Mohamad Asrori Mulky

ketika cahaya bintang mengintip bayang-bayang sinar rembulan, kuketuk jendela rahasia malam yang tergurat di dedaun nasib. dan aku tak pernah mengerti di mana letak titik yang pasti....

Senin, 18 Januari 2010

Membaca Skandal Bank Century

Senin, Januari 18, 2010 0
Dimuat di Koran Jakarta, Senin, 18 Januari 2010

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Aktivis Lembaga Studi Islam dan Kultur (LSIK) Ciputat

Judul Buku : Century Gate; Refleksi Ekonomi-Politik Skandal Bank Century

Penulis : Herdi Sahrasad

Penerbit : Freedom Foundation dan YIB (Yayasan Indonesia Baru)

Cetakan : I, Desember 2009

Tebal : xiv + 336 halaman


Dalam buku yang ditulis dengan gaya jurnalisme ini, Herdi Sahrasad mencoba mendedahkan dan meletakan duduk perkara soal kasus Bank Century yang hingga kini masih saja ramai diperbincangkan.


Kasus skandal Bank Century yang terus menggelinding ke sana kemari, mengingatkan kita pada berbagai skandal masa lalu seperti Bank Duta dan BLBI era Orba (Orde Baru) dan Bank Bali era transisi BJ Habibie.


Pertanyaanya, mengapa pada kasus Century timbul gejolak antar pemegang kepentingan, terutama pemerintah dan BI? Ke mana aliran dana bailout Century itu mengalir?


Dalam buku yang ditulis dengan gaya jurnalisme ini, Herdi Sahrasad mencoba mendedahkan dan meletakkan duduk perkara soal kasus Bank Century yang hingga kini masih saja ramai diperbincangkan, baik oleh kalangan intelektual, pengamat, akademisi, LSM, pejabat pemerintah, hingga masyarakat awam, utamanya soal motif dan ke mana dana talangan itu dikucurkan.


Penulis sadar bahwa kasus Century adalah kasus kontroversial dan sangat musykil, yang melibatkan jajaran pejabat negara. Karena itu, agar kasus ini tidak hanya dikonsumsi kelas menengah ke atas, dapat dipahami oleh semua kalangan, penulis menggunakan bahasa yang mudah dan renyah—atau dalam istilah penulis sendiri menggunakan “teks jurnalisme politik” karena memang tujuanya untuk khalayak umum. Dalam buku ini, penulis melacak akar persoalan Century.


Menurutnya, gejolak itu muncul karena pemerintah melalui Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) mengeluarkan uang untuk merekap Bank Century yang sebenarnya sudah default (gagal) senilai 6,7 triliun rupiah. Padahal, tanpa ada bantuan dari negara, dalam arti jika Bank Century ditutup saat itu, tidak akan berpengaruh signifi
kan pada ekonomi nasional seperti yang dikhawatirkan selama ini.


Hal ini disebabkan, kata penulis, bank tersebut hanyalah bank kecil yang hanya memiliki aset sekitar 0,72 persen dari aset perbankan nasional saat ini. Persoalan juga muncul ketika DPR dalam kasus ini merasa dilangkahi oleh pemerintah. Karena pada awalnya pemerintah dan DPR hanya bersepakat untuk mengeluarkan uang hanya senilai 1,3 triliun rupiah, tidak lebih dari itu. Tapi dalam kenyataanya lebih besar dari itu, bahkan sekarang muncul dugaan bukan hanya 6,7 triliun rupiah, melainkan 9 triliun rupiah.


Angka yang besar ini jelas di luar kesepakatan yang telah disepakati. Sebagai langkah solutif, penulis menawarkan, agar suntikan dana segar ke Bank Century sebesar 6,7 triliun rupiah harus tetap dipertanggungjawabkan kepada publik oleh pemerintah dan BI.


Hal ini lebih penting daripada penjelasan soal krisis sistemik pada perbankan. Adapun prosesnya adalah melakukan investigasi secara tuntas oleh BPK dan kemudian diproses secara hukum. Proses ini jauh lebih penting daripada hanya sekadar meminta mundur pejabat yang bertanggung jawab seperti Menkeu Sri Mulyani. Perdebatan soal sistemik atau tidak juga tidak menyelesaikan masalah.


Minggu, 10 Januari 2010

Ternyata Atlantis Itu di Indonesia

Minggu, Januari 10, 2010 0

-->Dimuat di Jawa Pos/Indo Pos, Minggu 10 Januari 2010
Oleh Mohamad Asrori Mulky
Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta

Judul buku : Atlantis; The Lost Continent Finally Found
Penulis : Prof Arysio Santos
Penerbit : Ufuk Press, Jakarta
Cetakan : I, November 2009
Tebal : iv + 677 halaman

CERITA mengenai keberadaan Benua Atlantis hingga kini terus menjadi misteri sejak dideskripsikan filsuf Yunani, Plato, pada ribuan tahun lalu dalam dua dialognya, ''Timaeus'' dan ''Critias". Tak hanya Plato, penulis kuno klasik lainnya seperti Homer, Hesiod, Pindar, Orpheus, Appolonius, Theopompos, Ovid, Pliny si tua, Diodorus Siculus, Strabo, dan Aelian juga ikut meramaikan soal keberadaan Atlantis.

Kenyataan ini pada akhirnya memunculkan perdebatan tak kunjung usai di kalangan saintis klasik dan modern. Bahkan, masing-masing meletakkan Atlantis di tempat yang mereka yakini sesuai dengan hasil temuannya seperti Al-Andalus, Kreta, Santorini, Siprus, Timur Tengah, Malta, Sardinia, Troya, Antartika, Australia, Kepulauan Azores, Tepi Karibia, Bolivia, Laut Hitam, Inggris, Irlandia, Kepulauan Canary, Tanjung Verde, Isla de la Juventud dekat Kuba, dan Meksiko.

Pandangan yang paling mutakhir mengenai Atlantis -dan sangat mengejutkan kita- datang dari seorang geolog dan fisikawan nuklir asal Brazil Prof Arysio Santos. Dia membantah tesis di atas dan meyakini bahwa Atlantis yang pernah digambarkan Plato sebagai sebuah negara makmur dengan kekayaan emas, batuan mulia, dan mother of all civilization dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga itu adalah Indonesia.

Kesimpulan Santos yang merujuk pada pandangan Plato bukan tanpa pertimbangan kuat. Selama 30 tahun ia melakukan studi dan penelitian. Selama itu pula hidupnya dipergunakan untuk mengungkap letak Atlantis yang sebenarnya. Hasil penelitiannya itu kemudian ia tulis dalam buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato's Lost Civilization. Untuk memperkuat argumentasinya, Santos juga merujuk pada tradisi-tradisi suci tentang mitos banjir besar yang melanda seluruh dunia.

Jawa Pos/Indo Pos
Dalam buku ini, secara tegas Santos menyatakan bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia. Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis. Mereka memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi. Itu terjadi sebagai hukuman dari Tuhan atas keserakahan dan keangkuhannya.

Dengan menggunakan perangkat ilmu pengetahuan mutakhir seperti geologi, astronomi, paleontologi, arkeologi, linguistik, etnologi, dan comparative mythology, Santos juga mengungkap sebab-sebab hilangnya Atlantis dari muka bumi. Dia pun membantah hipotesis yang menyatakan bahwa musnahnya Atlantis disebabkan tabrakan meteor raksasa yang disebabkan oleh komet dan asteroid. Menurut Santos, tabrakan di luar angkasa itu adalah order of magnitude yang lebih jarang terjadi bila dibandingkan dengan letusan gunung berapi.

Hipotesis lain yang dibantah Santos adalah tesis yang mengatakan Atlantis musnah disebabkan pergeseran kutub dan memanasnya Antartika pada zaman es. Menurut Santos, fenomena seperti itu mustahil terjadi pada masa lalu jika dilihat dari sisi fisik dan geologisnya.

Musnahnya Atlantis, menurut Santos, lebih disebabkan banjir mahadahsyat yang menenggelamkan hampir seluruh permukaan dunia, yang membinasakan 70 persen penduduk dunia -termasuk di dalamnya binatang. Yang memegang peran penting dalam bencana tersebut adalah letusan Gunung Krakatau dan Gunung Toba, selain puluhan gunung berapi lainnya yang terjadi hampir dalam waktu yang bersamaan.

Bencana alam beruntun itu, kata Santos, dimulai dengan ledakan dahsyat Gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar, yaitu Selat Sunda, hingga memisahkan Pulau Sumatera dan Jawa. Letusan tersebut menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran rendah antara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, antara Jawa dan Kalimantan, serta antara Sumatera dan Kalimantan. Bencana besar itu disebut Santos sebagai ''Heinrich Events''.

Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa fly-ash naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (zaman es pleistosen). Abu itu kemudian turun dan menutupi lapisan es. Karena adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut. Gletser di Kutub Utara dan Eropa kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia.

Banjir akibat tsunami dan lelehan es itulah yang mengakibatkan air laut naik sekitar 130 hingga 150 meter di atas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam di bawah permukaan laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi. Tekanan air yang besar itu menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya zaman es pleistosen secara dramatis.

Terlepas dari benar atau tidaknya teori tersebut, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Santos sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang luar ke Indonesia. Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali ''tidak meyakinkan'' untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya, ini adalah suatu proses dari hukum alam tentang masa keemasan dan kemunduran suatu bangsa.

Minggu, 03 Januari 2010

Paradoks Pemikiran George Soros

Minggu, Januari 03, 2010 0
Dimuat di Koran Jakarta, 04 Januari 2010

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramdina Jakarta


Judul : George Soros; Selalu Membaca Pasar & Menang

Penulis : George Soros

Penerbit : Daras Books, Jakarta

Tahun : I, November 2009

Tebal : 348 Halaman


Sebagai salah satu spekulan valuta asing terbesar dunia, George Soros dituduh penyebab krisis
yang menimpa ekonomi dunia, terutama di Asia Tenggara tahun 1997. Di sisi lain, ia dikenal dermawan melalui Open Society Institute yang ia dirikan, yang tugasnya membantu gerakan prodemokrasi dan mempromosikan konsep masyarakat terbuka. Pada titik inilah pemikiran Soros terlihat paradoks.

Buku ini berawal dari serangkaian wawancara dengan Soros yang dilakukan Kristzina Koene, wartawan di Frankfurter Allgemeine Zeitung, dan Byron Wien, sahabat karib Soros yang juga ahli strategi investasi untuk Morgan Stanley. Sebagai buku hasil wawancara, tentunya banyak hal yang belum sempat disampaikan Soros dalam wawancara tersebut. Karena itu, untuk melengkapi data dan informasi soal konsep, pemikiran dan riwayat hidup, Soros harus memoles kembali hingga menjadi seperti dialog Socrates.

Dalam salah satu wawancara, Soros mencoba menanggapi tuduhan yang dialamatkan kepadanya soal krisis 1997. Menurutnya, krisis yang terjadi saat itu tidak semua kesalahan harus dilimpahkan kepadanya. Justru pemerintahlah yang harus bertanggung jawab, karena mereka berurusan dengan pasar. Sementara Soros, menurutnya, adalah bagian kecil dari pasar. Sebagai spekulan ia hanya bisa menebak apa yang akan terjadi di pasar.

Karena itu, menurut Soros, konsep kapitalisme global yang diterapkan di hampir seluruh negara harus direformasi. Menurutnya, meskipun kapitalisme sudah menjadi sistem global dan dipakai oleh banyak negara dunia, namun dalam kenyataanya konsep tersebut sedang mengalami krisis, dan keberadaanya sangat membahayakan konsep masyarakat terbuka yang sedang ia perjuangkan.

Bagi Soros, kapitalisme telah menimbulkan fragmentasi anarki produksi dan ketidakstabilan dalam perkembangan ekonomi. Hal ini ditandai dengan gulung tikarnya industri kecil yang ditelan oleh industri besar dan persaingan yang saling menghancurkan dalam produk dan pemasaran. Keberadaan ini pada masa-masa tertentu dapat menimbulkan persoalan sosial yang akut, bahkan juga perang, konflik dan krisis yang berkepanjangan.

Praktik dari sistem kapitalisme menekankan persaingan dan mengukur keberhasilanya dalam terminologi uang. Sehingga apapun bidangnya, baik hukum, politik, budaya, pendidikan, bahkan hal-hal yang bersifat pribadi sekali-pun, telah dikonversi ke dalam terminologi uang. Karena itu, reformasi sistem kapitalisme yang ditawarkan Soros harus sejalan dengan konsep masyarakat terbuka, atau kapitalisme yang sejalan dengan nilai-nilai demokrasi.

Konsep masyarakat terbuka yang diajukan Soros diinsiprasi oleh Karl Popper, dosen dan profesor filsafat, ketika ia masih menjadi mahasiswa di London School of Economics. Masyarakat terbuka menurut Soros didasarkan pada pengakuan bahwa kita semua bertindak atas dasar pemahaman tak sempura. Tak seorang pun memiliki kebenaran utama seperti yang diidealkan ideologi fasisme dan komunisme (masyarkat tertutup). Dalam masyarakat terbuka dibutuhkan penjunjungan kebebasan dan hak asasi manusia, supremasi hukum, dan kesadaran tanggung jawab dan keadilan sosial. Bahwa kita semuanya bermula dari pemahaman tak sempurna.

Buku ini selain memuat materi wawancara yang mendalam mengenai konsep, pemikiran, dan riwayat hidup Soros hingga ia menjadi orang sukses di dunia, juga menyajikan halaman apendiks yang memuat tulisan-tulisan pilihan Soros.

Selasa, 08 Desember 2009

Membongkar Mafia Bilderberg

Selasa, Desember 08, 2009 0
Dimuat di SINDO, Minggu 05 Desember 2009

Oleh: Mohamad Asrori Mulky

Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta

Judul Buku : The Bilderberg Group

Penulis : Daniel Estulin

Penerbit : Daras Book, Jakarta

Edisi : I, Juni 2009

Tebal : 412 halaman

Beberapa tahun lalu,dunia internasional sempat dihebohkan oleh beredarnya buku yang cukup kontroversial,Confession of An Economic Hit Man, karya John Perkins.


Dalam buku tersebut,Perkins membeberkan konspirasi jaringan multinasional Barat yang bertujuan menjajah ekonomi dunia, terutama negaranegara dunia ketiga, termasuk di dalamnya adalah Indonesia. Kelompok ini tidak hanya menanamkan benih korupsi, kolusi, dan nepotisme di negara-negara yang menjadi targetnya, tapi juga mengendalikan ekonomi dunia di bawah kendalinya. Apa yang dilaporkan Perkins dalam bukunya itu merupakan bagian dari sebuah mozaik konspirasi penguasaan dunia yang dilakukan Barat.


Pada sisi lain, kita juga dikejutkan oleh informasi yang tidak kalah berbahayanya dari laporan Perkins bahwa ternyata ada sekelompok orang sedang melakukan skenario konspirasi yang jauh lebih besar.Tidak hanya mencakup skenario penguasaan ekonomi, melainkan juga penguasaan politik dan keamanan. Inilah yang disebut oleh kelompok itu dengan gagasan “internasionalisasi”; menjadikan dunia satu kekuasaan politik, satu lembaga keamanan, dan satu kekuatan ekonomi. Ini artinya, nasib dan masa depan dunia sangat ditentukan oleh kelompok tersebut.


Kelompok itu berjuluk Bilderberg Group.Menurut keterangan, kelompok ini sudah mengendalikan dunia selama lebih dari setengah abad dan tersimpan rapi.Tak ada yang tahu, meskipun para wartawan, bagaimana mereka menentukan nasib dunia,kecuali anggota dan partisipannya saja. Mereka tak segansegan menjatuhkan pemimpin negara yang dianggap menentang skenario yang mereka susun. Mereka menciptakan bonekaboneka di berbagai negara dan lembaga demi mewujudkan gagasan yang mereka usung itu.


Dalam buku The True Story of The Bildeberg Group, karya Daniel Estulin, seorang wartawan investigatif Kanada, kita diajak mengorek informasi yang lebih mendalam dari Bilderberg Group.Buku yang dalam penulisannya membutuhkan waktu sekitar 15 tahun ini, secara vulgar mengupas habis agenda konspirasi jahat mereka. Nama kelompok ini (Bilderberg Group) merujuk pada pertemuan pertama mereka.Pada 1954, yang dipelopori Pangeran Bernhard dari Belanda dan penguasa besar Amerika, David Rockefeller, sekelompok tokoh berpengaruh di dunia untuk pertama kalinya bertemu dan menggelar rapat rahasia.


Tempatnya di Hotel Bilderberg yang sangat terkenal mewah, yang terletak di kota kecil di Negeri Belanda, Oosterbeck. Pertemuan yang ketika itu dihadiri sejumlah petinggi dan orang berpengaruh di dunia Barat tersebut semula bertujuan menjalin hubungan kerja sama dan saling pengertian antara Eropa Barat dan Amerika Utara. Pertemuan informal itu akhirnya dikukuhkan menjadi konferensi tertutup yang digelar setiap tahun dan dihadiri undangan terbatas, maksimal 100 tokoh. Lokasi pertemuannya pun berpindah-pindah setiap tahun dan yang pasti di hotel super mewah yang dapat menjamin privasi peserta pertemuan.


Namun, lama kelamaan, sesuai dengan penyelidikan dan penelusuran Daniel, kiprah kelompok itu berubah tidak sekadar hubungan Eropa Barat dan Amerika Utara. Gagasan dasar yang diusung berubah total menjadi membangun sebuah dunia dengan satu kekuasaan politik, kesatuan ekonomi, dan kesatuan keamanan.Istilah yang diusung pun lebih halus menjadi “Internasionalisasi” dunia. Dalam arti lain, mereka ingin membangun “satu pemerintahan dunia” atau perusahaan dunia dengan pasar tunggal dan global, yang dijaga satu pasukan dunia, dan secara finansial diatur satu bank sentral dunia, yang menggunakan satu mata uang dunia.


Niat kelompok itu secara rinci meliputi upaya menciptakan identitas internasional, mengontrol populasi dan opini dunia secara tersentral, dan sebuah tatanan dunia baru tanpa kelas menengah. Dengan begitu, yang ada hanya tuan dan pelayan atau majikan dan budak. Lebih jauh lagi adalah pengawasan terpadu terhadap kebijakan dunia, bahkan mendesakkan sebuah sistem hukum universal. Karena mereka menjalankan proyek-proyek internasional demi mengeruk kekayaan dunia dan mengokohkan kekuasaan mereka hingga bangsa-bangsa di negara berkembang menjadi budak.Maka dengan segera mereka sebar politisi- politisi dan para ekonom kawakkan ke seluruh penjuru dunia untuk bergerak.


Tak segan-segan mereka menebar suap,korupsi dan pengaruh kepada organisasiorganisasi wadah berhimpunnya beberapa negara. Dengan begitu, mereka memberi iming-iming imbalan kepada para pemimpin dunia berupa keuntungan yang sangat besar dan menggiurkan, tapi sebenarnya itu jeratan semata. Sebagai contoh,mereka pernah menjebak Uni Soviet dengan iming-iming bantuan finansial. Jumlahnya sangat menggiurkan: miliaran dolar.


Kompensasi yang harus dibayar adalah Uni Soviet menyerahkan sumber daya alam kepada mereka dengan harga sangat rendah.Tipu daya ini tidak saja pernah dialami Uni Soviet, tapi juga dialami negara-negara dunia ketiga khususnya hingga sekarang. Mereka menjerat negara-negara berkembang dengan pinjaman Dana Moneter Internasional (IMF) berbunga mencekik. Jebakan ini adalah cara mereka merusak tatanan ekonomi dunia.Tujuan mereka agar negara-negara dunia ketiga lumpuh dan bergantung total kepada mereka.


Setelah mendapat pinjaman dana dari IMF; penduduk negara-negara berkembang menjadi hamba sahaya abadi untuk melayani kepentingan mereka. Setiap tahunnya, anggota inti Bilderberg “menebar jala” demi melokalisir orang-orang ambisius baru untuk bergabung. Wajahwajah baru itu adalah mereka yang diberi jabatan politik strategis, tetapi ia akan segera didepak setelah tak lagi diperlukan.Douglas Wilder misalnya,saat karier politiknya meroket sebagai gubernur kulit hitam pertama AmerikaSerikat,diundang menghadiri pertemuan ini.


Tapi padatahun1984,saat gagal memperoleh satu persen suara pemilihan presiden sebagai wakil Partai Demokrat, namanya dicoret dari daftar tamu pertemuan Bilderberg. Karena itu, untuk mengetahui lebih rinci sepak terjang Bilderberg Group, buku Daniel ini patut dijadikan rujukan.

Menolak Argumentasi Kekerasan dalam Ibadah Kurban

Selasa, Desember 08, 2009 0

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.


Ibadah kurban yang akan kita rayakan pada 10 Dzulhijjah 1430 H/27 November 2009 M, sebaiknya kita maknai sebagai penghormatan atas martabat dan jiwa manusia daripada sekedar ritual penyembelihan binatang kurban semata. Pemahaman seperti ini akan lebih bermakna, seiring aksi terorisme, brutalisme, dan barbarisme dengan segala bentuk dan manifestasinya sering terjadi di belahan dunia, termasuk di Indonesia beberapa waktu silam.



Jawaban atas Tuduhan

Kurban adalah bentuk penyerahan diri seorang hamba pada Tuhannya secara totalitas. Namun, dalam perkembanganya ibadah kurban justru dituduh sebagai legalisasi terhadap tindak kekerasan berbaju agama, seperti yang dilontarkan Rene Gerard, bahwa kurban adalah tanda kekerasan dalam agama. Perintah penyembelihan terhadap Nabi Ismail oleh Nabi Ibrahim adalah bukti kuat atas dugaan itu. Maka tak ayal jika aksi bom bunuh diri dan aksi kekerasan lainya yang diberi dalih agama selalu saja bermunculan di mana-mana.


Atas segala tuduhan tersebut, marilah kita melihat dahulu dudukan persoalanya secara objektif. Dalam ibadah kurban, pertanyaan krusial yang patut kita ajukan adalah mengapa Allah SWT menggati Nabi Ismail dengan seekor domba ketika Nabi Ibrahim ingin menyembelih putranya itu—padahal sebanyak 3 kali Allah SWT memberikan perintah pada Ibrahim untuk menyembelih Ismail? Lalu apa makna terdalam dari pertukaran objek kurban ini (Ismail diganti domba)? Dan apakah bentuk perintah itu merupakan ujian (amr al-Ibtila’) untuk menguji sejauh mana ketabahan Ibrahim atas kehendak Tuhan, atau sebagai perintah tasyri’ (amr al-tasyri’) yang harus dilaksanakan tanpa sebuah argumen penolakan?


Mengenai pertanyaan-pertanyaan tersebut, paling tidak jawabannya seperti ini. Pertama, boleh jadi dengan pertukaran objek kurban, Allah ingin mengakhiri tradisi kuno yang mengorbankan jiwa manusia untuk dipersembahkan pada dewa suci mereka. Mel Gibson dalam salah satu film garapanya, “Apocalypto” memotret bagaimana tradisi kuno (peradaban Mesir kuno) melegalkan persembahan jiwa manusia untuk kepentingan dewa mereka. Padahal dalam kenyataanya, tidak semua orang yang dipersembahkan merelakan jiwanya untuk dewa-dewa yang mereka anggap suci.


Dalam ritual persembahan, biasanya yang menjadi tumbal adalah seorang perempuan yang masih gadis (belum menikah). Karena darah seorang gadis yang belum menikah diyakini akan lebih mempercepat harapan mereka terkabul. Seseorang yang dikorbankan bisa dengan cara dipisahkan anggota tubuhnya (dipisahkan kepala dengan badanya) atau mengambil salah satu organ tubuh seperti jantung atau hati untuk dipersembahkan kepada sang dewa. Ini semuanya dilakukan agar mendapatkan kebahagiaan dan kemakmuran hidup di dunia, terhindar dari marabahaya, kelaparan, kekeringan, dan kemiskinan.


Ali Syariati, ideolog dan tokoh gerakan revolusi Islam Iran, menyatakan, tradisi kuno ini tidak saja telah menyisakan luka yang teramat mendalam bagi keluarga yang dikorbankan. Tapi lebih dari itu, bila dilihat dari kacamata hukum modern, telah melanggar hak asasi manusia untuk hidup dan bernafas di muka bumi ini.


Kedua, boleh jadi Allah ingin memberikan pesan kepada umat manusia di dunia bahwa menumpahkan darah sesama tidak pernah dibenarkan sama sekali, karena Allah tidak akan memberikan perintah yang menyalahi tasyri’-Nya. Kitab suci Al-Quran mejelaskan bahwa merenggut nyawa manusia satu orang saja di muka bumi ini sama nilainya dengan membunuh manusia seluruhnya. Ini berarti, betapa besar hukuman yang harus ditanggung si pembunuh dan betapa berharganya jiwa manusia itu.


Allah tidak pernah menginginkan setiap hamba-Nya berkurban dengan mempersembahkan manusia, dalam arti menghilangkan jiwa manusia untuk kepentingan Allah semata. Buktinya, ketika Nabi Ibrahim mendapatkan perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Allah langsung menggantikan Ismail dengan seekor domba meskipun perintah penyembelihan terhadap Ismail itu berulang kali diperintahkan-Nya. Hal ini tentunya mengisyaratkan satu pesan yang sangat universal bahwa menumpahkan darah atas nama Tuhan-pun, membunuh dan menganiaya martabat manusia tidak dibenarkan, karena Tuhan sendiri tidak menginginkannya.


Allah tidak mungkin memerintahkan hamba-Nya untuk melakukan hal yang bertentangan dengan tasyri’-Nya. Menghilangkan nyawa manusia di muka bumi adalah hal yang paling Allah benci dan amat besar dosa yang harus ditanggung bagi si pembunuh. Itu berarti, perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih Ismail, bukan perintah yang wajib dilaksanakan (amr al-Tasyri’), tapi perintah untuk menguji (amr al-Ibtila’) sejauh mana keteguhan, kepasrahan, dan ketaatan Nabi Ibrahim kepada Tuhanya.


Dalam teologi Asyariyah sendiri dikatakan, terkadang Allah SWT memerintahkan sesuatu hal kepada hamba-Nya dengan apa yang Ia (Allah) sendiri tidak pernah menghendakinya. Membunuh sangat bertentangan dengan kemaharahmanan dan kemaharahiman-Nya sebagai Tuhan Yang Pengasih dan Penyayang. Akal sehat kita pun menimbang bahwa menumpahkan darah manusia dengan alasan apapun dipandang sebagai sesuatu yang kontra-produktif.


Hakikat Kurban

Karena itu, tuduhan yang dilontarkan Rene Gerard bahwa kurban adalah tanda kekerasan tidak memiliki dasar argumentasi yang kuat. Ia hanya melihat pesan yang tersurat tanpa memahami pesan yang tersirat. Di sinilah sepertinya kekeliruan Gerard bermula.


Oleh sebab itu, munculnya aksi kekerasan dan terorisme di belahan dunia dengan mengatasnamakan agama (jihad atau perang suci), merupakan tindakan yang salah kaprah. Pelaku kekerasan harus memahami betul esensi dan hakikat dari agamanya. Sebab, agama pada dirinya tidak pernah mengajarkan umatnya untuk melakukan teror, apalagi mengorbankan nyawa manusia. Dan para Nabi diutus ke muka bumi ini untuk tujuan damai dan menciptakan kesejahteraan bagi umat manusia.


Kekerasan dan teror pada dirinya adalah kejahatan yang merugikan pihak lain. Tindakan ini tidak bisa ditolelir apalagi dilegalkan. Hukum apapun tidak bisa merestui tindakan seperti ini. Secara hukum agama hal tersebut sangat bertentangan dengan misi profetik setiap agama yang membawa kedamaian dan persaudaraan. Hukum adat/tradisi pun menolak tindak kekerasan, karena secara sosiologis masyarakat ingin hidup damai dan sejahtera. Akal sehat kita pun menimbang bahwa kekerasan dengan bentuk apapun bertolak belakang dengan fitrah manusia sebagai mahluk yang suci, pemaaf, dan berbudi pekerti.


Momentum kurban pada tahun ini sejatinya dimaknai sebagai kepasrahan, ketundukan, dan penyerahan diri kepada Tuhan secara totalitas. Di samping itu, maknanya juga sebagai penghormatan yang setinggi-tingginya pada jiwa dan martabat manusia. Bukan membinasakan jiwa manusia dan merendahkan harkat dan martabatnya. Dengan cara demikianlah hakikat ibdah kurban yang sesungguhnya akan kita capai dengan sempurna. Selamat menunaikan ibadah kurban 1430 H.

Minggu, 27 September 2009

Jihad, Teror, dan Puasa

Minggu, September 27, 2009 0

Jumat, 18 September 2009 Suara Karya

Oleh Mohamad Asrori Mulky

Penulis adalah Analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta


Belakangan ini, perhatian pemerintah fokus pada persoalan terorisme. Peledakan bom di Hotel JW Marriott dan The Ritz-Carlton pada 17 Juli lalu menandai betapa aksi kekerasan yang dilakukan kelompok teroris ini masih menebar ancaman bagi segenap warga, tanpa memandang siapa dan dari mana asalnya.


Terorisme pada dasarnya merupakan pembajakan terhadap nilai-nilai luhur keagamaan yang selama ini diyakini. Sikap cinta dan kasih sayang terhadap sesama telah diabaikan begitu saja, malah digantikan dengan bentuk kekerasan yang cukup menakutkan, yang tak jarang mengorbankan nyawa manusia. Secara eksplisit, bom bunuh diri yang terjadi di kedua hotel tersebut dengan jelas menunjukkan ideologi kekerasan yang dikelindankan dengan keagungan ajaran agama yang universal itu. Agama, oleh pengusung ideologi terorisme, hanya dijadikan legitimasi teologis, yang sebenarnya juga sama dengan memolitisasi dan memonopoli tafsir agama untuk kepentingan dan maksud tertentu saja.


Ironisnya, kasus bom bunuh diri, baik yang terjadi di Hotel JW Marriott dan The Ritz-Carlton maupun di berbagai wilayah Nusantara, dengan kentalnya sentimen agama beberapa tahun terakhir ini, selalu berakar pada konsep jihad dalam Islam dan pelakunya beragama Islam. Konsep jihad kerap diartikan sebagai perjuangan fisik yang berbuntut pada penghalalan atas penyerangan, kekerasan, bahkan permusuhan terhadap pihak lain. Pemaknaan jihad sebagai sikap ofensif sebagaimana dipraktikkan para teroris adalah sebuah kesalahan dan krisis keagamaan yang teramat fatal, dan bahkan bisa dikatakan sebagai krisis nurani kemanusiaan.


Distorsi makna jihad sebagai melulu fisik yang amat partikular, pada akhirnya bukan saja terus menodai citra agama (Islam) sebagai pembawa rahmat bagi semesta alam, melainkan juga terus menghantui umat sebagai kekuatan laten yang destruktif dan traumatis, yang keberadaannya membahayakan pemeluk agama lain. Kalau kita cermati, perjuangan jihad yang ofensif akan membawa dampak yang merugi bagi perkembangan dan kemajuan peradaban Islam itu sendiri. Sebab, jihad sebagai ideologi kekerasan akan terus menutup egokreatif umat dan ijtihad kultural dalam pemberdayaan masyarakat madani.


Ideologi kekerasan yang digunakan untuk melawan musuh peradaban (Barat), yang menjadi alasan para teroris, bukanlah solusi yang tepat. Tuhan pun, secara teologis, selalu tidak membenarkan tindakan kekerasan sebagai perjuangan membela agama yang destruktif dan tanpa sebab. Bukankah dalam Kitab Suci disebutkan bahwa membunuh jiwa orang lain, hakikatnya sama dengan membunuh seluruh umat manusia di muka bumi ini.


Karena itu, konsep jihad selalu harus direkonstruksi sebagai sebuah ajaran yang substansial dan membawa kepada sebuah kemaslahatan bagi umat manusia. Jihad harus diletakkan sebagai sebuah pesan agama yang mengandung makna terdalam. Hermeneutika terhadap jihad adalah pencarian akar atau episteme makna yang ditujukan berdasarkan kemaslahatan umum, bukan untuk kepentingan kelompok dan golongan tertentu, apalagi harus mengorbankan jiwa manusia lainnya tanpa sebab.


Kalau diperhatikan secara saksama, terorisme dalam bentuk yang ultim seperti kasus bom bunuh diri di kedua hotel di atas, hanyalah sisi parsial dari ekstremisme beragama yang harus ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya kita meninggalkan aksi kekerasan tersebut?


Bertepatan dengan momen paling krusial dalam sejarah umat Islam, puasa yang sedang dijalankan umat Islam diharapkan dapat menekan tindak kekerasan yang belakangan ini terjadi di bumi Nusantara. Puasa yang berarti mencegah dan menahan (al-Imsak) juga bisa dijadikan pendidikan prevensi untuk mencegah dan menanggulangi aksi terorisme baik secara lokal maupun berskala internasional.


Hal tersebut sangatlah mungkin, mengingat puasa itu merupakan ibadah yang mendidik umat Islam untuk mencegah dari perbuatan yang sia-sia, apalagi tindakan brutal dan anarkis yang merugikan kemanusiaan dan jiwa. Malapetaka kemanusiaan yang sering kali terjadi di Tanah Air tidak bisa lepas dari jiwa yang kotor, hati yang membatu, dan akal yang jahat. Persoalan kebobrokan rohani ini yang dialami oleh bangsa ini, sehingga dengan mudah dan ringan tangan menghilangkan nyawa manusia tanpa alasan yang jelas.


Ibnu Katsir, ulama abad pertengahan, mengemukakan maksud dari pendidikan prevensi puasa adalah untuk menyucikan diri dari perbuatan yang jahat dan hina. Ramadhan dengan segala keistimewaannya merupakan saat yang tepat dan kesempatan yang baik bagi umat Islam untuk mereposisi perjuangan Islam melawan terorisme dan mengembalikan citra Islam dari klaim "agama teroris". Karena itu, rekonstruksi jihad dalam konteks ibadah puasa sangatlah penting. Jihad harus kita maknai sebagai reformasi moral-spiritual, sebagaimana penyebutan jihad al-akbar oleh Nabi Muhammad.


Momentum puasa adalah saat tepat memperbarui corak keberagamaan kita yang mengarah pada tindak kekerasan. Sudah saatnya corak keberagamaan yang menunjukkan teror dan kekerasan publik (wacana maupun fisik) mesti didekonstruksi sebagai religiusitas yang salah kaprah. Sebaliknya, jihad mesti dibangun sebagai militansi konstruktif ke arah toleransi nirkekerasan yang menggunakan ekspresi halus dan toleran, serta berimplikasi positif dalam memperlakukan yang lain.

Dunia Yang Melengkung dan Krisis Pasar

Minggu, September 27, 2009 0
Dimuat di Majalah Gatra 43 / XV 9 Sep 2009
Oleh Mohamad Asrori Mulky
Anggota International Interreligious Federation World and Peace, dan Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.

Judul Buku : Kiamat Ekonomi Global
Penulis : David M. Smick
Penerbit : Daras Books, Jakarta
Edisi : I, Juni 2009
Tebal : 328 halaman

Sebuah survei yang dilakukan The Wall Street Journal (2007), yang menggunakan para ekonom kelas dunia sebagai responden, mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) kini sedang dalam krisis keuangan. Akibatnya, ekonomi dunia pun di ambang masa kehancuran.

Krisis ekonomi global yang terjadi sekarang ini dinilai oleh sebagian pengamat ekonomi paling buruk, setelah sekitar 80 tahun terakhir pernah mengalami krisis yang sama secara global. Namun keadaan krisis ini bukan karena perang dunia yang terjadi seperti 80 tahun yang lalu, melainkan karena krisis finansial yang dialami Amerika.

Besarnya biaya pembelanjaan militer Amerika menyebabkan krisis ekonomi sejak tahun 2007 lalu. Yang lebih penting lagi, krisis subprime mortgage: kerugian surat berharga property hingga membangkrutkan Merryl Lynch, Goldman Sachs, Northern Rock, UBS, dan Mitsubishi UFJ. Akibatnya, pasar-pasar Asia dan Eropa ambruk. Seketika dunia dihadapkan pada krisis likuiditas besar 2007-2008. Dan dengan cepat pula bank-bank dan institusi finansial dunia lainya berhenti mengeluarkan pinjaman. Deal finansial pun berhenti mendadak. Bahkan kredit dunia ikut-ikutan macet karena tidak ada orang yang yakin dengan liabilitas pihak lain.

Kondisi di atas tentu saja sangat mengkhawatirkan keberlanjutan pasar finansial. Karena itu, David M Smick, mantan penasehat ekonomi para presiden AS dan menjadi CEO Johnson Smick International Inc, melalui bukunya “Kiamat Ekonomi Global” ini mengingatkan akan bahaya pasar finansial. Pasalnya, ketidakpastian dan ketidaklengkapan informasi dalam pasar finansial selalu menciptakan mispersepsi antara pedagang dan investor. Karena itu Smick menghimbau para pelaku pasar agar selalu memahami secara mendalam kebijaksanaan konvensional.

Majalah Gatra


Buku yang diterjemahkan dari bahasa aslinya “The World Is Curved” (dunia yang melengkung) ini merupakan penerus sebanding bagi buku Tom Friedman “The World Is Flat” (dunia yang datar). Dalam “The World Is Flat”, Friedman menggambarkan secara jelas bagaimana tekhnologi digital telah mempersempit jarak antar-negara dan merevolusi rantai suplai global makanan dan jasa. Menurut Friedman, tekhnologi digital membuat orang bisa terlibat dalam bisnis dengan orang lain di belahan dunia lain, dan masing-masing bangsa membawa keunggulan komparatifnya ke atas meja perdagangan dunia.

Sementara dalam “The World Is Curved”, Smick melihat dunia lebih psimistis. Menurutnya, dari sudut pandang pasar finansial, dunia ini tidak rata tapi melengkung. Tidak seperti dunia yang memproduksi barang dan jasa, dalam dunia finansial, tidak ada yang berjalan lurus. Dalam pasar finansial selalu saja dipenuhi informasi tidak pasti dan tidak lengkap, karena kurangnya transparansi. Akibatnya banyak hal yang tidak dipahami oleh para pelaku pasar—investor dan pedagang. Selamanya kita tak akan paham sistem finansial dunia yang dalam satu menit tampak indah, dan pada menit berikutnya bertingkah seakan-akan dunia akan segera berakhir.

Yang lebih menarik dari buku ini, Smick juga mengurai bagaimana manuver-manuver China bisa memperburuk dan memperparah keadaan, mengapa bank-bank sentral di seluruh dunia juga tidak bisa berbuat banyak, dan bagaimana cara para bankir dan bankir investasi yang serakah memiskinkan banyak orang. Sehingga jurang kemiskinan makin melebar dan ketidakadilan merajalela.

Sekali lagi, buku ini fokus menelaah sistem finansial internasional yang rapuh dan mengungkap bahwa sistem ini penuh sengketa dan tidak mudah diperbaiki. Alih-alih datar, dunia baru kita yang terglobalisasi ini agak bergelombang dan melengkung.

Ada tiga alasan mengapa buku ini perlu dibaca. Pertama, buku ini merupakan wawasan luar biasa terhadap isi perut keungan global. Kedua, berbicara soal kerapuhan ekonomi dunia yang sedang menggejala. Dan ketiga, buku ini memberi peta jalan realistis di tengah keporak-porandaan yang kita alami sekarang ini.

Sabtu, 29 Agustus 2009

Puasa dan Perdamaian

Sabtu, Agustus 29, 2009 0

-->
Media Indonesia, Jum’at 21 Agustus 2009
Oleh: Mohamad Asrori Mulky
Analis Religious Freedom Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta
Ali Syari’ati, sosiolog asal Iran dalam bukunya ‘On the Sosiology of I
slam’ menjelaskan, sejarah umat manusia adalah sejarah peperangan dan pertikaian antara dua kubu yang saling berkepentingan. Lebih ekstrim dari itu, Ibn Khaldun, sejarawan Muslim abad pertengahan dalam karya agungnya ‘Muqaddimah’ juga menegaskan, perang dan berbagai bentuk pertarungannya selalu akan terjadi sejak Allah menciptakan dunia”.

Konflik yang terjadi antara Qabil dan Habil, putra Adam As, pada permulaan sejarah manusia merupakan bentuk pertikaian awal dalam episode kehidupan manusia di muka bumi. Dalam rangkaian kehidupan umat manusia selanjutnya, di sini dan di bumi ini, pertarungan tersebut akan terus berkecamuk dalam segala bentuk dan wujudnya yang berbeda-beda. Hal ini semakin menta’kidkan (memperkuat) fakta ilmiah, bahwa kehidupan, manusia dan sejarah didasarkan atas kontradiksi dan pertarungan.

Sehingga dengan begitu bisa dikatakan bahwa seluruh rangkaian sejarah manusia merupakan arena pertarungan antara kelompok Qabil si pembunuh, dan kelompok Habil yang menjadi korbanya. Qabil dan Habil dalam perspektif filsafat sejarah Shari’ati merupakan aktor utama dalam panggung sejarah dunia. Setiap manusia, baik secara individu maupun kolektif akan memilih satu peran di antara dua tokoh besar itu, Qabil atau Habil. Secara tipologis, Qabil berperangai jahat, kasar, dan suka membunuh. Sementara Habil berkepribadian baik, ramah, dan pemaaf.

Media Indonesia


Kekerasan
Melalui teori di atas, kita dapat menarik kesimpulan. Bahwa kekerasan dalam berbagai bentuk dan terornya, merupakan bagian dari perjalanan hidup manusia yang mau tidak mau harus dihadapi dan diselesaikanya, bukan untuk ditinggalkan begitu saja. Karena bagaimanapun juga mahluk yang bernama ‘kekerasan’ ini akan selalu muncul dalam setiap tarikan nafas kehidupan manusia, di saat manusia tidak mampu lagi untuk menundukan dan meletakanya di bawah kuasa akal sehat dan iman kepada Allah SWT.

Sebagai mahluk ciptaan Allah yang dibekali insting, seperti rasa lapar, haus, dan juga rasa aman. Manusia sejatinya memenuhi kebutuhan instingnya itu dengan cara berinteraksi, berkomunikasi dan bersentuhan langsung dengan mahluk di luar dirinya, baik itu tumbuh-tumbuhan, binatang, ataupun manusia sejenisnya. Karena dengan melakukan interaksi keluar, manusia akan memenuhi kebutuhan instingnya itu dengan sempurna. Bukankah manusia adalah mahluk sosial.

Namun demikian, dalam melakukan interaksi ke luar setidaknya manusia akan dihadapkan pada dua pilihan yang harus dihadapinya; ‘perdamaian’ yang melahirkan kesejahteraan atau ‘permusuhan’ yang berpotensi melahirkan kekerasan dan bencana. Perdamaian dan permusuhan yang terjadi di dunia ini laksana dua mata uang yang saling menyertai manusia, sehingga batas antara keduanya sudah tidak lagi dapat diverifikasi dan dibedakan. Sekarang damai, esok maupun lusa bisa saja terjadi peperangan dan pengeboman di mana-mana, seperti yang terjadi di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta, 17 Juli lalu.

Berkaitan dengan hal di atas tadi, Murthada Muthahari, cendekiawan Islam asal Iran menegaskan, Allah SWT memberikan pada setiap manusia dua buah kecenderungan: fujur (manifestasi kejahatan) dan takwa (manifestasi kebaikan). Dua kecenderungan ini disebut oleh Muthahari sebagai dua dimensi yang selalu berlomba dan berkompetisi untuk mengalahkan satu sama lain. Kekuatan apapun yang muncul dan mendominasi, maka ia akan menjadi cermin dari orang yang bersangkutan.

Jika dimensi Takwa lebih mendominasi dalam sikap dan perilaku seseorang, maka kebaikan, kedamaian, dan sikap saling membutuhkan akan menjadi cermin pribadinya ketika ia berinteraksi keluar. Artinya, antara manusia satu dengan manusia yang lainya memposisikan dirinya sebagai mahluk sosial yang membutuhkan kehadiran akan yang lain.

Sementara fujur akan terjadi sebaliknya, satu sama lain saling mengutamakan ego dan keakuanya, tidak berusahan untuk memahami yang lain, justru menjadikan yang lain sebagai lawan yang harus dimusuhi. Sikap seperti ini sungguh berbahaya, dan sangat berpotensi merusak ketentraman dan kedamaian yang diidam-idamkan banyak pihak. Karena itu, salah satu jalan terbaik bagi kita adalah meninggalkan fujur dan menggantinya dengan takwa.

Lalu bagaimana caranya agar kecenderungan takwa itu lebih mendominasi dalam setiap aktivitas manusia di dunia? Dan bagaimana kita menundukan ego dan kejahatan sebagai manifetasi dari fujur itu?

Berpuasa
Untuk mengarah ke arah sana—dominasi takwa (kebaikan) atas fujur (kejahatan)—ibadah puasa yang akan segera kita (muslim) lakukan pada bulan ini menjadi solusi nyata dalam menangani hal tersebut. Sebab ibadah puasa, sebagaimana al-Quran tegaskan dalam surah al-Baqoroh, ayat 183, yang pengertianya adalah agar manusia meraih derajat takwa sebagai bentuk pengabdin pada Allah SWT. Puasa tidak hanya sebagai wahana yang memediasi hubungan manusia dengan Tuhanya, tapi juga sebagai upaya untuk merajut derajat takwa yang termanifestasi dalam kebaikan dan kedamaian bagi sesama manusia di muka bumi ini.

Kenapa harus dengan puasa? Karena dengan melakukan puasa akan ditempuh sikap; pertama, menahan amarah; kedua, saling memaafkan; dan ketiga, berbuat amal kebajikan. Ketiga hal ini bagi kehidupan manusia menjadi fundamen, di mana poin pertama, kedua, dan ketiga sama pentingnya, dan tidak mungkin untuk dipisahkan.

Menahan diri untuk tidak marah pada sesama adalah suatu kebajikan dan budi pekerti yang terpuji. Tapi, jika sikap ini tidak dibarengi dengan sikap memaafkan, maka tidak bisa digolongkan pada orang yang bertakwa, tapi sebagai orang pendendam dan emosional. Sementara sifat dendam itu sendiri selalu menebarkan benih-benih permusuhan dan kekerasan antar sesama manusia. Begitu pula dengan kita memaafkan orang lain tanpa dilanjutkan dengan kebaikan dan keluhuran amal, tidak dapat digolongkan juga pada orang-orang yang bertakwa, tapi sebagai orang yang munafik. Di mulut memaafkan, tetapi tindakannya menyakitkan. Pandai berjanji, tetapi tidak bisa menepati. Orang seperti itu, hatinya masih dipenuhi dengki dan kebencian.

Puasa Ramadhan sebagai kewajiban bagi umat Islam di seluruh dunia mengandung pesan moral yang sangat luhur, di mana jika dilihat dari sisi kebahasaan puasa berarti “al-imsâk” (menahan). Maka dalam pengertian syariat puasa adalah menahan aneka keinginan pada diri, baik nafsu positif seperti makan, minum, dan bersetubuh dengan istri, maupun nafsu negatif seperti ingin mencacimaki, menggunjing, dan ghibah.

Dengan begitu, pengertian puasa bisa ditarik pada pemahaman untuk menahan diri dari amarah dan murka, memaafkan sesama, dan berbuat kebajikan sosial. Puasa akan meningkatkan kepekaan kita untuk membantu orang lain dan melatih jiwa sosial kita untuk senantiasa peduli terhadap penderitaan orang. Dengan begitu, kedamaian di dunia akan terwujud.