Shimon Peres, mantan Perdana Menteri Prancis Alain Juppe, Perdana Menteri Palestina Salam Fayyad, dan para diplomat PBB dari 80 negara.


Langkah maju Raja Abdullah ini tidak saja bertujuan mempersatukan umat beragama yang hingga kini dalam kondisi retak, tapi juga menyelesaikan konflik sepanjang masa di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Palestina dan Israel.


Sejak Israel menduduki tanah rakyat Palestina konflik dan ketegangan di kawasan tersebut tak pernah padam. Karena itu, Raja Abdullah mengajukan proposal yang isinya seruan agar Israel segera mundur dari seluruh wilayah yang mereka duduki sejak perang berkecamuk tahun 1967.


Sebenarnya, proposal Abdullah ini sudah pernah diajukan enam tahun yang lalu, namun hingga kini proposal tersebut tidak pernah mendapatkan tanggapan serius dari pihak Israel dan sekutu-sekutunya. Pihak Israel malah mengklaim bahwa seluruh tanah Yerusalem (dari Barat hingga Timur) merupakan hak sah bangsa Israel yang telah diberikan Tuhan kepada mereka. Untuk melegalkan aksinya, mereka mengambil legitimasi dari kitab suci mereka.


Untuk pertama kali ini dalam sejarahnya, pemimpin Arab Saudi Abdullah bin Abdul Azis dan Presiden Israel Shimon Peres, keduanya berada dalam satu ruangan pertemuan membahas masa depan Timur Tengah dan kelangsungan umat beragama. Dalam pidatonya, Presiden Israel Shimon Peres memuji ikhtiar Raja Abdullah dalam mendukung dialog umat beragama.


Dialog agama yang diselenggarakan di gedung PBB ini diharapkan dapat meningkatkan peran agama-agama yang ada di dunia, yaitu menghentikan tindak kekerasan terorisme yang makin menjadi-jadi. Terkait dengan isu terorisme, pemerintah Arab Saudi telah menangkap tidak kurang dari 1.000 aktivis di Arab Saudi, yang dituduh mempunyai kaitan dengan gerakan teroris.


Langkah konkret penguasa Arab Saudi Raja Abdullah itu ingin membuktikan kepada umat dunia bahwa dirinya tidak akan memberikan ruang bebas bagi kaum 'teroris'. Sebab, aksi teror dengan mengatasnamakan agama tidak saja telah melukai dan menghilangkan nyawa manusia, tapi juga telah mencederai dan mengotori misi profetik agama itu sendiri sebagai pembawa kedamaian dan kesejahteraan.


Berulang kali para nabi menegaskan bahwa misi mereka adalah untuk kedamaian, bukan menciptakan ketegangan dan kekacauan antarumar beragama. Perbedaan syariat yang dibawa oleh para nabi- Nabi Musa dengan syariat Yahudi, Isa dengan syariat Kristen, dan Muhammad dengan syariat Islam seharusnya tidak dijadikan alasan bagi umat beragama untuk saling memusuhi dan mengklaim dirinya paling benar.


Klaim kebenaran akan memperlakukan umat di luar dirinya sebagai umat yang harus dibinasakan. Sikap seperti ini harus ditinggalkan jauh-jauh dengan cara memandang pemeluk agama lain sebagai saudara seagama, yang bila kita runut berakar pada diri Nabi Ibrahim. Umat Yahudi, Kristen, dan Islam semuanya berasal dari keturunan Nabi Ibrahim. Dari Nabi Ibrahim inilah kemudian Yahudi, Kristen, dan Islam muncul.


Atas landasan seperti inilah, Raja Abdullah berkeyakinan, bahwa umat beragama yang dalam kondisi mengkhawatirkan ini dapat dipersatukan dan saling menghagai satu sama lain. Permusuhan dan ketegangan yang selama ini terjadi antara ketiga agama tersebut disebabkan, kata Raja Abdullah, karena satu sama lain tidak mengetahui sejarah bagaimana ketiga agama itu lahir, dan dari mana berasal. Umat beragama harus sudah mengetahui bahwa kita sesungguhnya bersaudara, satu keturunan, dan satu tujuan.


Sebagai raja di negeri para nabi, Raja Abdullah memiliki tanggung jawab yang teramat berat, yaitu menciptakan kerukunan dan kedamaian bagi umat beragama di dunia. Sebab, Nabi Muhammad pada beberapa abad silam telah melakukan hal tersebut di tanah umat Islam itu.


Sebagai kota suci dan rujukan bagi umat Islam di seluruh dunia, Arab Saudi harus memberikan contoh yang baik dalam berinteraksi dengan umat yang berbeda agama. Karena hubungan yang tidak harmonis antar umat, tak jarang sering melahirkan ketegangan dan kekerasan.


Baru-baru ini warga Muslim dibuat marah oleh pemuatan lagi kartun Nabi Muhammad SAW dan pembaptisan tokoh Muslim oleh Paus Benediktus XVI. Fenomena ini tentunya menjadi cambuk bagi Raja Abdullah untuk lebih giat lagi memberikan pemahaman kepada umat beragama agar senantiasa saling menghargai dan menghormati.


Jangan sampai fenomena pembuatan karikatur nabi memicu kekerasan antaragama. Dalam kasus ini, umat Islam harus menahan amarahnya, karena bisa jadi ini merupakan upaya profokatif dari pihak yang tidak menginginkan kedamaian antaragama terwujud. Begitu pula dengan pihak yang bersangkutan, hendaknya menghormati agama lain dan tidak menghina simbol-simbol agama yang bila dicederai akan menyulut api peperangan.


Akhirnya, dengan diselenggarakannya dialog agama di PBB, semoga dapat memberikan pemahaman kepada masing-masing pemeluk agama bahwa tanpa dialog keberadaan agama-agama di muka bumi ini akan rentan dari kekerasan. Untuk itu, apa yang dilakukan Raja Abdullah ini patut mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya, dan menjadikan ikhtiar suci ini sebagai langkah awal agar ke depan kita dapat melakukan hal yang sama.

Minggu, 21 Desember 2008

Catatan Hitam McCain

Minggu, Desember 21, 2008 0
Dimuat di Jawa Pos/Indo Pos, Minggu 21 Desember 2008
Oleh: Mohamad Asrori Mulky
Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta

Judul Buku : The Real McCain
Penulis : Cliff Schecter
Penerbit : Zahra, Jakarta
Edisi : I, Agustus 2008
Tebal : 218 halaman

Pada 4 November 2008 adalah hari paling bersejarah bagi rakyat Amerika Serikat (AS). Barack Obama, senator Illinois dari Partai Demokrat, terpilih sebagai presiden ke-44 Amerika, sekaligus presiden pertama dari kulit hitam. Kenyataan ini membuktikan tingkat kedewasaan dan kematangan rakyat Amerika, yang tidak lagi melihat perbedaan ras dan kelompok dalam menentukan pemimpin masa depannya.

Senator yang pernah tinggal di Menteng, Jakarta Pusat ini, dengan telak mengalahkan rivalnya, John McCain dari Partai Republik. Tak tanggung-tanggung Obama berhasil menyabet 349 suara elektoral, jauh melampaui syarat minimal untuk menang: 270 suara. Sedangkan rivalnya, McCain hanya mampu meraup 173 suara elektoral. Sungguh suara yang cukup jomplang.

Kini, dunia tengah menunggu langkah konkret dari Obama. Mereka berharap, ke depan dia dapat membawa perubahan yang cukup signifikan tidak hanya bagi negaranya, tapi juga bagi masyarakat dunia. Sebab, nasib dunia, saat ini bisa dikatakan, sangat bergantung pada kebijakan dan komitmennya, memberi berkah pada dunia --sesuai dengan nama Afrikanya, Barack yang berarti ''berkah''. Berkah bagi negaranya dan bagi warga dunia.

Kemenangan Obama atas McCain dalam pemilu yang lalu, bisa saja ditarik kesimpulan bahwa rakyat Amerika sepertinya sudah jenuh dengan model kepemimpinan yang diterapkan George W. Bush; suka berperang, arogan, egois, dan gemar membuat masalah. Akibatnya, McCain, sang veteran perang Vietnam, sekaligus anak didik Bush, harus rela ditinggalkan publik Amerika dalam pemilu kemarin, walaupun dalam sejarahnya ia pernah menorehkan tinta emas bagi negara adidaya itu.

Citra McCain di mata rakyat Amerika, bahkan dunia sekalipun, tak lebih sebagai monster baru dari gedung putih yang siap merongrong dan mengusik kedamaian dunia. Ia tak jauh berbeda dengan pendahulunya, Bush. Sebagaimana Bush, McCain akan selalu mengobarkan api peperangan di seluruh dunia, terutama di wilayah Timur Tengah sebagai target utamanya.

Pertanyaanya, benarkah John McCain memiliki kepribadian dan karakter yang banyak kemiripan dengan Bush?

Buku ''The Real McCain'' karya Cliff Schecter, konsultan dan komentator politik Amerika ini membeberkan sisi gelap dari senator Arizona ini. Dalam beberapa catatan disebutkan, jika McCain terpilih menjadi presiden Amerika, maka sudah dapat dipastikan dunia akan menghadapi kesulitan yang sama, bahkan boleh jadi lebih parah dari masa pemerintahan Bush. Politik pecah belah dan standar ganda yang sering diterapkan Bush, diprediksikan akan menjadi senjata utama McCain dalam hubungan diplomatiknya. Dengan begitu, setiap kebijakan luar negerinya akan selalu merugikan negara lain.

Dari beberapa kali tema kampanye yang diusungnya, secara terang-terangan McCain mengatakan bahwa perang melawan Irak dan Afghanistan adalah sebuah keniscayaan yang mesti dilakukan bangsa Amerika. Karena bagaimanapun, tegasnya, bila dua negara tersebut tidak ditumpas terlebih dahulu, keduanya akan menjadi penghalang bagi masa depan Amerika. Apalagi dua negara itu diyakini sebagai negara yang melegalkan aksi kekerasan dan terorisme global. Perang suci atau jihad adalah doktrin yang selalu digunakan mereka untuk melakukan teror dan ancaman di muka bumi ini.

Untuk menumpas terorisme global, dalam buku ini penulis menuturkan, McCain akan melakukan aksi segala cara meskipun harus mengorbankan nyawa manusia tak berdosa. McCain siap menggelontorkan dana yang cukup besar untuk menumpas teroris di muka bumi ini. Dan, cara yang paling ia sukai adalah menggunakan kekuatan militer sebagai senjata pemungkas.

Berlatar belakang militer dan pernah terlibat dalam beberapa perang penting di Vietnam, sudah cukup alasan bagi kita untuk menyimpulkan bahwa McCain sosok yang suka mengandalkan kekuatan militer, apalagi bertujuan untuk menumpas teroris.

McCain juga memiliki pandangan yang bias terhadap Islam. Ia selalu menyandingkan kata ''Islam'' dengan ''terorisme''. Baginya, Islam adalah agama satu-satunya yang merestui aksi kekerasan dan terorisme. Salah satu buktinya, kata dia, adalah serangan mengerikan 11 September yang meruntuhkan Word Trade Centre (WTC) dan Pentagon pada waktu yang hampir bersamaan.

Tragedi 11 September menyisakan ingatan pedih yang cukup mendalam bagi McCain. Mulai saat itulah ia membenci Islam dan selalu menyamakanya dengan teroris. Karena itu, baginya, Islam harus diperangi dan tak boleh berkembang. Sebaliknya, ia mendukung penuh berdirinya negara zionis Israel dengan ibu kota Yerussalem. Sebab, dengan berdirinya negara zionis di tanah Yerussalem, maka secara otomatis umat muslim yang berada di sana harus meninggalkan tempat tinggalnya.

Selain fakta mengerikan mengenai McCain, masih banyak lagi catatan hitam McCain yang diungkap dalam buku ini. Masa lalunya yang terbiasa dengan perang dan dunia militer, kehidupan pribadinya yang keras, juga rencana-rencana kabinetnya yang meneruskan kebijakan Bush. Dari segi ideologis, McCain merupakan karakter yang berubah-ubah. Ia bukan karakter yang moderat dan toleran. ''Ia adalah seorang konservatif sebelum menjadi seorang liberal, sebelum ia menjadi seorang konservatif lagi,'' kata Jacob Weisberg di majalah Slate.

Buku ini merupakan catatan kritis penulis yang membeberkan banyak fakta menakutkan tentang McCain berikut teror dan horornya. Ia adalah seorang petualang politik yang berbahaya bagi kedamaian dunia dan bagi kemanusiaan. Oleh karena itu, Joe Trippi, penulis The Revolution Will Not Be Televised, merekomendasikan buku ini untuk dibaca secara umum, khususnya bagi siapa yang ingin mengetahui seberapa bahayanya McCain jika ia terpilih sebagai presiden. Beruntung, ia takluk pada Barack Obama.

Ekonomi Islam Suatu Alternatif

Minggu, Desember 21, 2008 0

Dimuat di SINDO, Minggu, 14 Desember 2008


Oleh: Mohamad Asrori Mulky

Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.


Judul : Buku Induk Ekonomi Islam (Iqtishaduna)

Penulis : Muhammad Baqir Ash-Shadr

Penerbit : Zahra, Jakarta

Cetakan : I, Agustus 2008

Tebal : 598 Halaman


DI tengah krisis finansial yang melanda penjuru dunia,tak terkecuali Indonesia, sudah dipastikan bahwa kemiskinan, pengangguran, dan tindak kejahatan makin merajalela.


Pada saat itulah para ekonom, negarawan, dan cendekiawan berusaha mencari akar persoalannya untuk memulihkan kembali kondisi ekonomi di negaranya masing-masing. Sebab, selama ini ekonomi dianggap sebagai hal yang sangat fundamental bagi tegaknya sebuah bangsa,negara,danperadaban.


Segala aktivitas akan berhenti jika kondisi pertumbuhan ekonominya mengalami guncangan dan ketidakpastian. Kesimpulan sementara mengatakan bahwa penyebab utama dari munculnya krisis ekonomi di berbagai dunia adalah karena ekonomi kapitalis menggebrak dimensi kehidupan manusia. Sistem bunga yang menjadi ciri khas ekonomi kapitalis telah menciptakan keterjarakan sosial dalam masyarakat dunia.


Prinsip-prinsip kebebasan untuk memiliki harta secara pribadi, kebebasan ekonomi, dan persaingan bebas telah menguntungkan sebagian pihak dan merugikan pihak yang lain. Jurang pemisah antara kaum feodal dengan proletar makin menganga sehingga struktur sosial pun melebar. Melihat kenyataan seperti ini, sistem ekonomi Islam mulai dilirik sebagai suatu pilihan alternatif dan diharapkan mampu menjawab tantangan dunia di masa kini, esok, dan mendatang.


Buku Iqtishaduna (Induk Ekonomi Islam) karya Muhammad Baqir Shadr (MBS) ini menawarkan sebuah sisteme konomi Islam yang berdasarkan pada rasa ketuhanan dan kemanusiaan.Kedua nilai inilah secara mendasar yang membedakan antara ekonomi Islam dengan ekonomi kapitalis dan sosialis. Sebagai homo economicus, manusia dalam pandangan ekonomi Islam tidak diperkenankan untuk memperkaya dirinya dan meraup keuntungan yang berlebihan.


Tapi, harta yang ia miliki seluruhnya untuk tujuan spiritual dan sosial. Dalam buku ini, MBS menguraikan sistem dan ciriciri dasar dasar Islam, tanpa dipengaruhi para pemikir dan sarjana Barat yang cenderung berhaluan kapitalis dan materialis. Dalam ekonomi kapitalis dikatakan bahwa sumber-sumber alam yang tersedia di jagat raya ini sangat terbatas, sementara kebutuhan dan keinginan manusia tidak terbatas.


Dengan demikian, manusia bebas mengeruk kekayaan alam yang tersedia sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Cara pandang seperti ini jelas ditolak MBS. Baginya, ekonomi Islam, dengan berlandaskan ajaran agama Islam, membatasi hak milik seseorang dan tidak mengenal adanya sumber alam yang terbatas.


Keterbatasan bukan pada sumber alam yang telah Allah sediakan,melainkan manusia harus membatasi dirinya untuk tidak mengeksploitasi alam dengan segala keserakahannya. Sebab,Alquran sendiri dalam sebagian ayatnya menegaskan seperti ini, ”Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkanair hujandarilangit,….Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah,maka tidaklah kamu dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat ingkar.” (Q.S Ibrahim: 32–34).


Melalui ayat di atas, dapat dipahami bahwa ekonomi Islam tidak menyetujui pandangan kapitalis karena Islam sendiri mempertimbangkan bahwa alam semesta ini memiliki sumber-sumber kekayaan yang sangat melimpah ruah, yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia secara keseluruhan.


MBS lebih cenderung melihat masalah ekonomi itu pada aspek manusia sebagai pelaku ekonomi ketimbang ketersediaan alat pemuas kebutuhan yang terbatas versus keinginan/kebutuhan manusia yang tidak terbatas.Ketersediaan sumber daya alam yang melimpah ruah tidak akan dapat menyejahterakan rakyat jika manusia sebagai pelaku ekonomi tidak melestarikannya demi kepentingan bersama.


Pada titik inilah, MBS mengelompokkan ekonomi ke dalam dua bagian, yakni ‘’ilmu ekonomi’’ (science of economics) dan ‘’doktrin ekonomi’’ (doctrine of economics). Perbedaan yang tegas antara ekonomi Islam dengan ekonomi kapitalis terletak pada doktrin ekonomi, bukan pada ilmu ekonominya.


Doktrin ekonomi Islam memberikan ruh pemikiran dengan nilai-nilai Islam dan batas-batas syariah. Sementara ilmu ekonomi berisi alat-alat analisa ekonomi yang dapat digunakan dan dioperasikan. Ilmu ekonomi adalah segala teori atau hukum-hukum dasar yang menjelaskan perilaku- perilaku antar variabel ekonomi tanpa memasukan unsur norma ataupun tata aturan tertentu.


Adapun doktrin ekonomi adalah ilmu ekonomi murni yang memasukkan norma atau tata aturan tertentu sebagai variabel yang secara langsung atau tidak langsung ikut mempengaruhi fenomena ekonomi. Norma atau tata aturan tersebut berasal dari Allah yang meliputi batasan-batasan dalam melakukan kegiatan ekonomi.


Proses integrasi antara doktrin ekonomi ke dalam ilmu ekonomi murni disebabkan adanya pandangan bahwa kehidupan di dunia tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan di akhirat,semuanya harus seimbang karena dunia adalah sawah ladang akhirat.


Buku ini terasa lebih kaya dan mencerminkan konstruksi pemikiran ekonomi Islam seutuhnya jika dibandingkan dengan literatur ekonomi Islam yang ada, yang selama ini tereduksi pada praktik dan gagasan mengenai ekonomi syariah. Karya MBS ini berusaha untuk memaparkan persoalan secara lebihluas.


Selain berbicara mengenai dasar-dasar teologis normatif dari ekonom Islam, ia juga mendiskusikan soal produksi, distribusi, sirkulasi, jaminan sosial, pajak, batas kekayaan pribadi, dan juga posisi negara sebagai regulator.

Jumat, 12 Desember 2008

Rubaiyat, Misteri Tak Terlupakan

Jumat, Desember 12, 2008 0

Dimuat di Koran Jakarta, 13 Desember 2008

Oleh Mohamad Asrori Mulky
Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.

Judul Buku : Misteri Rubaiyat Omar Khayyam
Penulis : Amin Maalouf
Penerbit : Serambi, Jakarta
Edisi : I, Oktober 2008
Tebal : 514 halaman
Harga : Rp. 59.900


Omar Khayyam (1048-1131 M) adalah seorang penyair paling masyhur pada zamanya. Ia juga dikenal sebagai seorang filsuf, matematikawan, astronom, ilmuan dan ahli kedokteran. Sejak sajak empat baris-nya (kwatrin) atau ''Rubaiyat'' diterjemahkan untuk pertama kalinya ke dalam bahasa Inggris oleh Edwad J FitzGerald pada tahun 1859, Omar Khayyam menjadi buah bibir di kalangan masyarakat dunia dan meneguhkan dirinya sebagai pencipta Rubaiyat yang tangguh.


Namun demikian, naskah asli Rubaiyat yang ditulis langsung oleh tangan Omar dan menjadi kebanggaan semua orang, hingga kini keberadaanya masih misterius bersamaan dengan tenggelamnya kapal Titanic pada tanggal 14 malam 15 April 1912, di perairan sekitar Terre-Neuve, Samudra Atlantik. Sehingga menimbulkan pertanyaan mendalam bagi kita, apakah rubaiyat masih terselamatkan, sebagaimana ia (rubaiyat) juga pernah diduga hangus terbakar di perpustakaan benteng ''Alamut'' (benteng sekte pembunuh Hassan Sabbah) yang dibakar tentara Mongol? Atau memang karam tenggelam dengan ribuan korban manusia lainya dan belum ditemukan hingga kini?


Novel 'Misteri Rubaiyat Omar Khayyam" karya Amin Maalouf, sastrawan kelahiran Lebanon, yang diterbitkan oleh Penerbit Serambi ini mencoba mengisahkan kembali perjalanan panjang nan berliku sebuah karya agung Omar, Rubaiyat. Melaui novel ini, Amin seakan mengajak pembacanya untuk berkelana ke masa lalu, menembus batas ruang dan waktu dengan latar Timur Tengah, Daratan Persia dan kawasan Mediterania hingga benua Eropa, dari proses penulisan naskah Rubaiyat hingga terggelamnya kapal Titanic. Dibumbui kisah romantik antara Khayyam dengan Djahan dan Benjamin dengan Syirin, menjadikan novel ini menarik untuk diikuti hingga akhir cerita.


Dalam novel ini juga Amin Maalof menuturkan secara piawai perjalanan ketiga sahabat yang memiliki peran di zamanya masing-masing, yaitu; Omar Khayyam (ilmuan dan sastrawan), Nizamul Mulk (Wazir Agung Sultan Parsi), dan Hassan Sabbah (pemimpin sekte pembunuh, yaitu kaum Hashishin atau Assassin). Dengan dibarengi konflik, intrik politik, dan kepentingan, persahabatan ketiganya mengalami jatuh bangun. Konflik yang berujung pada dendam dan peperangan dialami oleh Wazir dengan Hassan, hingga Omar terpaksa harus menjadi penengah di antara keduanya. Dengan didukung pengikut masing-masing, keduanya saling menyerang, mengalahkan, dan membunuh.



Melalui narasi yang dituturkan oleh Benjamin O. Lesage, seorang orientalis dari Amerika Serikat dan dituliskan langsung oleh Amin Maalouf, novel ini juga berkisah tentang sebuah masa, di mana kebebasan berbicara dan berpendapat—termasuk mengucapkan sajak—sangat dibatasi oleh penguasa. Sebagai ilmuan, sastrawan, dan pemikir bebas (liberal), Omar sempat mendapatkan hukuman mati dari penguasa karena dituduh telah menantang Tuhan melalui syair-syairnya. "Jika Kau hukum dengan keburukan perbuatan buruk-ku, Kau dan aku apakah bedanya?" (Omar Khayyam, Rubaiyat).


Namun atas jasa Abu Taher, seorang Kadi dari Samarkand, Omar terbebas dari hukuman mati. Abu taher berpesan pada Omar; "Kita sedang hidup di zaman kerahasiaan dan ketakutan. Kau harus berwajah ganda, yang satu kau perlihatkan kepada orang banyak, yang lain hanya kepada dirimu sendiri dan Sang Pencipta. Jika kau tak mau kehilangan matamu, telingamu, dan lidahmu, lupakan kau punya mata, telinga dan lidah." (halaman 30).


Maka Abu Taher memberi Omar sebuah buku dengan 256 halaman yang masih kosong. Agar setiap tersirat di benak Omar sebuah sajak ia dapat menuliskanya dalam buku kosong tersebut dan merahasiakannya dari pengetahuan umum. Buku itulah kelak akan menjadi naskah asli Rubaiyat Omar Khayyam yang tersembunyi selama berabad-abad dan menjadi misteri hingga kini.


Sebagai sebuah roman sejarah, novel ini memiliki informasi yang layak untuk diketahui. Dalam membacanya, kita terasa diombang-ambing antara imajinasi atau fakta sejarah, sehingga kita tidak bisa membedakan mana yang benar-benar historis dan bukan historis. Namun, Amin Maalouf dengan kepiawaianya dalam bercerita mampu meramunya dengan cukup menarik dan bertaji. Pada titik inilah, "Misteri Rubaiyat Omar Khayyam" patut diapreasiasi sebagai novel petualangan dan kembara. Selamat membaca!

Sabtu, 29 November 2008

Melestarikan Dialog Umat Beragama

Sabtu, November 29, 2008 0

-->
Dimuat di Media Indonesia Jumat, 28 Nopember 2008

Oleh Mohamad Asrori Mulky,
Analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.

PARA pemimpin dunia, Rabu (12/11) dan Kamis (13/11) di Markas Besar PBB New York, menyerukan dialog umat beragama. Dialog agama yang diprakarsai Raja Abdullah bin Abdul Aziz dari Arab Saudi itu dihadiri 80 perwakilan negara-negara dunia. Semua peserta sepakat mendukung dialog umat agama, mengutuk kekerasan atas nama agama, dan menyerukan sikap toleransi pada pemeluk agama lain.

Munculnya radikalisme agama belakangan ini dengan segala bentuk dan manifestasinya telah menodai citra agama itu sendiri sebagai pembawa kedamaian bagi umat manusia. Karena itu, upaya dialog antaragama, sebagaimana yang diprakarsai Raja Abdullah, itu harus senantiasa dipelihara. Sebagai raja di tempat kelahiran para nabi, Raja Abdullah tentunya mengemban tanggung jawab cukup besar untuk mempersatukan umat beragama, seperti halnya Nabi Muhammad SAW pada beberapa abad silam.

Memang, semua agama, apapun dan bagaimanapun agamanya, memiliki potensi untuk menciptakan kekerasan dan bahkan pernah memiliki masa lalu yang cukup mengerikan (Abou el-Fadl, Great Theft, 2005).

Karena itu, fenomena kekerasan dan terorisme bisa muncul dari agama mana saja, bisa Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, dan Konghucu. Namun begitu, setiap pemeluk agama-agama meyakini inti ajaran agamanya adalah cinta dan perdamaian. Lalu bisakah kita meraih dan mempraktikkan cinta dan perdamaian itu dalam kehidupan beragama?

Di saat dunia disesaki ragam gejolak dan pertikaian yang dibungkus atas nama agama, umat beragama harus mencari solusi yang nantinya dapat menguntungkan masa depan umat dan agama itu sendiri. Salah satu jalan yang harus ditempuh adalah saling mengerti dan memahamiantarumat agama lainnya. Upaya itu perlu dilakukan dan jauh lebih bermakna daripada lebih mengedepankan konflik kekerasan dan menyimpan dendam masa lalu.

Media Indonesia
Saling Memahami
Sikap saling mengerti dan memahami antarumat beragama merupakan modal utama dalam menciptakan perdamaian dan memupuk kerukunan. Untuk itu, umat beragama sudah saatnya melihat agama lain bukan sebagai 'agama terorisme' atau agama yang menghalalkan kekerasan. Mereka harus memahami sebenar-benarnya bahwa kekerasan dalam terorisme bukanlah ajaran agama tertentu, melainkan suatu penyimpangan dan kesalahan yang cukup fatal. Tiap-tiap umat beragama harus berjiwa besar melihat agama lain sebagai saudara, bukan musuh yang harus diperangi.

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menyerang umat Kristen, dan tentu juga berlaku sebaliknya. Bila ada umat Islam yang menyakiti umat Kristen, begitu juga sebaliknya, itu dikarenakan mereka tidak memahami substansi dari ajaran agamanya sebagai cinta, kasih, dan perdamaian. Aksi kekerasan yang selama ini terjadi, baik di panggung dunia nasional maupun internasional tidak semata-mata disebabkan sentimen agama, tapi lebih pada persoalan kepentingan politik atau ekonomi yang kemudian melebar pada konflik agama.

Survei yang dilakukan Gallup, yang melibatkan John Esposito, pengkaji Islam tersohor dunia mengatakan bahwa kekerasan yang terjadi di belahan dunia bukan karena didasari sentimen agama, tapi didasari kepentingan dan tujuan politis. Maka dari itu, kita harus meluruskan pandangan yang salah mengenai hal tersebut. Agama pada dirinya tidak pernah melegalkan permusuhan, apalagi saling membunuh sesama manusia. Kendatipun ada pihak-pihak yang melakukan kekerasan dengan cara bom bunuh diri dengan mengatasnamakan agama, sesungguhnya si pelaku tidak memahami betul substansi agama yang dianut.

Untuk menghindari kecurigaan dan kesalahpahaman antaragama dan intraagama, dialog yang benar dan tulus serta saling memahami dan mengerti harus dilakukan. Dengan dilakukannya dialog dan saling memahami inilah akan tercipta dunia baru yang dilandasi nilai-nilai kesamaan, keadilan, dan kemanusiaan. Nilai-nilai itu harus dijadikan fokus dalam menciptakan keberagamaan yang otentik.

Selama ini sudah banyak pikiran dan tenaga yang tercurahkan demi tercapainya dialog, komunikasi, dan kerja sama antarumat beragama. Namun, ironisnya, dialog hanya dapat dilakukan pada tataran pemuka agama dan pejabat pemerintah, sedangkan dialog yang sehat tidak pernah terjadi dan menyentuh tataran bawah yang secara kultural masih awam dan secara struktural masih lemah.

Karena itu, apa yang dilakukan para pemimpin dunia di Markas Besar PBB sebaiknya juga dipraktikkan pada tataran bawah. Kemesraan dialog antarpara pemuka agama tidak cukup berhenti pada kepuasan personal semata. Namun lebih dari itu, mereka harus bisa menyampaikan pada masyarakat sesuai dengan bahasa mereka demi kepentingan bersama. Para pemuka agama harus memberikan pemahaman dan pendampingan pada masyarakat mengenai agama yang mereka anut. Jangan sampai masyarakat awam dibiarkan begitu saja, sebab sejauh ini kekerasan agama sering terjadi pada tataran bawah sebagai orang awam.

Membumikan Hasil Dialog
Dialog antaragama tidak boleh berhenti sebatas formalitas belaka, hanya kata-kata, dan berhenti di mulut. Pembumian dan pengontekstualisasian makna dialog harus menyentuh semangat dan rohnya. Di samping itu, pembumian makna dialog juga berarti bagaimana masyarakat bawah menerima cahaya kedamaian ini guna menjalankan kehidupan dalam suasana yang tenang tanpa ketakutan dan kecemasan.

Oleh karena itu, cara beragama kita mestinya tidak sekadar berwajah kesalehan individual, tetapi juga mengarah pada akhlak sosial (kesalehan sosial). Akhlak sosial, selain bermakna kepedulian di bidang ekonomi, juga kepedulian untuk tidak menghardik umat dari agama lain, memaksa mereka untuk mengikuti agama kita, dan menganggapnya sebagai musuh yang harus diperangi.

Jika agama dipahami sebagai penyapaan pada sesama manusia, alangkah indahnya dunia ini. Kebersamaan, kerukunan, dan solidaritas agama akan selalu kita temukan sehingga dalam tiap ibadat pun lebih dilandasi sikap hati yang tulus untuk memberi penghargaan terhadap martabat kemanusiaan dan kebersamaan. Persembahan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha, misalnya, yang beberapa minggu lagi akan dirayakan umat Islam, bukan hal utama dalam beragama, tetapi pemihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan.

Untuk itulah dalam syariat Islam daging kurban harus didistribusikan kepada mereka yang berhak, dan tidak boleh untuk dikonsumsi sendiri oleh si empunya kurban karena itu akan mencederai makna kurban itu sendiri. Singkatnya, ibadah kurban tidak semata-mata ketundukan dan kepatuhan yang dipraktikkan Nabi Ibrahim pada sang Pencipta, tapi maknanya juga sebagai pengorbanan dan kerelaan untuk hidup bersama dan bermasyarakat.

Alangkah hinanya bila kita beribadah kepada Tuhan, sementara hati dan perilaku kita masih menindas dan tidak memedulikan nasib orang lain. Sebagai umat beragama kita harus menyucikan dunia dan membawanya kepada kedamaian abadi, menegakkan kemanusiaan dan keadilan yang bermoral. Karena itu, dialog umat beragama yang telah dilakukan di Markas Besar PBB harus senantiasa kita lakukan, dengan tidak lupa mendiskusikannya kembali kepada masyarakat awam yang tidak memahami betul hakikat ajaran agamanya.